
"Eh udah malem kapan pamit," ujar ku sambil menghunuskan rokok cebol dalam asbak.
"Idih udah jam delapan, bakalan di cariin kiai gua," sahut Agni setelah melihat jam tangannya.
"Yaudah cepetan pamit," sahut Syarif dan berlanjut meminum kopinya yang sudah merendah.
"Nyil bapak mana, udah mau pulang ini," ujar Fauzi kepada Arini yang duduk di kursi samping.
"Loh, masih hujan lo, enggak tidur sini aja," jawab Arini setelah melihat ke luar.
"Beneran tidur sini ?" sahut Fauzi dengan ekspresi om om jahat.
"Hahaha, bentar - bentar," jawab Arini sambil tertawa kecil dan beranjak pergi ke belakang untuk memanggil bapaknya.
"Gimana nanti pamitnya ? gua mau belajar," tanya Jazul sambil tertawa kecil.
"Seserahan," sahut Yusro dengan polosnya.
"Hahahaha, siapa ?" tawa kami langsung lepas melihat ekspresinya yang datar dengan kopi yang terikat di jemari.
Tak berselang lama setelah kami melepaskan tawa dan melontarkan beberapa imajinasi liar, terdengar beberapa langkah kali yang semakin mendekat.
"Ehh, essttt esttt." Desis Agni mengisyaratkan kedatangan Arini beserta bapaknya.
"Ehh, udah mau pulang ?" tanya bapak Arini setelah terlihat mulai masuk ruang tamu dan duduk di kursi sebelah Arini.
"Mau seserahan ini Pak, ehh !!" sahut Yusro dengan refleknya yang tak terkontrol membuat kami semua langsung melepaskan tawa untuk yang kesekian kali.
"Seserahan siapa," tanggap Bapak Arini dengan senyum - senyum.
"Bapak ki apa yo," sahut Arini sambil tertawa kecil yang di tutupinya dengan tangan.
"Anu Pak, maksudnya mau pamit," sahut Yusro lagi dengan menahan tawa ekstra.
"Enggak jadi seserahan nya ?" tanggap Bapak Arini lagi dengan senyum ramahnya yang membuat kami langsung tertawa lagi.
"Ehh anu Pak," jawab Yusro kehabisan kata, dengan wajah malu - malu namun masih dengan tawanya.
"Enggak apa - apa kalau emang udah siap," sahut Bapak Arini lagi membuat kami semua langsung tersentak tertawa.
"Ini Pak anaknya," ujar Jazul dengan lantang sembari menunjuk ke arah Yusro.
"Ehhh ehh, kok gua, Fauzi Pak katanya mau tidur sini," jawab Yusro yang semakin menambah gelak tawa.
"Ehh kenapa gua," sahut Fauzi masih dengan tawanya yang pekat.
__ADS_1
"Udah - udah, jadi saya sama teman - teman mau mengucapkan terimakasih... dst." Agni mencoba mengendalikan situasi untuk mengucapkan ritual berpamitan pulang khas adat Jawa dengan sopannya.
"Pamitannya sakral banget, kayak acara seserahan beneran," bisik Jazul kepadaku.
"khuuhkkkk khuhkkk," suaraku tertahan hebat membendung tawa yang sudah siap meledak.
Singkat cerita setelah kami berpamitan, kami segera beranjak untuk menembus pasukan rintik hujan yang berbaris rapi sepanjang jarak tujuan kami masing - masing.
"Nyonya gimana Ro kabarnya, enggak pernah denger," tanyaku kepada Yusro yang tengah mengemudi di jalan sepinya hujan malam.
"Lagi ada masalah dikit sama perkuliahan dia, pingin berhenti aja dia," jawab Yusro dengan nada santainya mengemudi.
"Ehh, lha kenapa ?" tanyaku dengan terkaget.
"Gua juga enggak tau, inginnya gua besok ke sana, ngobrol langsung," jawab Yusro masih dengan nada datarnya.
"Ooo, kalau punya nyonya begitu ya," ucapku dalam hati sambil mengandai - andai, aku memiliki nyonya juga, wkwkwk.
"Ehh, lha lu besok enggak kuliah ?" tanyaku dengan kaget teringat besok ada jadwal.
"Pinginnya sih enggak, tapi elu besok kan presentasi," jawab Yusro masih dengan santainya.
"Oh iya, besok gua presentasi," sahutku dengan keras kaget mendengar ucapan Yusro yang mengingatkanku akan tugas besok.
"Gua besok enggak masuk, mau ke rumah nyonya," jawab Yusro langsung masih dengan santainya.
"Whatt !! lha gua gimana ?" tanyaku sangat tegas mendengar keputusannya.
"Lu berangkat sendiri lah," sahut Yusro masih dengan wajahnya yang mengundang emosi.
"Pakek apa bambang, ngawur ni anak," ujar ku dengan pelan.
"Udah tenang aja, udah gua urus... Ependi udah gua kasih tugas nganter lu, besok urusan lu balik gimana urus sendiri," jawab Yusro yang memancing jemariku untuk mencekiknya.
"Lu tega amat, kalo gua kaga dapet tebengan gimana," tanyaku dengan pelan sembari memelas.
"Lu tidur kampus, besoknya kita ketemu lagi kan," jawabnya singkat dengan senyum sok manis.
"Serah lu dah Ro, gua enggak tau harus bilang apa," ucapku sambil menghela nafas dalam, dan duduk semakin kebelakang.
"Hahaha, udah tenang aja... yang penting besok lu berangkat aman sampai tujuan, masalah pulang gimana urus besok aja," ucap Yusro lagi dengan tawanya.
"Yo'i... " jawabku singkat sambil menolehkan kepala ke atas menghadap langit - langit.
"Gua dapet teman gini amat ya," ucapku dalam hati l, masih melihat langit dengan rintiknya hujan yang melekat pada kaca helem.
__ADS_1
Dengan begitu banyaknya waktu yang terabaikan untuk menembus jarak yang telah teruntai terlalu panjang, ku rasakan tanpa sadar kini perlahan mataku sudah mulai terpejam dan sangat berat ku rasa untuk di tahan. Namun tak lama setelah kepalaku terbentur pada helem Yusro dengan tanpa sadar beberapa kali, kendaraan yang kami naiki tiba - tiba bergoyang hebat seperti halnya hilang kendali. Yah kurasa dia juga sudah mencapai batasnya.
"Oeee !!" teriakku keras karena terkaget dari belakang.
"Kenapa Ro !!" tanyaku dengan nada tinggi akibat terkaget.
"Enggak gak papa, cuman tadi kepleset dikit," jawab Yusro dengan sedikit terpatah - patah.
"Lu gak bisa bohong, ni anak ketiduran juga pasti," ucapku dalam hati sambil tersenyum tipis.
Dengan segera, langsung ku lebarkan telapak tangan dan mengeraskan nya, ku tarik jauh ke belakang, lalu ku lesatkan cepat ke depan menuju helem belakang Yusro.
"Ctarr !!! bangun woi !!!" suara benturan telapak tanganku dengan helem yang terdengar nyaring dan keras.
"Gua udah bangun woi !!" jawab Yusro dengan kerasnya pula.
"Jangan tidur di jalan !!" teriakku lagi sambil membuang nafas negatif.
Tanpa kata dan isyarat Yusro hanya diam menanggapi teriakanku barusan.
"Sini ganti gua yang bonceng," ujar ku dengan nada sewot mencoba menggantikannya yang sudah terlihat lelah.
"Lu mana bisa nyetir," jawab Yusro dengan nada meledek.
"Lu kira gua apaan, tadi sore bisa sampe sini gua yang bonceng Unyil kan," jawabku dengan nada sedikit naik.
"Tadi motor metik, tanpa gigi... lu mana bisa pakek motor kek gini," jawab Yusro masih dengan sewotnya.
"Huftt... sini gua yang nyetir," ucapku lagi dengan nada lebih rendah.
"Enggak, lu tidur aja di belakang," jawabnya lagi dengan nada pelan sok keren.
Dengan segera langsung ku tarik kembali tanganku ke belakang, merapatkan jari - jemari, mengeraskan telapak tangan, dan ku hempaskan kembali ke helem bagian belakangnya dengan keras.
"Manusia sok kuat" ucapku dalam hati sambil menampar helemnya.
"Awas ketiduran lagi, langsung ganti gua," ujar ku pelan setelah menamparnya.
"Hehehe, enggak akan," jawabnya lagi dengan sok keren.
"Serah luu..." ucapku dalam hati, sambil tersenyum dan melingkarkan kedua tanganku pada tas yang basah kuyup milik Yusro.
"Awas jatuh, gua tinggal," ujarnya lagi dengan pelan.
"Hehhh, serah lu," jawabku pelan dengan senyum tipis.
__ADS_1