
"Ehh, kita di suruh kumpul ke pangkalan," ujar Yusro sembari melihat ponselnya, yang membuat kami bertiga sempat terdiam sesaat.
"Ngomong apaan sih Ro," sahut Syarif sambil di seruputnya kopi hitam.
"Nih liat, gua enggak tau alamat mana ini," jawab Yusro sembari memperlihatkan layar ponselnya kepada Fauzi.
"Apa Zik," tanyaku dengan penasaran dari belakang Yusro.
"Kita berempat disuruh kumpul di pangkalan, pangkalannya di kediaman bapak Prapto, jalan Alasan nomor 69," jawab Fauzi dengan membaca pelan sembari mengangan - angan lokasi yang tertera pada alamat.
"Dari siapa sih," tanya Syarif.
"Alah... siapa itu namanya, ketua kelas A," jawab Fauzi dengan raut wajah berfikir keras mengingat.
"Udah tua jangan maksa mikirnya," sahut Yusro dengan santainya, yang membuat kami tertawa lepas.
"Gini - gini, tua bermutu," jawab Fauzi masih dengan tawanya pelan.
"Lu mau ke sana nanti ?" tanya Syarif setelah menelan semua tawanya.
"Gua ngikut supir aja sih," jawabku sembari menghisap rokok.
"Gua lagi..." sahut Yusro dengan wajah sinis.
"Kalo enggak enggak usah semua, gimana ?" tanya Fauzi dengan tegasnya, yang membuat waktu dalam ruangan kantin itu serasa sempat terhenti.
"Hmmm..." sempat hening sesaat, mungkin mereka bertiga sempat berfikir tentang resiko menolak ajakan beliau... karena beliau sendiri termasuk sosok yang berpengaruh pada nilai mahasiswa.
"Okee... kita voting aja," ujar Syarif sambil tersenyum.
"Tapi votingnya gimana ya," ucapnya lagi dengan tawa lepas.
"Udahh - udahhh... gini aja, kalo mau ke sana bilang hadir, kalo enggak bilang enggak... gua hitung satu sampe tiga, teriak keras...gimana," tanya Fauzi sambil tersenyum tipis menahan tawa.
"Hokee... boleh," sahut Yusro sembari pasang badan.
"Satu... dua... tigaa...." Fauzi memulai menghitung dan kami semua bersiap untuk meneriakkan aspirasi masing - masing.
"Enggak !!!" yahh, kami berempat dengan kompak menolak ajakan tersebut.
Tanpa adanya aba - aba lagi, kami berempat langsung tertawa dengan lepasnya mengetahui hasil dari voting konyol yang dilakukan kami berempat adalah sama, tanpa adanya perbedaan pendapat sama sekali. Dan juga dengan refleks kami langsung saling berjabat tangan seperti halnya pembisnis besar yang telah meraih untung selangit.
"Terus abis ini kita lari ke mana ?" tanya Syarif masih dengan tawa yang belum reda.
"Gua tau warung yang lumayan nyaman untuk bersantai, namanya warung canai gimana ?" tanya Fauzi sambil meminum kopinya untuk menutup tawa.
__ADS_1
"Entar hidangannya cuman canai doang," sahutku sambil meraih es susu coklat milik Yusro.
"Enggak lah, cuman menu utamanya itu roti canai, menu lainnya sama aja kek warung - warung lain," jawab Fauzi dengan santainya.
"Kalo sinyal gimana, perkara penting banget itu," sahut Syarif.
"Aman... wifi kecepatan motor polisi 86," jawab Fauzi dengan yakinnya.
"Yokss... segera meluncur," ujar Yusro dengan semangatnya langsung berdiri.
Dengan segera kami berempat membayar semua pesanan yang telah terhabiskan oleh nafsu dan bergegas menuju tempat parkir motor untuk mengambilnya dan meluncur. Namun dalam perjalanan menuju tempat parkir motor, terlihat tiga cewek berdiri yang sudah tidak asing lagi bagi kami, sambil menunjuk - nunjuk ke arah yang kurang jelas.
"Ehh, itu Nabila kan ya," ucapku dalam hati melihat tiga wanita itu yang tengah berdiri.
"Woii, ngapain disitu," sahut Fauzi menyapa mereka bertiga, yahh... ternyata itu adalah Nabila, Ayu, dan Mak Nita.
"Woii, udah mau pulang ?" jawab Mak Nita sembari menonjok pelan lengan Fauzi dari samping.
"Enggak, mau nongkrong dulu ini," jawab Yusro sambil terus berjalan menuju motor.
"Kemana ?" tanya Ayu dengan garangnya.
"Utara situ, warung canai... bawah tower," jawab Fauzi sambil menunjuk ke utara.
"Kita ikut ya," ujar Mak Nita dengan segera.
"Yaa... ayo aja sih... tapi gua liat - liat, kalian pada mau nugas... gapapa ikut kita ?" tanya Fauzi kembali.
"Udah gapapa," jawab Mak Nita dengan singkat sambil mendorong Fauzi.
Singkat cerita, kami bertujuh secara bersamaan menuju lokasi yang telah dijanjikan, warung canai. Sesampainya di lokasi dengan bermodalkan dua kotak bungkus rokok dan charger ponsel, secara percaya dirinya kami masing - masing anak hanya memesan satu minuman yang berbeda - beda satu dengan yang lain, dengan tujuan berbagi penilaian rasa.
"Sobat misquin," ujar Mak Nita setelah memesan langsung tertawa.
"Bukannya gitu juga woi," jawab Yusro dengan tawa tipis.
"Ramah lingkungan," sahutku dan diteruskan dengan tawa lepas.
"Sini aja gimana," tanya Ayu sembari menunjuk ke meja yang luas di dekat jendela.
"Yak, sini aja... deket angin lepas," ujar Fauzi sambil menurunkan kotak rokok.
"Yang nugas cepet nugas," ujar Yusro dengan nada menyindirnya mengambil rokok dan menyalakannya.
"Hahaha, moga aja jadi," jawab Mak Nita dengan tawanya.
__ADS_1
Setelah sampai di tujuan, seperti niat dan tujuan awal kami masing - masing, dengan mereka kaum wanita melalui kesibukannya menyelesaikan tugas presentasi yang jatuh tepat di hari besok, dan kami kaum cowok dengan kesibukan kami menghabiskan panjangnya untaian rokok, perlahan satu - persatu telah kami tumbalkan untuk menutup waktu yang kami bakar tak tersisa.
"Ehh, besok bukannya pak Prapto yang ngajar," tanya Fauzi dengan kagetnya.
"Ehhhh... masa," sahutku sambil terbengong mencoba berfikir keras.
"Emang iya, lha ini yang kita kerjakan makalah buat besok," ujar Mak Nita dengan santainya.
"Haaa... yang bener lu Mak," sahut Fauzi dengan kagetnya namun juga dengan tawa.
"Ngapain juga bohong," jawab Mak Nita dengan wajah sinis.
"Waduhh, ancur dah kita besok," ujar Fauzi dengan tawa tipisnya.
"Kenapa sih," tanya Ayu yang penasaran dengan tingkah kami.
"Gimana ya... kita tadi disuruh ke rumah beliau, tapi kita sepakat nongkrong aja," jawab Syarif dengan tertawa pelan.
"Alah gapapa, mungkin cuman C," jawab Mak Nita dan diteruskan tawa.
"Serah dehh... besok urus besok, sejak kapan lu takut hal yang belum jelas terjadi," sahut Yusro yang begitu dalam membuat kami semua langsung tertawa dengan lepasnya.
"Iya yaa... ngapain takut sih," ujar ku lagi dengan tawa.
"Jadi besok datengnya telat aja, biar enggak rugi dapet nilai C," sahut Yusro lagi yang membuat kami semua semakin tertawa lepas.
Sesaat kami semua tengah hanyut dalam kegundahan yang membahagiakan, tiba - tiba terlihat mobil dengan bertuliskan SATPOL PP berhenti tepat di depan pintu masuk warung yang kami duduki.
"Ehhh, ada razia? apa pembongkaran warung ya," tanyaku dalam hati melihat pasukan berseragam bersih itu mulai turun dari mobil.
"Apaan Zik ? razia ya," tanyaku kepada Fauzi dengan serius.
"Cepet lu ngumpet, razia orang jelek itu," sahut Yusro sambil menarik ku kebawah meja.
"Hahaha, tenang aja... palingan cuman razia anak sekolah," jawab Fauzi dengan tenangnya.
"Lu kenapa takut Za, lu bawa pil ?" tanya Mak Nita dengan nada bercanda.
"Paracetamol iya," jawabku dengan singkat sambil tersenyum.
"Tuh kan bener, razia anak sekolah..." ujar Fauzi sambil menunjuk ke luar, ke arah petugas berseragam yang menarik pelajar, yang tengah bersembunyi di sisi warung.
"Lu kok paham amat," sahut Nabila dengan wajah terbengong melihat aksi petugas.
"Gua sering jadi pelajar yang di tarik," ucap Fauzi dengan santainya sambil menaikkan alis ke atas dan tersenyum tipis. Tak lupa, tugas kami semua hanya terbengong terdiam mendengar ucapannya.
__ADS_1