Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 43 : Drama mendekat


__ADS_3

Perlahan langkahku mulai menyebrangi penghubung dunia luar dan dunia dalam pada ruangan, ku jelajahi satu persatu setiap tatapan wajah yang kebanyakan menghunus lurus ke arahku yang barusan memasuki ruangan.


"Enggak masuk ya, apa belum sampai," ucapku dalam hati setelah menjajaki setiap wajah dalam duduk diam itu.


"Hufttt... beneran nggak ada," ucapku lagi sembari berjalan menuju kursi kosong paling belakang.


Yah, Sri tidak terlihat dalam ruang ini, sedikit lega dan hampa kembali membara membasahi sang sukma.


"Oii... Sarapan belum," tanya Jazul dengan kerasnya sembari berjalan ke arahku.


"Udah dong... kemarin siang," jawabku dengan pelan.


"Uluh uluh... pantesan lemes gini," ucapnya lagi sembari menghempas - hempaskan lenganku.


"Kalo ini efek kantuk, bukan laper," jawabku sembari menyilangkan tangan di atas meja.


"Yaelahh... baru juga sampe udah pasang posisi," ujarnya lagi sembari mendorongku kesamping dengan kuat.


"Diem, gua perlu fokus," ucapku sembari mendaratkan kepala pada silangan tangan.


Tidak perlu menunggu terlalu lama, terlihat rombongan dari Yusro melewati halaman depan kelas dengan bisingnya mesin motor yang ia tunjukan. Sesaat setelah suara motor itu reda, terlihat Pak Prapto yang memasuki ruang kelas dengan di ikuti Yusro, Fauzi, dan Syarif dari belakang. Dan pembelajaran pun dimulai.


Dengan durasi waktu kurang lebih dua kali empat puluh lima menit, jam pembelajaran pun selesai dengan ditutup oleh Pak Prapto yang memberikan pesan singkat begitu mengena.


"Yang berrugas drama, jangan lupa hari ini harus latihan, harus!!" tegas beliau sembari berjalan keluar ruangan.


"Harus latian lagi hari ini ya," ucapku sendiri sambil menatap lurus ke depan.


"Pak Wawan gimana, hadir enggak," tanya Syarif sambil berjalan ke depan.


"Hadir dong," sahut Arini lengkap dengan senyum manjanya.


"Ngapain masuk juga," sahut Yusro pelan dengan senyum jahatnya.


"Huss, kok gitu," jawab Arini dari bangku depan masih dengan senyum.


"Kantin yuk," ajak Syarif yang sudah berada di depan pintu kepada kami semua.


"Nggak, nggak usah kelamaan," jawab Yusro dan langsung beranjak pergi.


"Gua makan Roo," ucapku dengan keras namun lemah.

__ADS_1


Yah, hampir semua dari kami kaum adam meluncur bersama - sama menuju rumah makan kecil yang berada di pojok bangunan sisi barat. Dengan beranekaragam pesanan makan dan minuman kami duduk berkumpul dengan menikmati lantunan lagu dan beberapa helai rokok.


"Nanti kalo Pak Wawan udah sampai kabar - kabar geng," tulis Syarif pada grup whatsapp kelas.


"Siapp," jawab seseorang dengan nomor yang belum aku simpan.


"Ehh, ngomong - ngomong bulan bahasanya kurang berapa hari sih," tanya Aghni sambil menghisap rokoknya dalam - dalam.


"Berapa ya, sekitar sepuluh hari lagi keknya," jawabku sembari memutar balik mie rebus yang tadinya ku pesan.


"Hemm, hemm hemm..." sahut Fauzi sambil menggeleng - gelengkan kepala dan menunjukan angka tujuh dengan tangannya.


"Ooo, tujuh hari," sahut Fredi dengan tawa melihat tingkah Fauzi.


"Cepet amat ya," sahut Aghni sambil meminum lembut kopi hitamnya.


"Ngomong - ngomong, penampipan dari kelas jadinya apa Pak," tanyaku kepada Aghni lagi.


"Kalo rundingan dulu kan drama kolosal, tapi juga belum ada latihan sama sekali," jawab Aghni dengan santainya menghempuskan kepulan asap tembakau ke langit - langit.


"Sabtu ini latihan gimana," sahut Jazul sembari merampas sendok ku.


"Makan guys," ucapku dengan keras menutup kata dari Fauzi.


"Iyaa lu enakin aja, lokasi enaknya dimana Kek," sahut Agni dengan pelan dan bertanya kepada Fauzi.


"Alun - alun aja gimana, tempatnya pas kayaknya, luas, sejuk, banyak rerumputan, jadi bisa teriak sekeras kerasnya," Jawab Fauzi dengan sifat tegasnya yang keluar.


"Kan drama kolosal," sahut Yusro dengan kepala di tarik ke atas, lengkap dengan senyum sinisnya.


"Oh iya... hahaha," jawabnya lagi dengan tawa yang kami bantu bersama - sama.


Ditengah obrolan yang riuh penuh dengan tawa itu, tiba - tiba ponsel Syarif berdering dengan panjang perlahan masuk dalam gendang telingan setiap insan yang ada.


"Masuk geng, Pak Wawan barusan tiba," ucap Syarif sambil menatap ponselnya.


"Suruh pulang lagi, ngapain masuk pula," sahut Yusro yang membuat kami semua kembali tenggelam dalam tawa.


Dengan kondisi yang begitu memaksa, akhirnya kami semua segera menyudahi dan segera menghabiskan masing - masing pesanan yang tadi telah dipesan.


Singkat cerita, setelah kami semua kembali ke kelas dan menghabiskan jam pembelajaran yang ada, beberapa dari kami melanjutkan kepentingan mereka masing - masing, sedangkan aku dan Fauzi langsung meluncur ke ruang drama untuk latihan.

__ADS_1


"Gua tunggu di posko aja gimana," tanya Yusro kepadaku dan Fauzi.


"Boleh, gapapa... kalian masak sekalian," jawab Fauzi sambil menyalakan rokoknya.


"Wahh, gua sungka kalo enggak di suruh," jawab Yusro sembari meminta rokok Fauzi.


"Kita ke sana aja, entar disuruh masak juga," jawab Syarif dengan nada percaya dirinya.


"Yakin amat lu jadi manusia," sahutku sambil meminta rokok Fauzi juga.


"Boleh dicoba juga," sahut Yusro dengan santainya sambil menghembuskan asap rokoknya.


"Huahahaha," dengan kompak tawa kami langsung terlepas.


Dan pada akhir kata, kami berempat segera berpencar menjalankan kegiatan kami masing - masing.


"Lu udah hafal betul dialognya Zik ?" tanyaku kepada Fauzi yang masih berjalan menuju ruang drama.


"Nggak hafal juga sih, cuman udah tau inti dari pembicaraannya aja udah cukup bagi gua," jawabnya dengan santai.


"Hehhh, lu emang bisa lancar kalo dialog sama Sulastri ?" tanyaku kepada Fauzi.


"Hahaha, enggak... gua grogi tingkat dewa woii, gila apa berdialog drama dengan cewek yang cantiknya nggak ngotak," jawab Fauzi dengan tawanya yang begitu lepas dan ku ikuti.


"Hahaha, nah itu maksud gua, gua aja bayangin udah kacau nih otak," sahutku masih dengan tawa kecil.


"Pasti traveling, imajinasi liar kan," jawabnya dengan tawa lepas kembali.


"Hahaha, gile apa... nggak sampe ke sana juga kali," pembelaanku dengan tawa lepas, karena memulai traveling.


Yah, seiring termakanya waktu langkah kami terus bergulir menuju ruang latihan drama berlangsung, kami berdua terus berbicara dengan pembahasan yang sama namun dengan bumbu - bumbu imajinasi yang berbeda dan lebih menggila.


Singkat cerita kami telah selesai latihan dan hendak menutupnya, namun tiba - tiba dari jendela terlihat sosok bayangan tinggi besar yang sudah tak asing lagi ku lihat dalam ingatan.


"Loh, sudah selesai latihannya," tanya Pak Prapto kepada kami yang tengah duduk berkumpul di tepian ruang.


"Sudah Pak, sudah pada mau pulang ini," jawab Fauzi dengan santainya.


"Yasudah kalo gitu, tapi sebelum pulang kumpul dulu, ada pengumuman dikit," ucap Pak Prapto lagi sambil duduk di samping pintu masuk.


Dengan segera kami semua segera merapat duduk melingkar, dengan Pak Prapto yang berada di tengah - tengah. Dan Pak Prapto pun menyampaikan pengumumannya.

__ADS_1


__ADS_2