Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 21 : Ambil positifnya


__ADS_3

"Gimana Ro, langsung ke kampus ?" tanyaku kepada Yusro sembari melipat selimut.


"Iya langsung ke kampus aja, tapi santai... enggak usah buru - buru," jawab Yusro dengan wajah murung.


Yah, kini mentari telah menampakan dirinya dengan riang dan gembira. Sangat berbeda dengan suasana hati kami semua semenjak kemarin menerima surat tilang dari manusia petugas pelayan masyarakat, katanya. Bukan karena ingatan kemarin yang membuat jiwa ini terus gundah dan gelisah, melainkan angan yang takut akan kenyataan di enam hari ke depan. Tahun ini adalah tahun dimana diperlakukan nya denda satu juta rupiah bagi pengendara yang melakukan kesalahan di jalan raya dan yang terkena razia akibat tidak kelengkapan surat - surat kendaraan.


Dengan kondisi ekonomi yang seadanya, di tambah dengan denda yang begitu memukul sulit bagi kami untuk berpaling dan beranggapan seperti tidak pernah terjadi apa - apa.


"Ayok nak sarapan," ujar Ibu Yusro sembari mengeluarkan nasi dan lauk pauk.


"Hehehe, iya Buk," jawabku pelan dengan nada malu - malu.


"Ayo Yus, temennya di ajak makan... jangan murung aja, masih muda kok murung mulu," ucap Ibu Yusro lagi dengan nada melawak dengan senyum ke ikhlasan tanpa adanya beban dan tanggungan.


"Yok sarapan geng," teriak Yusro mencoba membakar semangatnya sendiri.


"Ya gitu dong, minumnya masih di buatin," sahut Ibu Yusro sambil menepuk pundak kuat Anaknya.


"Yah beliau begitu kuat," ucapku dalam hati sembari tersenyum tipis dan tertunduk.


"Setidaknya kita dapat surat sakti," ujar Yusro sambil mengambil nasi.


"Surat tilang, yang berharga satu juta ?" sahut Agil dengan di ikuti tawa.


"Enggak gitu, coba lu pikir... kalau kita kena surat tilang, berarti kita enggak bakal kena tilang lagi," dengan senyum jahat Yusro menjelaskan, dan kami semua hanya terdiam untuk berfikir sejenak.


"Hahaha, bener juga lu," tawa kami semua pecah setelah mengerti apa yang di maksud Yusro.


"Hahaha, oke agendakan berkelana ke mana," sahut Agil masih dengan tawanya.


Berawal dari situ, kini waktu terasa berjalan seperti biasanya lagi, dengan canda tawa yang melekat dalam setiap pembicaraan, meski masalah yang ada belumlah terselesaikan seakan itu semua telah menepi sesaat, mungkin itulah yang di sebut mengambil sisi positif dari kejadian negatif.


"Yos !! kita kembali ke kampus, lewat jalan umum saja, enggak usah leawat jalan tikus," ujar Yusro dengan lantang.


"Hahaha, kita uji kesaktian kertas ini," sahut Agil sambil tertawa lepas.


"Gimana Qim, jadi enggak ikut ?" tanya Jhoni kepada Taqim yang hendak tidak ikut.


"Gua berhenti di tempat saudara aja, sambil mau ngurus motor," jawab Taqim yang masih memasang wajah gelisah.


"Yok gapapa, beres - beres... enggak usah terlalu di pikir," sahut Yusro sembari merangkul Taqim dengan satu tangan di sisi kiri.


"Terobos saja lahh..." imbuh ku sambil merangkulnya dengan satu tangan di aisi kanan.

__ADS_1


"Iya iya," jawabnya singkat sambil melepaskan tanganku dan Yusro.


"Yok berangkat kapan ?" tanya Taqim lagi masih dengan wajah yang murung.


"Yaa... sekarang ini Qim, abis beres - beres kita meluncur," jawabku sambil menumpuk piring sisa makan.


"Gua enggak bisa ngomong apa - apa sih," ucapku dalam hati melihat raut wajah Taqim yang begitu tersiksa dengan batinnya, yah memang dialah anak dengan tipikal pemikir di antara kami semua.


"Dah cepetan mandi kalo gitu," ujar Agil sambil menepuk paha Taqim keras - keras.


"Iya iya, ngapain sih," jawab Taqim setelah menerima pukulan dari Agil dan beranjak pergi mengambil baju ganti.


"Biar lu cepetan buka mata," jawab Agil singkat.


Tidak lama setelah kami sarapan, mandi, dan mengemasi barang masing - masing, kami segera berangkat kembali ke rutinitas layaknya seorang penuntut ilmu, meski hari ini beberapa jam perkuliahan sempat terlewat akibat ketidak semangatan menyambut bergantinya hari, namun hal itu sudah teratasi dengan kalimat singkat dari Yusro dan ibunya.


Tanpa mengenal rasa takut akan terpaan angin yang berjalan melawan arah, dengan tarikan kuat mesin bergerigi, kami melesat dengan begitu cepat menembus ruang dan waktu menuju kumpulan ruang yang tertata rapi membentuk ungkapan sebuah gedung.


"Kita pisah di sini, gua mau ke kampus dua dulu." Teriak Agil dari motornya yang menyanding kami.


"Eee, oke enggak apa - apa," jawabku dengan keras pula.


Dengan segera Agil langsung menarik pedal gasnya lebih ke dalam dan mendahului kami. Dan diikuti Yusro yang menambah kecepatannya pula namun dengan arah yang berbeda. Tidak butuh waktu lama untuk menyusuri panjangnya jalanan aspal penghubung, akhirnya kami berdua telah sampai di tempat parkir motor Universitas.


"Langsung masuk Ro ?" tanyaku kepada Yusro sambil melepaskan helem.


"Masih setengah jam," jawabku singkat setelah melihat grup kelas.


"Ke kantin aja lah," ujar Yusro sambil senyum - senyum ragu.


"Nah, tinggal bilang gitu aja modus lihat grup kelas dulu," jawabku sambil tertawa pelan.


"Seenggaknya kan basa - basi dulu," sahut Yusro dengan wajah menahan tawa.


"Roo... Roo..." jawabku sambil berjalan menuju kantin.


Sesampainya di pintu masuk kantin, langkah kami berdua terhenti setelah melihat penampakan dua manusia yang tidak lagi asing dalam ingatan. Yah, itu adalah Fauzi dan Syarif, terlihat Fauzi sedang meminum kopinya sambil melihat kedatangan kami.


"Hahaha, lu lagi," ucap Syarif dan Yusro bersamaan.


"Uhukk uhukk, hahaha." Fauzi yang tengah minum langsung tersedak karena tertawa melihat respon Yusro dan Syarif yang sama.


"Hahaha, udah tua kalau minum pelan - pelan," ucapku dengan tawa melihat Fauzi yang minum tersedak dan muncrat.

__ADS_1


"Ehh, lu ngapain di sini," tanya Yusro setelah menelan semua tawanya.


"Gua telat tadi," jawab Syarif singkat.


"Bukanya masih setengah jam," ucapku mencoba bertanya.


Syarif dan Fauzi hanya diam dan saling menatap satu sama lain.


"Halah, kok percaya amat, emang mereka malas masuk aja," sahut Yusro sambil duduk di kursi sebelah Syarif.


"Maksudnya tu ya gitu lo Ro," jawab Syarif sambil menepuk pundak Yusro.


"Manusia," ucapku sambil meminum kopinya Fauzi.


"Ehh, abis ini ke rumah Unyil yuk," ajak Fauzi.


"Enggak apa - apa, kalau ada yang lebih jauh berani gua... pas ada surat sakti ini," jawab Yusro sambil menepuk sakunya.


"Hahaha, surat tilang !!" sahut Syarif dengan keras.


"Ehhh, drama lu gimana tapi ?" tanya Yusro lagi kepadaku dan Fauzi.


"Alah mundur, karena ada pendaftaran beasiswa ini," jawab Fauzi dengan santainya sambil menyalakan rokok.


"Terus kapan mulai latihan lagi," tanya Yusro lagi.


"Menunggu informasi katanya," jawab Fauzi sembari melepaskan asap rokoknya.


"Mundur teruss," sahut Syarif dengan nada enggak ada akhlaq.


"Ehh, lha si Unyil gimana, udah tau kalau kita mau ke sana ?" tanyaku sambil menyalakan rokok.


"Udah, gua kemarin lusa udah bilang mau mancing dan makan - makan," jawab Fauzi dengan santainya.


"Lu kemarin ngapain enggak bilang ke gua, untung gua masuk hari ini," tanyaku lagi sambil menghembuskan asap rokok.


"Manusia, lupa lah," jawabnya dengan singkat.


"Oke kalau begitu, tinggal nunggu jam selesai, langsung meluncur," ujar Yusro dengan semangat.


"Lu semangat jika berurusan dengan makan pasti," ucapku dalam hati melihat tingkahnya.


"Yang lu cari pasti makanannya," sahut Syarif sambil tertawa.

__ADS_1


"Iya lah," jawab Yusro dengan percaya dirinya.


"Tuh kan bener," ucapku dalam hati sambil menggeleng - geleng kan kepala.


__ADS_2