
Di sebuah rumah tua, yang tempatnya jauh dari perkotaan. Hendry dan Dian tengah membujuk keluarga angkat Dian untuk pindah ke kota dan tinggal bersama-sama.
"kak, kita pindah dari sini ya. Kita akan tinggal di rumah ku, di sana jauh lebih layak," ajak hendry membujuk seorang wanita yang tak lain adalah kakak angkat Dian.
"Tidak mau, aku tinggal di sini saja. Kalau kamu ingin membawa Dian tinggal bersama mu di kota, ajaklah. Tapi biarkan aku tetap di sini," tolak wanita itu.
"Kak, rumah ini sudah tak layak huni lagi. Rumah ini bisa roboh kapan saja, dan itu akan membahayakan kakak," kata Hendry lagi.
"Aku tidak masalah, selagi rumah ini masih bisa aku huni. Maka aku akan tetap tinggal di sini, di sini lebih aman," sahut wanita itu.
"Kak Hendry maaf, kakak ku pernah mengalami kejadian buruk saat masih tinggal di kota dulu. Hal itu membuatnya trauma kembali ke sana," ucap Dian.
"Apa yang sudah terjadi?" tanya Hendry.
Dian hanya menggelengkan kepalanya, sebagai tanda bahwa dia tidak bisa menjelaskannya. Dia takut kakaknya itu akan merasa ketakutan kembali.
Hendry memutuskan untuk memboyong Dian dan kakak angkatnya itu tinggal bersamanya, karena setelah menjalani tes DNA kemarin dan hasilnya menunjukkan positif bahwa Dian adalah saudara kandungnya. Sebenarnya Hendry tak masalah jika kakak angkat Dian itu tidak mau ikut bersamanya, hanya saja Dian tidak mau pergi jika tanpa sang kakak. Dia tidak akan melupakan jasa wanita yang telah menemani hari-harinya sejak kecil itu. Karena tanpanya, dia tidak tau apakah dirinya masih hidup hingga sekarang atau tidak.
"Kalau gitu begini saja, untuk sementara waktu kita akan tinggal di apartemen milik ku saja. Di apartemen sana sepi, jadi kakak tidak perlu takut akan terjadi sesuatu pada kakak. Dan kebetulan apartemen ku tidak jauh dari rumah Bella, karena sekarang Dian telah bekerja sebagai pengawal untuk Bella. Maka dengan tinggal di apartemen akan memudahkan Dian untuk pergi ke sana, tanpa membutuhkan waktu yang lama," ucap Hendry menjelaskan.
"Setelah situasi aman dan kondusif, aku akan segera mencari rumah yang jauh dari keramaian dan memperketat penjagaan di sekitar rumah. Kakak mau, kan?" sambung Henry.
"Tapi apakah di sana tidak akan ada orang jahat?" tanya wanita yang bernama Ria itu.
__ADS_1
"Aku pastikan akan mengutamakan keselamatan kalian berdua. Jadi kalian harus percaya pada ku, aku ini keluarga kalian juga, kan?" kata Hendry.
Setelah usaha membujuk dan menimbang-nimbang cukup lama, akhirnya Ria menyetujui untuk tinggal bersama di apartemen Henry. Kemudian mereka pun mulai mengemasi barang-barang mereka untuk di bawa ke kota. Henry berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia akan menjaga dua wanita itu seperti menjaga dirinya sendiri. Biarpun Ria bukan saudara kandungnya, namun dialah yang telah merawat dan menemani adiknya sedari kecil dulu hingga dewasa seperti sekarang. Tanpa wanita itu mungkin dia tidak akan bisa bertemu dengan adiknya lagi.
...๐๐๐...
Di apartemen Devan, mereka tengah merayakan kepulangan Paman Isa dan Eva dengan mengadakan makan malam bersama. Mereka makan sambil berbincang-bincang mengenai bagaimana awal mula Paman Isa di sekap dan cerita Eva yang selamat dari kecelakaan beberapa tahun lalu. Suasana haru meliputi Bella, dia begitu bahagia karena ternyata dia masih memiliki seorang kakak. Ternyata dia tidak sendirian di dunia ini.
"Sayang, apa tidak sebaiknya kakak dan paman kita ajak tinggal di Mansion bersama kita?" tanya Bella pada Devan.
"Untuk kak Eva mungkin iya, dia akan tinggal bersama kita di mansion. Tapi untuk paman, biarkan dia kembali tinggal di rumah," ucap Devan.
"Tapi sayang rumah itu tidak aman untuk paman, terlebih Paman hanya sendirian di sana. Dan di sana pasti ada bibi dan Alea, hal itu akan kembali membahayakan paman," ucap Bela cemas.
"Apa maksud mu, Dev?" tanya papa Andra.
"Bibi dan Alea mereka bekerja sama dengan Doni, kan? Hal ini adalah kesempatan bagus, karena hal itu bisa memancing Doni keluar dari persembunyiannya, dan itu akan memudahkan kita untuk menangkap Doni," ucap Devan menjelaskan maksudnya.
"Tapi sayang itu akan kembali membahayakan paman, pokoknya aku tidak setuju!" tolak Bella.
"Sayang ku, kamu tenang saja. Suami mu ini sudah mempersiapkan hal ini sebaik mungkin, aku sudah mengirim beberapa anak buah ku untuk berjaga di sana dan sebagian yang bekerja jadi tukang kebun di rumah itu," jelas Devan.
Mereka yang tadinya tegang kini menghembuskan nafas lega, ternyata Devan sudah memikirkan hal ini dengan matang. Jadi Paman Isa tidak perlu takut jika hal buruk akan kembali menimpa dirinya.
__ADS_1
"Terima kasih nak, Terima kasih sudah banyak membantu paman. Paman telah banyak merepotkan diri mu," kata paman Isa.
"Tidak perlu sungkan paman, sekarang Paman adalah keluarga ku juga. Aku akan melakukan yang terbaik untuk keluarga ku," sahut Devan.
"Baiklah, ayo kita pulang. Ini sudah larut dan Ini sudah waktunya untuk kamu beristirahat sayang ku," ajak Devan sambil mengusap lembut surai panjang Bella.
"Sayang apa tidak bisa malam ini Paman menginap di Mansion? Aku baru saja bertemu dengan paman, aku masih merindukannya," pinta Bella.
"Tentu saja boleh sayang, apapun untuk mu," sahut Devan yang langsung mengecup bibir Bella singkat, membuat sang empunya memerah menahan malu.
Bayangkan saja dia mendapatkan serangan seperti itu di depan banyak orang, dasar suaminya itu tidak tahu tempat. Papa andra hanya bisa menggelengkan kepalanya. Melihat tingkah putranya itu, dia merasa seperti sedang bercermin. Sangat mirip dengannya ketika sudah mencintai seseorang, dia pasti akan menyalurkan rasa cintanya dengan terang-terangan.
"Son, ayolah jangan membuat Papa malu dengan sikap mu itu," nasehat Papa Andra.
"Papa ini tidak seperti tidak pernah muda saja, padahal dulu Papa lebih parah dari pada Devan, kan?" sahut Devan tidak terima.
"Sok tahu kamu, memangnya kamu pernah melihat papa seperti itu?" tanya papa Andra.
"Tentu saja tidak, tapi sudah bisa Dev pastikan bahwa sikap ku yang seperti ini pasti turunan dari papa. Iya kan? Papa tidak bisa mengelak lagi," jawab Devan.
Ucapan tersebut membuat semua orang yang ada di sana tergelak mendengarnya. Ternyata di balik sikap dingin Devan yang dulu, pria itu bisa melawak juga ternyata.
Setelah aksi saling pojok memojokkan, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke Mansion. Untuk malam ini Paman Isa juga akan ikut menginap di Mansion, karena jujur saja dia merindukan kebersamaan seperti ini bersama dengan kedua keponakannya. Andai saja kakaknya masih hidup, dia pasti akan sangat bahagia bisa berkumpul dan bercanda bersama dengan kedua putrinya.
__ADS_1