Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 6 : Kami berempat


__ADS_3

"Woi, ayo..." ujar Fauzi sambil melambaikan tangannya di tengah pintu kelas.


"Bentar... masih beres - beres ini," jawab Syarif dengan santai.


"Ngapain sih buru - buru, toh musholanya nggak akan lari juga," jawab Yusro sambil berjalan menuju ke depan.


"Lu enggak akan paham," jawab Fauzi masih di tengah pintu kelas.


"Meluncur..." ucapku sambil berjalan di belakang Yusro.


"Eh..., itu cewek yang kemarin, sudah agak kalem dandanannya." Dengan senyum tipis aku berjalan meninggalkan lirikan kepada seseorang yang kemarin aku lihat begitu ramai dan mencolok ia berpakaian.


Ketika kakiku melaju dengan mulus, tiba - tiba langkahku terhenti dengan masuknya sebuah instruksi ke gendang telingaku tanpa permisi dari ketua kelas yang terpilih kemarin, yah itu adalah Agni.


"Mohon perhatiannya teman - teman semua," ucap Agni dari depan kelas membuat semua mata terpaku padanya.


"Karena ketua kelas sudah ada, kayaknya kurang lengkap kalau enggak ada wakil, sekertaris, sama bendahara," ujar agni.


"Elah... apa lagi sih," celoteh Fauzi masih di tempat yang sama.


"Ini kan sudah mulai kenal satu sama yang lain ya, jadi tolong pilih beberapa kandidat atau mengajukan diri enggak apa - apa, untuk menempati posisi wakil, sekertaris, dan bendahara," ujar Agni dengan lantang di depan kelas.


"Menunjuknya gimana Pak," tanya seorang cewek kecil seperti anak SD lengkap dengan tingkah kekanak - kanakannya.


"Gimana ya... anu ditulis di lembar kertas aja, dan berhubung kelasnya mau di pakai, tolong segera yaa," ujar Agni lagi dari depan.


"Cepat keluarin kertas," ujar Fauzi sambil menepuk lenganku yang sedang bersandar di dinding.


"Males gua ngeluarin kertas," jawabku dengan raut wajah malas bergerak.


"Alah... biar cepat selesai ini," ujar Fauzi ngotot membuka tasku.


"Nih nih nih..." ujar Syarif sambil membuka tasnya.


"Gini aja ribut," ujarnya lagi dengan nada agak ngegas sambil memberikan buku tulisnya.


"Ehhh, tulis siapa nih," tanya Yusro.


"Halah anak itu aja," ujar Fauzi sambil merobek selembar kertas menjadi empat bagian.


"Eh, siapa..." tanyaku kepada Fauzi.


"Nah... gini aja," ucapnya lagi setelah menuliskan sebuah nama pada secarik kertas.


"Eh, siapa ?" tanya Yusro sambil mengambil kertas Fauzi.

__ADS_1


"Ningrum ? yang mana ni anak," ujar Yusro langsung.


"Itu..., yang dari kemarin ceriwis," jawab Fauzi sambil menunjuk ke arah cewek yang duduk di kursi paling depan dan kini sedang ngobrol sama Agni.


"Eee..., boleh dah," jawabku singkat sambil langsung menuliskan sebuah nama yang sama dengan Fauzi.


Singkat cerita, akhirnya pemungutan suara telah di laksanakan dengan cepat. Seperti yang kami pilih, yang keluar sebagai pemenang menjadi wakil adalah Ningrum, cewek yang dari awal masuk terlihat memiliki mental yang kuat, serta di lanjutkan dengan sekertaris dan bendahara sebagai nilai tertinggi nomor dua dan tiga yaitu Arini dan Ria. Yah aku baru tau itu namanya.


"Kalo gini kan jadi enak mengingat namanya juga, Bu Sekertaris Arini, Bendahara Ria," ujar ku sendiri.


"Gua sudah hafal dari kemarin," sahut Syarif.


"Kan Elu, bukan Gua," jawabku singkat sambil merangkulnya dari samping.


"Eh Za... ikut gua dulu ke kantor," ujar Yusro keluar dari kelas.


"Oh iya..." jawabku dan langsung berjalan menghampiri Yusro.


"Eh... kemana, jadi ke mushola enggak ?" tanya Fauzi kepadaku dan Yusro.


"Mau ke kantor sebentar, kalian ke sana dulu entar Gua susul," jawab Yusro sambil berjalan.


"Lu mau ngumpulin berkas ?" tanya Syarif dengan keras karena kami mulai berjalan menjauh.


"Iya..." jawab Yusro singkat sambil menghadap ke belakang.


"Ehh, begitu ya..." jawab Yusro sambil berhenti berjalan dan menggelengkan kepalanya ke kanan.


"Ya iyalah, lu pasti enggak membaca sampai habis," sahut Fauzi berjalan ke arah kami.


"Sini... ribet amat," ujarnya lagi agak ngegas sambil menyambar kertas yang ada di tangan Yusro.


Tak lama, kini Fauzi kembali ke luar dari kelas tanpa membawa berkas yang tadinya ia ambil.


"Lihat tu... pada ngumpulin ke ketua kelas kan," ujar Fauzi sambil menunjuk ke dalam kelas yang terlihat Agni sedang merapihkan beberapa kertas di atas meja.


"Iya iya Zi... Zik," jawab Yusro sambil sedikit meledek.


"Ehh, kurang ajar ni anak," jawab Fauzi sambil menunjuk Yusro.


Akhirnya kini kami berempat berjalan bersama menuju mushola sambil bercanda sepanjang perjalanan kami. Tidak perlu membutuhkan banyak langkah, akhirnya kini tatapan kami terhenti di depan bangunan berbentuk persegi panjang dengan serambi setengah dari luas bagian dalam lengkap dengan satu kasur spons tebal di pojoknya.


"Ini musholanya ?" tanyaku dalam hati.


"Ini Zik," tanyaku kepada Fauzi sambil menunjuk ke arah bangunan itu.

__ADS_1


"Iya ini," jawabnya singkat.


"Ini sih terlalu nyaman buat rebahan," ujar Yusro sambil berjalan ke pojok dinding tempat kasur tersandar.


"Gua kira musholanya -" ucapku belum selesai langsung di potong Fauzi.


"Lebih mengedepankan kenyamanan," ujar Fauzi agak keras sambil merangkul ku dari samping.


"Oke... mantab," jawabku sambil berjalan bersama menuju kasur spons yang telah di rentangkan oleh Yusro.


Tanpa rasa sungkan dan malu - malu, kami berempat langsung merebahkan badan di lantai serambi dengan kasur spons sebagai bantal dengan kesibukan masing - masing. Yah, Yusro dan Syarif dengan gawai nya masing - masing sedangkan Aku dan Fauzi dengan laptop kami masing - masing.


"Ehh Zik, pasword," ujar Syarif pelan.


"satu sampai seratus," jawab Fauzi dengan santai mulai membuka google.


"Emang bisa ?" tanya Yusro kebingungan.


"Lu tulis pakai abjad jangan angka," jawab Fauzi dengan santai.


Yah kami bertiga masih kebingungan dengan apa yang barusan Fauzi katakan, selang beberapa detik kami bertiga mulai paham dengan maksudnya.


"Woh!!!, begitu...," ucap kami bertiga bersamaan.


"Ngobrol dari tadi," ujar Syarif sambil tertawa kepada Fauzi.


"Kan sudah Gua bilang dari tadi," jawab Fauzi mencoba mengelak.


"Kurang jelas kata lu," ujar Yusro sambil tertawa juga.


"Kalian aja yang kedikitan RAM," jawab Fauzi sambil tertawa lepas.


"Widih, kurang ajar ni anak," jawab Yusro sambil menunjuk Fauzi yang tengah tertawa lepas.


"Udah - udah... Gua nggak bisa fokus woi," ucap Fauzi sambil berhenti tertawa.


"Fokus ? liat apa lu," tanya Syarif sambil mendekat.


"Ehh, One Piece," ucap Syarif kembali setelah menengok layar LCD laptop Fauzi.


"Lu update juga ?" tanya Fauzi kepada Syarif.


"Lah ni..." jawab Syarif sambil menunjukan layar Handphone nya kepada Fauzi.


"Eh..." ujar Fauzi singkat dan langsung tertawa lepas sambil berjabat tangan layaknya sudah menyelesaikan perjanjian.

__ADS_1


"Apa sih Ro ?" tanyaku kepada Yusro yang hanya diam melihat tingkah mereka berdua.


Tanpa kata Yusro hanya menggelengkan kepalanya sambil menunjukan layar headphone nya menghadap ke arahku. Yah hari itu begitu ramai ku rasa, meski hanya kami berempat di sana ternyata keramaian masih dapat tercipta.


__ADS_2