
Padatan embun yang menjadi satu kini kian berkelompok pada sehelai daun - daun hijau pilihan mereka pribadi, dengan mengatasnamakan kelompok, mereka menjanjikan sebuah tetesan semakin terlihat jelas akan adanya makhluk lembut dan sejuk yang selalu menyebar di setiap paginya hari.
Masih dengan ikatan waktu yang mengekang, tanpa sadar teruslah raga menerobos setiap lipatan - lipatan ruang penghubung lembar kisah yang beruntai pada janji takdir. Masihpula dengan raga yang biasa ku tarik dari belakang aku melesat dengan cepatnya mengejar ujung garis putih pemisah gelap pada jalanan aspal hitam namun dengan rasa yang sedikit berbeda.
"Masuk jam berapa Ro ?" tanyaku dari jok belakang dengan angin yang menerjang begitu kencangnya.
"Apa ?" sahut Ependi dari depan.
"Enggak, gua kira lu tadi Yusro," jawabku singkat sambil nyengir dari belakang.
"Kebiasaan ngomongin obrolan enggak penting sama Yusro gua kayaknya," ujarku dalam hati.
"Abis ini mau kemana lu Pen," tanyaku kepada Ependi dengan sepinya seribu kata fokus mengemudi.
"Pulang, abis itu balik lagi kayaknya," jawab Ependi dengan singkat.
"Lu enggak mau coba masuk kelas gua, orangnya asik semua, hahaha," tawaku tiba - tiba lepas sendiri setelah teringat sekilas tingkah anak - anak.
"Alah malu gua, kapan - kapan aja," sahut Ependi masih dengan fokusnya mengemudi.
"Ohiya, gua denger bentar lagi ada SP loo, lu enggak mau ikut ?" tanyaku kembali.
"Apaan lagi tu," tanya Ependi balik.
"Study Pendek, jadi kayak kuliah singkat satu semester ini, besok semester duannya kita bareng, tapi kalo elu daftar lo ya," jelasku dengan singkat.
"Gua pikir dulu aja lah nanti," setelah Ependi terdiam sesaat.
"Ehhh, ngomong - ngomong lu nanti pulangnya gimana," sahut Ependi lagi.
"Gua enggak tau," ucapku dengan nada memelas.
"Hahaha, rasain," setelah tawanya lepas dengan keras.
"Kurang ajar lu," jawabku singkat dan ikutan tertawa kecil.
Yah, seperti apa yang direncarakan Yusro semalam, hari ini dia tidak masuk kelas dikarenakan sedang mengunjungi Nyonyannya yang tengan dalam masalah untuk mencoba memberikan sedikit motivasi indah. Ala hasil, hari ini aku berangkat bersama dengan seorang manusia yang bernamakan Ependi sejak iya dilahirkan, teman kami satu kamar, di tempat kami menuntut ilmu dimalam harinya.
Singkat cerita akhirnya aku telah sampai di depan gerbang kamupus ternama tempatku menuntut ilmu dengan tanda bukti ijazah S1 berkhusus sarjana pendidikan. Dengan segera aku langsung menuju kelas tempat biasa kami gunakan dalam proses pembelajaran. Namun, sebelum aku memasukinya ada hal lain yang mengganjal dan menghentikan langkahku ketika hendak membuka pintu.
"Tunggu sebentar, suarannya yang ngajar kok asing banget," ucapku dalam hati sambil mencoba mendengarkan penjelasan dari seseorang yang berada di dalam ruangan.
"Ini bener kan ruangannya," ucapku sendiri sambil melihat nama ruangan yang tergantung di atas pintu masuk.
__ADS_1
"Bener G5" ucapku dalam hati setelah melihat nama ruang.
"Ehh tunggu, jangan bilang kalo gua salah masuk jam," hatiku kembali berkata, dan ragaku terpatung diam di tengah pintu yang tertutup.
"Apes bener hari ini," ucapku dalam hati sambil menghela nafas dalam.
Tiba - tiba dari arah kejauhan terdengar tawa kecil dari seseorang yang sudah tidak asing lagi tersarang pada gendang telingaku, yah itu adalah tawa Syarif dan Fauzi yang mengamati tingkahku dari kejauhan.
"Tuhkan manusia kurang ajar lagi," ucapku dalam hati setelah melihat mereka berdua yang tertawa terbahak - bahak.
Dengan segera, aku langsung menghampiri mereka berdua dan terlihat pula ada beberapa anak yang juga berkumpul dengan mereka. Namun, sekalilagi langkahku sedikit terhalangi dengan rasa grogi yang bercampur malu - malu kucing setelah ku tatap seorang wanita berkerudung merah di samping Syarif.
"Ehhh, itu kan Sri," ucapku dalam hati sambil tersenyum sendiri tanpa alasan.
"Ngapain wajahlu merah, enggak enak badan," ujar Fauzi menyambutku yang baru bergabung.
"Dia tegang, hampir salah masuk kelas, hahaha," sahut Syarif masih dengan tawanya.
"Masak enggak ada yang ngabarin gua kalo jamnya diundur," sahutku juga, mencoba mengendalikan situasi.
"Siapa yang mundur, kamu aja yang tumben udah dateng," sahut Sri dengan logat khasnya yang sinis.
"Ehh, ngomong - ngomong tumben sendiri, mana manusia satunya ?" tanya Fauzi.
"Sedang menyelesaikan prahara rumahtangga," jawabku dengan singkat.
"Jelasnya dongg, cowok kayak Yusro mana sempet nganggur tu status," jawab Fauzi dengan nada songongnya.
"Wahh, hot topik nih," jawab Sri sambil tersenyum jahat.
"Status gua nganggur Zikk," sahutku dengan nada memelas sambil menggoyangkan bahu Fauzi.
"Sini aku urus biar enggak nganggur," sahut Sri lagi dengan nada menggoda.
"Eeeeee...." ucap kami bertiga bersamaan dengan kerasnya.
"Fii, Hulaifi... liat nih, dia mau ngurusin Reza," ujar Fauzi kepada Hulaifi yang duduk sendiri dengan rokok dan handphonenya.
"Ya sana urus aja, gua aja jadi Masnya enggak pernah dapet jatah," sahut Hulaifi dengan nada sedikit ngegasnya.
"Hahaha, bener gua angkut ni nanti ya," jawabku diantara tawa Fauzi dan Syarif yang menggema.
"Ayokk," sahut Sri dengan senyumnya yang menggoda.
__ADS_1
"Hahaha, ampun Mbak," tawaku langsung terlepas setelah melihat reaksi Sri.
Dengan sarapan pagi senyum menggoda Sri dan candaan dari beberapa manusia kurang ajar membuat beberapa menit yang telah berlalu menjadi kilatan detik yang hanya mampir sebentar untuk singgah. Tak begitu lama setelah kami saling melempar tawa, tiba - tiba Jazul datang dengan senyum yang melebar karena kondisi ia berada saat ini.
"Halo gengs," dengan Sombongnya ia mendaratkan motornya di antara kami.
"Zull, hati - hati to," Sahut Arini sambil menepuk punggung Jazul dari belakang namun masih dengan senyum khasnya yang kecil.
"Widihh, ini dapet momongan," sahut Fauzi menyapa Jazul yang barusan tiba dengan membonceng Arini.
"Kalo ini permanen mah gua gapapa," jawab Jazul dengan senyum - senyum ke arah Arini.
"Udah - udah, cepet di taruh ni motor, menuh menuhin aja," sahut Arini sambil turun dari motor.
"Tumben baren Nyil ?" tanyaku kepada Arini.
"Itu loo, motornya Jazul akal - akal bocor," jawab Arini sambil senyum - senyum ketika bersalaman.
"Kok akal - akal gimana sih, beneran bocor tadi Bocil," sahut Jazul dengan segera dengan nada sedikit naik.
"Alah, Jazul pingin enaknya doang," sahut Hulaifi dari sudul lain.
"Hahaha, padahal lucu lo, kayak Masha and The Bear," sahut Syarif memancing tawa lepas kami semua.
"Diem lu ceking," menunjuk ke arah Hulaifi dan berjalan mendekatinya.
"Mana - mana, jatahh," sahut Jazul memalah Hulaifi.
"Nihh nihhh," jawabnya sambil mengeluarkan satu kotak rokok dari kantung jaketnya.
"Gini dong, I Love You," ujar Jazul dengan merdunya kepada Hulaifi.
"Zull, jangan gitu, aku jijik dengernya," sahut Arini sambil tertawa.
"Apalagi gua," ujar Hulaifi sambil berjalan menjauh dengan wajah berlagak sok jijik.
"Cetakkk !!! takkk!!! " suara pintu ruangan di depan kami dibuka.
"Mas, Mbak, jangan keras - keras ya ngobrolnya... mahasiswa saya tidak bisa konsentrasi, tertawa terus denger topik pembicaraan kalian," ujar Pak Dosen dengan pelan setelah keluar dari ruangan di depan kami.
"Ohh, iya Pak maaf," sahut Fauzi sambil menundukan kepala minta maaf.
"Gabung aja sini Pak," sahut Jazul dengan tiba - tiba yang membuat kami semua kebingungan harus menahan tawa seperti apa, dan terdengar pula suara tawa kecil dari dalam kelas yang seperti di komando.
__ADS_1
"Kamu itu ya, dari Prodi apa ?" jawab Bapak Dosen dengan pelan tapi menyeramkan.
"Udah Pak, sampai situ aja, kami undur diri," jawab Fauzi dengan menahan tawa, dan beranjak pergi.