
"Cie yang baru nyawer," tertulis dengan jelas pada notifikasi pesan whatsapp pada layar ponselku.
"Ehh, gimana maksudnya," tanyaku kembali dengan segera membalas pesan digital itu.
"Gimana sensasinya ?" tangannya lagi dengan singkat yang membuat jiwa ini semakin kebingungan karenannya.
"Gimana sih maksudnya," jawabku kembali.
Yah meski sebenarnya aku sudah mengetahui maksud dan tujuannya mengirimkan pesan yang begitu jelas langsung membunuh, tapi jiwa ini belumlah kuasa untuk menjawabnya dengan segera.
"Yaudahlah nanti aja aku telfon dan jelasin semuanya," ucapku dalam hati masih di atas motor bersama Yusro yang kini tengah menuju tempat rebah kembali.
"Tapi... bener nggak sih, gua merasa bersalah," tanyaku dalam hati sambil menatap langit yang semakin gelap ku hampiri.
"Lu kenapa Za ? ada masalah ? ngobrol aja, entar gua sesatin," ujar Yusro dari depan dengan nada pelan tanpa merasa ada yang salah.
"Heheh, enggak tiba - tiba aja pingin galau," jawabku dengan pelan.
"Wahh parah lu... terindikasi penyakit langka dan mematikan lu," ujar Yusro lagi.
"Serah lu Yusro...," jawabku dengan pelan, tegas, dan keras.
"Udahlah, entar gua traktir mie sama rokok, sekarang lu habisin sedih nggak jelas lu," sahut Yusro dari depan, dengan perlahan menyadarkanku akan hadirnya seseorang yang benar - benar paham akan kondisi ku.
"Hehhhh," jawabku singkat dengan senyum tipis.
Pada akhirnya, sepanjang jalan kami kembali pulang hanya kegundahan dan rasa bersalah tak jelas yang dapan ku taburkan sebagai jejak ku buangnya senyum dalam setiap menit yang telah ku lewati.
Singkat cerita, akhirnya kami telah sampai pada ruang kamar yang berisi sepuluh anak dengan karakter dan kepribadian yang berbeda - beda.
"Ehhh, Za... Mana Yusro," tanya Ependi setelah melihatku masuk dan meletakan sepatu pada rak.
"Pesen mie sama nyari rokok," jawabku dengan singkat lengkap dengan wajah kusut yang minim akan kehangatan.
"Ehhh mantab," jawabnya dengan singkat dan langsung segera turun.
"Hufftt... ku rasa ini terlalu berat untuk yang namanya cinta," ujar ku dalam hati sembari menghela dalam nafas.
Segera ku letakan tas dan berlanjut berganti baju malam, serta tak lupa menjalankan laporan wajib di waktu yang telah ditetapkan. Sehabis menunaikan kewajiban ku sebagai hamba, sembari mem fikirkan kegalauan yang aku rasakan, ku nikmati gelapnya malam bersama rembulan terkadang tertutup awan yang sedang berjalan.
"Yok ngobrol," ujar Yusro sembari memberikan satu helai rokok.
"Alah enggak usah," jawabku sembari menerima rokok yang diberikannya.
"Eee, ya kalo lu udah lebih enak gak papa sih," jawabnya sembari menghembuskan kepulan asap rokok.
"Mana ini korek," tanyaku sambil mengulurkan tangan.
__ADS_1
"Nggak ada, pakek ini aja," sahutnya sembari memberikan rokoknya yang sudah berbau api di ujungnya.
"Kalo masih kelihatan, kejar aja Za!!!" sahut seseorang dari dalam kamar.
"Ehh, Mahmud ya," tanyaku kepada Yusro sambil menyalakan rokok.
"Gimana - gimana," tanyaku lagi sambil menoleh ke dalam ruangan dengan senyum tipis.
"Kalo masih kelihatan kejar aja," ujarnya lagi agak pelan.
"Kalo masih kelihatan ya," ucapku dalam hati terdiam beberapa saat setelah mendengar ucapan dari Mahmud.
"Hehhh, bener juga ya," jawabku sambil tersenyum ke arah Mahmud dan Yusro.
"Hahahaha, makasih boss," tawaku langsung terlepas dengan bebasnya.
"Gimana maksudnya Mahmud," tanya Yusro dengan santainya.
"Nihh..." ucapku singkat sembari memperlihatkan layar ponsel yang tergambar seseorang dengan diam melihat punggung orang lain dari kejauhan.
"Haruskah ku kejar, hehhh," ucap Yusro tersenyum sinis melihat kata - kata yang ku tuliskan pada gambar.
"Apa lu," sahutku sambil tersenyum malu - malu kucing.
"Telfonn telfon..." ledek Yusro sambil beranjak pergi.
Yah... dimalam yang pekat dengan minimnya sinar rembulan bersama bintang, kini ku tekan beberapa nomor khusus yang tertuju ke arahnya, dengan sedikit guyonan dan rayuan akhirnya permasalahan salah paham yang berbalut kecemburuan akhirnya dapat terselesaikan dengan tuntas.
"Hahh, akhirnya tuntas yaa," ucapku dalam hati sambil tersenyum menatap langit malam.
"Begini... hemm... ku rasa kedepannya akan terjadi lagi," ucapku lagi dalam hati, masih dalam kondisi tersenyum.
Singkat cerita pagi pun tiba, seperti hari - hari sebelumnya, dengan tergesa - gesa kami memacu kuda besi hijau dengan kecepatan penuh membelah tirai embun yang sudah hampir memudar.
"Gass Roo!!" ucapku dengan keras di kursi belakang.
"Lu nggak capek setiap berangkat bilang kek gitu," jawab Yusro dengan nada sinis.
"Hahaha, moga aja lu nggak capek dengernya," jawabku kembali sambil tertawa lepas.
Dan kami pun segera menambah kecepatan dengan menarik lebih dalam melingkar stang gas motor kami. Dengan kecepatan yang bisa dibilang tidak lambat, akhirnya kami telah sampai di tanah ilmu tempat kami menimbanya.
"Ehh, udah pada ngumpul di depan kelas kayaknya," ucap Yusro sambil memandang jauh ruang kelas kami.
"Enggak keliatan Ro... Ro..." jawabku sambil menyipitkan mata untuk memandang jauh.
"Dia udah sampai belum ya," ucapku dalam hati sambil tersenyum berangan - angan.
__ADS_1
"Turun woi," bentak Yusro setelah tiba di tempat parkir motor.
"Ehhh, iya iyaa... nggak usah ngegas," sahutku dengan terkaget di bentak Yusro.
"Masih pagi udah ngehalu aja lu," jawab Yusro sambil melepas helemnya.
"Asli... enak banget ngehalu," jawabku sambil menepuk pelan helemnya.
"Dahh dahh... lu ke sana dulu apa ikut gua, gua mau beli rokok dulu," sahut Yusro langsung beranjak pergi setelah meletakan helemnya.
"Gua jalan dulu aja, entar tinggal nikmatin hasilnya," jawabku sambil tersenyum jahat.
Yahh, Yusro hanya diam sambil berjalan namun dengan respon tangan diangkatnya tinggi - tinggi dengan semua jari mengepal, namun tersisa jari tengah yang berdiri tegak. Oke, gua pikir itulah jawaban darinya.
Tak lama setelah Yusro pergi, dan aku yang masih hendak berjalan menuju depan ruang kelas, terlihat motor matic merah sudah tak asing dalam ingatan mendekat dan mendaratkannya di sebelah motorku dan Yusro. Yah itu adalah Sri.
"Lahh, baru sampe ?" tanyaku dengan senyum di pagi hari.
"Kalo dari tadi gua nggak disini," jawabnya dengan sewot namun masih tersirat senyum.
"Mau langsung ke kelas apa kemana dulu," tanyaku kembali.
"Kemana ya," jawabnya singkat setelah beberapa detik terdiam menatapku dengan senyum sinis malu - malu.
"Ihhh, malah ngoda gua," jawabku dengan tawa.
"Ke kelas aja dah," jawabnya dengan segera dan singkat.
"Bareng yokk," tawar ku dengan senyum berjalan beberapa langkah didepannya.
"Ihh, nggak deh," ujarnya sambil berjalan mendahuluiku.
"Enggak mau yaudah," ucapku dalam hati dengan wajah datar terdiam dan membiarkannya mendahului ku.
"Gimana sih, jadi jalan bareng apa enggak," dengan tiba - tiba ia berhenti dan berkata sambil tersenyum.
"Lahh, gua kira beneran jijik sama gua," jawabku dengan senyum dan segera menghampirinya.
Yah, pada akhirnya kami berdua berjalan beriringan dari tempat parkir sepeda motor menuju ruang kelas. Setelah dapat ku perkirakan ruang kelas kami tinggal beberapa meter lagi, ia berbisik kepadaku sambil melirik ke kiri.
"Lihat tu, fans lu... merhatiin dari dalem kelas," ujarnya dengan bisik yang berhiaskan dengan nada sinis.
"Fans apaan," tanyaku kembali sembari mencoba melihat ruang kelas disebelah kiri kami. Yahh... itu adalah ruang kelas Liana.
"Malah di lihat lagi..., dasar laki - laki," sahutnya lagi masih dengan nada sinis yang semakin dalam.
"Ehhh, lha gimana, hahaha," jawabku dengan tawa, tersadar akan reflek ku menoleh ke kiri.
__ADS_1
Yahhh, akhirnya dia mempercepat langkahnya menuju teman - teman yang tengah bergerombol menunggu pergantian jam, lengkap tanpa melontarkan sedikitpun kata.