
Seiring dengan berjalannya waktu, tak terasa hari - hari penantian telah tiba tepat berada didepan mata. Dengan persiapan yang telah terbekalkan jauh - jauh hari kemarin, kekompakan menjadi ujung tombak atas kesuksesan acara pertama yang program studi kami gerakkan.
"Hari ini mulai mempercantik aula dong Lul," tanyaku kepada Ulul yang tengah merokok dibawah ujung senja.
"Iya dong, abis semua selesai laporan, kita langsung berangkat ke kampus satu semua," jawabnya dengan santai sembari menghisap rokok.
"Mantab deh, mantab..." sahutku singkat sembari menyalakan rokok.
"Lu persiapin tu mental, jangan down besok di depan," ujarnya lagi.
"Hahaha, itu tu yang berat, masih pertama ini gua berdiri di hadapan banyak orang," ucapku dengan tawa.
"Udah santai aja, lu anggep mereka semua batu," jawab Ulul dengan tawa sambil menepuk pundak ku dengan pelan.
"Kurang ajar, jiwa gua semakin bergejolak kalo keinget besok hari H," ucapku dengan senyum kurang yakin.
"Udah, santai aja," sahutnya lagi dengan santai.
"Besok tu urus besok, jadi orang jangan serakah," sahut Yusro dari dalam berjalan keluar menghampiriku dan Ulul yang tengah duduk menikmati sirnanya sinar mentari.
"Yaa, bukannya serakah gitu Ro," ucapku dengan pelan sembari bergeser membuka tempat untuk dudukan Yusro.
"Gimana enggak serakah, masalah hari ini aja belum kelar udah mikirin yang besok," ucap Yusro sambil mengambil satu puncung rokok.
"Hmmm, bener juga sih," jawabku pelan dengan terbingungkan.
"Udah pada laporan semua belom," tanya Ulul sambil menoleh ke belakang.
"Tinggal Fauzi sama Syarif," jawab Yusro sambil menyalakan rokok.
"Eee, yaudah ditunggu aja bentar, kasian orang tua," ucap Ulul dengan santainya tanpa melihat kesadaran diri.
"Lu sadar enggak bilang gitu," tanya Yusro kembali dengan ekspresi konyol yang memancing emosi.
"Hahaha, wajah macam apaan itu," sahut Ulul dengan tawa lepas yang diikuti kami semua.
Tak perlu waktu lama kami menghela beberapa paket tawa, terlihat Fauzi bersama Syarif keluar dari ruang sholat menuju ke arah kami berkumpul.
"Yokk, berangkat kapan," tanya Fauzi dengan santainya seperti tidak ada apa apa.
"Ini dia manusianya," ucap Yusro sambil mengelus pelan punggung Fauzi.
"Secepatnya aja, abis itu bisa istirahat kita," sahut Ulul sambil membuang sisa rokok yang sudah mengecil.
__ADS_1
"Bagi tugas aja kalo gitu Lul," sahut Fauzi sambil menata rambutnya yang bergelombang dengan pasang.
"Oke, gini aja... gua sama Abdul ambil spiker aktif, yang lainnya langsung naik ke lantai tiga, entar udah ada sie DekDok yang menunggu," jawab Ulul sambil membagi tugas.
"Okee, boleh..." sahut Yusro dengan santainya.
"Sekarang aja langsung berangkat kalo gitu," sahut Syarif sambil mendorong Fauzi pelan.
"Biasa woii," bentak Fauzi sambil berjalan menuju tempat parkir motor.
Akhirnya kami semua segera meluncur untuk menjemput beban tugas untuk mempersiapkan acara bulan bahasa di esok hari. Tidak butuh waktu lama, kami semua telah tiba di kampus dan segera menata segala persiapan yang telah ada.
"Jam berapa Za," tanya Yusro kepadaku setelah lama berputar bersama waktu dalam ruangan aula kampus.
"Setengah sebelas," jawabku singkat sambil merebahkan badan pada tikar yang telah melaut di lantai aula kampus.
"Cuman nata gini - gini doang lama plus capek juga ya," ucap Yusro sambil menusukkan plastik sedotan pada minuman mineral.
"Capek gaiss," ujar Fauzi sambil langsung merebahkan badan disebelah Yusro.
"Tidurnya sini aja, gua males naik motor," ucap Yusro sembari membalikkan badan tengkurap.
Masih beberapa detik Yusro mulai memejamkan mata, tiba - tiba ponselnya berteriak dengan keras dan hebohnya.
"Diemm woi, pak Prapto ini," ucap Yusro setelah melihat layar ponselnya.
"Ohhh iya pak, siap, siapp... ada Reza pak, aman... oke pak, siap.." ucapnya dalam telefon.
"Oke pak, subuh kami meluncur," akhir kata dari Yusro dan langsung menutup telefonnya.
"Gua ngerasa ada berita buruk," ucapku dalam hati setelah yusro menutup telefonnya..
"Apaan lu tadi bawa - bawa gua," ucapku dengan sinis kepada Yusro.
"Lu besok disuruh ambil sajen untuk para hokage di kediaman bu Liana," jawab Yusro dengan santainya.
"Gilak apa !! ngapain gua," sahutku dengan segera dan terkaget hebat.
"Kan yang rumahnya satu kabupaten elu," sahut Fauzi dengan singkat masih dengan mata terpejamnya.
"Tapi kan lu tau sendiri, gua nggak pernah tau daerah sana," sahutku dengan wajah lemas jahat.
"Lu tenang aja, besok sama gua," sahut Yusro sambil kembali merebahkan badan.
__ADS_1
"Eee, aman lah kalo sama lu," jawabku dengan singkat sambil tersenyum dan mengikuti Yusro untuk terrebah.
Singkat kata tanpa rasa bersalah dan dosa sedikitpun, kami bertiga terlelap dalam kesibukan panitia yang masih mengalir dan berjalan.
"Yahh, tidur dulu aja dah, gua lelah... lagian besok subuh meluncur keluar kota, siangnya tampil drama," ucapku dalam hati.
"Ehh, dia ada kabar enggak ya," tanyaku lagi dalam hati, dan segera meraih ponsel untuk melihatnya.
"Ihhh, nggak ada chat... nggak tanya kabar gua pula, padahal seharian gua ngilang," ucapku dalam hati melihat pesan teratas dengan nama tiga huruf mematikan itu.
"Goodnight," ucapku dalam hati sembari menuliskannya dalam papan pesan, dan mengirimkannya.
"Dahlahh, tidur aja," ucapku sendiri sambil menutupkan lengan ke atas kedua mata.
Seperti layaknya mengedipkan mata, kurasa malam yang ku lalui kini sangatlah singkat dan cepat, bahkan ingatan ini pun tak sempat untuk menggoreskan ingatan tentang mimpi apa yang ku lalui semalam.
"Udah pagi aja," ucapku dalam hati mendengar kumandang adzan subuh yang menggema.
"Ohiya, ke rumah bu Liana ya..." ucapku dengan pelan dan lemas.
"Roo, bangunn... udah subuh ini," ucapku lagi sambil menggoyangkan badan Yusro yang teringkuk layaknya anak itik kedinginan.
"Hmmmm," jawabnya dengan singkat langsung duduk namun dengan mata yang terpejam.
"Ceper bangun, laporan gih meluncur," ucapku lagi sambil berdiri hendak beranjak.
"Hmmmm..." jawabnya lagi dengan singkat, masih dengan mata terpejam.
"Nih manusia, jenis apaan sih... susah bener ngumpulin nyawa," ucapku dalam hati melihat Yusro yang seperti orang kerasukan.
"Gua laporan dulu kalo gitu Ro, gua sampe sini lagi lu harus udah jadi manusia sepenuhnya," ucapku sambil berjalan menuju anak tangga ke bawah.
"Hmmmm..." jawabnya lagi tanpa frasa.
"Nih manusia mancing emosi amat," ucapku lagi dalam hati melihat anggukan kecilnya yang bernuansakan emosi.
Masih setengah jalan aku menitihkan kaki menuju lantai dua, terlihat Ulul dan Abdul yang masih dengan sibuknya hendak menaikkan meja kecil untuk meletakan jajanan hidangan para kepala Prodi dari setiap jurusan.
"Lah kenapa enggak nunggu yang lain," ucapku sambil mendekat membantunya menaikkan meja kecil itu.
"Udah pada pulang, tinggal kita aja yang ada," jawab Ulul singkat sambil membawa beratnya dua meja yang ditumpuk.
"Sinii sini, gua bantu... masih banyak ya," tanyaku sambil meraih meja yang di angkat Ulul.
__ADS_1
"Tinggal lima dibawah,"