Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 32 : Mencintai atau dicintai


__ADS_3

"Abis selesai pelajaran, semuanya merapat ke rumah gua," ujar Jazul dengan tegas dan keras.


"Ngapain, mau lu kasih apaan ?" tanya Fauzi dengan nada meledek.


"Makan besar... gule kambing," sahut Jazul dengan percaya dirinya.


"Serius apa enggak," tanya Mak Nita tetua kaum wanita, dengan pelannya.


"Dunia tipu - tipu entar," sahutku lagi dengan nada meledek.


"Enggak... beneran ini, pokok abis selesai kuliah segera merapat," tegas Jazul lagi dan langsung kembali duduk di kursi belakang.


"Ehhh, bener enggak ?" tanyaku kepada Jazul setelah duduk di kursi deret sebelahku.


"Beneran bambang," jawabnya sembari mencubit dadaku.


"Eteteteettt... jangan situ woi," sahutku sambil melepaskan cubitannya.


"Entar beneran woi," tegas Jazul lagi dengan nada memalak.


"Nih anak, ngajak orang apa ngajak ribut," ujar ku dalam hati sambil mengusap - usap bekas cubitannya yang begitu terasa.


"Ada apa Zul ?" tanya Nabila dari depanku


"Syukuran kecil kecilan sayang," jawab Jazul dengan nada manjanya.


"Gua aja enggak pernah dipanggil sayang," sahutku sambil melirik ke arah Jazul.


"Ehhh... ehhh enggak sayang," sahut Jazul sembari memeluk tanganku sebelah.


"Nanti datang lo ya, jangan lupa bawa okok," ucap Jazul lagi dengan nada manja sembari memeluk lenganku sebelah kiri.


"Aku ngikut supirnya aja Bebb," jawabku sambil mengelus - elus tangan Jazul.


"Rooo..." ujar Jazul sembari melototi Yusro yang asik dengan ponselnya.


"Pokok lu berani njamin gua kenyang, gua gasss," jawab Yusro dengan santainya.


"Gua jamin lu kenyang," jawab Jazul dengan tersenyum lebar sambil menaikan kedua alisnya.


Tak begitu lama percakapan itu berlangsung, dosen pengampu mata kuliah jam ke tiga dan empat telah tiba, tanpa ragu langsung memulai pembelajaran. Sesaat nalar ku berkeliaran mem fikirkan kemungkinan - kemungkinan yang akan terjadi di rumah Jazul, tiba - tiba anganku hinggap pada sebuah nama yang di akhir - akhir malam ini terngiang dengan bebasnya dalam kepala.


"Dia ikut apa enggak ya ?" tanyaku dalam hati sembari melihat ke arahnya.


"Udah, tanya aja langsung," sahut Yusro sembari memasukan ponselnya pada laci meja.

__ADS_1


"Ihh, nanya apaan," jawabku sambil tersenyum tipis.


"Nanti kaget dia nggak ikut," sahutnya lagi dengan menatap lurus ke depan.


"Kurang ajar, tau aja lu nyet," jawabku dengan senyum malu - malu.


Dengan segera, setelah menghirup nutrisi pendorong semangat dari Yusro langsung ku gapai ponselku dan segera menuliskan pesan elektronik untuk bertanya kepadanya. Sri.


"Hallo, nanti ikut kan ke rumah Jazul," pesanku tersampaikan dengan tanda centang dua dan segera berganti warna menjadi biru tua.


"Wah kayaknya enggak bisa aku, ini nguantuk banget," jawabnya melalui pesan elektronik itu yang membuat semangatku patah.


"Entar aku yang bonceng," godaku lagi.


"Enggak aja, kapan - kapan aku tak ikut... tapi untuk hari ini enggak dulu," jawabnya lagi yang membuatku tersenyum pasrah sambil memperlihatkan layar ponselku kepada Yusro.


"Ehh, enggak mau dia ?" tanya Yusro dengan wajah sedikit terkaget.


"Tuh baca sendiri, katanya ngantuk," jawabku sambil meletakan ponselku di atas mejannya.


"Cuman ngantuk alasannya ? cinta lu beneran enggak sih," tanya Yusro sambil tersenyum sinis.


"Entahlah Ro, tugas gua cuman mencintai, masalah dia gimana urusan dia," jawabku dengan pasrah sambil melihat ke arahnya dari belakang, yang tengah diam memerhatikan presentasi mahasiswa lain.


"Lu paham bener resiko mencintai dan dicintai kan," ujarnya lagi dengan berbisik namun dengan nada agak tinggi.


"Yahh, gua paham," jawabku dengan pelan.


"Kalo lu paham kenapa lu ambil resiko itu," ujarnya lagi.


"Hmmm..." jawabku singkat hanya menghela nafas dalam.


"Kalo bener paham, lu seharusnya bisa buat perkara cinta ini tanpa resiko," ujar Yusro lagi masih dengan berbisik kepadaku.


Tanpa kata aku hanya diam dan menatapnya yang tengah serius ceramah singkat.


"Buat perkara ini mudah, jangan lu persulit," ujarnya lagi dengan suara yang lebih keras.


Seketika aku langsung terhentak dengan kata - katanya, seakan pikiran ini langsung terbuka dan lepas tanpa adanya keresahan diri.


"Bener juga katanya, gua belum pernah nanya perasaanya untukku seperti apa, kenapa gua terlalu jauh hanyut kedalam sini... padahal masih kemaren juga Fredi meringatin gua," ucapku dalam hati sambil menghempaskan punggungku ke sandaran kursi dan ku tengokkan kepalaku menghadap langit - langit sambil menghembuskan nafas dalam - dalam, tak lupa lengkap dengan senyum.


"Yoss, gua sudah kembali," ucapku sambil tersenyum kepada Yusro.


"Sial bener, monyetnya udah sadar," jawab Yusro sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


Singkat cerita, kini jam pelajaran sudah selesai dan kami yang hendak ingin berangkat menuju rumah Jazul sudah berkumpul di halaman depan kantin kampus. Tanpa kembali ku pertegas ajakan ku, ku mencoba untuk sedikit demi sedikit membiasakan akan resiko terburuk mencintai. Yah, dari halaman depan kantin ini, aku melihatnya perlahan pergi menjauh tanpa sehelai kata pun terlempar sembari berjalan menghampiri motornya yang terparkir di sebelah motor ku dan Yusro.


"Yoshh!! udah pada kumpul semua belum," tanyaku dengan keras, mencoba merefresh mood.


"Udah deh kayaknya," jawab Fauzi yang jongkok ditengah jalan dengan rokoknya.


"Kalo gitu, segera aja Zul," sahut Yusro.


"Alah... lu aja yang udah kelaparan," ledek Syarif sambil tertawa lepas.


"Jangan buka kartu dulu woi," jawab Yusro dengan senyum tipisnya.


"Cuman ini yang ikut ?" tegas Jazul sambil menghisap rokoknya.


"Iya deh kayaknya, udah pada pulang yang lain," jawab Arini sambil tersenyum tipis.


"Ikan hiu makan tomat," ujar Fauzi dengan keras sambil beranjak berdiri.


"Berangkatt!!!" sahutku, Yusro dan Syarif dengan bersamaan yang membuat kami semua yang ada disitu tertawa dengan lepasnya.


Melalui jalan yang berlika - liku lengkap dengan lubang - lubang jalan peneman panjangnya jalanan sawah dekat rumah Jazul, tak terasa kami telah memotong beberapa menit waktu pengisi tengah hari yang menuju hari tua ini.


"Akhirnya sampai juga," ujar ku sambil memijat punggungku bagian belakang perut.


"Masih muda udah sakit pinggang," ledek Mak Nita sambil berjalan mendahuluiku.


"Ehhh, ya enggak gitu juga maksudnya," sahutku mencoba memberikan pembelaan.


"Lemahh!!" imbuh Fauzi yang berbisik kepadaku dari belakang.


"Kurang ajar, gua mabok gara - gara jalanan tadi," jawabku lagi dengan nada agak keras.


"Emang tadi gua lewatin jalan yang agak jauh sama jalan yang sulit," sahut Jazul dengan tawanya yang terlepas.


"Pantes aja, gua pikir lewat selatan bisa kenapa lewat utara," sahut Fauzi sambil tertawa lepas.


"Biar ada kesannya, perdana kesini kan," jawab Jazul dengan tawanya yang lepas.


"Kurang ajar nih anak," ucapku dalam hati sambil melihat tingkah Jazul dan Fauzi.


"Ehh, udah pada sampe, masuk - masuk," Yah itu nenek Jazul yang keluar dari dalam rumah menyambut kami semua dengan ramahnya.


"Gua mencium bau kenyang," bisik Yusro dengan senyum jahatnya.


"Hahaha, sama gua juga," jawabku dengan tawa yang tertahan.

__ADS_1


__ADS_2