Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
Bab 11 : Sukinah ?


__ADS_3

Terasa sesak, hangat dan lembab ku rasa atmosfir ruangan F5 yang kini ku tempati bersama Fauzi dan dua belas anak lain yang masih asing dalam ingatan. Dengan kondisi ruang kelas yang kotor dan berantakan membuat situasi dalam ruang ini semakin mencekam menikam jiwa.


"Nih ruangan nggak beres kayaknya," ucapku dalam hati sambil memperhatikan situasi sekeliling.


"Kenapa lu Za," tanya Fauzi melihatku yang kurang nyaman dengan kondisi ruang kelas.


"Enggak apa - apa, cuman ngerasa sesak gitu aja," jawabku singkat sambil mengibaskan baju yang terguyur keringat.


"Santai aja, yang penting tetap fokus jangan ngelamun," jawab Fauzi dengan raut wajah mengundang pertanyaan.


"Nih anak paham ?" tanyaku dalam hati sambil menelan ludah setelah mendengar jawabannya.


Ketika aku sedang asyik menikmati ketegangan atmosfir ruangan, tiba - tiba Bapak Prapto langsung ke dalam ruang kelas tempat kami semua berkumpul.


"Selamat siang, gimana sehat ?" sapa Bapak Prapto langsung setelah masuk kelas.


"Alhamdulillah... sehat Pak," jawab yang lain bersamaan namun masih kalah volume dengan Fauzi.


"Yang tari tadi juga berkumpul di sini ya ?" tanya Bapak Prapto kepada semua peserta.


"Iya Pak, yang tari kumpul di sisi selatan ini," jawab seorang wanita berkulit putih, tinggi, besar dan aktif.


"Nih anak keliatannya aktif banget," ujar ku dalam hati, setelah melihatnya pertama kali.


"Oke... untuk musik dan jenis tariannya bisa di konsultasikan kepada ibu Dewi ya," ujar Bapak Prapto kepada wanita yang belum jelas nama dan asal muasalnya.


"Cuman ini ya yang ikut drama ?" ujar Bapak Prapto lagi sambil duduk menyenderkan punggung di kursi.


"Iya Pak," jawab Fauzi dengan lantang.


"Kalau begitu, hari ini kita bereskan tempat ini, kita tapikan semua bangku dan kursi agar dapat memulai latihan langsung," ujar Bapak Prapto membuat kami semua kaget.


"Beneran langsung mulai latihan ? kan belum tau mau jadi apa," ucapku dalam hati sambil melirik ke arah Fauzi.


"Siap Pak," jawab Fauzi dengan lantang lagi dan di ikuti tawa jahat.


"Zik, lu sadar kita langsung mulai latihan ?" tanyaku kepada Fauzi yang sudah berdiri.


"Sadar banget, bener - bener memicu adrenalin kan," jawab Fauzi sambil tertawa lepas.


"Gua salah angkut orang nih kayaknya," ujar ku dalam hati melihat tingkah Fauzi.


"Huftt... okelah meluncur," ucapku sambil menghela nafas panjang.

__ADS_1


Singkat cerita kami pun langsung bergegas membereskan ruangan itu bersama - sama, bukan hanya menepikan barang - barang yang tidak terpakai dan menyapu lantai saja, tapi Bapak Prapto juga menginstruksikan kepada kami semua untuk mengepel tempat tersebut dengan alasan agar enak untuk duduk - duduk di sembarang tempat dengan bersih.


Tak terasa puluhan menit yang berkumpul kini telah menjadi padatan waktu yang bergelar jam dan telah kami lewati beberapa menit yang lalu. Memang terlihat bersih dan lebih nyaman di rasakan ketimbang awal tadi kami datang ke sini.


"Hahh... akhirnya selesai juga," ujar ku kepada Fauzi sambil menyenderkan diri ke dinding.


"Manusia lemah," sahut Fauzi kepadaku.


"Kurang ajar lu," jawabku sambil melirik Fauzi dengan sinis di sampingku.


"Gimana... sudah selesai ?" tanya Bapak Prapto yang tiba - tiba masuk ruang kelas.


"Sudah Pak, tinggal nunggu kering," jawab seorang pemuda kurang tinggi dengan kulit putih yang memiliki perawakan bulat.


"Oke... kumpul kesini dulu semuanya." Instruksi dari Bapak Prapto kepada kami, sehingga kami semua segera merapat untuk berkumpul.


"Ini... silahkan di baca, dipahami, dihafal, dan di dalami karakter masing masing," ujar Bapak Prapto sembari membagikan lembaran kertas yang berisi dialog dan alur cerita.


"Dialognya pendek - pendek ya Pak," ujar seorang pemuda berkulit sawo matang, tinggi besar.


"Tenang dulu, saya kan belum selesai menjelaskan," jawab Bapak Prapto dengan pelan.


"Jadi begini, ini hanya patokan alur dan konteks dialog... nanti dialog aslinya gimana ? kalian sendiri yang harus mengarang dan menjabarkannya, singkatnya kalian harus berimprovisasi dalam drama ini," ujar Bapak Prapto mencoba menjelaskan.


"Betul sekali... kalian sendirilah yang harus membuat dialog dengan improvisasi bersama lawan dialog kalian, enggak usah ditulis." Jelas Bapak Prapto lagi.


"Kelihatannya gampang nih," ucapku dalam hati sambil membayangkannya.


"Untuk pembagian tokoh, langsung saya tunjuk... dilarang komplain," ujar Bapak Prapto dengan tegas.


"Waduh... dapet pemeran utama bisa gawat nih," ucapku dalam hati.


Singkatnya, kini Bapak Prapto sudah selesai membacakan pembagian tokoh - tokohnya, namun yang aku bingung kan adalah aku kok mendapat nama wanita.


"Maaf Pak, kayaknya saya salah menjalankan tokoh," ujar ku dengan kebingingan.


"Kayaknya saya juga deh Pak," sahut pemuda yang tinggi besar tadi.


"Enggak," jawab Bapak Prapto disertai senyum jahat.


"Perasaan gua enggak enak nih," ucapku dalam hati setelah melihat raut wajah Bapak Prapto.


"Khusus kalian berdua memang saya tempatkan untuk berperan menjadi wanita, nanti ketika pementasan kalian akan di dandani semaksimal mungkin untuk menjadi wanita," ucap Bapak Prapto sambil tersenyum jahat.

__ADS_1


"Tuh kan, gua yang apes bener," ucapku dalam hati sambil nyengir.


"Tapi Pak-" jawabku belum selesai langsung beliau potong.


"Hustt... tenang... kalian akan aku jamin dapat nilai A di beberapa mata kuliah," ujar Bapak Prapto sambil senyum - senyum.


"Hmmm..." gerutu ku pelan sambil berfikir.


"Yang lain juga dapat nilai bagus, tapi masih bagus Reza sama Ridho," ujar Bapak Prapto lagi.


"Oke deh Pak kalau begitu..." jawabku sambil nyengir.


Setelah semua jelas dan memahami tugas masing - masing kami semua diperbolehkan untuk pulang menjemput senja yang sudah melambai - lambai dari ufuk barat.


"Hahahaha... gua nggak bisa bayangin bulan depan, gimana lo jadinya," ujar Fauzi meledekku sambil tertawa lepas.


"Diem lu, demi nilai yang sempurna," jawabku sambil bergaya sok tegar.


"Parahnya lagi, lawan bicara lu itu gua... mana kuat gua lihat lu yang versi cewek," ujar Fauzi lagi masih dengan tawanya yang begitu keras menggelegar.


"Dahlah males gua ngomongin itu," jawabku sambil nyengir sinis.


"Ohh... Sukinah...hahahaha," ledek Fauzi lagi sambil tertawa lepas dengan sangat keras.


"Kurang ajar ni anak," sahutku dan langsung ku ikat lehernya dengan gepitan siku kanan.


Dalam perjalanan menuju mushola tempat Yusro dan Syarif menunggu, Fauzi terus saja meledekku dan tertawa tanpa henti di sepanjang jalan. Sesampainya kami sudah dekat dengan mushola, Fauzi langsung berlari menuju Yusro dan Syarif yang tengah duduk dengan kesibukan mereka masing - masing.


"Woi !! ada kabar baru !!!" teriak Fauzi sambil berlari menuju Yusro dan Syarif.


"Kurang ajar ni anak," ucapku sendiri melihat Fauzi yang berlari menuju mushola.


"Diem woi !!!" teriakku sambil mengejar Fauzi yang sudah berlari.


"Reza berperan jadi cewek," ujar Fauzi setelah sampai di depan mushola dan di teruskan dengan tawa lepas.


"Hahaha, masak ?" tanya Syarif sambil tertawa lepas.


"Sudahlah akhirnya mereka juga akan tau juga," ucapku dalam hati sambil nyengir malu - malu di tertawakan mereka bertiga.


"Tenag aja Za, lu pantes banget," ujar Yusro sambil tertawa.


Aku hanya diam menerima semua ungkapan kebahagiaan mereka bertiga dan berkata dalam hati. "Kayaknya satu bulan ke depan akan serasa panjang."

__ADS_1


__ADS_2