Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 51 : Angan yang indah


__ADS_3

"Ini dia yang kita tunggu- tunggu, penampilan drama dari tiga aliansi kelas yang berbeda... tepuk tangannya yang meriah!!!" ucap MC dengan lantang yang diikuti dengan teriakan sorakan para penonton yang heboh.


Dengan pelan dan anggun aku mengawali langkah dari menuju panggung pementasan bersama dua pemeran wanita yang asli berjalan didepan ku. Dengan logat layaknya wanita sungguhan aku mulai memamerkan keluwesan badan menari kecil mengikuti iringan musik penghantar.


"Eee, sudah sudah... kebanyakan goyang buat hati enggak tenang," Ucap Susan yang tengah berakting bersamaku sambil memukul pelan pinggulku.


"Iya... iya..." ucapku dengan lantang dan tegas mengenakan suara laki- laki yang kokoh.


"Ehh, maaf" sahutku kembali dengan langsung sambil menutupi wajah. Yahh, suasana drama yang heboh terkendali dengan seketika lepas kontrol dengan tawa yang membanjiri setiap sudut ruang aula tempat pementasan berlangsung, bukan hanya mahasiswa, melainkan di barisan depan yakni para hokagepun juga ikut meramaikan tawa yang seakan hilang kontrol tersebut.


"Maaf, maaf... tadi kelupaan," sahutku lagi dengan wajah malu- malu kepada semua penonton.


Yah, bukanya diam atau mereda, malah tawa itu semakin liar menerjang ke segala arah, bahkan Bella dan Susan yang seharusnya mampu menahan tawa dan beraksi bersamaku pun juga ikut merasakan kegilaan tawa yang menggema.


Beberapa puluh detik telah berlalu, dan terlihat banjiran tawa sudah mulai reda dan surut, dengan segera aku langsung kembali mengucapkan sepatah kata untuk mencoba memancing kemeriahan kembali.


"Sudah ?" tanyaku dengan singkat masih dengan logat wanita yang manja. Yah, seperti yang aku perkirakan, tawa para penonton kembali menggema dan melulantahkan semua kesedihan yang ada.


"Sudahh, sudahh... sebelum terjatuh korban," sahut Susan sambil menahan tawa. Yahh, bukanya mereda malah tawa semakin menggila untuk menggema.


Singkat cerita pementasan drama itu pun berjalan dengan lancar dan meriah, meski beberapa kali lupa naskah akibat demam panggung, untungnya rekan pemain yang tengah aktif di panggung ikut serta dalam mengisi kekosongan dialog yang menjadikannya semakin indah meski di luar konteks pembicaraan.


Setelah selesai penampilan, kami semua segera kembali ke lokasi make up untuk membersihkan diri, terutama aku, dengan seribu langkah aku menari melesat tanpa henti dan ragu langsung menuju ruang bawah untuk menyembunyikan jati diri. Sesampainya di sana, sebelum wajahku ku usap dengan tisu basah, tiba- tiba ingatan ini menghentikannya dan berucap, "Enggak nunggu Sri dulu, yang katanya mau berfoto."


Seketika gerakku terhenti dan mematung memandangi pintu ruangan berharap seseorang kan datang menghampiriku dengan tawanya yang riang. Yah, itu semua masihlah harapan semata.


"Hehhh, keknya bener apa kata Fauzi," ucapku dalam hati sambil tersenyum tipis menerima kenyataan kurang manis.


"Stopp!!!" teriak seseorang yang berlari dari luar memaksa masuk ke dalam.


"Jangan di hapus dulu, foto sama saya dulu," ucap wanita berhijab biru itu dengan nafas terengah- engah akibat berlari. Yah, itu adalah salah satu dosen dari prodi sebelah.

__ADS_1


"Ehh, malu Bu saya," jawabku singkat dengan wajah malu- malu.


"Enggak ada kata malu, cepet sini," paksanya sambil melambaikan tangan ke arahku.


"Hehehe, iya Bu."


"Senyum manis yaa..." ucap beliau sambil mengangkat ponselnya tinggi untuk berfoto selfie.


"Mohon maaf ya Bu, tapi jangan nyesel," jawabku singkat sedikit meledek, sambil mengaktifkan senyum manis nan tipis layaknya sinden panggung wayang kulit.


"Hahaha, astaghfirullah... kamu beneran laki- laki apa bukan sih," tegas beliau dengan tawa dan belum sempat kamera terlukis.


"Yahh, gimana lo Bu," jawabku singkat.


"Oke, gapapa saya ambil resiko kalah cantiknya," jawab beliau lagi sambil kembali mengangkat ponselnya tinggi - tinggi.


Akhirnya gambar yang begitu mengerikan yang tidak ingin segorespun aku menyimpan dan mengenangnya telah berhasil di lukis dan dimiliki seseorang yang sulit untuk ku gapai.


"Makasih ya, yaudah gih dibersihin itu, kasihan temen- temen yang lain, pada kalah cantik," ujar beliau sambil berjalan melangkah pergi.


Tepat ketika aku tengah sibuk membersihkan wajah bersama anak yang lain, terlihat dari pintu depan tengah berdiri seseorang yang mungkin sudah aku hilangkan harapan akan kehadirannya kepadaku.


"Noh, datang juga... meski agak telat," ucap Fauzi sambil tersenyum jahat.


"Gua bilang apa," jawabku sambil berdiri menghampiri Sri yang tengah berdiri di pintu depan.


"Lama banget," ucapku dengan senyum tipis menyapanya yang barusan tiba.


"Enggak deh kalo lama, lha kenapa udah di hapus," ujarnya dengan khas wajah sinisnya.


"Udah terlalu banyak rasa malu yang gua makan," jawabku dengan konyol mencoba menyairkan suasana.

__ADS_1


"Ihh, ngomong apaan sih," ujarnya dengan senyum tipis malu - malu.


"Jadi foto enggak, gua udah enggak cantik lagi nih," sahutku kembali.


.


"Terserah, enggak juga enggak apa apa," jawabnya langsung yang membuat senyumku langsung sirna.


Dengan segera langsung ku rampas ponselnya dan membalikan badan ke arah Fauzi yang tengah sibuk menghilangkan lukisan wajah yang begitu beragam.


"Zikk, gass!!" ujar ku sambil menjulurkan lengan yang tengah menggenggam ponsel Sri.


"Dah sini aja," ujar ku kembali sambil berdiri di samping Sri.


"Jangan gitu, gini aja," jawabnya sambil melingkarkan lengannya ke lengan kiri ku, yang tak pernah angan ini berandai sampai ke sana.


"Akkhhhh... Jantung gua mau lari kemana ini," ucapku dalam hati melihat reaksi dari Sri yang tengah berfoto denganku.


"Dah itu aja," ucap Sri kembali yang seketika memecahkan ku dari lamunan.


"Ehh, udah ? dapet berapa kok enggak terasa," jawabku dengan terkaget melihat telah selesainya sesi berfoto.


"Udah dapet banyak, lu nya aja yang cuman diem tanpa gaya," sahut Fauzi sambil memberikan ponsel Sri kembali.


"Udah yaa... aku mau kembali lagi ke atas," ujarnya sambil melangkah menyebarangi perbatasan pintu masuk dan keluar.


"Ehhh iyaa..." jawabku singkat masih dengan wajah yang kaget kehabisan mental.


"Makannya, kalo mau foto sama cewek cantik tu perlu persiapan mental... mentang - mentang udah ganteng enggak perlu persiapan," ledek Fauzi dengan tawa sambil meninggalkanku berdiri mematung.


"Sumpah, nih rasanya hangat di lengan masih terasa sampe sekarang Zik," ucapku masih berdiri diam melihat Sri yang perlahan menjauh.

__ADS_1


"Lu jangan mandi seminggu," jawabnya dengan tawa.


"Gua bakalan turutin jika harus enggak mandi sebulanpun, asalkan rasa ini tulus dan selalu se hangat ini," ucapku dalam hati sambil tersenyum sendiri mengelus- elus pelan lengan bekas dekapannya.


__ADS_2