Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 10 : Drama ?


__ADS_3

"Mas, Mbak... jangan ramai ya," ucap seorang karyaman kantor dengan raut wajah yang kurang bersahabat.


"Siap bu," jawab Fauzi dengan semangat dan tanpa dosa.


"Nih anak enggak paham lagi dimarahin apa gimana," ucapku dalam hati sambil nyengir sendiri melihat tingkah Fauzi.


Kami yang awalnya sempat sunyi akibat teguran ibu karyaman tadi, perlahan - lahan terdengar tawa kecil jawaban Fauzi yang kurang pas menempatkan intonasi kata.


"Dah sudah, ayok naik," ujar ku mengajak Fredo untuk naik ke atas serambi.


"Hiyak!!!" ucap Syarif dengan keras dan langsung membanting kan tubuhnya pada kasur spons di pojok serambi.


"Mas Mas, jangan ramai ya..." ujar Fredo menirukan karyawan tadi.


"Alah apaan," jawab Syarif sambil melemparkan kaos kakinya kepada Fredo.


"Ih jangan jorok," sahut Arini melihat tingkah Syarif.


Ku lihat sekeliling kiri dan kanan sudah terpenuhi manusia yang duduk di tempat mereka masing - masing. Tapi terlihat di sana ada satu ruang kosong tepat di tengah - tengah antara Syarif dan Wanita hits yang belum aku hafal siapa namanya.


"Masak duduk di sana, sini aja lah," ucapku dalam hati sambil meletakkan tasku di pinggir serambi.


"Za... ngapain lu di situ, kayak sambel tau," ujar Syarif meledekku yang terpisah dari grombolan.


"Enggak lu kasih tempat, ya gua duduk di sini," ujar ku menjawab ledekan Syarif.


"Yaelah, sini - sini," jawab Syarif sambil membersihkan tempat di sisi kirinya, tepat di samping wanita hits itu.


"Reza malu sama Nabila," ujar Yusro dengan nada meledek dan Syarif pun tertawa terbahak - bahak.


"Eh apaan, ngapain malu," jawabku dengan senyum yang benar malu - malu.


"Tuh kan malu - malu," ujar Fauzi lagi, menambah candaan dari Yusro.


"Eh kurang ajar," jawabku sambil melemparkan kaos kaki Syarif yang tadi sempat terlempar.


"Udah duduk sini aja Za," ujar wanita itu kepadaku.


"Ooo, namanya Nabila," ucapku dalam hati.


"Lihat ni, lihat..." ucapku sambil berjalan menuju tempat duduk kosong di antara Syarif dan Nabila.


"Nah ya gitu, jangan grogi lo ya," ujar Yusro lagi dengan meledek.

__ADS_1


"Kurang ajar bener ni anak," ucapku dalam hati, dan aku hanya diam menangkap guyonan mereka.


Selanjutnya kami melanjutkan kegiatan kami masing - masing, ada yang bekerja kelompok mempersiapkan bahan presentasi besok, ada yang live streaming, ada yang heboh dengan hibah mereka, ada yang asyik bermain game online bersamaan, dan tak lupa kami berempat, dengan kesibukan yang sederhana namun dapan mencairkan dan mengendalikan suasana agar tetep pada situasi yang nyaman ku rasa.


"Eh Zik, udah jam satu kurang lima," ujar ku sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelanganku.


"Oh iya, sampai lupa gua," sahut Fauzi dengan kaget.


"Ro... lu tunggu di sini dulu ya, jangan kemana - mana," ucapku kepada Yusro yang asyik dengan gawainya.


"Udah cepet lu berangkat dulu sana," jawab Yusro masih dengan kesibukannya.


"Eh Za... mending lu sholat dulu sama Fauzi, HP lu bentar lagi jadi ni," ujar Syarif kepada ku yang sedang memakai sepatu.


"Lama kaga ?" tanyaku balik kepada Syarif.


"Enggak... lu sholat kelar ni HP," ujar Syarif dengan yakin.


"Oke, yuk laporan dulu Zik," ujar ku sambil melepaskan sepatu yang sudah aku pakai satu.


"Laporan... laporan..." ucap Fauzi sambil berjalan menuju tempat wudhu.


Singkat cerita kini aku dan Fauzi telah selesai menunaikan laporan kehadiran pada sang pencipta segala sudut alam semesta. Dengan rambut yang masih basah terkena air wudhu, aku keluar dari mushola sembari mengibas - ngibaskan rambutku ke sekeliling sembari berjalan di antara teman sekelas yang masih duduk dengan kesibukan mereka.


"Zaa...." teriak Arini kepadaku karena terkena percikan air dari rambutku.


"Haa!!" teriak Fauzi dari belakangku menakut - nakuti Arini dengan gaya seperti serigala mau menerkam.


"Zik... apaan sih hahaha..." jawab Arini sambil tertawa.


"Zik, ayok... udah jam satu lebih," ajak ku kepada Fauzi agar segera bergegas.


"Nih... selesai kan," ucap Syarif sambil memberikan HP ku.


"Widih... makasih lo ya," jawabku sambil menerima dan mencoba menyalakan HP.


"Belom bisa di pakek, lu kan belom punya kartu," sahut Yusro dari pojok.


"Iya iya Ro..." jawabku dengan nada memelas.


"Woi Za... ayo..." ucap Fauzi yang sudah duduk di tepi serambi yang sedang memakai sepatu.


"Ooo iya iya..." jawabku dan langsung bergegas memakai sepatu di samping Fauzi.

__ADS_1


"Barang - barangnya taruh sini aja dulu," ujar Fauzi sambil berdiri.


"Siapp," jawabku singkat.


Dengan segera kami langsung bergegas menuju ruang pertemuan untuk penyumbang isi acara dalam pentas bulan bahasa bulan depan. Yah karena kami berdua masih terbilang baru di Universitas ini jadi untuk mencari ruangan yang belum pernah kami ketahui sebelumnya lumayan susah untuk mengetahui lokasinya, di tambah lagi kini Fauzi malah tidak membawa heandphone untuk bertanya ruang kelas F5.


"Kita udah muter - muter lama lo Zik," ucapku sambil melihat setiap ruang yang kami lewati.


"Gua heran, ni ruangan apa enggak di urutkan sih... tadi kayak baru D, tiba - tiba udah J, ini gimana sih," ujar Fauzi masih dengan melihat - lihat ruangan sekeliling.


"Tau ah, males gua," ucapku sambil duduk di bawah pohon mangga.


"Lu tanya satpam gih," ujar Fauzi menyuruhku untuk bertanya mencari info.


"Idih... gua ?" jawabku dengan gaya kaget.


"Siapa lagi... kan yang di sini cuman elu," jawab Fauzi.


"Lu cari satpam, nanti gua yang nanya," jawabku sambil menoleh ke kiri dan kanan mencari bapak penjaga.


"Ehh itu tuu..." ujar Fauzi menunjuk ke arah lorong gelap.


"Enggak lucu woi!!" sahutku sambil menampar tangan Fauzi yang tengan menunjuk ke lorong gelap.


"Elah... bercanda dikit napa," jawab Fauzi sambil tertawa melihat tingkahku.


"Eh Zik, itu bukanya Pak Prapto ?" tanyaku sambil menunjuk ke ujung ruangan di depan kami berdua duduk.


"Iya tuh... kita ikutin aja," sahut Fauzi dan langsung bergegas menghampiri beliau.


Setelah kami berada dekat di belakang beliau, kami mengikutinya dengan langkah pelan - pelan dari belakang seperti halnya copet hendak melancarkan aksinya. Tidak perlu berjalan terlalu lama dan jauh, akhirnya Bapak Prapto berhenti di depan ruang yang sedikit berdebu dan kotor seperti ruangan yang tidak terpakai.


"Zik ruangannya ngeri," ucapku pelan kepada Fauzi.


"Waspada aja," jawabnya dengan singakat.


"Nih anak enggak seperti biasanya menanggapi situasi kek begini dengan serius, jangan - jangan anu..." ucapku dalam hati sambil menelan ludah.


"Eh, baru sampai ini," ujar Bapak Prapto melihat kami yang baru sampai.


"Hehehe, iya Pak... tadi sempet nyasar nyari ruangannya," jawab Fauzi dengan wajah senyum - senyum sok imut.


"Yasudah, langsung masuk saja sudah pada nunggu di dalam," ujar Bapak Prapto kepada kami berdua.

__ADS_1


"Iya Pak," jawabku dan langsung bergegas masuk ke dalam ruangan.


"Atmosfir kek begini... kelihatanya bakalan seru," ujar ku dalam hati sambil melirik melihat Fauzi. Yah dia juga paham.


__ADS_2