Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BBB 19 : Getaran pertama


__ADS_3

"Yang pernah kenal IT segera naik, aku enggak sampai ini." Teriak Inayah dari lantai dua terlihat dengan jelas wajah kurang bersahabat nya.


"Ngapain ?" jawab Fauzi dari mushola dengan suara kerasnya.


"Udah cepat kesini aja." Bentak Inayah kepada Fauzi yang masih bertanya.


"Hahaha, iya iya..." jawab Fauzi dengan tawa melihat ekspresi Inayah yang begitu terburu - buru.


"Za, lu aja ke atas, lu yang udah sedikit paham dengan teknologi," ujar Fauzi kepadaku masih dengan tawanya tipis.


"Kenapa gua, gua kan ikan," jawabku sedikit melawak.


"Udah, jangan banyak tingkah," sahut Fauzi sambil melempari ku dengan kaos kakinya.


"Jorok woi !!" bentak ku sedikit.


"Cepetan Za, biar cepat kelar." bujuk Nabila kepadaku dengan wajah khawatirnya.


"Santai bos, gua sikat materi di atas," jawabku sambil berdiri dengan nada agak sombong.


"Udah cepetan naik, enggak usah banyak omong," ujar Fredi sambil menendang ku pelan dari belakang.


"Iya iya," sahutku sambil menyahut laptop di lantai.


Dengan semangat ku lalui untaian anak tangga yang berbaris dengan rapihnya menuju ke lantai dua tempat pembinaan berlangsung.


"Yah gini dong, agak menantang." Senyum tipis ku ukir kan di wajah mendengar kata yang berkaitan dengan kecintaanku terhadap teknologi.


Sembari menungguku kembali dari bimbingan di lantai dua, seperti biasa manusia - manusia yang berpangkat teman menunggu di serambi mushola dengan iringan musik canda tawa yang begitu terasa sampai naik ke lantai dua.


"Gua baru sadar kalau obrolan kami bisa sampai naik ke lantai dua," ucapku dalam hati sambil menelan ludah.


"Pantesan pegawai di ruang admin sering marah - marah," ucapku lagi dalam hati, sembari tersenyum nyengir.


Detik demi detik tak terasa telah bersatu dan berkumpul menjadi menit, membuat relung waktu yang begitu cekung dalam barisan waktu di tengah lingkaran hari. Tanpa sedikitpun ku nikmati, habis sudah penjelasan tentang tatacara mengupload data pendaftaran beasiswa yang tadinya aku berharap akan sedikit lebih jauh menjajaki dunia maya internet.


Dengan sedikit rasa kecewa atas kurangnya kenikmatan mempelajari ilmu berbasis teknologi, kembali ku lewati satu persatu anak tangga yang meluncur ke bawah itu dengan pelan dan santainya.


"Hmmm, yasudah lah... emang cuman segitu yang di butuhkan untuk daftar, mau gimana lagi," ucapku dalam hati sambil menghembuskan nafas dalam - dalam.


"Ayo Za, cepat," ucap Frade dengan begitu keras dari serambi mushola yang melihatku baru turun dari tangga.


"Iya iy..." kataku terhenti setelah melihat ada seorang wanita dengan kerudung merah yang begitu putih dan cantik duduk di sebelah Fredi.


"Ehh, itu Sri kenapa ada di situ," ucapku dalam hati.

__ADS_1


Yah, aku bisa membayangkan bagaimana raut wajah dan ekspresi ku saat ini. Begitu grogi dan salah tingkah ketika hendak menghadapi wanita yang di kabarkan Fredi menyukaiku, meski itupun belum sepenuhnya falid.


"Mana nih tempatku, hehehe," ucapku dengan wajah yang begitu ragu dan setengah - setengah untuk berekspresi.


"Akhh, ngomong apaan sih gua, pertanyaan gak guna," ucapku dalam hati yang begitu kacau akan rasa ini.


"Hahaha, sini - sini," jawab Fredi sambil membersihkan lantai di sebelahnya.


"Lah enggak usah, sini aja," jawabku sembari mencoba menenangkan diri.


"Aku dulu yang belajar," ujar Sri dengan senyum menggodanya sambil mendekat ke arahku.


"Sini dong," ucapku dengan nada melawak namun di dalamnya menelan ludah kegugupan.


Tanpa adanya jawaban kata, ia hanya membalasnya dengan lirikan sinis di tambah senyum tipis yang malu - malu sembari beranjak dari duduknya dan berpindah di sebelahku.


"Perasaan apa ini ?" ucapku dalam hati bimbang dengan rasa yang kini ku rasakan.


"Intimidasi, yah... ku rasa itu," ujar ku kembali dalam hati mencoba merasakan, rasa yang tengah ku alami kini.


"Oke kita mulai," ucapku dengan nada mencoba santai sembari menghembuskan nafas yang aku tarik dalam - dalam.


Dengan gugup yang bercampur dengan ketidak pastian rasa, aku mencoba menjelaskan sedikit demi sedikit tatacara mengupload berkas yang di butuhkan, meski beberapa kali gagal fokus atas tanggapan yang ia lontarkan.


"Nah, abis itu kirim," ucapku sambil mengakhiri penjelasan yang sejak tadi aku sampaikan.


"Oh begitu, oke makasih lo ya," ucapnya dengan santai.


"Hehe iya," jawabku dengan senyum ragu - ragu, masih dengan tekanan grogi yang ku alami.


"Yasudah aku kembali dulu," ujar Sri lagi sambil mematikan laptopnya.


"Eh, mau kemana, enggak ngajarin yang lain dulu ?" tanyaku dengan segera setelah melihatnya akan pergi.


"Aku ada acara mendadak ini," jawabnya singkat sambil memasukan laptopnya ke dalam tas.


"Lah, gua kira mau ngajarin temen - temen sama gua" ucapku dengan nada menggoda yang tersirat.


"Hahaha, lah lu bisa aja," sahut Fredi yang disertai dengan tawanya.


"Sudah gede ya sekarang," sahut Yusro pula dari pojok dinding.


Dan si Sri hanya menanggapinya dengan senyum sinis malu - malu seperti biasanya.


"Udah gua aja lu ajarin, nanti kita ngajarin teman - teman yang lain," ujar Fauzi dengan nada yang menggoda.

__ADS_1


"Idih, gua yang jijik," sahutku dengan nada yang sedikit menjauh dari Fauzi.


"Ketahuan dia, maunya sama yang enak - enak," sahut Yusro sambil tertawa lepasnya.


"Ehh, ya enggak gitu woi," ujar ku mencoba membela diri.


"Besok aja lagi," sahut Sri dengan nada yang pelan begitu menggoda.


"Ehh," jawabku dengan begitu singkat kehabisan kata - kata setelah melihat respon darinya. Yah aku hanya terdiam kebingungan dengan gugup ku.


"Aku mau juga dong," sahut Yusro dari pojok dinding.


"Lha aku sama siapa," sahut Syarif ikut serta meramaikan suasana.


Tanpa adanya tanggapan ia langsung meneruskan langkahnya untuk berjalan menjauh dan menghilang dari pandangan kami semua. Yah, aku hanya terdiam dengan seribu angan yang beterbangan dalam pikiran.


"Apa benar ya kata Fredi," ucapku dalam hati sambil melirik ke arah Fredi yang tengah ramai bercanda ria dengan yang lainya.


"Aiss, sudahlah... enggak usah terlalu di pikir dalam, selesain ini dulu aja... fokus, fokus, fokus." Sambil menepuk kan telapak tangan keras - keras ke pahaku, hati ini berkata sembari membangunkan ku dari dalamnya lamunan yang tanpa dasar.


"Yok, Ro, Zik, Rif... gua ajarin sini, kita selesain semua ini dengan cepat," ucapku dengan semangat yang berkobar - kobar.


"Udah selesai berimajinasi nya ?" tanya Yusro sambil mendekat ke sampingku.


"Hahaha, gua bungkam dulu ekspektasi yang gua buat," jawabku dengan senyum pelan.


Yah, tidak terlalu kami rasakan waktu yang berjalan dan berlalu, singkat cerita akhirnya dengan kerjasama dan kekompakan yang baik, kami semua telah selesai mendaftarkan diri kami untuk memperoleh beasiswa, untuk kelanjutannya tinggal menunggu hasil seleksi yang lolos dan layak mendapatkannya.


"Huft... kelihatanya kelas kita yang pertama selesai," ujar Fauzi sambil menghembuskan nafas oksigen kelelahan.


"Gua rasa iya," jawabku sambil melihat sekeliling.


"Iya, gua mau nanya... ngomong - ngomong ini laptop kita kok lancar amat jaringannya, melihat semua orang kendala di jaringan," ujar Fauzi dengan bingung bertanya kepadaku.


"Hehehe, laptop yang kita pakai beda jaringan dari yang lain, itu intinya," jawabku singkat dengan senyum jahat.


"Maksud luu ?" tanya Syarif masih dengan kebingungan.


"Dia hack," jawab Yusro singkat sambil memainkan laptop.


"Hehehe," jawabku dengan tawa kecil sambil mengisyaratkan jari untuk diam.


"Ooo, pantesan mulus amat," jawab Fauzi dengan senyum tipisnya sembari menggapai laptopnya.


Untuk memperlancar jaringan yang sempat kami tarik dengan paksa, kami berempat memutuskan untuk segera meninggalkan lokasi perkara, agar koneksi yang berjalan kembali normal dengan semestinya.

__ADS_1


__ADS_2