
Di pagi penghujung siang ini serasa damai kami nikmati bersama dengan masing - masing helai rokok yang terselip dalam jemari, berteman kan dengan secangkir kopi hitam yang melekat pada meja di depan setiap raga insan yang menunggu datangnya akan kepastian.
"Lama banget si Unyil," ucap Fauzi dengan nada gelisah.
"Masih lima menit setelah gua duduk lu bilang lama," sahut Yusro dengan nada meledek.
"Kling tung..." suara ponselku berbunyi.
"Ehh, suara notifikasi pesan jalur pribadi," ucapku dalam hati mendengar notifikasi yang sangat jarang berbunyi di ponselku.
"Siapa Za ?" tanya Yusro dengan segera.
"Nih anak tau bener kalau bukan pesan grup," ucapku lagi dalam hati melihat kejelian Yusro sampai ke suara notifikasi ponselku.
"Ehh, bener ini dari dia ?" tanyaku sendiri setelah melihat notifikasi mengambang tertulis nama yang membuat darahku langsung terpompa lebih kencang.
"Enggak masuk ?" tanya Sri dari pesan WhatsApp.
"Ehh, kata Fredi bener enggak sih," ucapku lagi dalam hati sembari terbengong melihat pesan dengan angan kembali memutar ingatan atas perkataan Fredi beberapa waktu yang lalu.
"Woi, pesan dari siapa ?" tanya Yusro kembali.
"Unyil ?" tanya Fauzi menegaskan kembali.
"Ehh, anu... bukan," jawabku dengan terpatah - patah karena gugup.
"Eee, seseorang," sahut Yusro dengan senyum jahatnya sambil meminum kopinya.
Belum sempat aku menyanggah, terdengar suara yang sudah tidak asing lagi menghiasi dinding gendang telinga. Yah itu adalah Unyil dan beberapa anak yang berjalan mendekat menuju kantin.
"Lah itu Unyil," sahut Syarif dengan keras membuat mereka langsung menuju ke tempat kami terduduk.
"Oi, Nyil sini," sahut Fauzi juga sambil melambaikan tangan dari jendela kantin.
"Sejak kapan di sini... enggak masuk kuliah malah nongkrong di sini," ujar Unyil sambil tersenyum - senyum seperti biasanya.
"Pemuda apa kayak gini, jadwal masuk kuliah malah nongkrong ke kantin... kapan - kapan bilang," ucap Jazul dengan di akhiri tawa lepasnya.
"Pemuda cah cinta," sahut Fauzi dengan tawanya pula.
"Salam cah cinta," ucap Jazul lagi sambil menyilang kan kedua tangannya ke depan sambil tertunduk.
"Ehh, Nyil gimana ikannya ?" tanya Fauzi dengan serius tapi masih terbesit senyum dan tawa.
"Ayok, sekarang aja... keburu sore nanti," jawab Unyil dengan semangat.
__ADS_1
"Zul ikut nggak ?" tanya Yusro sambil beranjak dari tempatnya terduduk.
"Ada... " tanya Jazul dengan mengisyaratkan makanan.
"Gua nggak bakal ngajak lu kalo enggak ada," jawab Yusro dengan wajah sombong sambil menaikan satu alisnya kepada Unyil.
"Hahaha, apa Mas - Mas," jawab Unyil dengan tawa yang malu - malu sambil beranjak pergi.
"Yok gua ikut juga," Sahut Agni dari belakang.
"Meluncur..." ucapku sambil beranjak dari duduk namun masih memegang ponsel dengan penuh rasa keraguan untuk membalas pesan.
"Hehehe, enggak :) " jawabku melalui pesan whatsapp.
"Huft... gitu aja, gua masih ragu," ucapku dalam hati sambil kembali mengantongi ponsel.
Singkat cerita kami bertujuh bersama - sama berjalan menuju tempat parkir sepeda motor untuk mengambil kendaraan dan segera berangkat menuju kediaman Arini atau biasa di panggil Unyil yang membutuhkan tekat untuk menembus perjalanan kurang lebih satu jam di atas kendaraan.
"Za lu sama Unyil aja," ucap Yusro menyuruhku untuk membonceng Arini.
"Oke gapapa," jawabku dengan santainya.
"Gua juga mau," ujar Jazul sambil mendekatkan dirinya kepadaku.
"Hahaha, miska... miska..." ledek Syarif kepada Jazul.
Dengan dekapan lembut sinar mentari yang tak kenal henti, kami meluncur penuh energi untuk menembus lapisan - lapisan oksigen yang tergesek dengan sinar UV membuat rasa hangat pada kulit semakin menjadi dan hilang kendali.
"Enggak mampir masjid dulu, sholat ?" tanya Unyil kepadaku yang memimpin di barisan paling depan.
"Sampe rumah keburu apa enggak ?" tanyaku balik kepada Arini dengan keras karena terbungkus helem.
"keburu sih, tapi mepet banget nanti," jawab Unyil setelah melihat jam di tangannya.
"Tanya ke temen - temen lain aja," ujarku menyuruhnya untuk bertanya Fauzi yang tepat di belakangku.
"Za... Za... ke masjid dulu, pada mau panggilan alam, sekalian sholat," ujar Arini dengan tawa mengetahui istilah. "Panggilan Alam."
"Kenapa woi," tanyaku sambil tertawa tipis mendengar tawanya.
"Ada ada aja bikin istilah," jawab Arini masih dengan tawanya.
Akhirnya kami semua berhenti pada masjid besar dengan halaman parkir luas yang terletak di utara jalan raya perbatasan antara kota dan kabupaten.
"Masih jauh ya," tanyaku setelah mendaratkan sepeda motor pada tempat parkir.
__ADS_1
"Masih lah, ini aja masih dapat setengah belum ada," jawab Arini dengan senyum manis tipisnya.
"Akkhh, punggung gua," teriakku sembari memutarkan badan.
"Pemuda lemah," Sahut Fauzi dengan nada meledek yang lewat di belakangku.
"Siapa itu yang bilang," jawabku dengan nada menantang.
"Sholat... sholat," jawab Fauzi sambil berjalan menuju masjid.
Ketika semuanya berjalan menuju tempat ibadah yang berdiri megah dan gagah untuk laporan kehadiran, aku mencoba mengambil ponsel di saku untuk melihat kondisi pesan masuk pada whatsapp.
"Widih di balas lagi," ucapku dalam hati sambil senyum - senyum sendiri melihat pesan masuk dari Sri.
"Ngapain ?" tertulis dari pesan yang di terima aplikasi WhatsApp.
"Singkat banget jawabannya," ucapku dalam hati setelah membuka pesan tersebut.
"Udah telat tadi, jadi ke kantin aja." Jemariku mengetikkan jawaban pada pesan elektronik.
"Woi Za !!! mau sampai kapan di situ terus," teriak Jazul dari masjid yang sudah pada siap untuk laporan.
"Lu ikut apa enggak !!" disusul Yusro yang berada di serambi masjid.
"Iya iya, nih kesitu," jawabku dengan pelan sambil senyum - senyum sendiri melihat ponsel.
"Senyum tu di bagi, jangan di makan sendiri," sahut Yusro lagi dengan sindirnya.
"Tangkap nih senyum," jawabku sambil memperagakan melempar senyum ke arah Yusro.
Sehabis kami melaksanakan kewajiban mengisi daftar hadir kehidupan, hujan lebat turun dengan tegasnya tanpa mengenal rasa iba akan perjalanan yang dinilai masih panjang. Terpaksa kami berteduh di masjid dahulu untuk menunggu berkurangnya jatuhan air yang begitu membabi buta karena rombongan Jazul dan Fauzi tidak membawa mantel hujan.
"Wahh, enggak jadi mancing ikan nih," ujar Fauzi sambil melihat langit gelap dengan tangisnya.
"Gua enggak peduli mau mancing apa enggak, yang penting makan itu aja," sahut Yusro dengan wajah komedinya.
"Hahaha, iya iyaa... beres itu," jawab Arini dengan senyumnya yang terus melekat.
"Kayaknya bakalan lama nih ujan," sahut Jazul sambil menghisap rokoknya.
"Yah, sepertinya iya, dengan warna langit ke abu - abuan, terbesit pesan keraguan ku rasa," ucapku dalam hati sambil menatap langit yang sudah mulai reda namun masih terguyur dengan air tanpa jeda.
"Keraguan ? bener enggak sih ?" tanyaku lagi dalam hati sambil tertunduk menatap layar ponsel yang gelap tanpa notifikasi masuk.
"Sudahlah," ujar ku lagi dalam hati, sambil tersenyum dan menghisap rokok dalam - dalam.
__ADS_1