Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 3 : Masih Hari Pertama


__ADS_3

Guliran waktu tak terasa kini telah mengitari porosnya dengan begitu cepat, tiba saatnya waktu mata kuliah pertama yang kian tadi disi Bapak Prapto telah selesai. Karena hari ini adalah hari pertama kami masuk, jam pelajaran mata kuliah hanya diisi dengan perkenalan dan bercerita seputar situasi dan kondisi dalam perguruan tinggi.


Masih hendak para manusia yang belum aku kenal sepenuhnya ingin keluar melihat situasi sekitar, tiba - tiba datanglah seorang perempuan cantik putih tinggi yang langsung masuk ruangan dan meletakan tas serta barang bawaannya ke meja depan tempat dosen mengajar.


"Eh, siapa sih," tanyaku sendiri dalam hati.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Dengan tiba - tiba ia mengucapkan salam kepada kami semua.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Dengan kebingungan kami semua menjawabnya dengan ragu - ragu.


"Selamat pagi semua, perkenalkan nama saya Sintia Dewi Putri biasa di panggil Dewi, saya dosen di sini." Kata yang membuat kami semua terkagum dan kaget, hanya diam mendengarnya.


"Serius nih, dosen? kagak salah?" kataku dalam hati sambil melirik ke arah Yusro.


"Mantab, ada penyemangat," ucap Yusro langsung setelah ku tatap wajahnya.


Yah, itu sangat mengagetkan ku. Pemuda desa sepertiku yang hanya mampu berspekulasi bahwa dosen adalah seseorang yang telah menempuh pendidikan beberapa tahun lebih lama mungkin akan memakan usia yang tidak sedikit, namun dalam kenyataan yang baru ku lihat dengan kedua mataku ini lain lagi.


"Tadi pasti sudah kenalan ya di luar," ucap Bu Dewi kepada kami.


"Belum," ucap Syarif dengan kerasnya.


"Saya Jazul Bu," ucap pemuda tinggi besar itu dengan keras dari belakang pojok.


Yah, singkat cerita kami di waktu itu kami hanya saling bercanda sembari memperkenalkan diri masing - masing. Benar saja, waktu yang berlalu kini semakin cepat saja ku rasa, sampai pada waktu yang sudah di ujung tanduk, kini Bu Dewi memberikan instruksi kepada kami semua untuk membuat history pribadi namun dengan penyampaian yang di anggap menarik bagi setiap individu.


"Alah, beres," ucapku dalam hati setelah kurang lebih lima belas menit menarikan pulpen ku pada secarik kertas putih.


"Ehh, dia kenapa?" tanyaku sendiri dalam hati, melihat seseorang yang berpakaian hits tadi seperti kebingungan menoleh kiri - kanan, depan - belakang.


"Masak bingung mau nulis? kan yang di tulis diri sendiri," ucapku lagi dalam hati melihatnya kebingungan.


"Oke, karena waktu hampir habis, bisa di kumpulkan bagi yang sudah selesai." Instruksi dari Bu Dewi semakin membuat wanita itu kebingungan.

__ADS_1


"Eh Roo, titip ini," ucapku melihat Yusro berdiri hendak mengumpulkan lembarannya, tapi di sini kembali ku lihat dia yang sejak tadi terus kebingungan.


"Kasihan juga, apa dia kagak bawa pulpen kali ya," tanyaku lagi dalam hati, sambil meliriknya.


"Tau ah, semangat aja ya Mbak, hehehe," ujar ku dalam hati memberinya semangat, bukanya meledek.


Selama sisa - sisa waktu terakhir, akhirnya dia berhasil menyelesaikan karya tulisnya. Ku lihatnya kini ia sudah dapat bernafas lega sambil menyenderkan punggungnya ke kursi.


"Semua sudah terkumpul ya?" tanya Bu Dewi dari depan.


"Sudah!" jawab Fauzi dengan keras dan lantang.


"Ehh, ni anak kek anak kecil aja," ucapku lagi dalam hati melihat Fauzi dengan tingkahnya.


"Dari yang saya baca beberapa, sangat beranekaragam dalam cara penyampaian perkenalan diri ya, tapi dari sini juga saya dapat melihat sedikit karakter teman - teman, ya mungkin tidak tepat 100% namun kurang lebih segitu lah," ujar Bu Dewi sembari membolak - balikan kertas yang di pegang nya.


"Contohnya seperti ini, ada dari teman- teman yang menuliskan langsung nama terang di awal kalimat, hal ini mencerminkan pribadi seseorang tersebut suka langsung pada poin yang di bicarakan, betul?" ucap Bu Dewi kembali.


"Apa itu punyaku ya? masak gitu aku gitu?" ucapku dalam hati sambil terbengong.


"Elah Ro," jawabku sambil tertawa ringan.


Waktu begitu bersahabat ku rasa, tanpa ku sadari kini sang mentari sudah membumbung tinggi jauh menembus awan tepat di atas kepala kami para manusia. Terdengar nyaring nada ponsel Yusro berdering panjang pertanda telefon sudah masuk, dengan segera langsung di terimanya telefon entah dari siapa.


"Hallo,"


"Yoye?"


"Siap, meluncur," ucap Yusro begitu singkat ia bertelefon.


"Siapa Ro?" tanyaku kepada Yusro dengan penasaran.


"Mahmud, ngajak ngopi di Yoye, ikut kagak?" jawab Yusro sembari bertanya dengan nada meledek.

__ADS_1


"Ngajak berantem? kalo nggak ikut mau naik apa pulang," jawabku sambil ku kepalkan tangan ke arahnya.


"Kita kan di kota, banyak bis lewat kan," jawab Yusro meledek.


"Iya lewat, tapi mana ada yang arah ke desa," jawabku lagi lebih mendekatkan kepalan tanganku.


"Alah kelamaan, kalo ikut ayo cepat beres - beres," ujar Yusro sambil mengemasi buku dan pulpen di meja.


Seiring dengan habisnya jam pelajaran Bu Dewi, kini aku dan Yusro langsung bergegas menuju tempat parkir untuk mengambil motor dan meluncur lokasi pertemuan dengan Madmud.


Kucuran tipis hujan gerimis menemani perjalanan kami menuju tempat pertemuan pemuda kekar Prodi Olahraga tempat kami menimba ilmu. Yah, dia sama dengan kami, dia juga mahasiswa baru cuman ia menempuh jalan yang ia kuasai dalam bidangnya, olahraga.


Beberapa baris lampu merah telah kami lalui bersama dengan hembusan pelan angin pembawa hujan. Dari yang matahari sedang bersinar terang, tidak seperti biasanya kini tengah turun hujan, dari belakang jok motor jupiter MX hijau ini ku tatap langit putih dengan semburan lembut air yang jatuh dengan pasrah hendak mencari letak terlihatnya goresan indah pelangi.


Di tengah kesejukan jiwa ku merasakan guyuran air hujan, secara tiba - tiba Yusro langsung membelokan motornya dengan tajam ke arah kanan menyebrang jalan.


"Ehh, Ngapain sih," tanyaku dengan kaget sambil ku pukul pelan helemnya.


"Sory bos, lupa alamat, hampir kelewat," ucap Yusro sembari mendaratkan motornya di tempat parkir.


"Parah lu," jawabku sambil turun dari motor.


"Namanya juga manusia, tempatnya lupa dan salah kan," jawab Yusro melakukan pembelaan.


"Lupanya itu enggak manusiawi bambang," jawabku kembali sambil ku tendang pelan paha bagian belakangnya.


"Loh, ini berarti sudah lulus jadi manusia," jawabnya lagi sambil membuka helem.


"Serah!!" jawabku sambil berjalan menuju pintu masuk.


Tanpa hinggap di meja pemesanan, aku langsung menuju tempat biasa kami berkumpul. Yah ku lihat tempat itu masih sepi tanpa ada seorangpun.


"Mahmud belum datang, tumben," ujar ku dalam hati sembari menuju tempat biasa kami duduk leseh.

__ADS_1


"Woi, Za!! pesan apa?" Tanya Yusro dengan keras dari meja pemesanan.


"Alah, biasa Ro," jawabku singkat sembari ku rebahkan tubuhku dalam duduk.


__ADS_2