Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 33 : Yusro


__ADS_3

"Idih, udah lamaran lu Zul ?" tanya Yusro yang duduk di atas kursi.


"Huahahahaaa, sama kambing apa," jawab Jazul sambil membawa satu baskom penuh dengan nasi.


"Beneran lu mau nikah," tanyaku lagi sembari menyelonjorkan tubuh ke karpet yang telah dilebarkan.


"Lah belum, ini cuman syukuran tipis - tipis," jawabnya singkat sambil beranjak pergi untuk mengambil beberapa lauk pauk.


"Tak bantu Zul," ujar Nabila sembari beranjak mengikuti Jazul yang diikuti beberapa anak lain dibelakangnya.


"Za, rokok di tas lu," ujar Yusro sambil mengulurkan tangan.


"Abis ini kemana Ro," tanyaku sambil berjalan mendekat dan memberikan tas punggung yang ku bawa.


"Kemana ya, ke mushola aja... lha lu nanti nggak latihan ?" tanya Yusro kembali sembari membuka tas.


"Mau latihan tapi kok ngeri," jawabku sembari duduk di kursi sebelahnya.


"Padahal enak loo, bisa nyawer," sahut Fauzi dari depan kami sambil tertawa.


"Kalo gua jadi lu, gua sikat udah, hahaha," jawab Yusro meledekku.


"Ngeri bambang goyangannya," jawabku singkat sembari menyalakan rokok.


"Kalo masih merokok, jangan kesini," sahut Nabila dari bawah yang sudah mengambil nasi dan lauk pauk.


"Lu kenyangin, toh di belakang masih banyak... iya kan Zul," jawab Yusro sembari mengangkat tinggi bungkus rokok.


"Apa... aaa... asiap," jawab Jazul dengan manjanya mendekat.


"Kamu makan sampe kenyang ya sayang," ucap Jazul lagi sambil mengambil rokok dari Yusro.


"Iya sayang, tenang aja... akan ku jaga kesehatan ini untukmu," jawab Yusro dengan mesranya kepada Jazul.


"Ihhh, jijik amat... sama gua aja, gua masih mau Roo," sahut Mak Nita dengan keras dari bawah.


Yahh, hari itu begitu terasa kebahagiaan atas kebersamaan yang terbalut dalam rajutan tawa lepas setiap insan penghirup kenikmatan tuhan. Seperti halnya keluarga besar yang tengah makan bersama, begitu sangat ku syukuri apa yang dulu pernah terjadi sebelum ku hinggap pada universitas ternama beralaskan negeri, meski itu sangat sulit ku syukuri. Ohh tidak, aku salah... bukan seperti keluarga, memang inilah keluarga.


"Ehh Za, Yusro itu udah punya pacar belum sih," tanya Mak Nita kepadaku.


"Hmm, gimana ya," jawabku dengan senyum jahat.


"Lu kan yang udah lama bareng sama Yusro, pasti lu tau," ujar Mak Nita kembali dengan tegasnya, dan serentak saja para kaum wanita yang duduk disekitarnya mendekat kepadaku untuk mendengarkan cerita.


"Iyaa, gimana- gimana... aku kepo juga," ujar Nabila sambil mendekat.

__ADS_1


"Mana ada cewek yang enggak kepo masalah Yusro tentang itu," ucapku dalam hati sambil nyengir.


"Hmm, oke gua cerita... dia udah punya pacar, intinya itu," ucapku dengan singkat, yahh... terlihat beberapa kaum wanita dengan ekspresi yang berbeda.


"Iyalah, mana ada cowok seganteng dia enggak punya pacar," sahut Nabila sambil sedikit tersenyum sinis.


"Ihh, gua aja yang katanya mirip sama dia, nggak jelas - jelas status gua apaan," jawabku dalam hati sambil tersenyum sinis pula.


"Anak kampus juga ?" tanya Mak Nita dengan santainya.


"Bukan... temen sejak SMP kelas dua," jawabku dengan singkat.


"Haaa... sejak SMP ? udah berapa taun itu ?" tanya Mak Nita kembali dengan wajah terkaget terlihat dari wajah semua kaum wanita yang mendengarkan ku bercerita.


"Yaa... berapa ya, lima taun ini kali ya," jawabku dengan ragu - ragu sambil berfikir.


"Baru kali ini gua liat cowok ganteng yang setia," ujar Nabila masih dengan wajah kagetnya.


"Hahaha, kalian kemana aja... masih banyak di dunia ini yang kek gitu," ucapku dengan tawa.


"Pacarnya kek gimana sih kalo boleh tau," ujar Mak Nita kembali.


"Gimana ya, gua juga enggak punya fotonya sih," jawabku sembari mengingat - ingat kembali.


"Gua kok jadi penasaran, cewek seperti apa yang ngebuat cowok seganteng dia bisa anteng," ujar Mak Nita kembali dengan senyum jahatnya.


"Tapi ?" sahut Nabila dengan penasaran.


"Enggak perlu kata tapi atau karena, cukup gimana kita mensyukuri aja," jawabku singkat sembari menoleh ke arah mereka.


"Hmm, itu menurut lu kan, bukan Yusro ?" tanya Mak Nita dengan pelan dan ragu.


"Ya iyalah, kalo Yusro mahh, gua enggak tau," jawabku dengan santainya sambil tertawa.


"Cuman gua ngerasa... dahlah enggak penting, cuman rasa antar sahabat doang, hahaha," jawabku yang ku tutup dengan tawa.


"Lah gimana sih, udah serius - serius di dengerin," ujar Nabila dengan wajah kecewa.


"Cuman dia mau ngikutin kata hatinya ku rasa," ucapku dalam hati sambil nyengir.


"Minggir, minggir... hidangan penutup mau lewat," ucap Jazul membebaskan ku dari pembicaraan yang tegang dan serius itu.


"Mantabbb!!!" ucapku keras, dan langsung menghampiri Jazul yang tengah membawa buah - buahan.


"Larii!!! daripada gua terus di tusuk pertanyaan," ucapku dalam hati sembari berjalan menghampiri Jazul.

__ADS_1


"Ehhh, kenapa sih Zull..." ucap Yusro dengan nada sok malu - malu.


"Gaya lu Roo... Roo..." sahut Fauzi sambil mengambil buah - buahan.


"Kenapa enggak dari tadi maksudnya," lanjut Yusro dengan nada tak berdosa.


"Huahahahaa... kurang ajar, yaudah di enakin semuanya," jawab Jazul sambil mempersilahkan kami semua menyantap sesajen yang telah di keluarkan.


Dengan begitu lepasnya ekspresi kebahagiaan yang setiap insan lemparkan, tak terasa tanpa kami semua sadari, telah banyak waktu tersita dan terisi dengan kebahagiaan yang belum pernah aku bayangkan sebelumnya. Yah kini jarum waktu penghunus angka telah memfokuskan semua kebenciannya pada angka tiga yang di iringi pula dengan semakin panjangnya bayangan pohon depan rumah Jazul.


Karena banyak dari kami semua berasal luar daerah atau luar kabupaten, sebelum hari semakin gelap dan matahari semakin malu, kami semua memutuskan segera pulang mengejar mentari, terutama kaum hawa.


"Za, lu males enggak ?" tanya Fauzi kepadaku.


"Lu paham lah..." jawabku dengan singkat sembari memakan kacang yang disediakan.


"Izin enggak latihan ya," ucap Fauzi dengan senyum jahatnya.


"Halah kelamaan, si Reza aja udah pura - pura lupa sama latihan, lu sok sokan nanya," sahut Syarif sembari merampas ponsel Fauzi.


"Hahaha, laiyaa... masak semuanya langsung pada buyar," sahut Jazul sambil menghembuskan asap rokoknya.


"Hahaha, bisa aja lu nyet," jawabku sambil tertawa lepas menunjuk Syarif.


Yahh, pada akhirnya selagi semua kaum hawa pergi berpamitan pulang, aku, Yusro, Fauzi, Syarif, dan Agni tetap berada di rumah Jazul untuk ngobrol dan bercanda ria seperti manusia tanpa beban dan dosa.


"Besok masuk jam berapa ?" tanya Jazul sambil menghisap rokoknya.


"Lu enggak usah nanya masuk jam berapa Zul, setiap pagi udah dibangunin dan di jemput bidadari kecil dan imut, masih sok - sokan nanya jam masuk," sahut Agni dengan meledek Jazul.


"Hahaha, bener juga..." jawab Jazul dengan tawanya yang lepas.


"Agenda abis ini main ke rumah siapa ?" tanya Syarif sambil meminum kopi hitamnya.


"Rumah gua gimana ?" ujar Yusro dengan santainya menikmati rokok.


"Ihh... jauh Ro, kasian yang dari sini, seharian abis buat perjalanan," jawabku sambil menyalakan rokok.


"Nginep rumah gua dong, entar paginya liat matahari terbit dari waduk," jawabnya lagi dengan tenang. Yah... disitu sempat hening sesaat, ku rasa semuanya tengah berfikir keras.


"Hahaha, masukk... masukk... boleh... mantab itu," jawab Fauzi yang diikuti oleh semuanya.


"Tapi jangan waktu deket ini, yaa... kira- kira bulan dua gitu," sahut Yusro lagi.


"Ehh kenapa," tanya Jazul dengan segera.

__ADS_1


"Kurang lepas dong, jalan - jalannya... emang mau satu kelas bolos," sahut Yusro dengan tawa tipisnya.


"Okee, fikss... liburan semester di rumah Yusro!!" tegas Fauzi.


__ADS_2