
Malam telah kembali ke pengaturan awalnya dengan petang, sepi dan sunyi tanpa taburan dingin kabut malam. Dengan bertemankan rokok dan sisa - sisa gorengan, kami bertiga senantiasa bersabar menunggu beberapa harapan yang telah terbang berjuang dan kini hampir sudah datang.
Terdengar dengan nyaring suara lantunan mesin motor terhenti di samping mushola dari sisi lain tempat kami duduk, terlentang dan terkapar menunggu harapan dengan sisa tenaga yang sudah menipis persediannya.
"Assalamu'alaikum..." ujar pria tinggi besar berjaket hitam dengan sarung biru motif kotak - kotak berjalan ke arah kami di ikuti oleh seorang wanita di belakangnya.
"Waalaikumsalam," jawab kami bertiga bersamaan dengan lemas nya mulai bangkit dari rebahan dan kelelahan kami.
"Maaf bos, repot sekali di pondok," ujar Agni sambil membalikkan tasnya ke depan dan mengambil berkas.
"Siap siap," jawab Yusro menerima berkas itu dengan wajah yang mulai lusu.
"Lu urus dah Ro," ucapku dalam hati sambil merebahkan badan lagi.
"Fauzi kemana ?" tanya Ningrum yang kini berada di samping Agni.
"Nganter Unyil pulang sambil terus ke rumah Sri untuk ambil berkas," jawab Yusro sambil memilah - milah berkas milik Agni.
"Abis ini mau kemana ?" tanya Syarif.
"Nganter Ningrum balik, terus ngajar di pondok lagi," jawab Agni sambil mengusap keningnya.
"Enggak mampir sini dulu ?" tanya Yusro dengan ramah.
"Maaf banget, tapi ini belum selesai masalah di pondok," jawab Agni sambil menutup tasnya kembali.
"Udah ya, gua cabut dulu... makasih banget udah mau gua repotin," ujar Agni sambil menepuk pahu Yusro.
"Bisa diomongin di warung depan, santai aja," jawab Yusro dengan nada melawak nya.
"Hahaha, udah ya... assalamualaikum,"
"Wa'alaikumsalam..." jawab kami bertiga bersamaan setelah Agni melangkah pergi.
"Daaa..." ujar Ningrum sambil melambaikan tanganya.
"Idih, itu anak kurang ajar," ujar ku dalam hati melihat tingkah Ningrum.
"Itu di tinggal sini aja," teriak Syarif kepada Agni yang berjalan menjauh.
Setelah Agni dan Ningrum kembali, kini sepinya malam mulai menghampiri kembali. Dengan raga yang sudah kehilangan banyak daya, kami bertiga hanya terlentang di berbagai sudut ruangan seperti layaknya manusia yang tak berguna.
"Kurang ajar, Fauzi lama banget," ujar Yusro bangkit dari rebahannya sambil menggapai bungkus rokok yang sudah tinggal beberapa helai.
"Dienakin itu mbonceng nya," jawab Syarif sambil tertawa pelan dan lemas.
"Iya dong, malam dingin hmmm," sahutku mencoba menambah banyolan.
__ADS_1
"Ehh, udah tinggal satu nih rokok," ujar Yusro kaget setelah melihat bungkus rokok.
"Sudahlah, lu abisin aja, udah penuh asap nih paru - paru," jawabku sambil membalikan badan.
"Empat buskus lo," ujar Syarif sambil tertawa lagi.
"Bener empat bungkus ?" tanyaku dalam hati langsung duduk melihat berapa bungkus rokok yang telah habis.
"Beneran empat hati ini ?" tanyaku dengan terkaget - kaget.
"Coba deh lu hitung," jawab Yusro dengan santai sambil menyalakan rokok.
"Pantesan gua ngerasa kenyang meski belom makan nasi sama sekali," ucapku sambil mengelus - elus dadaku.
"Lu beneran enggak mau ?" tanya Yusro kepadaku dan Syarif.
"Enggak, lu aja," jawab Syarif tapi sambil meraih rokok yang berada di jemari Yusro.
Singkat cerita kini jarum waktu telah menghunuskan dirinya pada angka melingkar dengan bernamakan sembilan dan sepuluh, yang menunjukan waktu semakin menipis menuju batas persetujuan dari manusia pekerja ruang admin untuk pengumpulan selembar usaha.
"Bangun woi, bangun !!" teriak Fauzi yang sudah berada di depan serambi bersama Sri yang berdiri di sampingnya.
"Bangun yo, bangun," sahut Yusro dengan lemah gemulai sambil beranjak duduk.
"Bawa apa Zik ?" tanyaku kepada Fauzi yang kini duduk di tepian sisi serambi.
"Ih, ngapain," jawab Sri dengan senyum sinis nya.
"Hahaha, sini sama om," ujar Syarif sambil tertawa lepas.
"Bawa apa Zik, udah kosong bener nih perut," ujar Yusro sambil melihat di sekeliling Fauzi yang sepi.
"Lah, enggak bawa apa - apa lu," ujar ku dengan tercengan.
"Udah gua bilang kan, gua bawanya anget - anget aja," jawab Fauzi dengan senyum sambil melemparkan satu bungkus rokok.
"Lah, rokok lagi..." ucapku setelah menerima lemparan dari Fauzi.
"Uang gua udah abis geng, itu aja gua ngerampok dari rumah dia," jawan Fauzi sambil menyalakan rokoknya.
"Paru - paru ku menangis melihat ini," jawabku sambil mengeluarkan satu pucung rokok.
"Kelamaan lu, sini gua juga... daripada mati kedinginan," sahut Syarif sambil menyambar rokok yang ku pegang.
"Kedinginan enggak, mati kelaparan iya," sahut Yusro sambil menyambar sebungkus rokok yang ku pegang.
"Kapan antar aku kembali ?" tanya Sri kepada Fauzi yang masih menikmati rokoknya.
__ADS_1
"Bentar lagi, sekalian gua pulang nanti," jawab Fauzi masih dengan santainya.
"Tidur sini aja Sri, sama om Yusro," ujar Syarif dengan guyonannya sambil tertawa lepas.
"Sini - sini sama om," sahut Yusro sambil menghembuskan asap rokoknya.
Akhirnya kami tertawa lepas di bawah lampu serambi mushola yang sudah meredup itu, dengan bahan pembicaraan godaan kepada Sri, kami mencoba meramaikan kesunyian malam yang mendekap dengan perihnya dingin.
Singkat cerita, semua berkas sudah terkumpul, kurang dari lima menit waktu terakhir pengumpulan Fauzi dengan segera bergegas menuju ruangan admin untuk memberikan data yang sudah terkumpul. Dengan sisa - sisa tenaga yang sudah hampir punah, kami berlima kembali ke tempat asal kami mendekam untuk beristirahat.
"Zik, angkut aja langsung sampai rumah." Candaan Yusro kepada Fauzi yang kini Sri sudah naik di motor putih Fauzi.
"Dingin - dingin kayak gini kayaknya enak ya, hahaha," sahut Fauzi yang sudah siap menyeberang jalan.
"Gua ikut kalo gitu," sahut Syarif dengan motornya berada di samping Fauzi yang sudah siap menyeberang jalan.
"Ayo Zik, keburu di tutup nanti gerbangnya," ujar Sri pelan sambil mencubit punggung Fauzi dari belakang.
"A a a a a, iya iya," teriak Fauzi kesakitan.
"Geng !!! jumpa lagi besok," ucap Fauzi dengan keras sambil memutar pedal gas motornya menyeberangi jalan.
"Yokk !!" jawab kami bertiga bersamaan.
Dengan gelapnya malam berteman kan lampu jalan, kami semua berpisah di pertigaan jalan tepat di depan kampus kami di dirikan, Sembari didekap lembut angin malam, di temani dengan hiasan bintang yang terlentang dengan indah di atas angan, kini Yusro memacu dengan teramat kencang membelah kelokan demi kelokan jalan yang memisah ruang tempat kami terlentang dalam sepinya mimpi malam.
"Yah, besok masih ada hari yang melelahkan siap ku sambut," ucapku dalam hati sembari memegang erat tas punggung Yusro dari belakang.
"Jangan tidur woi," teriak Yusro dari depan.
"Enggak - enggak," jawabku dengan pelan sambil mulai memejamkan mata.
Singkat cerita kini pagi pun telah tiba, dengan suasana yang sama seperti hari biasanya, perbedaan ku gambarkan dengan jam pertama perkuliahan yang aku isi dengan pengistirahatan jiwa lelah bekas coretan kelaparan nutrisi semenjak kemarin lusa. Ku lirik tempat duduk Fauzi dan Syarif, terlihat mereka juga sama halnya tertunduk memeluk bangku dan ku yakin mereka terpejam.
"Ro, lu udah tidur ?" tanyaku kepada Yusro yang juga tertunduk menghadap meja.
"Hmmm, apa - apa ?" tanya Yusro kembali sambil bangkit dari tempatnya terdiam dengan kata merah menyala.
"Lanjutin aja lah," sahutku sambil mengikuti mereka bertiga untuk tertunduk dalam diam menghadap meja.
"Jam kosong di kelas emang sungguh surga duniawi," ucapku dalam hati sambil mulai memejamkan mata.
Sesaat mulai ku rileks kan kelopak mata untuk terpejam, terdengar pelan suara isakan tangis dari sisi sebelah kiri ku membuat terpecahnya konsentrasi untuk terpejam, dengan pelan ku lihat sumber suara yang sempat menggagalkan upacara ritual ku. Yah itu adalah Nabila yang barusan tiba.
"Kenapa tuh anak menangis," tanyaku dalam hati sambil melirik melihatnya yang tengah menangis.
"Tau ah, lanjut..." dengan senyum kembali ku tundukan kepalaku ke arah meja.
__ADS_1