
"Sial !!! jantung gua nggak sulit dikontrol," ucapku dalam hati sembari merilekskan diri untuk segera naik ke panggung pementasan.
"Semangat, semangat," ucap Laila sambil berjalan melewati ku begitu saja.
Yah, rasa dingin dan lemas ini membuatku semakin hilang akal akan apa yang harus aku lakukan nantinya. Seringkali ku lihat jam dinding yang tergantung dengan sombongnya ia terus menghunuskan jarum pada setiap angka yang berjajar rapi melingkar di setiap tepian ruang waktu.
"Apes bener gua, kenapa saat seperti ini harus demam panggung," ucapku dalam hati sambil mengatur nafas dengan panjang.
"Tenang Bro... santai aja, semua anggota tubuh lu, lu yang ngontrol... pikirin baik- baik lalu lakukan," tutur Fauzi sambil mengalungkan tangannya padaku.
"Huufftt... " nafas ku hembuskan dengan panjang sembari memejamkan mata untuk lebih tenang dalam mengolah tubuh.
"Mantab kan rasanya," ucapnya lagi sambil menepuk pelan pundak ku.
"Okee, lebih ba-" belum sempat aku selesai mengucapkan sebuah kata, terlihat seorang wanita yang berdiri mematung menatapku dari tepian pintu dengan senyumnya yang sinis dan manis.
"Ehhh, cinta kenapa kau datang," ucapku dengan datar seperti hilang kesadaran.
"Ngomong apaan sih lu," ujar Fauzi kepadaku sambil menolehkan kepalannya kebelakang menghadap pintu keluar.
"Lahh, Sri... pantes," ucapnya langsung setelah melihat Sri yang berdiri di depan pintu.
"Ngajakin foto gua yak," ucapnya kembali dengan percaya diri berjalan mendekati Sri.
"Iya dong," jawab Sri dengan senyumnya menahan tawa, melihatku dengan kondisi seperti ini.
"Zaa... lu fotoin kita," ucap Fauzi sambil melingkarkan tangannya di pundak Sri dengan santai dan tersenyum jahat kepadaku.
"Kurang ajar nih anak, manas - manasin gua apa cari kesempatan," ucapku dalam hati melihat kelakuan Fauzi yang kurang ajar.
"Nihh, nihh... pakek ponsel gua," ujar Sri sambil memberikan ponselnya kepadaku.
"Semua orang jahat banget ke gua," ucapku dalam hati sembari menerima ponselnya.
"Iya..." jawabku singkat sambil tersenyum berat melihat adegan yang kurang berani aku lakukan.
"Oke makasih," ucap Sri dengan riang setelah beberapa jepretan foto terlayangkan ke arah mereka berdua.
__ADS_1
"Lu enggak foto sekalian," tanya Fauzi dengan wajah jahatnya.
Belum sempat aku menjawab, Sri datang menghampiriku sambil mengambil ponselnya dan berkata pelan kepadaku.
"Nanti aja ya, aku enggak mau kalah cantik," ucapnya pelan dan langsung pergi meninggalkanku dengan senyum yang masih tertinggal dan membekas dalam ruang yang ku rasa hampa.
"Iyaa..." jawabku pelan dengan tersenyum sambil terbengong menghantar kepergiannya dari ruangan itu.
"Tolol amat lu jadi laki," bentak Fauzi sambil mendorongku dengan keras, yang mengakibatkan kesadaran ku kembali seketika.
"Woiii !! apaan sih lu nyet," jawabku dengan bentak juga.
"Udah gua pancing dan gua ajarin buat foto malah diem aja lu," ujar Fauzi dengan nada keras dan sedikit marah.
"Lu enggak tau diem aja napa," jawabku dengan pelan, namun dengan raut wajah menyeramkan ku pasang.
"Enggak tau apa," jawabnya singkat, sambil berjalan mendekat, dan seketika juga raut wajahnya beralih ke mode serius yang menyeramkan mengintimidasi.
"Ehhh, situasinya kok jadi nyeremin kek gini," ucapku dalam hati merasakan hawa intimidasi dari Fauzi.
"Dia bilang nanti aja, kalo sekarang dia takut kalah cantik," ucapku pelan lengkap dengan senyum agar mengembalikan situasi menjadi tenang.
"LU TU TO*OL AMAT JADI MANUSIA !!!" ucap Fauzi dengan nada emosi.
"Lu enggak mikir apa, berapa kali lu di bohongin," ujarnya lagi dengan pelan sambil menusukkan jari telunjuknya ke dadaku.
"Hufttt... gua sadar kok, tapi yang sini belum," jawabku singkat dan pelan sambil kembali ku tusukkan jari telunjuk ke arah dada Fauzi.
"Parah sih lu, asli parah," jawabnya singkat sambil mengusap wajahnya dengan telapak tangan.
"Dahlah, bodo amat masalah hati... perkara di depan mata yang lebih penting kita kuasai," ujarnya lagi dengan wajah lesu.
"Yokk !!! semangat !!!" teriakku sambil menepuk lengan Fauzi dengan keras dan di iringi dengan panggilan dari panggung utama untuk drama segera mempersiapkan diri naik ke lantai tiga.
Tak lama setelah panggilan itu berakhir, kami semua pasukan drama berbondong - bondong menuju lantai tiga untuk segera menunjukkan hasil latihan selama ini. Setelah sampai di lantai tiga dan bersembunyi di balik tirai, Ulul datang menghampiriku dengan santai dan bertanya.
"Loh... Reza mana kok belum kelihatan," tanyanya kepadaku yang membuat perut ini sakit karena menahan tawa.
__ADS_1
Tanpa sedikit suara dan kata, aku hanya tersenyum malu - malu sok cantik dengan menutup bibirku menggunakan selendang.
"Kemana woi, udah mau tampil ini... ada yang perlu gua bicarain," ujarnya lagi yang membuatku semakin tersiksa akan menahan tawa.
"Disini adanya Sukinah Mas, Reza enggak hadir," jawabku dengan manja kepada Ulul.
"B*NG*KE !!! hahahahaha," tawanya langsung terlepas begitu saja setelah mendengar suaraku.
"Lu asli Reza ? cantik amat, hahaha," ucapnya lagi dengan tawa yang masih terpingkal pingkal.
"Jangan keras - keras woi, entar pada tau enggak jadi kejutan," ucapku sambil mengibaskan selendang ke muka Ulul.
"Asli cantik banget, foto dulu dong," ucapnya lagi sambil mengeluarkan ponselnya.
"Ehh, lu tadi mau bilang apa ke gua," tanyaku langsung setelah beberapa jepretan gambar ia dapat.
"Oh iya, hampir lupa gua... masalah bagsound entar gua yang atur, operator nggak terlalu paham," ujarnya dengan serius.
"Bukannya udah di edit jadi satu semua," sanggah ku dengan segera.
"Belom sempet, malah ada lagu yang hilang dari info yang gua dapet."
"Parah nih... lha terus gimana nanti," tanyaku dengan sedikit panik.
"Lu tenang aja, pokoknya lu nanti improvisasi aja... masalah lagu nanti yang kosong gimana bakalan gua urus, yang penting lu harus kuat mental," ucapnya dengan tegas.
"Lu sampaikan ke anak - anak yang lain dulu aja Lul... gua liat - liat bentar lagi mau tampil, ada hal yang perlu gua atur," jawabku sambil menepuk pundaknya dan berjalan menjauh.
"Untuk penampilan yang selanjutnya dari aliansi kelas PBI, penampilan yang sangat kita tunggu - tunggu akan kejutan dan keseruan yang akan di pamerkan...." terdengar pembawa acara sudah mulai membicarakan intro untuk panggilan kepada kami untuk segera tampil.
"Okee, tiga puluh menit saja... tiga puluh menit gua ganti karakter dari Reza menjadi Sukinah, hilangkan semua beban, hilangkan semua rasa yang kurang mendukung, gua pasti bisa," ucapku dalam hati sembari membuang nafas dalam - dalam.
"Gimana udah pada siap," tanya Fauzi kepada kami semua pemain drama.
"Siap enggak siap harus siap," sahut salah Abdul dengan make up mengerikannya.
"Gimana Za, aman ?" tanya Fauzi khusus kepadaku.
__ADS_1
Tanpa adanya kata, aku hanya menjawabnya dengan anggukan kepala dan senyum tipis penanda "Semua beres."