
"Wahh, ini undangan kok pakek gelar kiai semua," ucap Yusro sambil melihati nama - nama pada amplop.
"Masa, liat coba," sahutku sambil mengambil setengah darinya.
"Mana gua tahu arah - arahnya ini," ujar Yusro sambil tersenyum sinis.
"Kita ke alamat daerahnya aja Ro, entar tanya penduduk daerah sana," jawabku singkat.
"Hp gua udah sekarat parah tapi ini," jawabnya dengan santai.
"Cepet colokin nyet, selagi kita laporan," bentak ku dengan pelan.
"Iya... iya bambang," jawab Yusro sambil beranjak dari tepian serambi masjid tempat kami beristirahat.
Tidak perlu menunggu waktu terlalu lama, karena mentari yang sudah mulai memudarkan warnanya dengan segera kami langsung melanjutkan perjalanan untuk menyebarkan undangan yang kami bawa.
"Gua nggak suka bilang ini, tapi kita kek masuk dimensi lain," ucap Yusro sembari melihat langit yang sudah menantang kami dengan kepekatan awan hitamnya di ufuk barat.
"Sebaiknya lu tambah deh kecepatannya," jawabku sambil terbengong melihat awan hitam yang begitu dalam.
"Lu tadi udah masukin mantelnya kan," tegas Yusro sambil menancapkan semakin dalam pedal gasnya.
"Udah yang punyak lu," jawabku sambil tertunduk menghindari terpaan angin yang begitu kencang.
"lha punyak lu ?" tanya Yusro dengan segera.
"Kan di bawa Ependi," jawabku dengan keras melawan suara gemuruh.
"Dahlah... pegangan, lu terbang gua nggak mau balik," ujar Yusro lagi dan semakin mempercepat putaran poros rodanya.
Dengan kecepatan yang begitu terasa memotong atmosfir ruang dan waktu, tanpa ragu Yusro terus menetapkan keteguhannya untuk menembus kepulan awan hitam yang sudah siap menghadang di depan. Singkat cerita kamipun telah sampai pada perbatasan daerah kekuasaan awan hitam yang bertandakan dengan turunnya jutaan butir air langit secara bersamaan.
"Za, lu pakek mantel, amanin undangan," ujar Yusro sembari mengurangi tarikan gasnya ketika masuk wilayah hujan.
"Lah, lu yang di depan... kenapa malah gua," sahutku dengan segera.
"Udah ikutin yang gua bilang, daripada itu undangan basah semua," sahut Yusro sambil berhenti di tepian jalan.
"Lah lu aja yang pakek, tas lu otomatis ke bungkus mantel juga kan," ucapku sambil turun dari motor dan berteduh di teras toko yang terbengkalai.
"Enggak nggak, lu yang pakek," ucap Yusro sambil membuka jok motor dan mengeluarkan mantelnya.
"Cepetan pakek," ucapnya lagi sambil melemparkan mantel ke arahku.
__ADS_1
"Kalo lu enggak mau ya udah!!!" jawabku dengan keras sembari memukul mantel yang terbang di hadapanku melesat ke bawah menghampiri tanah dengan kecepatan tinggi.
"Gimana maksud lu, waktu kita enggak banyak woi," jawab Yusro dengan segera.
"Kalo emang begitu, cepet lu pakek tu mantel," jawabku dengan tegas.
"Dahlah, dasar manusia," ucapnya pelan sambil mendekatiku yang berteduh dan duduk di kursi di sebelah.
"Kalo lu enggak mau makek, nih beliin gua rokok," ujarnya lagi setelah duduk sambil memberikan uang kepadaku.
"Nggak nyambung nyet," ucapku sambil menyambar uang yang ia ulurkan.
"Lu masih ngajak ribut ? lima ribu dapet rokok apa," ucapku lagi setelah melihat uang yang Yusro berikan tadi.
"Gua enggak denger," jawab Yusro dengan wajah acuhnya membuang muka.
Yah, pada akhirnya aku berlari menuju toko sebelah untuk membeli rokok guna untuk makan malam dan penghangat diri. Setelah rokok sudah pada genggaman, betapa kagetnya jiwa ini setelah melihat dengan tidak sengaja arah jarum jam tangan yang menghunus pada angka empat tepat.
"Udah jam empat Ro," ucapku kepada Yusro sembari melemparkan rokok kepadanya.
"Makannya, gua tadi suruh lu untuk makek mantel, agar bisa lanjut," jawabnya dengan nada ngegas.
"Nggak gitu konsepnya," jawabku kembali sambil menyahut bungkus rokok yang ia pegang.
"Nah, gitu aja kok ribet amat," jawabku sambil menerima korek yang ia berikan.
Bersama kemericik air hujan yang terus menerus terdengar, kami berdua memulai pembicaraan yang lebih hangat daripada waktu lalu, saling bertukar cerita, pengalaman dan tak lupa mengatur siasat untuk strategi ke depan guna menghadapi persaingan nilai dalam kelas maupun Prodi, hal itu merupakan cara kami menghabiskan waktu dengan santai di hari yang begitu dingin dan suram itu.
Tidak perlu menunggu waktu untuk habis lebih lama lagi, setelah satu puncung rokok termakan habis oleh api, kami berdua segera bergegas untuk menyebarkan undangan dengan Yusro yang memakai mantel dan mengemudi di depan.
"Roo... gua kedinginan parah," ucapku dengan gemetaran memeluk erat tas Yusro dari belakang.
"Cemen banget sih lu, kita pernah kehujanan lebih lama ketimbang yang kek gini," jawab Yusro juga dengan mulut yang menggigil.
"Dasar manusia sok kuat lu," ucapku dalam hati setelah mendengar Yusro berbicara.
"Tadi kurang berapa undangan Ro," tanyaku lagi.
"Udah tinggal satu ini, tadi jauhnya minta tobat," jawabnya singkat.
"Yoshh!!! gas!!" teriakku dengan keras sambil berdiri.
"Jangan teriak - teriak, malu maluin," sahut Yusro lagi.
__ADS_1
Akhirnya pada malam pukul delapan lebih lima belas menit, kami berdua telah selesai mendaratkan undangan pada alamat terakhir, dengan kondisi badan yang sudah basah kuyup, segera kami berdua bergegas untuk kembali.
"Za... lu yang ngemudi ya," ujar Yusro dengan lemas.
"Ehh... lu kenapa," sahutku dengan sedikit panik.
"Badan gua enggak enak," jawabnya singkat sambil merebahkan badannya di teras rumah alamat terkahir.
"Apa masuk dulu aja Ro," sahutku sambil menarik pelan tangannya.
"Bapak kau punya rumah," ujarnya dengan ngegas pelan sambil berdiri.
"Langsung pulang," ucapnya lagi sambil duduk di jok belakang.
"Lu tahu kan gua belum lancar naik motor bergigi," ucapku sambil menelan ludah.
"Enggak apa - apa, gua siap atas resiko yang terjadi," jawabnya dengan pasrah.
"Moga aja lanjar Gusti," ucapku dalam hati sambil memutarkan kunci motor.
Yah... dimalam yang penuh dengan genangan itu tak terasa aku dan Yusro telah melewati berbagai bentuk pembatas desa yang beraneka ragam bentuknya, sampai pada Yusro mengajakku untuk berhenti sejenak di masjid dekat dengan tempat kami berteduh selama ini.
"Makanan dan kopi sudah siap, udah pulang belum ini," tanya Fauzi dari pesan digital yang masuk pada ponselku.
"Aduh, gimana ini... pulang ke pondok apa ke markas," ucapku pelan sambil menatap layar ponsel.
"Ro... lu mau istirahat ke markas apa pondok ?" tanyaku dengan segera kepada Yusro.
"Gua ngikut lu aja, apapun keputusan lu gua ikut, gua udah gak kuat mikir panjang lebar lagi ini," jawabnya dengan pelan sambil terkapar tak berdaya di serambi masjid.
"Lu nyaman di mana, pondok apa markas ?" tanyaku lagi karena bimbang.
"Khusus hari ini lu yang ambil keputusan, gua ngikut keputusan lu," jawab Yusro lagi dengan pelan.
"Kalo kembali ke pondok, ada kemungkinan Yusro kurang terurus... kalo meluncur ke markas kemungkinan terawat sangat besar karena di sana ada Syarif sama Fauzi, tapi untuk menuju ke sana butuh memakan waktu satu jam perjalanan," ucapku dalam hati sambil berfikir keras.
"Akkhh!! gua bingung," teriakku dengan keras.
"Ambil aja keputusan yang menurut lu benar," sahut Yusro dengan pelan yang kini tengah menggigil kedinginan.
"Kelamaan mikir!! kita pulang ke pondok," ucapku dengan tegas sambil mengambil tas.
"Entar gua sendiri yang urus lu," ucapku dalam hati sambil menarik Yusro untuk berdiri.
__ADS_1