
"Tadi berangkat abis subuh ya," tanya Bu Liana sembari menaruh beberapa wadah baskom yang berisikan aneka ragam macam makanan.
"Hehehe, iya Bu," jawab Yusro sambil menaruh piring yang sudah bersih dari kumpulan nasi yang ada.
"Nyasarnya jauh ya tadi," ucap beliau lagi.
"Hehehe, lumayan bu..." jawab Yusro kembali dengan senyum malu - malu.
"Yah, emang maps biasannya suka ngajak becanda," ujar beliau dengan senyum manisnya.
Pembicaraan yang hangat dan santai pun terjadi begitu saja, dengan sosok beliau yang begitu santai dan mudah akrab dengan anak muda membuat kami semakin santai dan rileks untuk mengayuh bahan pembicaraan selaras dengan dosis kami pada umumnya.
Tak berselang lama pembicaraan itu berlangsung, tiba - tiba terdengar lonceng jam dinding yang begitu menggema merasuk dalam gendang telinga, membuat kami seketika tersadar akan tugas dan iringan waktu yang kian detik kian bertambah.
"Ehh, maaf Bu kelihatannya kok udah lumayan siang ya," ucap Yusro sembari melihat jam tangannya.
"Oh iya, jadi lupa saya... bentar bentar, saya ambilkan tas dulu untuk membawa," jawab beliau sembari bergegas ke belakang,
"Emang jam berapa Ro," tanyaku sambil mengintip jam tangannya.
"Jam enam kurang lima belas sih, tapi kita juga harus jaga - jaga waktu buat nyasar," jawab Yusro sambil meminum tipis kopi hangat hidangan Bu Liana.
"Idih, di kamus lu kok ada kosakata nyasar, gua enggak bambang," sahutku dengan segera.
"Ya bukannya gitu maksud gua, siapa tau lupa jalan kan... namannya juga manusia," jawabnya dengan wajah datar mata menyipit.
Tiba - tiba terlihat dari arah belakang Bu Liana membawa satu tas berwarna biru yang berukurang tidak sedang, dengan volume ku kira hampir seukuran setengah motor kami.
"Idihh, gimana nih bawanya," ucapku dalam hati melihat ukuran tas yang begitu besar.
"Minta tolong mas, tolong ambilkan baskom biru yang ada di meja sana," ujar beliau kepada Yusro sambil menunjuk ke arah belakang.
"Ohh iya Bu," jawab Yusro dengan segera dan bergegas berdiri melaksanakan tugas.
"Mas Reza tolong bantu saya memasukan makanannya ke dalam tas ya," ujar beliau lagi.
Tak berselang lama kami menjalankan tugas masing - masing, terlihat dari belakang terlihat Yusro yang dengan senyum jahatnya membawa baskom biru yang sekali lagi membuatku tercengang akan ukurannya.
"Enggak salah nih," ucapku dalam hati sambil menelan ludah.
"Okee, silahkan Mas Reza naik terlebih dahulu ke motor, kita atur cara pembawaannya," ucap beliau lagi - lagi dengan senyum manisnya.
"Ee..ee... iya Bu, siap," jawabku dengan terpatah - patah dan bergegas menghinggapi motor.
Dengan beberapa kali putaran jarum jam, akhirnya semua barang bawaan telah siap diluncurkan meski aku sendiri kurang tau pasti sampai kapan tangan dan otot ini kuat untuk mengikat semua bawaan yang begitu menonjol.
__ADS_1
"Terimakasih Bu atas hidangannya, kamu undur diri terlebih dahulu," ucap Yusro sembari menyalakan motornya.
"Iya Mas, sama - sama... kapan - kapan boleh mampir lagi," jawab beliau dengan ramah dan manisnya.
Dan akhirnya pedal gas pun Yusro tarik masuk semakin ke dalam membuat roda - roda hitam ini mulai menjalankan tugas akan putarannya.
"Idih senyumnya, nggak ngotak," ucap Yusro pelan setelah beberapa meter keluar dari pekarangan Bu Liana.
"Hahaha, gua kira gua doang yang nyadar," jawabku dengan tawa lepas namun tanpa gerak.
"Laki - laki normal berarti lu," jawab Yusro dengan senyum tipis.
"Ehh, ngomong - ngomong gua mau tanya, menurut lu gimana arsitektur rumah bu Liana," tanya Yusro langsung.
"Gimana yaa... sederhana, tapi mewah," jawabku sambil melirik ke atas untuk berfikir.
"Ooo, berarti gua nggak kampungan," jawab Yusro pelan.
"Maksud lu?" tanyaku lagi dengan segera setelah mendengar jawaban Yusro.
"Yaa, gua kira gua doang yang terheran - heran sama dekorasinya."
"Enggak, gua juga sempet terheran - heran sih."
"Hahaha, masuk... boleh boleh," jawabku dengan riang.
"Tapi lu tadi belum tau, gimana insecure nya gua ngelihat kamar mandi di sana," sahut Yusro dengan sombongnya.
"Gimana gimana," tanyaku kembali dengan antusias.
"Dinding kiri kanan kaca brohh, terang... luas... bersih... wangi..." jawabnya dengan sangat konyol.
"Sama kamar gua," tanyaku dengan segera.
"Halaahhh... perbandingan kok sama kamar lu, jauh Bambang... bagusan sono,"jawabnya dengan tawa lepas lagi.
" Imajinasi gua kek yang ada di drama Korea," jawabku dengan berfikir keras menciptakan imajinasi yang sekiranya tepat dengan apa yang dikatakan Yusro.
"Nahh, kurang lebih kek gitu... bagus deh pokok," sahutnya dengan segera.
"Idihh, sayangnya anaknya masih kecil," ucapku lagi dengan datar.
"Terosss... terosss... ngehalu teros," ucap Yusro dengan nada ngegas.
Yah, dengan kondisi yang kurang menguntungkan bagi kami berdua, Yusro dengan semangat semakin menancapkan pedal gasnya semakin mendalam agar segera sampai kembali ke aula kampus.
__ADS_1
"Mental aman kan," tanya Yusro tiba - tiba setelah sempat terdiam beberapa saat.
"Kenapa emang," tanyaku dengan datar.
"Bentar lagi kan lu butuh banyak mental," jawabnya kembali dengan datar pula.
"Hemm... aman," jawabku singkat dengan senyum tipis.
"Baguslah kalo gitu, gua cuman mau pesen... jaga mood," ucapnya lagi dengan begitu tenang.
"Yohoi kapten," jawabku dengan semangat sambil menepuk helemnya dari belakang dengan keras.
Akhirnya seiring dengan semakin meningginya sang mentari, aku dan Yusro melesat lurus tanpa rasa ragu menuju kampus satu tempat diadakannya gebyar bulan bahasa yang sejak bulan lalu sudah direncanakan.
Singkat cerita akhirnya kami pun telah sampai di lorong gerbang menuju tempat parkir sepeda motor. Masih belum sempat melewati lorong, terlihat ada beberapa sosok bayangan yang tengah berdiri tegap di ujung lorong tempat kami melintas.
"Langsung lurus ke parkiran aja, ini biar kami yang urus," yah itu adalah abdul yang telah menunggu kedatangan kami.
"Oke, siapp," jawabku singkat sembari memberikan beberapa kantung makanan yang begitu memakan ruang dan tenaga.
"Abis ini langsung naik ke ruangan sebelah aula, persiapan drama," ujarnya lagi sambil berjalan menjauh dari kami.
"Pliss, abis ini selesai jangan lu ulangin lagi," ucap Yusro dengan raut wajah yang konyol.
"Kalo bukan buat nilai gua nggak bakalan mau Nyet," jawabku pelan dengan bisik.
"Semoga aku diberi keselamatan dari perilaku kotor temanku ini," ujar Yusro dengan logat berdoa namun dengan nada yang konyol.
"Diem Bambang," sahutku singkat bersamaan dengan tarikan pedal gas dari Yusro.
Akhirnya kami berdua telah naik ke lantai tiga tempat pementasan berlangsung. Yah terlihat begitu sangat meriah ku rasakan, meski kami barusan tiba dan melihatnya, namun rasa ini sudah dapat mewakili dan berbicara.
"Make up nya pindah ke ruangan bawah," ujar Ulul sambil menepuk pundak ku.
"Bawah ini tepat ?"
"Iya, tepat dibawah aula," jawabnya dengan segera.
"Okee, oke siap," ucapku sambil berjalan menuju tangga.
"Jangan malu - maluin partai," sahut Yusro ketika kami berpapasan di permulaan tangga.
Tanpa adanya kata dan bahasa, aku hanya tersenyum sok manis lengkap dengan kedipan satu mata menggoda.
Begitu pula dengan Yusro yang menjawab dengan satu kepalan tangan yang besar, yang mengarah lurus ke arahku.
__ADS_1