
*******
"Assalamu'alaikum, bu..." ucap Yusro dari depan pintu ruang admin.
"Wa'alaikumsalam, silahkan masuk Mas," jawab petugas ruang admin dari dalam dengan nada ramah.
"Iya, ada yang bisa saya bantu Mas ?" tanya petugas itu setelah Yusro duduk di kursi yang telah disediakan.
"Jadi begini Bu, ini berkaitan dengan kelengkapan data yang masih saja belum terpenuhi... bukankan masih sekitar satu minggu yang lalu teman - teman termasuk saya sendiri telah mengumpulkan berkas yang di anggap belum ada, jadi untuk ini kejelasannya seperti apa Bu," tanya Yusro dengan perlahan menjelaskan ketidak terimaannya terhadap kebijakan yang tengah berjalan.
"Namanya siapa Mas ?" tanya petugas admin kepada Yusro.
"Yusro Bu," jawabnya singkat.
"Nim dan kelas ?" sahut petugas itu dengan langsung sembari membuka dokumennya pada laptop.
"1788201068, dari kelas PBI C,"
"Oh, ini... disini tertuliskan data yang dibutuhkan untuk pengajuan beasiswa belum lengkap, bisa melengkapinya mulai dari sekarang... dan akan di tunggu sampai nanti jam sembilan malam," jawab petugas itu dengan santainya seperti tanpa dosa.
"Mohon maaf ya Bu sebelumnya, saya berasal luar kota, untuk kembali mengurus kebutuhan yang belum terpenuhi perlu memakan waktu selama kurang lebih tiga jam, dan uang transportasi pun tidak cukup hanya dengan selembar limapuluh ribu," tegas Yusro sambil tersenyum jahat.
"Begini ya Mas, saya hanya mengikuti sistem yang berjalan, jika disini tertulis belum lengkap berarti juga belum lengkap." Tegas petugas itu kepada Yusro.
"Ooo, begitu ya Bu, kalau begitu berkas yang kemarin itu dimana ?" tanya Yusri kembali masih dengan sikap tenang mengintimidasi nya.
"Boleh saja mencari, itu di bawah almari," sahut petugas itu sambil menunjuk ke tumpukan berkas yang di ikat dengan tali rafia.
Dengan segera Yusro langsung beranjak dari tempat duduk dan menghampiri tumpukan berkas yang di tunjukkan petugas tadi. Namun di situ Yusro malah mengangkat tumpukan berkas yang terikat itu dan meletakkannya di atas meja tepat di depan petugas admin.
"Anda di gaji untuk hal seperti ini Bu, sekian dari saya." Pesan Yusro setelah meletakan tumpukan berkas di meja dan langsung beranjak pergi keluar.
*******
"Hahaha, bener lu bilang kek gitu ?" tanya Fauzi kepada Yusro yang kini duduk di serambi masjid.
"Bener lah, emang konyol itu sistem..." jawab Yusro dengan percaya dirinya.
"Lha terus gimana Ro," tanyaku masih dengan tawa, setelah mendengar cerita darinya.
"Kita lihat aja nanti gimana," jawab Yusro sambil meraih sebungkus rokok dan korek api.
__ADS_1
"Bener bener parah lu," ujar Syarif juga dengan tawa sambil menepuk dengan keras pahu Yusro.
Setelah mendengar cerita dari Yusro yang begitu kurang ajar pagi petugas admin, Fauzi dan Syarif terus saja tertawa tidak menyangka akan tingkah Yusro yang begitu nekat dan berani. Yah, sebenarnya emang sudah dari dulu dia kek begitu, semasa SMA pun tidak sedikit guru emosi dengan tingkahnya yang terlalu berani dan nekad.
Tidak terlalu lama dari itu, terlihat ada notifikasi dari grup angkatan yang memberikan update informasi berkaitan dengan kekurangan berkas bagi mahasiswa.
"Coba lu liat Rif, cari nama gua dulu," ujar Yusro dengan riang menghampiri Syarif.
"Hahaha, atas nama Yusro, sudah lengkap seluruh berkasnya," jawab Syarif setelah beberapa saat menarik ke bawah halaman per halaman.
"Hahahaha, manusia kurang ajar," ucapku kepada Yusro dengan tawa lepas.
"Kok bisa ya," ujar Fauzi dan di ikuti dengan tawa yang terbahak - bahak pula.
"Pokok aku orang mu Ro," ujar Fauzi lagi masih dengan tawanya yeng begitu lepas.
"Nah, sudah terbukti kan," sahut Yusro sambil tertawa juga.
Bersamaan semakin dekatnya dengan titik pusat kegelapan malam, bukanya bertambah hening, malah semakin banyak manusia yang berkumpul ke mushola untuk mengumpulkan berkas kekurangan mereka ke ruang admin.
Bersama dengan sisa - sisa gorengan dan rokok yang masih tinggal beberapa helai, kami berempat masih menunggu dengan setia terkumpulnya data dari teman - teman yang masih kurang lengkap.
"Unyil kira - kira bentar lagi sampai sini, dan si Ningrum udah di anter sama Agni... katanya rumah mereka searah," ujar Syarif lagi.
"Kurang ajar si Agni, dapet enak dia," sahut Fauzi sambil tertawa lepas dan di ikuti kami bertiga.
"Udah gini aja, setelah nanti Unyil dateng, gua aja yang nganter dia pulang sambil gua bonceng Sri ambil berkas di rumah," ujar Fauzi sambil tertawa memamerkan.
"Wah, dapet lebih enak lu," sahut Yusro sambil menunjuk Fauzi.
"Rezeki orang tua," jawab Fauzi di ikuti dengan tawa lepas.
"Siap kakek," jawabku sambil tertawa lepas pula.
Tidak lama kami berimajinasi liar bersama, tanpa sadar Unyil telah tiba dengan helem yang masih melekat di kepalanya.
"Assalamu'alaikum, hehehe" ucap Unyil sambil tertawa pelan, seperti mana khasnya.
"Waalaikumsalam," jawab kami berempat bersamaan.
"Maaf lo ya lama, hehehe" ujar Unyil dan masih dengan khas senyum manisnya di akhir kata.
__ADS_1
"Iya iya, sini - sini," sahut Fauzi seperti bapak yang akan memeluk anaknya.
"Woi, bentar lagi dapet enak, masih mau ngembat yang kecil," ujar Syarif sambil menarik Fauzi ke belakang.
"Dasar kakek," ujar Yusro membuat kami semua tertawa lepas.
"Langsung balik apa nongkrong sini dulu Nyil," tanya Fauzi kepada Unyil yang masih berdiri.
"Langsung aja Bang, keburu malem nanti," jawab Unyil setelah melihat jam tangannya.
"Yok, siap," jawab Fauzi sambil meraih jaketnya.
"Udah pada sholat belum ini tadi," tanya Unyil dengan nada tinggi namun dengan logat anak - anaknya.
"Astaghfirullah, lupa gua," sahutku sambil beranjak berdiri.
"Gimana to kok lupa," jawab Unyil sambil tersenyum.
"Namanya juga manusia," jawab Yusro sambil berjalan mengikuti ku menuju tempat wudhu.
"Ayo Rif cepet sholat magrib dulu," ujar Unyil kepada Syarif yang masih tenang menghisap rokoknya.
"Alah tempat wudhunya masih penuh, habisin ini dulu," jawab Syarif dengan santainya.
"Gimana to, udah mau isyak ini lo,"
"Iya iya Unyil usrok," jawab Syarif sambil berdiri dan membuang rokoknya.
Singkat cerita kami berempat sudah selesai menunaikan kewajiban kami sebagai seorang hamba, seperti mana strategi yang telah disusun, Fauzi langsung bergerak menjemput Sri di tempat kosnya bersama dengan Unyil yang sekalian akan di antar Fauzi pulang, dan kami bertiga masih setia duduk menanti di serambi mushola dengan kondisi kekurangan gizi.
"Rif, lu bilang ke grup, suruh bawa makanan," ujar Yusro dari pojok serambi.
"Bene juga ya, dari kemarin sore belum makan nasi kita," sahutku kepada Yusro.
"Entah nasi, gorengan atau apalah, gua enggak peduli... yang penting makan, gua lapar banget ini," ujar Yusro dengan melasnya.
"Beli aja gimana, gua masih ada uang Ro," sahutku menawarkan diri.
"Gua udah enggak ada uang Jon, hari ini makan, besok kita enggak makan," jawab Yusro dengan serius.
"Hahahaha, sahabat miskin," ujar Syarif dengan tawa lepasnya.
__ADS_1