Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 2 : Perkenalan


__ADS_3

Masih di tempat yang sama dengan waktu yang selalu berbeda,


kini semua mata mahasiswa baru hanya tertuju padaku dan yusro. Yah ini adalah


hasil dari kelakuan anak tinggi besar dengan kulit sawo matang yang belum aku


ketahui siapa namannya.


“Eh, apaan sih,” ucapku sembari melepaskan tangannya dari


pundakku.


“Asik ni anak,” ujar Yusro sembari membalas rangkulanyya


dari belakang.


“Anak kota ya ?” tanya pemuda itu kepadaku dan Yusro.


“Iya kota, kota hilang,” jawab Yusro sambil tertawa.


“Eh, beneran bambang,” sahut pemuda itu lagi sambil


mempererat pelukan di pundak Yusro.


“Enggak, kita dari desa,” jawabku pelan.


“Lah, masak ?” ujarnya lagi dengan nada kaget menghadap


kepadaku.


“Iyalah, kalau kota, kota Hongkong apa,” sahut Yusro lagi


meledek pemuda yang kini sedang merangkulnya dari belakang.


“Lah, elu lagi,” jawab pemuda itu sambil mengencangkan


pelukanya lagi.


Disitu kami bertiga heboh dengan sendirinya. Tidak


membutuhkan waktu lama ada seorang pemuda yang sudah tidak asing lagi bagiku


berbicara di depan kelompok C sembari menginstruksikan untuk segera masuk ke


ruangan G5 di lantai satu pojok bagian utara. Yah itu adalah Agni.


Dengan instruksi yang begitu jelas, kami semua segera


berjalan dengan asingnya menuju lokasi yang telah di instruksikan Agni tadi. Sesampainya


kami semua di dalam ruang kelas, kini Agni berada di depan kelas kembali untuk


memperkenalkan diri dan mengajak untuk menetapkan siapa yang akan di tetapkan


untuk menjadi ketua kelas dalam PBI ROMBEL C.


“Alah elu aja,” sahut seorang pemuda dengan rambut gondrong


berjenggot yang kini duduk di depanku, bangku nomor dua dari belakang.


“Ya enggak begitu Mas, kalau langsung saya ambil alih,


kesanya saya agak otoriter nanti,” jawab Agni dari depan.


“Alah kelamaan, siapa yang enggak setuju Agni jadi ketu


kelas !!” tanya pemuda gondrong dengan suara lantang dank eras kepada semua


yang hadir dalam ruangan.


“Kayaknya dapat kelas


bar – bar,” ucapku dalam hati sambil senyum – senyum sendiri.


“enggak ada yang keberatan kan, kalau Agni jadi ketua kelas,”


ujar pemuda gondrong itu lagi kepada kami semua.


“Nah, sah sudah,” jawab pemuda itu sendiri karena tidak ada


yang mengajukan kata seorang pun.


“Yasudah, terimakasih untuk dukungannya dari teman – teman,

__ADS_1


saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi ketua kelas dalam PBI


Rombel C,” ujar Agni dengan lantang di depan kelass.


“Kayaknya kita semua butuh kenalan yak,” ucap pemuda yang


berdiri menyandar pada tembok di belakangku.


“Kayaknya ide bagus, yasudah silahkan memperkenalkan diri,


alamat, dan asal sekolah,” ujar Agni dari depan keLas.


Satu persatu mahasiswa yang tengah duduk di bangku masing –


masing, kini dengan bergantian berdiri dan memperkenalkan diri mereka. Sampai aku


mengetahui pemuda tinggi besar kulit sawo matang yang tadinya di luar dengan


akrabnya ngobrol denganku dan Yusro menyandang nama Jazul, pemuda dengan rambut


gondrong lengkap dengan jenggot yang sejak tadi berbicara dengan lantang


menyandang nama Syarif, dan pemuda di belakan yang berdiri kayak pengusa, meski


aku sendiri juga meragukan hal itu menyandang nama Fauzi.


Ku anggukan kepala pelan dan mulai ku ingat nama mereka


masing – masing dengan kesan sebagai penanda mereka. Kembali ku susuri setiap


wajah asing yang ku lihat dalam ruangan ini, tiba – tiba tatapku terhenti


ketika melihat seorang pemuda dari bangku pojok belakang bagian barat, lurus


deretanku ke samping. Dengan ciri khas yang sangat menonjol, aku langsung


mengetahui pemuda itu, dan segera memberikan laporan kepaada Yusro.


“Eh Ro, lu lihat anak itu,” kataku sambil menunjuknya dengan


sorotan mata.


“Anak mana ?” tanya Yusro mencoba melihat ke arah yang telah


“Mana sih,” ucap Yusro kepadaku kembali, karena tiddak


menemukan hasil dari arahanku.


“Lu ingat enggak, anak yang dulu satu ruangan dengan kita


waktu ujian? anak metik,” ujar ku kepada Yusro, dan kini dia langsung


menatapku.


“Metik ? hahahaha.” Tawanya langsung pecah mengingat seorang


pemuda entah siapa namanya yang dulu pernah kita temui waktu ujian masuk


Universitas. Karena dulu kami tidak mengetahui namannya siapa, akhirnya kami


pun memberinya nama sendiri, guna untuk mengingatnya. Metik, itu nama yang kami


berdua berikan.


Dengan segera Yusro langsung memindai setiap wajah, dan


hasilnya ia menemukan yang dicarinya. Untuk yang kesekian kalinya tawa kami


terlepas menggelegar.


“Apaan sih rame amat,” ucap Syarif, pemuda gondrong dengan


jenggot yang melontarkan setiap kata dengan nada yang kurang bersahabat.


“Bukan apa – apa, ini lo, jompol lucu amat,” jawab Yusro


dengan polosnya menunjuk jempol tangannya sendiri.


Melihat tingkah Yusro yang konyol, di tambah dengan ingatan


akan “Metik” kini membuat tawaku lebih menjadi lagi. Ditambah lagi, kini Syarif


terus saja dengan kepo bertanya kepada kami tentang apa yang kami tertawakan. Ya,

__ADS_1


pemuda gondrong yang sangar itu ternyata tidaklah sejahat dengan logatnya,


meski dia selalu melontarkan kata dengan nada yang kuurang bersahabat, namun


kenyataanya dia sangat konyol ketika berbicara.


Tidak lama ada seorang dosen dengan langkah kecil cepatnya


segera masuk dan duduk di bangku guru di depan kelas, seperti halya awal – awal


masuk sekolah, beliau memperkenalkan diri sebagai Suprapto, bisa di panggil


dengan Bapak Prapto sambil bercerita sedikit tentang lingkup Universitas. Yah,


namanya juga anak baru, kami semua hanya diam mendengar cerita dari beliau.


“Itu anak kembar paling belakang, saya lihat hobinya


bertarung,” ujar Bapak Prapto kepadaku.


“Hahh, saya ?” tanyaku pelan dengan kaget, melihat ke kiri-  kanan dan baru ku sadari kini semua mata


langsung tertuju kepadaku.


“Aku hobi bertarung ?


enggak slah nih,” ucapku dalam hati sambil nyengir tipis.


“Halo petarung.” Sapa Yusro meledekku dengan tawa yang ia


tahan.


“Apaan sih,” ucapku menjawab ledekan dari Yusro.


“Saya lihat – lihat kalian berdua ini suka berantem ya,


hobinya nyari rebut,” ujar Bapak Prapto lagi sambil memegangi dagunya.


“Tuh kan, elu sekalian,” ucapku pelan sedikit berbisik


kepada Yusro.


“Gua sudah diam lo, masih kena juga,” jawab Yusro dengan


bisik kepadaku.


“Kalau itu kanannya, dua cewek cantik…” Beliau berhenti,


tidak meneruskannya, yah sekali lagi semua mata tertuju mengikuiti ucapan


Beliau.


“Saya enggak tau hobinya apa,” setelah lama terdiam


berfikir, Bapak Prapto melanjutkan katanya.


“Yang membawa Wawan ya,” ujar beliau lagi kepada dua cewek


yang duduk di deretan bangku kananku.


Singkat cerita, kini Bapak Prapto kembali bercerita panjang


lebar tentang sejarah berdirinya Universitas yang kami duduki saat ini. Aku


beranggapan, mungkin tebakan beliau yang jauh meleset tadi, hanyalah media


untuk mearik perhatian semua anak dan mencoba memegang kendali dalam kelas, yah


itu yang aku lihat saat ini.


Tanpa sadar, kini mataku telah mencoba melirik ke kanan,


melihat dua cewek yang begitu menarik perhatian bagi setiap orang yang


melihatnya. Dengan bedak putih yang terlihat begitu tebal, bibir merah menyala,


hijab hitam runcing ke atas, kemeja putih yang di masukkan, dan lengkap dengan


bawahan rok hitam ketat yang begitu tinggi di atas mata kaki, namun masih jauh di


bawah lutut.


"Ini pasti anak hits," ucapku dalam hati menarik kesimpulan.

__ADS_1


__ADS_2