Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 15 : Perjuangan


__ADS_3

"Eh lu udah lengkap berkasnya," tanya Fauzi kepada Yusro yang membuatnya dan aku tercengang beberapa saat.


"Berkas apaan Zik," tanyaku balik kepada Fauzi.


"Berkas pendaftaran beasiswa lah," Sahut Syarif dari belakang Fauzi.


"Coba lu liat grup deh," sahut Fauzi lagi sambil memainkan ponselnya.


Setelah dilihatnya informasi dari grup, terlihat tataran nama mahasiswa yang belum lengkap berkas - berkas untuk pendaftaran beasiswa, dan di situ tertulis dengan jelas nama Yusro.


"Apaan ini maksudnya," ujar Yusro dengan emosi, meski dengan raut muka yang santai tapi sangat tergambar jelas kemarahan yang terlukis pada tatapan mata.


"Lha yang gua ambil sama lu pas nembus hujan kemaren buat apaan," ujar Yusro lagi dengan emosi.


"Tenang dulu Ro, banyak anak yang udah ngirim tapi juga enggak tertera nih," jawab Fauzi mencoba menenangkan Yusro sambil menunjukan pembicaraan di grup kelas.


"Ini ketua kelas harus gerak kalo kayak gini," ujar Fauzi kembali sambil menyahut ponselku.


Tanpa berlama - lama lagi, Fauzi langsung menjajaki setiap nama Agni dalam kontak ponselku guna meneleponnya untuk memperjelas semua ke abu - abuan informasi.


"Halo, pak ketua... gimana ini," tanya Fauzi kepada Agni melalui telepon.


"Sebelumnya maaf pak, ini gua masih ngajar di pondok, gua belum tau sepenuhnya, gua minta tolong... tolong urus semuanya dulu ya." Terdengar jawaban Agni dari ponsel.


"Ooo, yasudah kalo gitu, tapi kalo udah selesai segera merapat ke sini, mushola kampus," jawab Fauzi sambil langsung menutup teleponnya.


"Agni enggak bisa ke sini, dia masih ada tanggungan di pondok," ujar Fauzi setelah menelepon Agni.


"Lah terus berkasnya di kumpulin ke siapa ini," tanyaku kepada Fauzi.


"Lu berdua udah mau pulang belom ?" tanya Fauzi kepadaku dan Yusro.


"Gimana Ro, lu mau ambil berkas pulang nggak ?" tanyaku kepada Yusro yang sedang berbaring dengan santainya tanpa kepanikan sedikitpun.


"Enggak, kita urus punyak anak - anak di sini dulu aja, punyak gua gimana gua urus," jawab Yusro dengan tegas sambil memainkan ponselnya.


"Lu mau gimana ? anak - anak juga ada kasusnya yang kayak elu," jawab Syarif langsung setelah Yusro berkata.


"Jangan, jangan ada yang ngikut kayak cara gua ini... mereka nggak akan bisa," jawab Yusro dengan tatapan yang menyakinkan.


"Terakhir kapan ini Rif ?" tanyaku kepada Syarif yang sedang sibuk menjawab pertanyaan dari anak - anak di grup kelas.

__ADS_1


"Hari ini, di tunggu sampai jam delapan malem," jawab Syarif dengan wajah yang seakan akan berkata. "Tidak mungkin."


"Gua enggak paham gimana nih prosesnya," ujar Fauzi dengan nada yang terlihat emosi.


"Rif lu instruksikan kepada semua anak untuk segera mengurus berkas, di tunggu sampai semua terkumpul," ucap Fauzi lagi dengan tegasnya.


"Oke oke, lha nanti kalau masih belum terkumpul semua gimana ?" jawab Syarif.


"Tenang aja, kelas kita termasuk kelas yang paling banyak mahasiswanya, kalau satu kelas kompak belum terkumpul... gua rasa mereka enggak akan bisa berbuat apa - apa, gitu kan Zik," sahutku mengikuti nalarku.


"Yups, betul," jawab Fauzi dengan singkat.


"Yok kita mulai," ujar Syarif dengan lantangnya.


Masih berjalan beberapa menit dari kami membulatkan tekat untuk menunggu datangnya berkas, grup kelas pun juga semakin ramai akan permintaan bantuan untuk mengantarnya kembali ke rumah guna mengambil berkas. Yah... meski kelas kami termasuk keluarga yang besar, namun mayoritas dari kami adalah pendatang dari daerah yang jauh.


"Kita list siapa aja yang perlu bantuan," ujar Yusro masih dengan tenangnya.


"Pertama Ningrum, dia anak kos rumahnya jauh dan enggak ada kendaraan... terus Unyil, dia bisa berangkat tapi nanti pulangnya harus di anter... yang ketiga Sri, dia sama kayak si Ningrum," ujar Fauzi sambil menyimpulkan.


"Jadi ?" tanyaku kepada Fauzi.


"Akhh... gua bingung, uang udah nipis, belom makan dari pagi, sekarang kek begini," jawab Fauzi dengan bingungnya sambil memutar - mutar kan rambutnya.


Tidak lama setelah kami kebingungan mengatur strategi pembagian tugas, terlihat ada seorang wanita yang tidak lagi asing dalam ingatan turun dari lantai dua dengan wajah yang kusut dan mata yang memerah berkaca - kaca sembari membawa lembaran kertas putih yang terbalut kantong plastik putih menghampiri kami di serambi mushola.


"Ehh, itukan Nabila ? baru ngapain itu anak," ucapku dalam hati melihatnya turun dari lantai dua dengan terlihat sedih.


"Ehh, baru ngapain ?" tanya Fauzi langsung setelah ia tiba di hadapan kami berempat.


"Dimarahin, katanya suruh kolektif," jawabnya pelan dengan mata yang semakin berkaca - kaca.


"Yasudah sini - sini biar kita urus," jawab fauzi setelah menghela nafas, sambil meminta dokumen yang akan di kumpulkan.


"Ruangan admin yang mana ?" tanya Yusro yang kini sudah berdiri.


"Lah elu mau kemana ?" tanya Syarif langsung.


"Mau cari masalah," jawab Yusro sambil tersenyum.


"Anu... lantai dua sisi utara timur sendiri," jawab Nabila memberitahu Yusro lokasi ruang admin.

__ADS_1


"Ooo, situ," jawab Yusro dengan santai sambil memakai sepatunya.


"Udah, enggak usah nangis... duduk sini dulu," ujar Syarif menenangkan Nabila dan Rosidah.


"Tadi ngapain enggak ke sini dulu, kenapa langsung ke ruang admin," tanya Fauzi dengan pelan sambil bermain ponselku.


"Baterai ku abis, mau nanya enggak tau, Rosidah enggak bawa dia," jawab Nabila sambil mengusap air matanya.


"Gitu aja nangis," ledek Syarif sambil tertawa.


"Ya enggak mau aslinya," jawab Nabila lagi sambil sedikit tertawa.


"Oh iya, ini jajanan sedikit," ujar Rosidah sambil memberikan satu kantung plastik penuh dengan gorengan.


"Nahh, mantab nih... Ro, lu enggak makan ini dulu ?" tanyaku kepada Yusro yang sudah siap naik ke atas.


"Sisain aja buat gua," jawab Yusro dengan santainya.


"Hey Ro... jangan kelewatan," ucapku kepada Yusro, yang sudah bisa aku tebak dia akan melakukan apa.


Tanpa menjawab, dia hanya tersenyum ke arahku dan beranjak naik ke atas.


"Kelewatan apanya ?" tanya Syarif kepadaku, dan semua mata Fauzi, Nabila dan Rosidah tertuju kepadaku.


"Hehehe, lu semua sudah tau kan gimana Yusro kalau adu mulut kek gimana," jawabku singkat.


"Wah keren nih," jawab Syarif sambil tertawa.


"Ini semua belum makan dari pagi ?" tanya Rosidah kepada kami bertiga.


"Belum lah, kan abis selesai kuliah kesini inginnya nyatai... eh malah ketimbun tanggung jawab," jawab Fauzi sambil memakan tahu isi.


"Terus dari tadi makanya apa," tanya Nabila sambil memilah - milih gorengan.


"Ya baru ini, dari pagi cuman konsumsi itu," jawabku sambil menunjuk dua bungkus rokok yang sudah kosong isinya.


"Ya Allah... kesehatanmu lo..." sahut Nabila melihat dua bungkus rokok yang sudah kosong.


"Ehh, rumah lu jauhkan, nggak cepat pulang keburu gelap nanti," ujar Fauzi yang mulutnya penuh dengan gorengan.


"Oh iya... yasudah kalo begitu, makasih ya..." sahut Nabila setelah melihat jam tangannya langsung beranjak pergi.

__ADS_1


Akhirnya kami hanya tinggal bertiga bersama lantunan senja yang kian memudar tertutup dengan gelapnya malam. Sembari menunggu Yusro kembali dari pertempuran di atas, kami istirahat sejenak menyingkirkan ponsel jauh - jauh sambil menikmati rintihan senja yang mulai menghilang tanpa adanya gangguan deringan ponsel yang mengganjal.


__ADS_2