
"Hari ini kita latihan ya ?" ucapku kepada Fauzi.
"Iya, lu belum masuk grup ya,"
"Belum lah, masih tadi pagi dapet nomor,"
"Ke warung dulu yuk, lapar gua," sahut Yusro masuk dalam pembicaraanku dengan Fauzi.
"Boleh, gua ngopi aja... udah sarapan tadi," jawab Fauzi sambil mengambil ranselnya.
"Rif, ikut nggak," ucap Fauzi lagi dengan keras.
"Mana ?" jawab Syarif sambil agak mendekat.
"Pojok utara," sahut Yusro sambil menoleh ke arah utara.
"Lu duluan aja, gua tunggu di mushola," jawab Syarif sembari duduk kembali.
Akhirnya hanya kami bertiga yang beranjak menuruni tangga dari lantai tiga di gedung Universitas Negeri Unggulan menuju tempat pelipur lapar di seberang jalan pojok utara.
"Entar latihan drama lagi jam berapa ?" tanya Yusro kepada Fauzi.
"Kalo sesuai perjanjian sih jam satu, lah tapi juga enggak pernah tepat waktu," jawab Fauzi sembari berjalan menuruni tangga dengan pelan.
"Warga negara Indonesia ya Mas ?" tanya Yusro lagi dengan nada meledek.
"Iya Mas, salam kenal ya," jawab Fauzi sambil memberikan tangannya.
"Ehh tunggu bentar, gua ada ide," sahut Fauzi lagi setelah melihat ke bawah di ujung tangga.
"Gimana Zik," tanyaku sambil berhenti melangkah.
"Lu tunggu di sini dulu, gua ada rencana," ujar Fauzi sambil tersenyum jahat.
"Senyum kayak gitu... apaan lagi nih," ucapku dalam hati setelah melihat Fauzi nyengir.
"Lu panggil tu Syarif, lu bilang gua ajak mantab - mantab," ujar Fauzi sambil berjalan mendekati seorang wanita di penghujung tangga.
"Ehh... gimana,"
"Udah lu cari Syarif ajak ke sini, gitu aja," ucap Yusro sambil mendorongku menaiki tangga kembali.
"Lah kenapa gua." Dengan nada protes aku menjawab.
"Enggak usah banyak tanya," jawab Yusro sambil mendorongku terus ke atas.
Akhirnya aku kembali menjajaki anak tangga yang sudah pernah ku hapus jejak langkahku sampai di pertengahan lantai satu kini aku harus kembali ke atas menuju lantai tiga tempat kami mulai turun tadi untuk menjemput Syarif yang masih tertinggal. Sesampainya di ruangan tempat kami meninggalkan Syarif, terlihat ruangan itu sudah kosong tanpa adanya penghuni.
__ADS_1
"Sudah pada hilang ke mana ni anak," ucapku dalam hati.
"Ehh itu bukanya Arini," ucapku sendiri dengan pelan setelah melihat di penghujung lorong kelas ada seseorang.
"Nyill !!!" teriakku sambil berjalan menuju ke arahnya.
Karena tergesa - gesa dan lupa akan tempatku sekarang, dari ruang sebelah ada banyak sekali sorotan mata yang mengarah kepadaku akibat teriakan ku barusan.
"Aduh gua lupa..." ucapku dalam hati dengan malu sambil berjlan cepat.
Benar saja, ternyata itu adalah Arini dan anak - anak yang lain, mereka sedang melihat lihat ruang sebelah yang masih dalam masa pembangunan.
"Nyil, ngapain pada di sini ?" tanyaku dengan nafas tersendat- sendat akibat kelelahan.
"Ehh Reza, ini lo mau lihat pemandangan dari sini." Masih dengan ciri khasnya di akhir kata senyum dan tawa.
"Pemandangan ?" ucapku dengan nada kebingungan.
Yah, terlihat begitu memanjakan mata dengan sudut pandang dari ketinggian lantai tiga, terlihat dengan begitu jelas atap - atap rumah yang berada di sekeliling lokasi Universitas lengkap dengan pemandangan awan dan gunung dari kejauhan membuat nilai tambah akan tangkapan mata.
"Wih, ada yang kayak gini di sini," ucapku sendiri dengan kagum akan apa yang ku lihat kini.
"Loh, lu ngapain masih di sini," tanya Syarif dari tepian bangunan.
"Ehh ehh... jangan minggir - minggir woi, gua ngeri liatnya," jawabku sambil sedikit melipat lutut akibat ngeri melihat ketinggian.
"Woi Rif," ucapku dengan nada mengintimidasi.
"Hahaha... iya iya." Tawa Syarif sambil berjalan mendekatiku.
"Dipanggil Fauzi lu," ujar ku sambil menarik lengan tasnya dengan paksa.
"Kemana woi," jawab Syarif tanpa perlawanan.
"Gua juga belom tau, ikut aja dulu napa," sahutku sambil berjalan hendak turun kembali.
Singkat cerita kini aku dan Syarif telah sampai di lantai paling dasar bersama Yusro yang masih menunggu di penghujung tangga dan Fauzi yang masih ngobrol dengan wanita yang waktu tadi. Melihat aku dan Syarif sudah di lantai dasar bersama Yusro, Fauzi langsung menyudahi pembicaraannya dengan wanita tadi dan berjalan menuju kami bertiga.
"Yok ikut gua," ujar Fauzi sambil berjalan menuju tempat parkir motor.
"Ehh... kemana woi," sahut Yusro dengan kebingungan.
"Mantab - mantab," jawab Fauzi singkat sambil nyengir sinis ke arah kami.
"Pertanda buruk apa baik itu senyum," ucapku dalam hati setelah melihat senyum Fauzi.
Dengan segera kami langsung bergegas menuju tempat parkir untuk mengambil motor mengikuti instruksi dari Fauzi. Tak begitu lama roda motor bergesekan dengan aspal, akhirnya gesekan itu telah berhenti setelah kurang dari setengah jam kami melintasi padatan aspal hitam yang bertabur lurus penghubung antar sendu.
__ADS_1
"Rumah siapa ini Zik." Tanyaku sambil melepaskan helem.
Tergambar rumah tua yang begitu megah tengah berdiri dengan kokohnya di hadapan kami berempat, dengan berhiaskan bahan mentah kerupuk kipas yang begitu lebar tengah di jemur di pelataran rumah dengan beralaskan bambu yang di susun dengan kuat.
"Lu mau ngerampok di pabrik kerupuk ?" tanya Yusro kepada Fauzi dengan nada melawak.
"Ngerampok ?" jawab Fauzi sambil tertawa tipis.
Tidak perlu menunggu waktu lama, terlihat ada seorang wanita yang keluar dari dalam rumah yang langsung menyambut kedatangan kami dengan begitu ramah. Yah itu adalah seseorang yang tadinya berbicara dengan Fauzi beberapa waktu lalu.
"Eee... sudah datang, silahkan masuk," ujar wanita itu dengan senyum.
"Ayok..." ajak Fauzi sambil berjalan menuju pintu masuk.
"Silahkan duduk dulu Mas," ujar wanita itu setelah menyalami kami dari pintu masuk.
"Saya tinggal ke belakang sebentar ya Mas." Izin wanita itu kepada kami semua.
"Eeehh... enggak usah repot - repot," sahut Fauzi atas izin wanita tadi.
"Nih anak, enggak ada akhlak bener," ujar ku dalam hati melihat tingkah Fauzi.
"Hehehe iya Mas," jawab wanita itu dengan tawa tipis dan langsung berjalan menuju ke belakang.
"Siapa tu Zik," tanya Yusro.
"Alah temen organisasi," jawab Fauzi dengan santainya.
Kurang dari lima belas kami menit kami duduk dan berbincang- bincang pelan, terlihat wanita yang tadi keluar menghampiri kami sambil membawa beberapa cangkir kopi hitam.
"Lah, dibilangin jangan repot - repot kok," ujar Fauzi sambil nyengir dan menurunkan kopi itu di meja.
"Enggak repot ini Mas," jawab Wanita itu masih dengan tawanya pelan.
"Eh Nis, ibuk ke mana ?" tanya Fauzi dengan santainya sambil meletakan kopi pada meja di depan kami.
"Haa ? ibuk ?" tanyaku dalam hati sambil menoleh ke arah Syarif dan Yusro yang kini juga menatapku dengan terbengong.
"Ada di belakang, tapi masih goreng kerupuk Mas," jawab wanita itu dengan santainya pula.
"Ehh, dia juga jawab dengan santai ?" tanyaku sendiri di dalam hati.
"Kalau begitu bentar ya Mas, saya bilang ibuk dulu." Izin wanita itu lagi kepada Fauzi.
Hanya dengan anggukan Fauzi menjawab sembari meminum kopi hitam yang panas itu dengan pelan dan wanita itu langsung bergegas ke belakang lagi.
"Ehh siapa itu Zik," tanyaku dengan penuh penasaran.
__ADS_1
"Temen gua, gimana sih," jawab Fauzi dengan senyum - senyum sambil mencoba menegaskan.