
"Ohiya, besok lusa jangan lupa mampir ke angkringan gua, perempatan tugu polwan," ujar Mak Nita sembari menggelantungkan ranselnya di punggung.
"Makan - makan kan," sahut Yusro dengan semangatnya.
"Makan enak minum manis, bebass," jawab Mak Nita dengan tegasnya.
"Meluncur komandan," sahut Fauzi sambil beranjak berdiri.
"Bener lo ini, gua tunggu," tegas Mak Nita sambil menunjukan jarinya ke arah kami.
Ditengah membumbung tingginya sang surya yang sudah serong ke barat, kami semua segera membubarkan diri untuk meninggalkan warung santai itu. Masih beberapa langkah dari pintu keluar, ponsel Yusro berdering begitu lama yang menandakan panggilan masuk.
"Siapa Ro," tanyaku dengan segera.
"Aduh gawat, kenapa pak Prapto nelpon gua nih," jawab Yusro dengan wajah kaget dan panik.
"Lu cari masalah apaan ?" tanyaku kembali dengan segera.
"Mana gua tau, gua kan sama lu terus," jawabnya singkat, masih dengan kebimbangan antara menjawab atau menolak panggilan itu.
"Udah angkat aja, entar gimana lanjutannya kita terobos sama - sama," sahut Fauzi dengan wajah serius.
"Pokok enak, kita adepin sama - sama," sahut Syarif sambil menepuk pundak Yusro dari belakang.
"Kelamaan mikir dah," ujar Yusro dengan singkat sambil menekan tombol bulat berwarna hijau di layar ponselnya.
"Hallo, assalamu'alaikum pak," ujar Yusro dengan wajah senyum - senyum berbicara dari telepon.
"Waalaikum salam, Posisimu dimana ini sekarang," langsung dengan pertanyaan yang mematikan dari pak Prapto.
"Anu pak..." jawab Yusro dengan gugup karena masih berfikir strategi.
"Udah gini aja, langsung share lokasi," potong Pak Prapto dan langsung mematikan telfonnya.
"Gua udah enggak bisa lolos ini kayaknya," ucap Yusro sambil menatap pelan layar ponsel yang sudah berwarna gelap itu.
"Dahlah, lu kirimin lokasi aja langsung... entar kedepannya gimana pikir lahi," sahut Fauzi sambil berjalan mendekati motor.
"Lu mau lari nyet ?" ujar Yusro yang melihat niatan Fauzi.
__ADS_1
"Hahaha, bukannya mau lari gitu, gua cuman males jadi orang penting," jawab Fauzi sambil tertawa lepas.
"Kurang ajar lu," ucapku singkat dengan tatapan sinis.
"Hahaha, enggak - enggak tenang aja, aman," jawab Fauzi dengan wajah cengengesan.
"Gua bilang, ini bersama Fauzi dan Syarif, lalu beliau menjawab... oke bagus segera meluncur ke markas," ucap Yusro sambil tertawa dengan lepasnya.
"Kurang ajar lu," jawab Fauzi dengan wajah terbengong.
"Udah gih meluncur sana, ciwi - ciwi mau pulang dulu," sahut Nabila sambil menaiki motor.
Singkat cerita kami berempat langsung meluncur ke lokasi, tempat yang biasa di sebut sebut dengan pangkalan, yakni kediaman bapak Prapto. Dengan arahan yang telah diberikan kepada Yusro, perlahan - lahan kami menyisiri jalan kecil dalam perkotaan yang begitu sepi, dan terlihat di depan terdapat banyak sekali motor yang berbaris didepan rumah kecil di seberang jalan.
"Ehhh, itu ya ?" tanyaku kepada Yusro.
"Iya kali, coba aja masuk dulu," jawab Yusro dan langsung mendaratkan motornya bersama mengikuti barisan motor yang sudah ada.
"Iyadeh kayaknya, itu banyak pemuda pakek tas dan sepatu kayak anak kuliah," ucapku dalam hati sambil melepas helem.
"Lu jalan dulu Ro, gua sama Syarif di belakang lu," sahut Fauzi sambil melepas helem dan turun dari motornya.
Namun ketika kami berempat memasuki rumah kecil itu begitu terasa atmosfir yang sangat berbeda. Yah, ruangan yang tadinya penuh dengan kata dan tawa tipis seketika semua itu sirna bersamaan kami berempat memasuki ruangan.
"Idih, situasinya kok jadi ngeri kek gini, apa kami mau disidang ?" tanyaku dalam hati merasakan situasi ruangan yang sangat mencekam, lengkap dengan tatapan mata yang ku rasa tertuju kepada kami semua.
"Kesini le..." ujar Pak Prapto dari ruangan sebelah yang tengah duduk di kursi menghadap ruang depan dengan jemari yang menggapit satu puntung rokok.
"Ohh, iya Pak," jawab kami semua terkaget baru sadar beliau di hadapan kami dan segera mendekat ke arahnya.
"Saya mau minta bantuannya sedikit, sanggupkan," ujar beliau sembari bersalaman dengan kami berempat.
"Akan kami usahakan Pak," jawab Yusro dengan segera.
"Jadi gini, ini kampus kalian mau ada acara, dan saya bertugas untuk menyebarkan undangan kepada para tamu. Oleh karena itu, saya minta tolong kepada anak - anak saya di PBI ini untuk menyebarkannya," ujar Pak Prapto sambil memasang wajah sedikit memohon dan tegas.
"Ooo, iya Pak tidak apa - apa," jawab Yusro kembali dengan singkat,
"Ini rumahnya ada di daerah mana aja," tanya Pak Prapto kembali sambil menghisap rokoknya.
__ADS_1
"Saya dan Reza daerah barat pak, Fauzi timur, dan Syarif utara," jawab Yusro lagi.
"Utara sama timur sudah beres tadi, yang belum tinggal barat," jawab Pak Prapto singkat yang menusuk dalam ku rasa.
"Alhamdulillah kalau begitu Pak," dengan segera Fauzi dan Syarif menyahut dan tersenyum lebar memandangi kami,
"Apaan dengan wajah itu," ucapku dalam hati melihat wajah Fauzi dan Syarif yang memancing emosi.
"Baiklah kalau begitu, semua sudah menerima tugas masing - masing, segera berangkat keburu hari semakin gelap," ujar Pak Prapto dengan lantang sambil berdiri dan berjalan menuju ruang depan.
"Siap Pak," dengan bersamaan semua mahasiswa yang ada di ruangan itu menjawab dan bergegas menghampiri kendaraan mereka masing - masing.
"Untuk Yusro dan Reza ini undangannya, kalau enggak tau lokasinya tanyakan ke penduduk sekitar pasti tau, karena tamu undangan ini adalah orang - orang yang lumayan terpandang," ucap Pak Prapto sambil memberikan satu bendel undangan kepada kami.
"Ohh, iya Pak siap," jawab Yusro singkat sambil menerima undangan itu.
"Untuk Syarif sama Fauzi masak sana di belakang, persiapan teman - temannya pulang," ujar Pak Prapto sambil mendorong Fauzi dan Syarif ke arah dapur.
"Siap Pak," jawab Fauzi dengan senyum jahatnya melirik ke arahku.
"Awas aja nanti," ucapku dalam hati sambil membalas senyumannya dengan senyum jahat.
Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, aku dan Yusro segera bergegas meluncur ke daerah barat untuk menyebarkan undangan yang kami bawa.
"Kenapa lu mau Ro," tanyaku dari jok belakang.
"Mau apaan? nganter ini maksud lu ?" tanya Yusro kembali.
"Iyaa, kenapa lu mau, padahal ini makan uang bensin kita untuk besok lo," tanyaku kembali.
"Gini geng, di jaman yang udah amburadul kek begini sulit rasanya bagi manusia untuk mencapai puncak dengan hasil yang dapat dibilang nikmat tanpa adanya bumbu dari orang dalem, paham kan maksud gua," jawab Yusro dengan pelan namun masih butuh waktu bagiku untuk mencerna.
"Orang dalem ?" tanyaku lagi.
"Lu tau kan Pak Prapto adalah KA PRODI, jika kita bisa deket sama beliau, bukan masalah besar bagi kita dapat nilai A," jawab Yusro langsung membuat ingatanku tertarik mundur.
"Yang mau ikut drama aku jamin dapat nilai A di mata kuliah saya," ucap pak Prapto terngiang dalam ingatanku.
"Huahahaha, strategi lu bagus juga Ro," tawaku langsung terlepas setelah mengetahui tujuan Yusro.
__ADS_1