
Masih di tempat yang sama dengan waktu yang selalu berbeda,
kini semua mata mahasiswa baru hanya tertuju padaku dan yusro. Yah ini adalah
hasil dari kelakuan anak tinggi besar dengan kulit sawo matang yang belum aku
ketahui siapa namannya.
“Eh, apaan sih,” ucapku sembari melepaskan tangannya dari
pundakku.
“Asik ni anak,” ujar Yusro sembari membalas rangkulanyya
dari belakang.
“Anak kota ya ?” tanya pemuda itu kepadaku dan Yusro.
“Iya kota, kota hilang,” jawab Yusro sambil tertawa.
“Eh, beneran bambang,” sahut pemuda itu lagi sambil
mempererat pelukan di pundak Yusro.
“Enggak, kita dari desa,” jawabku pelan.
“Lah, masak ?” ujarnya lagi dengan nada kaget menghadap
kepadaku.
“Iyalah, kalau kota, kota Hongkong apa,” sahut Yusro lagi
meledek pemuda yang kini sedang merangkulnya dari belakang.
“Lah, elu lagi,” jawab pemuda itu sambil mengencangkan
pelukanya lagi.
Disitu kami bertiga heboh dengan sendirinya. Tidak
membutuhkan waktu lama ada seorang pemuda yang sudah tidak asing lagi bagiku
berbicara di depan kelompok C sembari menginstruksikan untuk segera masuk ke
ruangan G5 di lantai satu pojok bagian utara. Yah itu adalah Agni.
Dengan instruksi yang begitu jelas, kami semua segera
berjalan dengan asingnya menuju lokasi yang telah di instruksikan Agni tadi. Sesampainya
kami semua di dalam ruang kelas, kini Agni berada di depan kelas kembali untuk
memperkenalkan diri dan mengajak untuk menetapkan siapa yang akan di tetapkan
untuk menjadi ketua kelas dalam PBI ROMBEL C.
“Alah elu aja,” sahut seorang pemuda dengan rambut gondrong
berjenggot yang kini duduk di depanku, bangku nomor dua dari belakang.
“Ya enggak begitu Mas, kalau langsung saya ambil alih,
kesanya saya agak otoriter nanti,” jawab Agni dari depan.
“Alah kelamaan, siapa yang enggak setuju Agni jadi ketu
kelas !!” tanya pemuda gondrong dengan suara lantang dank eras kepada semua
yang hadir dalam ruangan.
“Kayaknya dapat kelas
bar – bar,” ucapku dalam hati sambil senyum – senyum sendiri.
“enggak ada yang keberatan kan, kalau Agni jadi ketua kelas,”
ujar pemuda gondrong itu lagi kepada kami semua.
“Nah, sah sudah,” jawab pemuda itu sendiri karena tidak ada
yang mengajukan kata seorang pun.
“Yasudah, terimakasih untuk dukungannya dari teman – teman,
__ADS_1
saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi ketua kelas dalam PBI
Rombel C,” ujar Agni dengan lantang di depan kelass.
“Kayaknya kita semua butuh kenalan yak,” ucap pemuda yang
berdiri menyandar pada tembok di belakangku.
“Kayaknya ide bagus, yasudah silahkan memperkenalkan diri,
alamat, dan asal sekolah,” ujar Agni dari depan keLas.
Satu persatu mahasiswa yang tengah duduk di bangku masing –
masing, kini dengan bergantian berdiri dan memperkenalkan diri mereka. Sampai aku
mengetahui pemuda tinggi besar kulit sawo matang yang tadinya di luar dengan
akrabnya ngobrol denganku dan Yusro menyandang nama Jazul, pemuda dengan rambut
gondrong lengkap dengan jenggot yang sejak tadi berbicara dengan lantang
menyandang nama Syarif, dan pemuda di belakan yang berdiri kayak pengusa, meski
aku sendiri juga meragukan hal itu menyandang nama Fauzi.
Ku anggukan kepala pelan dan mulai ku ingat nama mereka
masing – masing dengan kesan sebagai penanda mereka. Kembali ku susuri setiap
wajah asing yang ku lihat dalam ruangan ini, tiba – tiba tatapku terhenti
ketika melihat seorang pemuda dari bangku pojok belakang bagian barat, lurus
deretanku ke samping. Dengan ciri khas yang sangat menonjol, aku langsung
mengetahui pemuda itu, dan segera memberikan laporan kepaada Yusro.
“Eh Ro, lu lihat anak itu,” kataku sambil menunjuknya dengan
sorotan mata.
“Anak mana ?” tanya Yusro mencoba melihat ke arah yang telah
“Mana sih,” ucap Yusro kepadaku kembali, karena tiddak
menemukan hasil dari arahanku.
“Lu ingat enggak, anak yang dulu satu ruangan dengan kita
waktu ujian? anak metik,” ujar ku kepada Yusro, dan kini dia langsung
menatapku.
“Metik ? hahahaha.” Tawanya langsung pecah mengingat seorang
pemuda entah siapa namanya yang dulu pernah kita temui waktu ujian masuk
Universitas. Karena dulu kami tidak mengetahui namannya siapa, akhirnya kami
pun memberinya nama sendiri, guna untuk mengingatnya. Metik, itu nama yang kami
berdua berikan.
Dengan segera Yusro langsung memindai setiap wajah, dan
hasilnya ia menemukan yang dicarinya. Untuk yang kesekian kalinya tawa kami
terlepas menggelegar.
“Apaan sih rame amat,” ucap Syarif, pemuda gondrong dengan
jenggot yang melontarkan setiap kata dengan nada yang kurang bersahabat.
“Bukan apa – apa, ini lo, jompol lucu amat,” jawab Yusro
dengan polosnya menunjuk jempol tangannya sendiri.
Melihat tingkah Yusro yang konyol, di tambah dengan ingatan
akan “Metik” kini membuat tawaku lebih menjadi lagi. Ditambah lagi, kini Syarif
terus saja dengan kepo bertanya kepada kami tentang apa yang kami tertawakan. Ya,
__ADS_1
pemuda gondrong yang sangar itu ternyata tidaklah sejahat dengan logatnya,
meski dia selalu melontarkan kata dengan nada yang kuurang bersahabat, namun
kenyataanya dia sangat konyol ketika berbicara.
Tidak lama ada seorang dosen dengan langkah kecil cepatnya
segera masuk dan duduk di bangku guru di depan kelas, seperti halya awal – awal
masuk sekolah, beliau memperkenalkan diri sebagai Suprapto, bisa di panggil
dengan Bapak Prapto sambil bercerita sedikit tentang lingkup Universitas. Yah,
namanya juga anak baru, kami semua hanya diam mendengar cerita dari beliau.
“Itu anak kembar paling belakang, saya lihat hobinya
bertarung,” ujar Bapak Prapto kepadaku.
“Hahh, saya ?” tanyaku pelan dengan kaget, melihat ke kiri- kanan dan baru ku sadari kini semua mata
langsung tertuju kepadaku.
“Aku hobi bertarung ?
enggak slah nih,” ucapku dalam hati sambil nyengir tipis.
“Halo petarung.” Sapa Yusro meledekku dengan tawa yang ia
tahan.
“Apaan sih,” ucapku menjawab ledekan dari Yusro.
“Saya lihat – lihat kalian berdua ini suka berantem ya,
hobinya nyari rebut,” ujar Bapak Prapto lagi sambil memegangi dagunya.
“Tuh kan, elu sekalian,” ucapku pelan sedikit berbisik
kepada Yusro.
“Gua sudah diam lo, masih kena juga,” jawab Yusro dengan
bisik kepadaku.
“Kalau itu kanannya, dua cewek cantik…” Beliau berhenti,
tidak meneruskannya, yah sekali lagi semua mata tertuju mengikuiti ucapan
Beliau.
“Saya enggak tau hobinya apa,” setelah lama terdiam
berfikir, Bapak Prapto melanjutkan katanya.
“Yang membawa Wawan ya,” ujar beliau lagi kepada dua cewek
yang duduk di deretan bangku kananku.
Singkat cerita, kini Bapak Prapto kembali bercerita panjang
lebar tentang sejarah berdirinya Universitas yang kami duduki saat ini. Aku
beranggapan, mungkin tebakan beliau yang jauh meleset tadi, hanyalah media
untuk mearik perhatian semua anak dan mencoba memegang kendali dalam kelas, yah
itu yang aku lihat saat ini.
Tanpa sadar, kini mataku telah mencoba melirik ke kanan,
melihat dua cewek yang begitu menarik perhatian bagi setiap orang yang
melihatnya. Dengan bedak putih yang terlihat begitu tebal, bibir merah menyala,
hijab hitam runcing ke atas, kemeja putih yang di masukkan, dan lengkap dengan
bawahan rok hitam ketat yang begitu tinggi di atas mata kaki, namun masih jauh di
bawah lutut.
"Ini pasti anak hits," ucapku dalam hati menarik kesimpulan.
__ADS_1