Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 38 : Siap meluncur


__ADS_3

Singkat cerita, akhirnya hari yang ditunggu telah tiba. Hari dimana Mak Nita membuka angkringannya untuk yang pertama kali.


"Mantab, entar malem pada hadir kan," ujar Yusro dengan tegasnya sembari mengeluarkan kepulan asap rokok.


"Iya lo, awas kalo pada enggak hadir, harus hadir ya Zazang," sahut Mak Nita sembari menepuk keras pundak Yusro.


"Iya Zizing, hadir hadir," jawab Yusro dengan senyum malu - malu.


"Alhamdulillah, sudah makin lancar saja penyebutannya," sahutku dengan tawa lepas.


"Enggak - enggak, canda doang," sahut Yusro dengan segera.


"Oh iya, nanti kalo di angkringan sebutnya nama aja, ada Zazang yang asli soalnya," ujar Mak Nita dengan diikuti tawanya yang lepas begitu saja.


"Ini, ini... kesempatan," sahut Yusro dengan segera.


"Gapapa kalo emang berani," jawab Mak Nita dengan senyum jahatnya.


"Ampun juragan empang," jawab Yusro dengan tawa yang lepas juga.


"Hahaha, laki - laki apaan, lemah !!" ujar Fauzi yang tertawa lepas.


"Ya enggak lemah gitu Zik, coba lu bayangin deh, yang asli tinggi, besar, kekar pula dan di bandingin sama gua yang kek gini kan nggak like," jawab Yusro dengan banyolannya.


"Udah udah, yang penting entar malem pada hadir," sahut Mak Nita melerai imajinasi liar kami.


"Ehh Ro, tapi kita entar gimana ?" tanyaku kepada Yusro yang sempat membuat hening atmosfir depan ruang kelas.


"Hmmm, gimana ya... akhhh, pikir entar aja," jawab Yusro dengan wajah santai khas raut wajahnya.


"Awas sampai nggak hadir, gua hihh!!" sahut Fauzi dengan banyolan sok cantiknya.


Yah, pembicaraan kami masih berlangsung dengan khitmat di depan ruang kelas di tengah relung waktu pergantian jam perkuliahan yang kini tengah berlangsung. Namun seketika suasana canda yang melebur dalam setiap tawa itu sempat terbesit tanda koma setelah terdengar dengan nyaring bunyi ponsel Yusro yang memberikan tanda adanya panggilan masuk.


"Bentar gess," ucap Yusro sambil mengeluarkan ponselnya dari saku dan beranjak menjauh.


"Tumben amat dia dapet telfon, gua harap bukan kabar buruk," ucapku dalam hati sambil tersenyum tipis melihat Yusro yang tengah beranjak menjauh.


"Siapa tuh," tanya Syarif sambil menyenggol lengan kiri ku.


"Entah, gua juga penasaran, tumben amat dia dapet panggilan masuk jam segini," jawabku sambil memandang lurus kedepan.

__ADS_1


"Ternyata pak Prapto lagi, hahaha," sahut Fauzi dengan tawanya yang lepas.


"Segera meluncur ke posko ada tugas negara," sahut Syarif mencoba memparodikan panggilan yang masuk.


"Kurang ajar, jangan dong... bisa - bisa acara entar malem bisa ketunda," jawabku dengan tawa yang mengiringi candaan mereka.


Tidak berselang lama candaan kami berlangsung, Yusro berjalan mendekat sembari memasukan ponselnya kembali ke dalam sakunya. "Siapa ya kira - kira," ucapku dalam hati masih penasaran.


"Siapa Ro ?" tanya Fauzi yang mewakili kami semua kurasa.


"Pak Prapto," jawab Yusro singkat dengan santainya duduk di sebelahku.


"Huahahahaa, yang bener," tawa kami semua pun terlepas begitu saja.


"Iya, suruh kesana sekarang," jawab Yusro masih dengan santainya menyalakan rokok.


"Ehh, beneran ?" tanyaku langsung setelah mendengar jawaban dari Yusro yang santai tapi serius.


"Bener lah, ngapain gua bohong," jawab Yusro lagi sedikit menambah gasnya.


"Apes bener, terus gimana entar malem," tanyaku lagi sambil menghela nafas panjang.


"Santai aja, gua atur entar malem gimana, lebih lagi bukan cuman kita berdua, Fauzi sama Syarif suruh ikut," jawab Yusro dengan santai dan menoleh ke arah kita semua lengkap dengan senyum jahatnya.


"Hahahaha, gua suka gaya loe," sahut Syarif dengan tawanya yang begitu lepas.


"Aman lah kalo Yusro udah bilang gua atur," ucapku dalam hati sambil tersenyum dan tertawa lepas mengikuti irama canda.


"Yaudah, agih berangkat sana," sahut Mak Nita sambil menghempas - hempaskan tangannya.


"Alah santai aja, ngehabisin satu ini dulu," jawab Yusro dengan santainya menghisap rokok.


"Nah, mantab !!" sahut Fauzi dengan semangatnya sambil menyahut rokok yang ada di saku Yusro dan membagikannya kepadaku dan Syarif.


"Hahaha, dasar manusia nggak ada aqhlak," jawab Mak Nita dengan tawanya melihat tingkah kami berempat.


"Loh yang bener tu kek gini Mak, kalo kita keburu berangkat, besok - besok jadi kebiasaan," ucap Yusro dengan logat sok seperti manusia ahli yang berpendidikan.


"Ohiya, WIK ya," sahut Mak Nita dengan tawa tipis.


"Waktu Indonesia Karet !!!" sahut kami berempat dengan kompak dan keras, tak lupa tawa lepas sebagai penutup.

__ADS_1


Waktu kecil yang terluang dengan sedikit puncung rokok dan imajinasi seperti ini merupakan goresan indah dalam sejarah kami untuk memberikan sedikit pertanda manis akan perih dan sedih dalam sebuah rasa kehidupan manusia pengemban dosa dalam raga.


Tepat setelah rokok yang kami hisap telah berubah menjadi abu dan asap sepenuhnya, Fauzi segera memberikan komando untuk bergegas meluncur ke rumah pak Prapto yang biasa di sebut dengan posko oleh anak PBI tempat kami menuntut ilmu.


"Yok berangkat," ujar Fauzi sambil beranjak berjalan.


"Mak, kita berempat izin yak," ujar Yusro sambil berjalan mengikuti Fauzi.


"Siap," jawabnya dengan singkat sambil kembali memasuki ruang kelas.


"Yok... yok... buang bensin kemana lagi kita nanti," ucapku dengan riang namun sedikit meledek.


"Kemana aja pokok yang kurang guna," sahut Fauzi dengan tawanya yang lagi - lagi terlepas.


"Ehh, lu enggak ingin ngajak si Sri entar malem ?" tanya Yusro dengan nada pelan tapi serius.


"Mau naik apa gua kalo enggak sama elu," jawabku pelan sembari langsung menghentikan tawa.


"Masalah motor mah gampang, penting dia bisa semua beres... gitu lan Mbah," ujar Yusro melemparkannya kepada Fauzi.


"Santai aja, bakalan kita urus," sahut Fauzi dari depan sambil tersenyum jahat.


"Kek gitu tu kita omongin di belakang aja," sahut Syarif yang tiba - tiba melingkarkan lengannya pada leherku.


"Hahaha, mau enggak ya dia," ucapku dengan tawa memaksa karena tersipu malu.


"Udah, langsung chat aja, repot amat jadi cowok," ujar Yusro dengan nada datarnya.


"Okee okee, gua eksekusi sekarang juga," ucapku lagi sambil mengeluarkan ponsel dan bersiap menuliskan pesan.


"Mau enggak ya dia," tanyaku dalam hati sembari menekan layar tatap untuk mengirim pesan.


"Udah tinggal tunggu aja, apapun hasilnya lu siap - siap," ujar Yusro sambil tertawa tipis.


"Hahaha, siap kapten," jawabku dengan lantang lengkap dengan tawa.


"Tapi sebelum kita berangkat, keknya kita harus atur strategi deh, agar nanti bisa ke tempat Mak Nita," ujar Fauzi sambil menghentikan langkahnya sambil menghadap kami.


"Ngapain sih bingung - bingung, udah gua atur... kalian siap - siap aja kejutan dari gua," jawab Yusro dengan santai tetap lurus berjalan ke depan mendahului Fauzi.


"Kejutan? ini... ini... firasat buruk gua," ucapku dalam hati.

__ADS_1


"Apa woi, kasih kisi - kisinya dikit," sahut Fauzi dengan keras sambil berjalan cepat menuju Yusro.


__ADS_2