Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 46 : Perjalanan


__ADS_3

"Masih jauh enggak ?" tanya Yusro dari depan.


"Enggak sih kalo dari maps," jawabku dengan singkat sambil menatap layar tatap ponselku.


"Pertigaan di depan belok kiri, kira - kira tiga ratus meter sampe," ucapku lagi kepada Yusro.


Setibanya dipertigaan tempat kami berbelok, terlihat jalanan berbatu yang kurasa kurang tepat untuk dilalui motor beroda karet aspal.


"Lu enggak salah liat mapsnya," tanya Yusro sedikit ragu.


"Bener Bambang, kita dijalur yang tepat ini," jawabku sambil memperlihatkan ponsel.


"Lu liat deh, sepanjang jalan di depan area persawahan nyet," sahut Yusro lagi dengan tegas.


"Kalo persawahan emang kenapa, toh lu juga belum tau jalan yang lebih bener ketimbang ini kan," jawabku mencoba mematahkan ucapan Yusro.


"Searah kita jalan ngikutin maps, coba lu tanya arah - arah rumahnya bu Liana," ujar Yusro sedikit melambatkan intonasi.


"Okee, gua coba ini," jawabku singkat sembari mengirimkan pesan elektronik kepada beliau.


Kurang lebih dua puluh menit waktu berjalan senada dengan kami mengikuti panduan dari maps, terlihat dari sejauh mata memandang belumlah ada kabar baik yang melambai dan berdamai dengan kami berdua.


"Belum dibalas sama bu Liana ?" tanya Yusro dengan pelan.


"Belum... haaa, kita hampir sampe kalo dilihat dari ponsel," ucapku dengan sedikit menenangkan diri.


"Coba gua liat," ucap Yusro sambil menepikan motornya ditepian jalan.


"Nihh liat, sekitar lima puluh meter di depan ada jalan ke utara, udah sampe kan," ujar ku sambil memberikan ponselku.


"Parah dah ini, di depan kaga keliatan jalan bro," jawab Yusro sambil melihat ponsel.


"Anggap aja jalannya ketutup sama embun ini," jawabku dengan singkat penuh keraguan.


"Kalo kita sampe nyasar, ini beneran enggak lucu lo ya," jawab Yusro sambil kembali menarik pedal gasnya.


Tidak perlu membutuhkan waktu terlalu lama, sampailah kami dipertigaan selanjutnya yang seharusnya ada jalan menuju ke utara. Namun pada nyatanya tidak terlihat seuntai jalan pun yang menjalar ke utara, baik dalam selimut kabut ataupun tidak.


"Tuh kan apa gua bilang," ujar Yusro dengan lantangnya.


"Yah mungkin rumah beliau jalan setapak," jawabku dengan polos.


"Jadi harus jalan melewati persawahan ini ditengah tebalnya kabut kek gini ?" tanya Yusro dengan nada meledek lengkap dengan raut wajah yang kurang nyaman dicerna mata.

__ADS_1


"Ya... siapa tau kan," jawabku singkat.


"Dahlah, ponsel lu nggak beres itu, lu kirim lokasi beliau ke gua," sahut Yusro segera.


"Iyaa iyaa... dah udah gua kirim," jawabku sambil meneruskan lokasi bu Liana.


"Kurang ajar kan, nih liat, kalo di ponsel gua lokasinya masih kurang ke barat nyet," ujar Yusro sambil memperlihatkan ponselnya kepadaku.


"Okee, kita ikutin arahan ponsel lu," jawabku dengan semangat.


Masih berjalan dengan kumparan roda berporos milik kuda besinya Yusro, tiba - tiba lokasi GPS tempat kami seharusnya berjalan pelan langsung terpental jauh dari tempat semestinya.


"Oi !! berhenti," teriakku dengan keras sambil menepuk pundak Yusro dengan keras.


"Apaan sih lu," jawab Yusro dengan sedikit bumbuhan gas dalam intonasinya.


"Ponsel lu tambah enggak jelas nyet," ujar ku mengimbangi intonasi Yusro.


"Gimana sih maksud lu, sini gua lihat," jawabnya sambil menepikan motor untuk yang kesekian kalinya.


"Apaanya yang salah, bener kan," ucapnya lagi setelah melihat ponsel.


"Lu liat yang bener coba, lu liat di mana titik lokasinya," jawabku dengan nada tinggi namun bersemi dengan senyum.


"Nohh, sekarang gimana," tanyaku dengan nada meledek.


"Hahaha, kita diem aja disini nungguin bu Liana memberikan arah - arah rumah... ketimbang jalan malah hilang," ucap Yusro dengan tawa tipis- tipis.


"Mana dari kemaren belum makan lagi," ucapku sendiri sambil turun dari motor.


"Ngapain lu kawatir masalah gituan, kita kan ke rumah bu Liana mau ambil jajanan buat para hokage, kalo seandainya kita nyasar dan hilang toh kita bawa bekal makanan," jawab Yusro dengan santainya.


"Hahaha, bener juga ya lu,"


Sembari menunggu balasan dari bu Liana, kami berdua duduk bersantai di halaman depan bangunan besar yang berbentuk mirip - mirip seperti gudang lengkap dengan pintu besi besar di belakang kami.


"Ini gudang besar amat, di depan masjid pula," ucapku dengan santai sambil menyalakan rokok.


"Malah bagus kan, kalo usah masuk waktu sholat, para pekerjanya bisa langsung laporan," jawabnya dengan santai menarik dan melepaskan kepulan asap rokok.


"Itu kemungkinan baiknya, kalo kemungkinan buruknya," sahutku dengan nada sedikit menakutkan.


"Gimana maksud lu," sahut Yusro lagi bertanya - tanya.

__ADS_1


"Lu perhatiin deh, gudang ini keliatan lebih tua ketimbang bangunan di sekitarnya, ditambah lagi nih bangunan keliatan udah lama nggak beroperasi... lu kira apa alasan ditaruhnya masjid besar di depannya," jawabku dengan santai dan misterius.


"Lah... ngada - ngada aja lu, emang gitu konsepnya ?" jawab Yusro kembali dengan nada sedikit menyepelekan.


"Gua nggak tau pasti sih, cuman di daerah tempat gua tinggal ada yang pakek konsep gitu," jawabku dengan santai sambil menikmati rokok.


"Hahaha, nggak lucu banyolan lu," sahut Yusro dengan tawa ragu - ragu.


"Siapa yang ngelawak, emang bener ada yang kek gitu di daerah gua," jawabku lagi mencoba menegaskan, dan sesaat kondisi sempat hening tanpa suara dan gerak, membuat suasana sekitar semakin mencekam.


"Ehh, kok jadi kek gini situasinya," ucapku dalam hati merasakan kondisi yang begitu sunyi dan sepi lengkap dengan kabut pagi hari yang bergerak pelan melewati kami.


Masih dengan kondisi yang sepi dan mencekam itu, tiba - tiba ponselku berdering dengan keras dan menggelegar, membuat jiwa yang berpikiran campur aduk ini menjadi terkaget sangat karenannya.


"Kriinngggggg!!!"


"Wooii !!!" teriak kami berdua bersamaan.


"Ngagetin aja lu," ucap Yusro dengan keras.


"Gua juga kaget bambang,"


"Siapa tu," tanya Yusro dengan segera.


"Ehhh, mantab ini bu Liana," jawabku dan langsung menjawab panggilan beliau.


"Hallo bu, selamat pagi," sapa ku dengan ramah mencoba memberikan kesan yang baik.


"Sampe dimana, kok belum sampe sini... kata pak Prapto udah berangkat sejak subuh," tanya beliau dengan segera.


"Hehehe, maaf bu... ini kami nyasar, maps yang anda berikan kurang diterima oleh ponsel kami bu," jawabku dengan perlahan sambil tersenyum malu - malu kucing.


"Lahh kok bisa sih mas," ucap beliau dengan kaget yang bisa aku bayangkan.


"Anu aja bu, dikasih arah - arah saja bu," jawabku dengan pelan.


"Oh iya kalo begitu, tau tugu garuda mas," tanya beliau dengan segera.


"Waduh, matih gua... mana gua enggak tau arah jalan," ucapku dalam hati dan langsung memberikan ponselku kepada Yusro


"Ehh, gimana bu... maaf Mas Reza buta arah bu kalo berhubungan dengan jalan," ucap Yusro dengan langsung setelah menerima ponselku.


"Nih anak parah bener, enggak mau menjaga pasaran temen sendiri," ucapku dalam hati melihat jawaban Yusro yang dengan reflek itu.

__ADS_1


"Lu urus itu masalah jalan, gua ngikut," bisik ku kepada Yusro dengan nada lepas tanggung jawab.


__ADS_2