Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 53 : Kenyataan


__ADS_3

Perlahan tapi pasti, itulah yang saat ini kami hadapi bersama putaran berporos roda hitam motor matic putih milik Fauzi. Bersama meriahnya penghujung hari terlihat banyak sekali manusia yang berbondong - bondong dengan kendaraan mereka masing - masing untuk menuju ruang hinggap bersama keluarga tercinta.


Terlihat dengan tipis dan indah jalan yang kini kami lalui perlahan memasuki dimensi lain dari satu hari yang biasa disebut dengan petang, lengkap dengan sorot cahaya penyambutnya yang berwarna kemerahan tipis, terukir indah dalam lantunan langit sepi jauh di ufuk barat tempatku menjauh darinya kini.


"Jauh ya Zik rumah lu," tanyaku kepada Fauzi yang tengah mengemudi.


"Lumayann, tapi ya enggak jauh - jauh amat," jawabnya dengan singkat dari balik helem nya.


"Bagus dah kalo gitu, udah capek banget nih badan," ujar ku kembali sambil membenturkan helem ke helemnya pelan.


"Za... gua mau tanya," ucap Fauzi dengan tiba - tiba menjadi serius.


"Idih... serius amat, tanya ya tinggal tanya aja," jawabku dengan santai.


"Lu udah nanya Sri langsung apa belom, tentang perasaan lu," tanya Fauzi tiba - tiba, seketika membuatku terdiam merasakan setiap untai rasa yang selama ini terdekap oleh jiwa.


"Gimana yaa... gua kok bingung mau jawab," jawabku dengan semi senyum kesedihan.


"Akkhh... enggak usah lu jawab, gua udah tau maksud senyum lu," ujar Fauzi kembali dengan tenangnya.


"Hehehehe, yah gitu lah," jawabku kembali dengan senyum tipis kepalsuan.


"Berarti selama ini lu hanya menjadi budak dari perasaan lu, dan lu enggak tau kejelasan perasaan dia kek gimana ke elu... iya atau tidak," ujar Fauzi kembali dengan tegas dan pasti.


"Hahaahaa... enggak sih," jawabku dengan senyum tipis kesedihan.


"Parah dah lu, sampe rumah mau gua cuci tu otak," ujar Fauzi sambil menarik pedal gasnya semakin dalam.


"Serah lu mau apa aja," jawabku singkat dengan senyum tipis membuang muka ke sisi jalan.


Dalam sepinya dekap kegelapan yang kini mulai menjelang, perlahan batin ini mulai tersadar akan bodohnya raga yang terus saja berjalan berjuang tanpa adanya tujuan yang pasti mau kemana dan dibawa kemana tempat akhir ku tuk berlabuh.


Singkat cerita beberapa menit pun berlalu dan kini telah tiba di relung ruang tempat Fauzi bersama keluarganya merebahkan badan tuk beristirahat menunggu hari esok yang siap melambai dan menjemput. Bangunan muda dengan empat tiang penyangga yang berada di depannya memberikan ruang tuk siapa saja yang singgah tuk bersantai setibanya.

__ADS_1


"Kok sepi banget, pada kemana," tanyaku kepada Fauzi sambil turun dari motor dan duduk di kursi teras depan.


"Ada acara di tetangga sebelah, pada bantu - bantu di sana deh kayaknya," jawabnya dengan santai sambil membukakan pintu.


"Sejuk ya disini," ujar ku singkat sambil merebahkan badan bersandar pada kursi.


"Banget... sini tu masih banyak pohon - pohon besar, jadi udara disini lebih enak di konsumsi," ujarnya sambil memasukan motor.


"Yok masuk, entar lu liat barang enggak enak lu kira angker rumah gua," ujarnya lagi dengan segera.


"Ehh, gimana maksud lu," jawabku sambil segera beranjak masuk mengikuti Fauzi dari belakang.


Akhirnya kami berdua telah sampai dan mendarat pelan untuk merebahkan badan dan menjinakkan rasa lelah yang bercampur dengan gelisah setiap saat ku buka aplikasi whatsapp pembawa gundah.


"Lu rebahan dulu sambil istirahat, gua ambilin cemilan," ujar Fauzi sambil meletakkan tasnya di pojok ruangan.


"Empuk banget nih kasur lu," sahutku sambil terkapar diatasnya.


"Idih, kok ngeri gini," ucapku dalam hati sambil duduk kembali untuk waspada sekeliling.


Waktu pun berjalan dengan begitu tenang dan santai menikmati setiap detik kumparan berporosnya menunjuk setiap angka tanpa ragu dan bimbang, sampai pada ketika Fauzi kembali masuk ke kamar dengan membawakan cemilan keripik ketela yang begitu banyak dalam sebuah toples besar.


"Mantab nih, keripik tela," ujar ku menyambut Fauzi yang barusan toba.


"Beli dimana nih, banyak banget," ucapku kembali sambil mencicipinya.


"Enggak beli, rumah gua kan produksi ginian... entar di anter ke warung - warung sama toko sekeliling," jawabnya dengan santai dan singkat sambil duduk disebelah pintu.


"Sini pinjem ponsel lu," ucapnya lagi sambil menjulurkan tangannya.


"Buat apa," jawabku sambil memberikan ponsel dengan kondisi mulut penuh keripik.


"Lu nikmati dulu aja itu, gua urus yang ini... rokok juga ada di atas meja kalo lu mau," jawabnya dengan santai sambil menyahut ponselku.

__ADS_1


Tanpa banyak berfikir dan rasa curiga sedikitpun, ponselku ku berikan begitu saja kepada Fauzi yang tengah duduk di samping pintu dengan menikmati kepulan asap rokok yang menjulang tinggi menerjang langit - langit ruangan.


"Nohh... lu tinggal nunggu hasilnya kek gimana," ujar Fauzi dengan santai sambil melemparkan ponselku di kasur tempatku duduk sekarang.


"Hasil apaan," jawabku sambil melihat layar ponsel yang tengah menunjukan chating dengan Sri.


"Haaa!!! maksud lu gimana," ucapku kembali dengan nada tinggi terkaget melihat pesan terakhir yang belum sempat terbaca.


"Gua suka lu, gimana perasaan lu ke gua..." yah itulah isi pesan terakhir yang sudah terkirim namun belum menyala tanda centangnya.


"Wah parah luu Zik... gua bilang apaan kalo udah ketemu entar," ujarku kebingungan dan panik.


"Lu tenang aja kenapa, emang lu mau tiap hari cuman nunggu kabar darinya yang belum jelas dia mau sama lu," jawabnya dengan singkat dan tegas yang sekali lagi menusuk masuk kedalam jiwa dan raga.


"Setelah ini hanya akan ada kenyataan dan kebenaran yang terlihat, dan itu pula awal lu ambil pilihan kembali..." ujarnya kembali dengan tenang dan tegas.


"Hmmm, gimana ya," ucapku singkat setelah menghembuskan nafas dalam - dalam.


"Lu harus siap sama hasil dari pertanyaan itu, apapun hasilnya, baik atau buruk... yang terpenting itulah kenyataan yang perlu lu hadapi," tuturnya lagi sambil menghembuskan kepulan asap rokok.


Singkat cerita pesan itupun telah dijawab. Dengan begitu banyak kata dan kalimat teruntai indah dalam layar tatap kecilku, sulit kiranya aku memahami isi dan maksud akan tulisan itu, namun sekali lagi Fauzi menyadarkan ku dan memaksaku tuk mengerti akan makna mengikhlaskan sesungguhnya. Bukan karena berhenti berjuang, namun hanya bukan disitulah tempatku tuk pulang.


"Lu jangan jadi anak yang bodoh lagi, kalo lu enggak mau nerima pukul dari gua," ucapnya pelan sambil mengambil rokok di meja dekatku.


"Rasanya sakit beneran ya... tapi enggak sesakit yang gua bayangin," ucapku pelan tertunduk diam meratapi ponsel yang menyala dengan kata darinya.


"Seenggaknya lu tau betapa bodohnya lu," jawab Fauzi kembali.


"Hehh... bodoh banget ya gua," ucapku pelan dengan tawa kecil.


"Lu telat sadar," jawabnya singkat.


"Yahh... gua bodoh... dan selamat tinggal."

__ADS_1


__ADS_2