
Begitu banyak suara berlalu lalang hinggap ke sana kemari saling mengejar dan menyahut satu sama lain seakan tak menghiraukan akan kemeriahan kegiatan yang tengah berlangsung tepat di atas ruang dengan seribu kuas wajah berbeda yang saat ini ku jajaki.
"Za kesini aku dandani dulu," ucap seorang wanita dengan kulit putih bersih sembari melambaikan tangannya ke arahku.
"Ehhh, dandani gimana nih, agak bingung gua," jawabku sambil berjalan mendekat ke arah wanita itu. Yah itu adalah Laila, seseorang yang lebih mahir dari yang lain jika dinilai dari cara make up.
"Ngapain yang bingung elu, kan gua yang atur," jawabnya dengan pelan namun sedikit sewot.
"Cantik sih, tapi dalem juga bicaranya," ucapku dalam hati mendengar balasan dari Laila.
"Iyaa iyaa, lu aja yang bingung, gua mah kaga perlu," jawabku dengan senyum jahat sedikit meledek.
"Udah cepet sini, biar nanti bisa gantian dengan yang lain," ujarnya sambil menepuk lantai di sebelahnya.
"Nggak usah terlalu tebel, santai aja," ujar ku sambil duduk bersila di tempat yang ia isyaratkan tadi.
"Maap lo ya," ucapnya dengan pelan sambil mulai menghunuskan kuas bedak ke arahku.
"Yaaa... lanjutin aja, emang tugas lu," jawabku dengan santai sambil memejamkan mata.
Dari situ mulailah taburan lembut bedak perlahan - lahan mulai menjajah di setiap sudut dan lekuk wajahku yang kurang terawat ini, dengan berbagai macam alat dan bahan hinggap menempel pada lapisan terluar kulit wajahku ku rasakan seakan topeng tengah menempel erat dan menyatu padaku.
"Jangan terlalu tebel lo Laa," ucapku masih dengan mata terpejam.
"Iya iya, sabar bentar lagi juga selesai," ucapnya pelan dengan lembut.
Singkat cerita akhirnya tahap pelapisan kulit wajah telah selesai, dan berlangsung beranjak pada tahap selanjutnya, sampai tiba disaat tahap pewarnaan bibir dan pelukisan pulpen mata kepadaku sedikit terjadi drama.
"Wahh, tebel amat nih muka rasanya," ucapku setelah membuka mata.
"Enggak - enggak, normal itu, enggak tebel amat kok," jawabnya dengan singkat sambil merapikan beberapa selongsong bedak yang tadinya berceceran.
"Pakek lipstik ya," ucapnya pelan sambil mencari warna lipstik yang sesuai.
"Iya, perlu deh kayaknya," jawabku sambil memainkan kaca dan melihat betapa mengerikannya tampilanku.
"Warna ini ya," ucapnya pelan dan terdiam memandangiku beberapa saat.
__ADS_1
"Iyaa," jawabku dengan singkat masih asik melihat ke dalam cermin.
"Ehhh, ngapain nih anak, kok cuman mematung melihat gua, gua jadi malu woii!!!" teriakku dalam hati melihat tingkah Laila.
"Yok segera aja, yang lain juga pada belum," ujar ku lagi sambil menaruh cermin sedikit keras, dengan tujuan memecahkan lamunan Laila yang ku rasa mengarah kepadaku.
"Ehh ehh ehh... iyaa aduh gimana, yang ini ya," jawabnya dengan kaget dan kebingungan sesaat.
"Iyaa, yang itu aja," jawab dengan singkat sambil sedikit mendekatkan wajah untuk dilukis nya kembali.
"Anu... lu aja sendiri dah Za yang pakek lipstik," ujarnya dengan tiba - tiba sambil manaruh lipstik tepat di depanku.
"Ehh, mana bisa gua pakek sendiri, gua aja nggak pernah megang tu barang," sahutku dengan logat konyol agar sedikit mencairkan situasi yang canggung ini.
"Hufftt... oke sini," terdiam beberapa saat, dan menghembuskan dalam nafas ia menetapkan sebuah keputusan.
"Eeee... jangan buka mata, tutup," ujarnya dengan tegas dengan wajah mulai memerah.
Tanpa adanya nada, kata, dan bahasa segera ku tutup mataku sesuai dengan instruksi darinya. Yah ku tahu disini Laila begitu grogi ku rasa, sangat terlihat jelas dari goresan - goresan lipstik yang sedikit terpatah - patah dan dia yang hanya diam seribu bahasa.
"Aaaakkhhhhh, terlalu memalukan kalo gua melawak, ditambah lagi gua belum mandi, apa kata dia entar kalo mencium bau mulut gua," ucapku dalam hati dengan meronta - ronta dalam pejaman mata.
"Hahhh, gua kira waktu berhenti," ucapku dalam hati sambil membuka mata.
"Idihh, cantik bener gua," ujar ku lagi sambil bercermin menghadap kaca.
"Nih pensil mata gambar sendiri bisa kan," ujar Laila sambil mengulurkan tangannya.
"Makek lipstik aja enggak bisa apa malah pakek pensil mata," jawabku dengan sedikit melawak.
"Ya siapa tau pas di pondok pernah pakek," sahutnya dengan sewot.
"Nggak - enggak, lu yang gambar... " jawabku sambil mendorong tangannya yang tengah mengulur ke arahku sambil memegang pensil mata.
Dengan pelan ia memandangiku sesaat dengan tatapan jahatnya.
"Kenapa malah liat liat," sahutku dengan nada agak tinggi.
__ADS_1
"Agak sini," ucapnya singkat sambil mengayunkan tangannya.
"Maaf lo ya," ucapnya lagi dengan singkat dan terasa kini telapak tangannya mulai menyentuh kulit wajahku dengan lembut dan halus.
"Sial, sekarang gua yang grogi," ujar ku dalam hati sambil menelan ludah.
"Jangan di pejamin matanya," ucapnya dengan pelan sambil sedikit demi sedikit mulai menggoreskan pensilnya.
"Ini nggak terlalu dekat apa kita," ucapku dalam hati melihat jarak antara aku dan Laila yang hampir sirna.
"Jangan grogi lo ya, mata gua jadi taruhan ini," ucapku mencoba mencairkan suasana.
"Gapapa, gua gantiin mata gua," jawabnya dengan pelan
"Kurang ajar nih anak, berani bener," ucapku dalam hati lagi.
"Yang bener buka matanya, jangan kedip kedip mulu," ucapnya lagi.
"Geli woi, emang gua nggak pernah pakek ginian," jawabku singkat.
"Tangannya dingin amat, apa dia juga grogi ," ucapku sendiri dalam hati merasakan telapak tangan Laila yang begitu dingin menyatu dalam kulit wajahku.
Dalam jarak duduk yang memacu adrenalin mental hati ini perlahan tangan lembut nan halusnya mulai terlepas dari ratusan pori - pori wajah yang semenjak tadi ingin meronta karena belaiannya. Dengan mata yang sedikit berkaca - kaca akibat lukisan pensil mata, ku lihat Laila langsung membalikkan wajah membelakangi ku sambil menyibukkan diri merapihkan alat - alat riasnya.
"Wahh, perih amat," ucapku dengan nada konyol dengan harapan mampu mencairkan suasana.
"Jangan di gosok, biarin aja... nanti juga hilang sendiri perihnya, kalo enggak pernah makek ya gitu rasanya," jawabnya dengan pelan dan masih dalam kesibukannya.
"Ehh, nih kerudungnya, sekalian aja... gua nggak bisa pakek kerudung," ujarku lagi masih dengan nada konyol.
"Huffttt... ngerepotin aja lu," ucapnya dengan pelan sambil memalingkan wajah. Yah, benar saja apa yang aku perkirakan tadi, dengan wajah memerah ia menatapku dengan tatapan kosong dan sekali - kali membuang tatapannya ke bawah atau arah belakangku.
"Kurang ajar, gua jadi enggak enak," ucapku sendiri dalam hati.
"Hufttt... cepet sini," ujarnya sambil menarik kerudung yang telah terlilit di leherku setelah menghela nafas dalam.
"Idih, cepet banget nih anak ngendaliin mental," ujar ku dalam hati melihat deratisnya perubahan yang terjadi.
__ADS_1
Singkat cerita Laila lah yang sampai titik akhir menemani dan memberikan sentuhan make up kepadaku sampai semua siap sepenuhnya. Setelah hal yang menegangkan berurusan dengan pensil mata berakhir, tahap - tahap seterusnya berjalan dengan normal dan lancar layaknya teman akrab yang tengah bermain.
"Nih anak mentalnya kuat," ucapku dalam hati sambil melihatnya yang tengah merapikan barang - barangnya.