Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 47 : Tujuan positif


__ADS_3

Masih dengan selimut lembut embun pagi yang sama dengan beberapa jejak waktu yang lalu. Dengan bermedia kan jiwa dan raga perlahan ku belah lautan partikel air yang menyatu dalam taburan oksigen di setiap sudut ruang nastapa dunia bersama seorang insan yang senantiasa menemani raga guna menuju singgasana yang telah ada.


"Apa kabar hubungan lu," ujar Yusro yang tengah memegang kendali kemudi.


"Hehhh, entahlah... kayak makin nggak jelas aja, sering ditarik ulur singkatnya," jawabku dengan pelan yang berhiaskan senyum tipis mencekam.


"Gua perhatiin sih gitu," jawabnya dengan santai.


"Hmmm, keliatan jelas ya.." Sahutku dengan pelan sambil memalingkan wajah menghadap tepian jalan.


"Gua enggak mau lu kedoktrin hal negatif yang disampaikan pak Prapto ya... tapi kalo gua perhatiin sih ada benernya juga," ujar Yusro kembali dari balik helem hitamnya.


"Gua sempet berfikir kek gitu," jawabku kembali dengan pelan.


"Semakin parah lagi pas kita latihan bareng anak - anak drama kolosal di alun - alun kota kan," tanya Yusro dengan santai, yang ku pikir dia bakalan tau gua akan jawab apa.


"Sesaat sebelum itu udah panas sih gua... gua dapet laporan dia udah balikan sama mantannya," jawabku singkat dengan datar.


"Hehehe, bener - bener dah... kalo yang dari Prodi fisika lu udah tau ?" tanya Yusro lagi.


"Hehehe... sayangnya udah," jawabku singkat dengan senyum keputusasaan.


"Hahaha... dasar Sad Boy, segera aja lu tanya kepastian... kalo lepas sekalian lepas, nggak nggantung kek gini," ujarnya dengan lantang dan keras.


"Pada akal pikiran gua udah sampe situ nyet, tapi jiwa gua kok belum sampe yaa," jawabku dengan tegas dan tersenyum penderitaan.


"Ehhh, tapi ngomong - ngomong lu kemaren tu keliatan mesra banget lo sama Nabila," ucap Yusro mendadak membuatku kaget seketika.


"Mesra apannya, kapan ?" tanyaku kembali langsung dengan bingungnya.


"Lah manusia ini, sok sok lupa lagi."


"Gua beneran lupa Bambang," jawabku dengan nada sedikit naik.


"Masih di alun - alun kota, pas lu bonceng Nabila pakek sepeda keliling alun - alun," ujar Yusro sambil mencoba mengingatkan.

__ADS_1


"Ooo yang itu... emang lumayan seru sih pas itu," ucapku sambil tersenyum sendiri melihat ingatan yang otomatis memutar sejarah.


"Wahh, belum kelar satu udah mau nyikat yang lain lu," sahut Yusro lagi dengan tawa.


"Enggak gitu maksud gua woii... jadi pas itu kan gua dapet info kalo dia balikan sama si mantan, otomatis gua nggak mood dong... jadi yah gua leluasain aja kesemua cewek, tanpa peduli perasaannya, toh dia juga nggak peduli sama gua," jawabku dengan jelas memberikan kronologi.


"Idihh, temen gua bisa dendam juga ternyata," ledek Yusro.


"Makasih lo ya," jawabku singkat dengan senyum.


"Tapi lu harus hati - hati, jangan lupa kesehatan batin lu," ucapnya tiba- tiba menjadi bijak.


"Amann... kalo gua lupa kan ada lu," jawabku dengan ledekan dan tawa.


"Serah lu dah, masukan dari gua... segera lu cari kejelasannya, kalo kelamaan bisa mati rasa tuh organ."


"Hahaha, siap komandan," jawabku singkat sembari melepaskan pukulan ringan tepat di helem belakang Yusro.


Masih dengan pukulan waktu yang sama meski dengan detik dan menit yang telah berbeda, kumparan berporos kaki - kaki kuda besi hijau ini terus mengayuh menjajaki panjangnya goresan hitam padatan aspal di permulaan hari yang masih terbalut selimut embun yang bersinergi dalam lembutnya oksegen. Dengan beberapa kata penunjuk jalannya tujuan tercapai lokasi, dengan santai dan teliti kami berdua senantiasa memperhatikan setiap lekukan jalan yang begitu bergejolak, sampai pada akhir kata kami sampai di depan rumah sederhana namun memiliki suasana dan citarasa khas kesenian yang tinggi.


"Bener ini ya rumah bu Liana ?" tanyaku kepada Yusro sambil terheran - heran dengan arsitektur yang begitu menyatu dalam jiwa.


"Ehh, coba lu foto... lu tanya bu Liana, apakah bener yang ini," ujar Yusro kembali sambil menepukku yang tengah tercengang mesra.


"Iya - iyaa... sabar bentar kek, masih menikmati seni ini loo," jawabku dengan nada sedikit sewot.


Belum sempat ku mengirimkan pesan gambar kepada bu Liana, terdengar gemericik kunci pintu yang mulai terbangun atas segel dari pengamamnnya.


"Ehhh..." ucap Yusro sambil memberikan kode mata kepadaku.


"Bener ini apa bukan nih rumah," ucapku dalam hati sembari menunggu terbukannya pintu depan rumah tersebut.


Yah, begitu bersyukurnya kami setelah mengetahui sosok manis dibalik pintu kayu jati berwarna coklat tua itu, dengan ramah dan lembut beliau menyapa dan segera mempersilahkan kami untuk hinggap pada ruang hangat berkelaskan tamu.


"Sudah lama ya, ayo ayoo segera masuk..." ucap Bu Liana dengan merdu dan lemah gemuali.

__ADS_1


"Hehehe, belum kok bu," jawabku singkat dengan wajah malu - malu mulai turun dari motor dan melepas sepatu.


"Ayo silahkan masuk, saya ambilkan dahulu bawaannya," ucap beliau lagi sambil mempersilahkan kami untuk segera masuk.


Bukan hanya tampak dari luar saja, dari dalam pun terlihat dekorasi ruangan yang begitu tertata rapi dan sangat tepat memanjakan mata.


"Idih, kok bisa sopan banget nih penampakan," ucapku dalam hati sambil merebahkan badan pada kursi.


"Sederhana sih, tapi kok terkesan mewah gitu," ucap Yusro dengan logat soknya.


"Sejak kapan lu bisa nilai yang kek ginian," ucapku pelan menanggapi Yusro.


"Simpel aja, pokok sopan di mata, nyaman di hati, insyaallah halal..." jawabnya dengan intonasi berdakwah.


"Ohh, silahkan bisa segera disantap," sahutku sambil menunjuk ke arah dekorasi ruangan.


Tak lama kami berbincang - bincang dengan kurang jelasnya, dari arah belakang terlihat Bu Liana yang membawa satu wadah besar yang terlihat jelas dari baunya itu adalah sesuatu yang positif bagi lambung.


"Belum sarapan kan, ini dimakan dulu mumpung masih anget," ujar beliau sambil menaruh bawaan positif itu pada meja.


"Aduh, kok repot - repot ya Bu," sahut Yusro dengan malu - malu.


"Enggak repot ini, daripada nanti jajannya abis hilang dijalan," ucap beliau lagi dengan senyum jahat memandang ke arah kami.


"Eee... anu," jawab kami berdua kebingungan dengan ucapan beliau.


"Kok bisa tau niat jahat kita," ucapku dalam hati masih dengan senyum kebingungan.


"Udah enggak usah bingung gimana saya bisa tau, saya lo juga pernah muda," ujar beliau lagi dengan senyum manisnya kembali.


"Hehehe, makasih lo Bu..." sahut Yusro dengan senyum jahatnya.


"Iyaa, silahkan di kenyangin makannya, saya mau mempersiapkan barang bawaannya dulu," ujar beliau lagi sambil beranjak pergi meninggalkan kami berdua di ruang tamu.


"Iya Bu..."

__ADS_1


"Ini nih... niat jahat ketutup sama rizki," ujar Yusro sambil mengambil nasi.


"Alhamdulillah aja... kita yang ngawalin menunya para hokage," jawabku dengan tawa kecil.


__ADS_2