Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 18 : Dalih Fredi


__ADS_3

"Laptop udah lu bawa ?" tanya Yusro kepadaku sambil mengenakannya sepatu di depan kamar.


"Udah, aman." Dengan membawa sepatu, aku duduk di samping Yusro.


"Oke, meluncur." Sembari berdiri dan mengedepankan langkahnya, Yusro beranjak mengambil motor di garasi tempat kami menimba ilmu dan berteduh.


Seperti waktu - waktu yang telah berlalu, kini sang mentari telah menampakan dirinya dengan sempurna jauh di ufuk timur. Dengan kecepatan santai di atas rata - rata, Yusro menghampirinya menggunakan mesin hijau beroda dua dengan berlebel kan jupiter, tanpa rasa bimbang sedikitpun, namun masih dengan sisa - sisa kelelahan yang terasa samar di waktu kemarin lusa.


"Lu tanya Fauzi, langsung ke mushola apa masuk kelas dulu ?" ujar Yusro yang sedang menyetir memerintahkan ku untuk mengirim pesan ke Fauzi.


Langsung pula ku buka ponsel dan segera ku langit kan pesan singkat dari Yusro kepada Fauzi, belum sempat aku memasukan kembali ponselku terasa dua kali getaran menggerakkan jemariku yang tengah memegang ponsel. Yah itu jawaban dari Fauzi.


"Langsung ke mushola aja," jawab Fauzi dengan singkat.


"Langsung mushola Ro," teriakku dari dalam helem menyalurkan pesan dari Fauzi dan Yusro hanya menjawab dengan anggukan.


"


Tidak membutuhkan waktu lama, kini kami telah sampai di Universitas tempat kami menuntut ilmu yang berkedok ijazah. Tanpa berlama - lama lagi, melihat memang dari awal kami berdua sudahlah telat, kami langsung berlari menuju mushola tempat perjanjian dengan geng Powerangger. Yah terlihat dari kejauhan dua manusia yang duduk berhadapan dengan asap rokok yang mengepul di tepian serambi mushola.


"Lah, itu Fauzi sama Syarif udah ada di sana," ujar ku dalam hati melihat dua manusia yang sudah tak asing lagi bagiku.


"Lama amat." Sambut Syarif setelah kami berdua tiba di mushola.


"Jalanan macet banget, banyak anak sekolah yang berangkat," ujar Yusro mencoba memberikan alasan palsu.


"Mana ada jam segini berangkat sekolah," sahut Fauzi dengan tawa, setelah mendengar alasan dari Yusro yang kurang profesional.


"Ada, satu motor dua orang," jawabku membela alasan dari Yusro.


"Elu, hahaha," sahut Syarif dengan cepat sambil tertawa lepas.


"Ehh, ngomong - ngomong lu enggak masuk kelas ?" tanyaku kepada Syarif dan Fauzi yang tengah menikmati rokoknya.


"Lah, cuman satu jam pelajaran, males gua...toh juga cuman itu - itu nanti yang di jelasin Bapak Wawan," jawab Fauzi dengan santainya.


"Hahaha, elu merhatiin juga ternyata, gua kira cuman gua seorang yang ngerasa," sahut Yusro dengan tawa lepas.

__ADS_1


"Terus ini nanti gimana aturan mainnya ?" tanyaku kepada Fauzi yang mulai mengeluarkan laptopnya.


"Nanti ada yang ngajarin katanya," jawab Fauzi singkat sambil mengeluarkan asap rokoknya.


"Entar sinyal Wifi bakalan susah kayaknya," ucapku sendiri sambil duduk di serambi hendak melepas sepatu.


"Eh kenapa ?" tanya Yusro dan mereka bertiga melihatku dengan wajah penuh penasaran.


"Logikanya aja, kan nanti banyak yang daftar, Wifi yang terlihat pasword nya cuman sini... otomatis nanti semua anak bakalan kesini nyari Wifi, ala hasil rebutan sinyal, dan semua jadi terasa lamban," jawabku sambil memberikan penjelasan panjang lebar.


"Ooo, begitu," jawab mereka bertiga bersamaan dengan polosnya.


"Kecuali lu mau pakai ponsel lu buat hotspot," ujar ku lagi sambil tersenyum jahat.


"Demi apa, demi apa," ujar Fauzi dengan logat konyolnya.


"Gorengan lah!!" teriak kami semua dan diikuti dengan tawa.


Yah, hari ini adalah hari pendaftaran beasiswa melalui jalur online, kami berempat berencana untuk membantu teman - teman sekelas untuk kelancaran dalam pendaftaran dikarenakan tidak sedikit dari manusia sekelas kami yang tidak memiliki laptop. Tidak perlu memakan waktu terlalu lama bagi kami untuk bercanda tawa, terlihat dari arah kelas yang kami berempat tinggalkan gerombolan manusia keluar bersamaan dari dalamnya, dan langsung menuju ke arah kami.


"Udah lu beritahu suruh ke sini ?" tanya Yusro kepada kami.


Terlihat Fredi dengan langkah kaki O nya berjalan dengan cepatnya memimpin di barisan paling terdepan, sambil tersenyum memandang ke arahku yang tengah duduk di tepian serambi mushola.


"Ngapain tu anak," ucapku dalam hati melihat Fredi yang menuju ke arahku.


"Za, lu ngajarin gua," ujar Fredi dengan tegas setelah sampai dan duduk di sampingku dengan tangan melingkar di punggungku.


"Ayok, segera naik dan kita selesain," sahutku sambil berdiri.


"Lu udah tau caranya ?" tanya Fredi kepadaku.


"Belum juga sih," jawabku singkat sambil nyengir ke arahnya.


"Hahaha, ngelawak lu ya," tawanya yang begitu ikhlas dengan leluasa tersebar di berbagai sudut serambi.


"Zik, elu enggak mau naik ke atas nyari informasi," ujar ku kepada Fauzi yang masih berada di tepian serambi.

__ADS_1


"Enggak usah Za, tadi mbak Inayah sama mbak Maharani udah nyari info ke atas," sahut Arini sambil duduk di tepian tembok.


"Eee, berarti tinggal nunggu itu ya," jawabku sambil membuka laptop di sebelah Fredi.


"Za, gua ada cerita nih, hahaha," ujar Fredi sedikit berbisik.


"Apaan ?" tanyaku dengan singkat sambil menyalakan laptop.


"Lu tau Sri ? dia punya rasa sama elu lo," ujar Fredi mengagetkanku.


"Lah, ngaco lu, mana ada yang mau sama gua... udah orang desa, bokek mulu, jarang mandi pula," jawabku sambil sedikit tertawa malu - malu.


"Beneran, dia sendiri yang bilang ke gau," ujar Fredi lagi sambil menepukkan tangannya ke pundak ku.


"Nggak percaya gua, suruh dia bilang ke gau sendiri," jawabku masih dengan senyum malu - malu.


"Tunggu aja, entar dia minta ngajarin upload elu," ucap Fredi dengan tawa tipis yang membuat ku semakin tidak yakin.


"Iya deh iya... gua tunggu," sahutku dengan tenang memainkan laptop.


"Beneran enggak sih," tanyaku dalam hati sembari ku hela nafas dalam - dalam dan menghembuskan nya.


"Lu ada rokok nggak," tanyaku kepada Fredi yang masih duduk di sampingku.


"Surya," jawab Fredi sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari saku jaketnya.


"Nah, mantab..." ucapku sembari mengeluarkan dan menyalakannya.


"Ehh Za, kok ngerokok sih," sahut Nabila yang berada di tepian serambi.


"Emm, iya... kenapa," jawabku kebingungan.


"Wajah - wajah enggak pantas jadi perokok," ucapnya singkat dengan nada membunuh yang langsung menancap di dada.


"La iya, sangat tidak sepadan." Tambah Arini yang duduk di sebelah Nabila.


"Hahaha," tawaku pelan dengan ragu - ragu sambil menghembuskan kepulan asap dari mulut dan hidung.

__ADS_1


"Emang iya? wajah gua enggak pantes bersanding sama rokok ?" ucapku dalam hati masih dengan kepulan asap di mulut sambil nyengir tipis.


Seperti waktu - waktu sebelumnya ketika kami semua berkumpul di tempat dan waktu yang sama, fenomena keindahan alam pun terjadi pula. Keindahan goresan tipis di bibir dengan nada tawa riang menjadi buah hasil atas kelakuan tindak kan melempar candaan demi candaan ke segala arah sampai menutup celah waktu yang membuat indra ini buta akan tujuan awal kami semua berkumpul di tempat relung waktu ini.


__ADS_2