
Bertemankan sedikit sisa embun pagi yang masih merekat pada dedaunan setiap tumbuhan hijau, perlahan kami berdua berjalan mengusapnya untuk membelah beberapa tanaman yang menghalangi langkah menuju belakang rumah Fauzi.
Yah, inilah kenyataannya... terdapat beberapa pohon manggis besar yang menjulang tinggi ke angkasa tertanam rapi di belakang dan samping rumahnya.
"Lu bantu gua dari bawah, ambilin yang gua jatuhin nanti,"
"Lha lu mau ngapain," sahutku segera.
"Gua yang manjat," jawabnya singkat langsung meloncat ke pohon untuk memulai memanjat.
Sangat berani, itulah yang terbesit dalam pikirku melihat Fauzi dengan santainya perlahan mulai menjejakan kakinya ke setiap pangkal ranting pohon manggis yang menjulang begitu tinggi meraih langit mendung pagi ini. Singkat cerita setengah goni putih telah berisi buah manggis yang begitu menggoda dan segar dengan bau- bau khas buahnya.
"Mo dijual ke mana nih," tanyaku sambil membersihkan satu manggis besar dari air embun yang menyatu
"Siapa yang mau jual, itu buat sajen lu... lu abisin dah gapapa," jawab Fauzi yang membuatku tercengang melihat banyaknya buah manggis yang terkumpul.
"Mending gua jual aja kalo sebanyak ini,"
"Udah - udah, lu bawa ke depan dulu... gua mau bersih - bersih badan dulu," jawab Fauzi sambil beranjak pergi.
Tanpa kata lagi terucap, langsung ku jinjing setengah karung buah manggis yang tertumpuk menggoda di hadapanku tepat. Yah, bukan main... beratnya ku rasa tembus dari angka sepuluh kilogram, melihat buahnya yang begitu besar dan cantik.
Dihari penghabisan waktu kemalasan ini, kami berdua duduk manis di kursi depan dengan bercerita panjang lebar, ke sana kemari dengan bertemankan buah manggis, kripik singkong, kopi, dan tak lupa satu bungkus rokok pemersatu bangsa.
Detik demi detik telah berganti menjadi menit, dan setiap menit yang terkumpul kini telah merajut menjadi padatan pukul angka waktu yang terbuang dengan sia - sia tanpa adanya kegiatan produktif yang kami lakukan seharian penuh.
__ADS_1
"Besok lu udah siap masuk kuliah lagi kan," ujar Fauzi sambil menghisap rokoknya dengan nikmat.
"Iya, gua kapok bermalas -malasan kek gini... bingung mo ngapain," jawabku dengan wajah lemas.
"Hehh... sok - sokan jadi orang pemalas," ledek Fauzi dengan senyum tipis pengundang emosi itu.
Siang, sore, malam, dan pagi pun kini telah tiba, dimana hari baru setelah kemarin kami berdua bermalas- malasan sampai jenuh bingung mau berbuat apa lagi. Meski hari ini kami berdua di paksa serba terburu - buru akibat bangun tidur yang kesiangan dengan waktu masuk pelajaran perkuliahan, namun rasa ini lebih nyaman dan bersemangat untuk melihat kejutan takdir yang tertanam indah di waktu kedepannya.
Sesaat setelah jiwa ini merasakan adrenalin di kejar waktu yang sangat singkat dan membahagiakan, terbesit sebuah ingatan yang mana itu menjadi alasanku di hari kemarin menutup diri dari kenyataan yang seharusnya dapat ku atasi dengan lantang. Yah Sri.
"Udah lu santai aja, jalanin kek hari - hari biasa... cuman yang harus lu inget, dia bukan lagi orang yang tepat untuk lu naruh perasaan," ujar Fauzi yang tengah mengemudi di depan dengan kencang.
Tanpa adanya kata dan nada yang menggema, aku hanya terdiam dengan senyum tipis menantang akan adanya kejutan di depan. Setelah beberapa menit dan kilometer berlalu dengan merdu, akhirnya kini kami berdua telah sampai dan hinggap pada tempat parkir kampus tercintah.
"Yokk!!! gas!!!" teriakku dengan lantang setelah turun dari motor.
Kami berdua pun berjalan bersama beriringan menuju ruang kelas tempat kami menuntut ilmu, meski raga ini tersenyum riang untuk menyambut damainya pagi hari. Namun jauh di dalam jiwa ini terbesit rasa gelisah dan takut akan goresan tajam perasaan setelah melihat raut wajahnya yang begitu dalam.
"Assalamu'alaikum!!!" teriakku dengan lantang lagi sambil melompat masuk ke dalam ruang kelas yang sudah ramai dengan mahasiswa.
Seketika suara yang tadinya ricuh dengan banyaknya suara yang bersautan langsung bertambah gaduh dengan sentakan energi suara yang memaksa masuk dalam gendang telinga dengan ketinggian volume yang tidak main.
Dengan senyum jahat menjawab setiap celoteh dari teman - teman yang kaget dengan sambutan hangat salam pembuka pagi ku, perlahan kali ini melangkah sambil menatap ke seluruh penjuru tempat duduk guna untuk mencari titik pasti letak duduk Sri berada.
Namun, setelah satu putaran tatapan ini menyapu ruangan penuh, belumlah terlihat sesosok manusia yang pernah ku percayakan rasa untuk menjaganya, yah dia belumlah hadir dalam ruangan ini, itu kesimpulan yang dapat ku raih saat ini. Dengan segera aku langsung menuju ke kursi paling belakang, tempatku biasa merebahkan badan untuk menikmati jalannya pembelajaran.
__ADS_1
Tiba- tiba sesaat setelah aku duduk dan menyandarkan punggung, ada beberapa manusia dengan sigapnya langsung duduk di kursi depanku dengan tergesa - gesa. Yah itu adalah Nabila dan Maharani.
"Ngapain nih pada," sahutku menyapa mereka berdua yang kini telah duduk sigap di depanku.
"Apa bener rumor yang beredar ?" tanya Nabila dengan wajah penasarannya yang begitu dalam.
"Rumor apaan,"
"Katannya lu yang terus ngegantungin Sri, sampai akhirnya dia udah lelah dan mending ngelepasin lu," bisik Maharani.
Seketika kesadaran ini langsung tersentak mendengarnya, mengetahui info yang sangat jauh dari kenyataan dan perkiraan ku selama ini. Tanpa adanya kata, aku hanya menjawabnya dengan senyum tipis dan sinis menanggapi pertanyaan dari Maharani.
"Kalian berdua jangan percaya itu rumor, yang udah terlanjur percaya biarin aja... aslinya enggak gitu, tapi kebalikannya..." ucapku singkat masih dengan senyum tipis kekecewaan.
"Ah masa, gua sebagai wanita kok belum percaya sepenuhnya..." sahut Nabila dengan tidak yakinnya.
"Ada bukti hidupnya, tapi jangan lu kasih tau siapa - siapa tentang kenyataannya," jawabku dengan santai.
"Oke, gua bakalan tutup mulut," sahut Maharani dengan tegasnya.
"Nohh, lu tanya ke Fauzi... minta kejelasan dari dia... gua udah ngantuk, mau tidur dulu," jawabku singkat sambil menunjuk Fauzi yang tengah asik tertawa bersama Jazul.
Yah, pada akhirnya kenyataan lebih mengagetkanku jauh dari perkiraan dalam angan yang selama ini aku membuat perkiraan - perkiraan celah kesakitan, entah sampai kapan semesta akan terus bercanda dengan perasaan yang benar akan ketulusan ingin ku limpahkan. Perlahan ku tundukan kepalaku menghadap lantai serta menyandarkan jidat pada meja yang kini ku duduki sendiri dengan hangatnya sepi.
"Huftt... lumayan terasa kejutan hari ini," ucapku dalam hati sambil memejamkan mata secara perlahan.
__ADS_1
"Tunggu, ini apa... terdengar begitu ramai dan gaduh ku kira, namun begitu sepi dan dingin ku rasa... sial... sakitnya enggak ngotak," ucapku dalam hati kembali sambil menggoreskan tipis senyum basi.