Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 1 : Perkenalkan


__ADS_3

Bergelar kan nama Syahreza biasa di panggil dengan sebutan Reza, ku mulai mengukirkan sejarah dalam silsilah keluarga menggunakan pena bertaraf perguruan tinggi. Dengan kuda besi Jupiter MX hijau ku melaju menembus pekatnya tirai embun bersama seorang manusia pelupa yang menjabat sebagai seorang sahabat sejak kami terdekat kan dengan kisah manga Naruto tiga tahun lalu. Bermodalkan keyakinan dan jam tangan, ku hempaskan segala ketakutan dan spekulasi negatif penyelimut angan. Hari senin 27 November 2017 dengan bahagia jiwa pemuda desa ini menerima kenyataan sebagai mahasiswa baru di salah satu Universitas ternama di kota kami.


"Ayoo Ro, gass," ujarku kepada seseorang yang kini membonceng ku dengan kilatnya putaran roda berporos.


"Udah maksimal bambang," jawabnya dengan keras dari balik helem hitam tuanya.


"Keburu telat Roo," ujarku kembali.


"Cerewet luu," jawabnya dengan menundukkan kepala di belakang stang setir, seperti halnya pembalap moto GP.


Kurang dari satu jam perjalanan kami membelah udara dingin berselimut kabut, kini kami telah sampai di halaman depan tempat kami akan menuntut ilmu kesesarjanaan. Yahh, karena kami berdua sama - sama manusia yang terlahir dan di besarkan di desa, agak sedikit kebingungan ketika melihat bangunan - bangunan besar berdiri megah di sekeliling kami yang sedang berjalan menuntun motor mencari tempat untuk mendaratkannya.


"Mas mas... ke barat lurus," ujar seseorang berbaju gelap dengan khas atribut keamanan.


"Ehh, iya Pak," jawab Yusro yang sedang menuntun motor di depanku.


Dengan segera kami langsung membawa si hijau menuju lokasi yang telah di arahkan bapak satpam tadi, ku dorong si hijau dari belakang agar segera mendaratkannya dan bergegas menuju lokasi titik kumpul. Melihat pekarangan yang terlihat sejauh mata memandang sudahlah sepi, menggambarkan kami telah terlambat.


"Apes bener gua, awal masuk udah terlambat," ujar ku dalam hati sambil ku geleng - geleng kan kepalaku pelan.


Akhirnya kami berdua pun telah sampai di tempat parkir yang telah di arahkan bapak satpam tadi. Dengan segera kami langsung bergegas berlari menuju gedung yang teramat besar dengan beberapa ruangan tergambar jelas dari kami berdiri.


"Ehh, tau ruangan yang mana?" tanyaku kepada Yusro menghentikan langkahnya yang sedang berlari di depanku.


"Haduh, kagak... gua lupa kagak bawa HP," ujarnya sambil menepukkan telapak tangannya di kening kepala.


"Hufftt..." ku hela nafasku dalam dalam sambil ku usap wajahku dari atas ke bawah.


Yahh, seperti inilah temen gua, pintar iya, ganteng iya, atletis juga iya... cuman minusnya kek gini, pelupa akut. Melihat kami yang sedang kebingungan, dari belakang ada seseorang yang menyapa kami.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu mas?" tanya seorang pemuda tinggi besar dengan jas hitam, bersepatu pantopel.


"Anu Mas, lokasi kumpul MABA di mana ya," jawabku kebingungan.


"Jurusan apa Mas?" tanyanya kembali.


"Pendidikan Bhs. Indonesia Mas," jawab Yusro.


"Ooo, ikut saya Mas, ngomong - ngomong kelasnya apa Mas ?" sahut pemuda tinggi besar itu sambil berjalan ke arah gedung.


Aku dan Yusro hanya saling pandang kontak mata, mengisyaratkan kami sedang bertanya - tanya tentang pertanyaan yang di lontarkan pemuda itu kepada kami.


"Hmm, kelas gimana ya Mas ?" tanya Yusro lagi, setelah mendapatkan hasil dari kontak mata sebelumnya.


"Lohh, belum tau ROMBEL juga ya?" tanya pemuda itu lagi kepada kami.


"Rombongan belajar Mas, jadi di PBI itu di bagi menjadi tiga kelas rombongan belajar," jelas pemuda itu sambil berjalan.


"Ooo, kelas yang kek gitu ya," ucapku sambil menatap Yusro dan ku tepuk pundaknya.


"Ngomong - ngomong, namanya siapa?" tanya pemuda itu kepada kami sambil berdiri di depan pintu gedung lantai satu.


"Panggil aja gua Yusro, ni temen gua Reza," jawab Yusro sambil berjabat tangan dengan pemuda itu.


"Oke, salam kenal, gua Agni," ujar pemuda itu memperkenalkan diri sambil membuka pintu gedung di hadapan kami.


Woo, setelah pintu terbuka, terdengar begitu banyak gesekan suara yang berlalu - lalang saling mendahului untuk masuk kedalam gendang telinga setiap manusia yang ada. Terlalu banyaknya manusia yang berkumpul menjadi satu dalam sebuah ruangan besar ini membuat raga ini sempat tercengang dan terdiam, melihat kehidupan kami sebelumnya di desa belumlah pernah dihadapkan dengan lautan manusia seperti saat ini.


"Mas, sini." Lambaian tangan Agni sambil menepukkan kedua tangannya agar kami segera tersadar akan kekaguman kami sesaat.

__ADS_1


"Kita akan berkumpul sesuai dengan Prodi yang kita ambil," ujar Agni sambil berjalan di sampingku terdengar tipis dalam telingaku.


Kami berdua hanya terdiam dan mengangguk, melihat situasi yang seramai ini membuat kami masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri dan beradaptasi.


Singkat cerita, kini aku dan Yusro telah sampai di ROMBEL PBI kelas C. Yahh, ini adalah kelompok belajar kami nanti ketika sudah di mulainya pembelajaran. Ku lihat dan amati sekeliling, begitu banyak pemuda pemudi yang berpenampilan beraneka ragam, dari yang pemuda terlihat seperti preman dengan baju kaos dan rambut gondrong di ikat kebelakang, pemuda yang pendiam tanpa kata, pemuda yang tetap fokus pada ponselnya di tengah banyaknya manusia, pemuda yang begitu percaya dirinya ngobrol kesana - kemari yang dapat aku pastikan mereka belumlah kenal, dan masih banyak lagi ragam penampakan yang ku ketahui.


Ditengah ramainya pembicaraan manusia yang saling bertubrukan, aku dan Yusro hanya berdiri diam di tepian kelompok. Agni yang tadinya berdiri di samping Yusro kini hilang entah kemana. Namun, di tengah diam ku bersama sepi, ada seseorang yang membisikan kata dengan pelan ke telingaku.


"Lihat tu cewek, gua yakin... tu kerudung pasti potongan mukena," ujarnya pelan tepat di depan telingaku.


Tanpa kata aku langsung melepaskan tawa dengan kerasnya, mendengar kalimat yang begitu konyol ku rasa, di tambah lagi dengan ku lihat seorang pemudi yang menggunakan pakaian persis apa yang pemuda tadi bisikan kepadaku.


Yahh, kurasa kesan pertamaku di bangku perkuliahan merupakan hal yang konyol. Tak cuman sampai di situ, pemuda dengan tubuh agak gemuk berkulit sawo matang, dengan tekstur wajah ke arab - araban itu kembali membisikan kalimat konyolnya kepadaku.


"Ehh ehh... lu liat cewek kerudung biru itu," sambil melirikan matanya ke arah cewek yang ia maksud.


"Yang putih ngeri itu?" jawabku mencoba memperjelas.


"Nahh... cantiknyaa hmmm... jadi ingin nafkahi gua," ujarnya lagi dengan mimik wajah yang sangat konyol.


Sekali lagi humor receh ku bergejolak manja di atas tingkah konyol pemuda yang baru ku kenal dan belum pernah aku ketahui namanya. Belum berhenti tawaku terlepas, kini tangannya melingkar ke pundak ku dan memandangiku bergantian dengan Yusro.


"Ehh... lu kembar?" tanya pemuda itu kepadaku sambil menunjuk aku dan Yusro.


"Lahh nggak," jawabku sambil masih tertawa tipis peninggalan kalimat tadi.


Dengan segera ia bergegas pindah tempat ke sisi kiri ku, tepat di tengah - tengah aku dan Yusro sembari melingkarkan tangannya ke pundak ku dan Yusro.


"Duo Cogan!!" Teriaknya ke arah mahasiswa lain yang sedang bergerombol di depanku.

__ADS_1


__ADS_2