Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 39 : Temen bener


__ADS_3

"Ada tugas apa kira - kira," tanyaku kepada Yusro sembari turun dari motor.


"Mana gua tau, informasinya suruh kesini doang," jawab Yusro sembari melepaskan helem.


"Moga aja enggak meresahkan," sahut Fauzi dari samping kiri.


"Laki - laki apaan, mikirin yang belum jelas terjadi," sahut Syarif dengan nada juteknya sambil berjalan menuju rumah kecil dengan dinding berwarna putih yang seringkali disebut dengan nama "posko."


"Hahaha, mantab manusia setengah dewa," jawabku dengan tawa.


"Helemnya jangan taruh sini, bawa masuk aja," ujar Fauzi sembari mengambil helem Syarif yang ditinggalkan pada kaca spion kiri motor Fauzi.


"Punyak gua taruh sini aja," ucapku dengan pelan sambil meletakan helem pada spion motor Yusro.


"Entar hilang tau rasa lu," sahut Fauzi dengan nada sedikit naik.


"Ini sekalian mau dijemur maksudnya," sahut Yusro dengan logat konyolnya.


"Bisa gua rasain baunya sampe sini," sahut Fauzi dengan wajah sinisnya berjalan melintasi jalanan aspal.


Dengan segera kami berempat langsung memasuki posko untuk segera mengerjakan tugas yang sekiranya akan dibebankan pada kami, agar dalam waktu singkat dapat terselesaikan sebelum waktu petang tiba. Seusai melewati perbatasan antara dinia luar dan dunia dalam, betapa kagetnya raga ini karena terlihat begitu banyak manusia yang tengah sibuk dengan pembicaraan mereka masing - masing.


"Ada acara apa nih, rame bener," ucapku dalam hati sembari memberikan salah dengan cara menganangguk.


"Enggak usah salaman, langsung lurus aja," ucap Yusro dengan pelan sembari memberikan kode dengan mata.


"Oke, rojer," jawabku membalas kode Yusro dengan mengedipkan kedua mata.


Yah, benar saja di ujung mata kami menatap, terlihat Pak Prapto yang tengah duduk santai dengan telanjang dada lengkap dengan rokok yang diapit oleh jemarinya.


"Wah ini ganteng ku dari kelas C," ujar Pak Prapto dengan senyum terukir lebar dan bahagia sembari mengayunkan tangannya ke arah kami.


"Hehehe, iya pak," jawab Fauzi dengan senyum malu - malu sambil mengangguk.


"Hahaha, gua ganteng," ucapku dalam hati sambil tertawa dengan sombongnya.

__ADS_1


Dengan segera kami berempat segera menuju ke Pak Prapto untuk berjabat tangan serta bertanya alasan kami di panggil ke posko.


"Gimana Pak, tugasnya apa kami Pak ?" tanya Yusro mengawali pembicaraan.


'Oke, sekaran saya akan bagi tugasnya, pertama Reza kamu carikan saya rokok gimana caramu saya enggak mau tau, pokok bisa dapet rokoknya, dan untuk yang lainya ambil leser, nasi, lauk, dan krupuk, siapkan untuk makan - makan," ucap Pak Prapto yang begitu serius sembari menepuk pelan punggung Yusro.


"Mantab, gua sendiri yang harus berurusan dengan uang," ucapku dalam hati sambil menelan ludah dan tersenyum berat.


"Hehehe, siap Pak," jawabku singkat.


"Kan ku bantu dikau dengan doa kawan," ujar Yusro dengan nada yang memancing emosi sembari menepuk pundak ku pelan.


"Bawel amat," sahutku pelan namun sedikit ngegas sembari ku balikkan badan dan beranjak pergi.


"Besok pagi berangkat kuliah pakek uang apa buat isi bensin," ucapku dalam hati pelan sembari berjalan keluar.


Singkat cerita, akhirnya ku penuhi juga tugas yang di beratkan kepadaku itu, sesaat ku mulai memasuki ruang posko dan melintasi lautan manusia yang tengah duduk manis bersila dengan lawan bicara mereka masing - masing terlihat Yusro, Fauzi, dan Syarif yang tengah duduk melingkari leser yang berisikan nasi dan beberapa lauk pauk diatasnya lengkap dengan senyum jahat pengharapan.


"Ekspresi apaan temen laknut," ucapku dalam hati sembari berjalan mendekat.


"Silahkan Pak, anda yang mengawalinya," ujar Fauzi ketika aku memberikan satu bungkus rokok itu kepada Pak Prapto dengan senyum tanpa dosa.


"Tenang le, itu sempurnakan dulu sajennya, masalah penutup aman, Reza masih siap, iya Za," jawab Pak Prapto dengan senyumnya yang begitu memikat ku untuk mengangguk.


"Jangan ngangguk!!!" ucapku dalam hati, dan mengangguklah kepala ini.


"Mantab !!!" ucap Yusro, Fauzi dan Syarif secara bersamaan dan keras.


"Oh iya Pak, ngomong - ngomong ada acara apa ini tadi Pak," tanya Fauzi sembari meraih kerupuk disebelah ku.


"Enggak ada acara apa - apa, cuman ini lo anak kelas A ingin makan - makan doang," jawab Pak Prapto dengan santainya menikmati gulungan tembakau.


"Hmmm, pantesan aja masih asing semua," sahut Yusro dengan pelan sembari mulai mengawali makan.


"Elu sih, nggak pernah jalan - jalan ke kampus dua," ucapku sembari membelah barisan antara Fauzi dan Syarif.

__ADS_1


"Nak... Nak... liat ini, ini adalah wujud dari penghuni PBI C yang ada di kampus satu," ujar Pak Prapto begitu saja yang membuat kami berempat terkaget.


"Yang cewek - cewek boleh antri, pas yang dateng bening," ujar Pak Prapto lagi dengan di akhiri dengan senyum terpingkal pingkal.


"Alhamdulillah nutrisi dikit," ujar salah seorang yang berada di ruang sebelah, dan dikuti dengan kekompakan tawa yang tidak dapat diragukan lagi.


"Tapi jangan pilih yang satu ini, ini tua nakal," ucap Pak Prapto lagi sembari menepuk pelan pundak Syarif.


"Hahaha, aku sudah diem lo Pak, masih kena aja," jawab Syarif dengan tawa lepas dan diikuti kami bertiga.


"Ro, berarti entar malem kita aman," ucapku pelan kepada Yusro.


"Tenang aja, gua udah atur siasat baru," jawab Yusro dengan senyum dan menggerakkan kedua alis keatas.


Sekali lagi ekspektasi yang kami bayangkan jauh dari kenyataan, angan - angan yang begitu rumit dan sesekali menyeramkan kini telah sirna bersama dengan canda tawa yang larut dalam kosakata kebersamaan. Yah, meski kami semua belumlah saling mengenal satu dengan yang lain, hal itu tidaklah menjadi penghalang bagi kami tuk terus menyuarakan tawa riang manusia tanpa beban.


"Kluntingg," suara ponselku berdering.


"Idih, di udah dibales," ucapku dalam hati setelah melihat layar ponsel yang terlihat notifikasi pesan dari Sri.


"Roo... Roo, gua harap lu cari gandengan dah, Sri mau ikut," ucapku pelan sembari tersenyum bahagia seakan lupa akan semua kesulitan yang ada.


"Santai aja, gua tinggal upload status, selesaii... gua tinggal milih," jawabnya dengan nada Sombong sembari memakan kerupuk dan menggigiti lauk.


"Gua kecewa ngasih kabar ke elu," ucapku pelan sambil menggeleng - gelengkan kepala.


"Berarti gua entar malem sama terong ini ?" ujar Fauzi dengan nada tingginya.


"Disyukuri, apa tu di syukuri... tau diri juga, mereka anak muda... kita orang tua nepi aja," jawab Syarif dengan logat sok tuannya.


"Pokok enggak merugikan gua sih yes," jawab Fauzi lagi dengan tawa lepas.


"Aduh, ngajak cewek... berarti harus bawa uang dong," ucapku dalam hati tersadar setelah mendengar pembicaraan Fauzi dan Syarif.


"Dahlah, pikir nanti aja, yang penting jalan dulu... toh gua punya temen laknut juga hahaha," ucapku lagi dalam hati sembari menatap mereka berdua yang tengah asik bersaut banyolan.

__ADS_1


"Tenang aja, gua juga masih ada," sahut Yusro sembari tatapan lurus kedepan.


Yahh, gua tau. itu khusus ditujukan kepadaku.


__ADS_2