
hirauan bermelodi dengan nada yang saling terhubung begitu sopan dan tentram hinggap dalam telinga yang kini tengah bersandar pada kepala yang pusing akibat lelahnya raga yang terus berputar keras sejak dari kemarin.
"Za, gua nanti balik dulu lu ikut apa enggak," tanya Yusro sambil menenteng kamera profesional.
"Lahh, ngapain... mau kemana lu," tanyaku dengan segera.
"Ada acara di rumah, kalo lu ikut entar kita pulang ke rumah gua," jawab Yusro sambil bersandar di dinding sebelahku dan menghadap ke panggung pementasan.
"Gimana ya, banyak tamu undangan apa enggak," jawabku dengan ragu.
"Lumayan sih, keluarga besar kumpul... singkatnya gitu," jawabnya lagi dengan santai.
"Hmmm, gua kok agak ragu," jawabku sambil menyilangkan lengan.
"Ikut gua pulang aja," sahut Fauzi yang sejak tadi berdiri di sebelahku.
"Yakin lu ? nih anak ngerepotin banget soalnya," jawab Yusro dengan wajah konyolnya.
"Kurang ajar, lu yang tiap hari minta jatah makan, gua yang harus ngerepotin ?" jawabku kembali dengan wajah sedikit sombong.
"Hahaha, dah.. dah... lu ikut gua aja," ujar Fauzi lagi dengan tawa ringan.
"Yaudah kalo gitu, besok harus masuk lu nyet," jawabku kepada Yusro.
"Udah tenang aja, gua urus," jawabnya sambil berjalan mendekati panggung untuk mengambil gambar.
Singkat kata acara demi acara berlangsung dengan seru dan meriah, sampai saat ketika penghujung waktu kegiatan terakhir telah tiba. Yah... acara penutup yang akan menghilangkan semua batasan - batasan yang tercipta antara manusia yang hinggap dalam ruang berwarna ini.
"Untuk lebih mempersingkat waktu, silahkan panitia untuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk acara terakhir, ramah tamah." ujar MC dari depan seusai penampilan terakhir telah dikibarkan.
Dengan begitu rapi dan indah, barisan panitia yang membawa serpihan kecil konsumsi perlahan menaiki tangga dan terlihat jalan berbanjar satu kebelakang dengan rapi layaknya barisan semut yang membawakan hidangan kepada sang ratu.
"Silahkan dibagi kelompoknya, per kelompok delapan anak dengan satu leser untuk wadah makanan," ujar MC lagi dengan lantang dari depan.
Entah karena lapar atau kompak, semua manusia yang hadir segera membagi kelompok, dan berkumpul sesuai yang diinstruksikan oleh MC.
"Khusus untuk para tamu undangan silahkan mengikuti Mas Ulul guna untuk ramah tamah," ucap MC lagi.
"Hahaha, gua kira bakalan makan bersama dengan para hokage," ucapku dalam hati sambil tersenyum tipis dan jahat.
__ADS_1
Singkat cerita kami semua dengan bahagia menikmati setiap inci hidangan berat yang telah disediakan paniti dengan manis dan rapi itu. Sampai ketika acara pun telah selesai dan kembali sepi hanya meninggalkan bekas senyuman dan keletihan yang tak terlihat oleh tawa.
"Sukses ya acaranya," ucapku kepada Ulul yang berjalan mendekatiku dan duduk di sebelahku.
"Alhamdulillah... meski ada beberapa yang bermasalah namun bisa dikondisikan dengan segera," jawabnya dengan pelan sambil merebahkan tubuhnya.
"Gua harap, tahun depan lebih meriah lagi dari ini," ujarnya lagi sambil merentangkan badan lebar - lebar.
"Za... Za... foto bersama dong..." sahut seseorang dari sampingku yang dapat ku lihat dari suaranya itu adalah Arini.
"Ehhh, bener kan," ucapku sambil menoleh ke arahnya.
"Bener apanya," jawab Arini dengan segera dan bertanya - tanya.
"Bukan... bukan apa- apa... gua tadi ngobrol sama Ulul," jawabku dengan senyum pengalihan.
"Eee... minta fotonya dong," ujar Arini lagi dengan senyum.
"Iyaa, kemana fotonya..." jawabku sambil beranjak berdiri.
"Disitu aja Za..." jawabnya masih dengan senyum manis khasnya.
"Mas Ull... minta tolong dong," ujar Arini mencoba menggoda Ulul yang tengah sibuk rebahan merenggangkan otot.
"Ngerepotin aja... tak hihh entar kamu Nyil," jawab Ulul sambil beranjak berdiri dan meraih ponselnya.
Beberapa kali rekam adegan pun telah terambil dalam goresan foto, dan Arini pun juga kembali pada kegiatannya kumpul bersama teman-teman yang lain, namun dari banyaknya manusia yang berlalu lalang, tiba - tiba benak ini mengidentifikasi adanya kekurangan yang sangat terlihat ku rasa.
"Nyill... Kek ada yang kurang," ujar ku dengan segera menghentikan langkah nya.
"Apa Za..." jawabnya dengan segera sambil kembali berbalik kepadaku.
"Bentar deh..." ucapku sambil melihati kesibukan manusia dengan aktifnya.
"Ehh iya... Nabila kek enggak terlihat dari tadi," ucapku lagi setelah benak ini menjelajahi ingatan yang begitu luas angannya.
"Ooo... mbak Nabila... tadi pulang dulu, katanya giginya sakit gitu," jawab Arini dengan pelan.
"Eee... beneran hilang satu ya manusianya," jawabku sambil mengangguk- angguk pelan.
__ADS_1
"Emang kenapa ?" tanya Arini dengan pelan dan serius.
"Enggak... nggak apa - apa, cuman ngerasa ada yang kurang gitu aja..." jawabku dengan pelan sambil meletakan tangan di atas kepala Arini.
"Dah... segera kembali ke barisan sana," ucapku lagi sambil memutar kepala Arini menghadap kerumunan manusia pengghibah.
"Adududuhh... sakit Za," ujarnya sambil memukul pelan lenganku.
Singkat cerita setelah semua barang dan properti yang berserakan dikemas dan dikembalikan ke tempat asal mereka, terlihat panitia yang bertugas sedang berkumpul di depan panggung untuk membicarakan kegiatan yang barusan berlangsung. Masih dari jarak jauh mata ini memperhatikan, terasa tepukan pelan dari belakang yang menarik ku kearahnya.
"Balik dulu yuk," ucap Fauzi sambil menarik pundakku.
"Ehhh, bentar.... gua mau ambil tas gua dulu," jawabku sambil menghentikan tarikannya.
"Cepet, gua tunggu disini," jawab Fauzi dengan pelan.
Dengan segera langsung aku berlari menuju pojokan aula untuk mengambil tas dan jaket segera menuju ke arah Fauzi yang tengah berdiri tepat di atas tangga penghubung lantai dua dan tiga.
"Dahh... dahh... ayok dah siap gua," ujarku menghampiri Fauzi.
"Yok, segera aja..." jawabnya sambil memulai langkah menuruni tangga.
"Ehhh... ngomong - ngomong gua kok enggak liat Syarif dari tadi," tanyaku kepada Fauzi yang tengah berjalan menuruni tangga.
"Entah yaa... gua enggak tau pasti kenapa, tapi dia tadi pulang dulu saat setelah ramah tamah," jawabnya dengan santai sambil berjalan.
"Tumben amat tuh anak, enggak ada pamit pamitan dulu," ucapku sendiri.
"Lu tumben juga ngajak pulang, biasanya lu yang paling betah di luar," ujarku kembali bertanya.
"Gua entar ada rapat organisasi, jadi harus segera sampe rumah," jawabnya dengan santai.
"Lahh... nasib gua entar gimana," tanyaku kembali dengan segera sambil menghentikan langkah.
"Cemen banget sih lu jadi cowok, kan kalo enggak gua tinggal di rumah ya gua bawa rapat... cuman itu kan peluangnya," jawabnya dengan nada sedikit meledek.
"Gua malu dong kalo harus ikut lu rapat," jawabku kembali dengan pelan dan lemas.
"Enggak enggak, cuman rapat para petinggi organisasi doang... mungkin cuman lima anak," jawabnya sambil kembali meneruskan langkah.
__ADS_1
"Awas aja kali sampe nipu," jawabku sambil mengangguk - angguk pelan dan berjalan.