Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 54 : Mendingan lah


__ADS_3

Hembusan pelan nan sejuk bersatu membaur dalam setiap rintik hujan yang terus menghujat pada dataran tempatku tertanam kini, dengan bersandar pada hati yang gelisah terpuruk ku hela pelan setiap untaian asap rokok yang terus mengepul entah sampai kapan. Bersama lantunan melodi detik hujan Fauzi terucap pelan sembari berjalan.


"Yok ikut gua rapat," ujar Fauzi sambil beranjak mengambil sehelai jaket hitam bonus pembelian motor.


"Yokk... daripada terus merana enggak jelas," jawabku sambil mematikan nyala api di ujung batang rokok.


"Siapa tau dapet gantinya entar, yakan...." ledek Fauzi dengan wajah konyolnya mencoba menyairkan suasana.


"Akkhhh... pasti selera lu semua, bukan selera gua," sahutku dengan senyum tipis dan beranjak berdiri.


Akhirnya dalam taburan lembut hujan rintik itu kami beranjak pergi meninggalkan rumah teduh beraromakan sejuk embun malam disetiap sudut ruangnya. Setibanya ditempat diadakannya rapat, terlihat tiga pemuda telah duduk menanti kehadiran Fauzi tanpa mereka mulai dahulu pembicaraannya.


"Lama amat, yok segera dimulai," ujar seorang pemuda laki - laki yang tengah duduk bersandar dengan rokoknya.


"Masih ujan kan, mau berangkat sayang kesehatanku lo," jawab Fauzi dengan intonasi sok cantiknya.


"Monggo Pak ketua segera dimulai rapatnya, sebelum fajar menjelang," ujar kakak cantik berkacamata dengan lembutnya.


"Bentar dong, masih mau duduk ini lo," jawab Fauzi sambil melemparkan tubuhnya di kursi.


Singkat cerita setelah kami berbasa - basi memperkenalkan diri masing - masing, pembicaraan rapat mulai di buka, yah... begitu terasa berbeda ku rasa, dari atmosfir yang santai dan sejuk seketika langsung berubah derastis menjadi tegang dan serius mengungkapkan gagasan masing - masing guna mencapai titik temu yang selaras.


Detik demi detik berlalu dengan khitmat dan merdunya, entah sudah berapa kali bantahan dan usulan telah terlempar ke segala arah tanpa adanya keraguan, sampai tiba waktunya dimana detik ke sekian ribu telah jatuh pada pemikiran yang selarasa dan mendapatkan persetujuan dari setiap manusia yang kurasa poros dari beberapa fraksi dalam organisasi.


"Okee, semoga hasil rapat kali ini dapat bermanfaat bagi kita semua, organisasi, dan tentunya masyarakat luas...." kalimat penutup terucap oleh Fauzi yang seketika mengakhiri ketegangan dalam ruang waktu itu.


"Udah ngantuk belum Za," tanya Fauzi sambil mengambil rokok dan menyalakannya.


"Santai aja, belum gua," jawabku singkat sambil memberi kode meminta rokok.


"Bentar lagi ya..." ujar Fauzi singkat sambil melemparkan satu bungkus rokok ke arahku.


"Wokkee," jawabku singkat menerima lemparan darinya.


Akhirnya tepat di angka pukul 11.35 kami semua memutuskan untuk menyudahi pembicaraan dan bergegas untuk kembali ke tempat asal masing - masing.


"Gua besok kalo enggak masuk dulu gimana," ucapku pelan sesudah keluar dari rumah rapat.


"Gapapa, santai aja," jawab Fauzi dengan santainya menghentikan langkah dan berbalik ke arahku.


"Tapi kemana," tanyaku lagi sambil berjalan menuju kuda besi cantik berwarna putih miliknya.


"Urusan besok serahkan pada diri lu yang besok, hari ini cukup sampe disini," jawab Fauzi dengan bijaknya sambil menaiki motor.

__ADS_1


"Idih... sok bijak amat lu," jawabku singkat sambil menarik motornya mengarah ke garis tepian jalan.


Diwaktu itu pula kami langsung bergegas untuk kembali merebahlan diri ke gua indah tempat Fauzi bersarang.


"Ro, gua besok enggak masuk kuliah dulu," pesan ku kirimkan kepada Yusro yang tengah berada di sebrang jauh pemisah ruang.


"Siap, berarti gua bisa santai dirumah dulu," jawabnya dengan segera.


Yah, pembicaraan pun berakhir dengan pesan yang bertandakan dua tanda contreng biru di satu sisi penerima pesan.


Singkat cerita pagipun telah menyapa dengan lambaian silau dari sang mengtari yang sudah berdiri tegap dengan bijaksananya di kejauhan ufuk timur dibalik pegunungan.


"Kegiatan hari ini lu ikut gua," ucap Fauzi yang tengah berdiri di depan pintu.


"Udah bangun aja nih manusia," ucapku dalam hati masih sedikit terpejam.


"Kemana, ngapain..." tanyaku pelan menahan kantuk.


"Udah ikut aja, sekarang lu fokus nyari nyawa aja," jawabnya sambil keluar dari kamar.


"Huuffttt... enggak masuk sekolah," ucapku sendiri pelan sambil menatap ke luar jendela.


"Hari ini dia lagi ngapain ya," ucapku lagi masih dengan tatapan ke arah luar jendela.


Dengan berat perasaan yang masih ingin rebahan, ku paksakan diri ini untuk segera bergegas menghampiri Fauzi yang entah sedang bagaimana dan dimana.


"Zik... ngapain lu," tanyaku setelah membiarkan kepala melewati batas gua kamar Fauzi.


"Udah lu liat aja, entar tinggal ikut gua doang," ujar Fauzi masih sibuk dengan karung dan tali temalinya.


"Sipp, udah siap... yok berangkat," ajak Fauzi sambil menjinjing karung putih berukuran sedang yang ditalikannya di dinggang.


"Ehh... mau ngerampok mana lu Nyet," sahutku meledek Fauzi dengan penampilannya.


"Lu suka manggis apa enggak," jawabnya dengan wajah songong.


"Suka lahh, apa sih yang enggak buat gua,"


"Nah... kita mau ngerampok manggis," jawabnya sambil melangkah ke pintu keluar.


"Ehhh... ngerampok beneran ini," tanyaku kembali dengan kebingungan.


"Apasih yang enggak buat lu, lu tu cuman butuh kegiatan yang agak bar-bar agar mental lu kembali sehat," jawab Fauzi dengan seriusnya.

__ADS_1


"Idih... tapi ya enggak gini juga dong..." sahutku masih dengan bingungnya.


"Udah ayok cepet," tegas Fauzi memaksa.


"Lu sedang mabuk ya," tanyaku lagi dengan pelan dan wajah serius.


"Enggak lah, gua sehat wal afiat," jawab Fauzi dengan wajah bingungnya.


"Lu rabies ?" tanyaku kembali dengan bingung juga.


"Rabies ? ngomong apaan sih lu," jawab Fauzi dengan wajah bingung konyolnya menghentikan langkah.


"Lu enggak ngerasa ada gejala apa gitu," tanyaku kembali dengan wajah bingung.


"Gejala apaan, sakit apaan, lu tu tabies," jawab Fauzi dengan nada sedikit naiknya.


"Kenapa malah gua," tanyaku kembali semakin bingung ranah pembicaraan.


"Lha lu kenapa tanya rabies ke gua," tanya Fauzi dengan wajah koyolnya.


"Lha lu ngapain mau ngerampok," jawabku kembali melempatkan pertanyaan.


"Apa hubungannya sama rabies coba," jawabnya kembali melemparkan pertanyaan.


"Yahh, siapa tau pikiran lu udah terkontaminasi, jadinya gak jelas," jawabku sambil mengerutkan wajah kebingungan.


"Kenapa harus rabies juga," sahut Fauzi dengan raut wajah menyaingiku.


"Intuisi terdekat aja," jawabku sambil mencari alasan.


"Whatt!!! jiwa lu sehat kan," jawab Fauzi sambil melemparkan pertanyaan.


"Maksud lu gimana," tanya ku dengan segera.


"Jangan bilang mental dan jiwa lu udah keganggu," jawab Fauzi dengan wajah khawatir.


"Haaa!! ya enggak lah, wajah apaan juga kek gitu."


"Asli parah... gua bener khawatir sama elu," ujar Fauzi sambil perlahan membuka pintu depan.


"Gua sehat Nyet..." jawabku dengan pelan sambil memegangi dadaku.


"Sebagai temen gua bener prihatin sama lu," ucapnya lagi dengan singkat sambil perlahan lenyap oleh pintu.

__ADS_1


"Yang bermasalah siapa sih," ucapku dalam hati melihat tingkah konyol Fauzi yang menghilang dari balik pintu.


__ADS_2