Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 14 : Eksistensi pertama


__ADS_3

Hujan rintik mulai menunjukan eksistensinya kepada dataran semesta bumi pertiwi, dengan berteman kan angin yang berhembus dengan mesranya, membuat pohon mangga di hadapan kami bergoyang dengan lembut mengikuti irama angin yang manja. Namun semua kenikmatan itu seakan sirna setelah terbesit nya kabar dari salah seorang teman sekelas yang masih belum aku hafal siapa namanya.


"Yus, besok presentasi lo kita," ucap teman wanita sekelas kami kepada Yusro.


"Ehh, masak ?" ucap Yusro dengan logat kagetnya.


"Alah... kaget palsu itu," ucapku dalam hati sambil melirik melihat tingkah Yusro.


"Iya, jam pertama bapak Wawan," jawab wanita itu.


"Udah jadi makalahnya ?" tanya Yusro langsung menuju poin pembahasan.


"Sudah sih, tinggal buat Power Poin yang belum," jawab wanita itu dengan sopan nya kepada Yusro.


"Eee, oke besok aku berangkat agak awal, segera kirim ke nomorku kalau sudah selesai biar aku pelajari," jawab Yusro dengan senyum polosnya.


"Yasudah, entar malem saya kirim ya," jawab wanita itu dan langsung pergi.


"Ehh, nurut amat itu orang sama Yusro," ucapku dalam hati sambil melirik Yusro yang begitu santainya.


"Gua kelompok berapa ya," tanya Syarif menggumam sendiri.


"Semoga aja kelompok gua bertanggung jawab semua," ujar Fauzi dengan memelas.


"Ingin kayak tu orang ? lu harus perbaiki ni muka," ledek Syarif kepada Fauzi sambil menunjuk ke arah Yusro.


"Bener juga, emang kurang ajar tu anak," ujar Fauzi sambil tertawa bersama Syarif.


Dengan santainya, Yusro hanya menjawab omongan Fauzi dan Syarif menggunakan jurus penakluk kaum hawa. Yah, kedipan satu mata dan di ikuti dengan senyum tipis.


"Gua jijik woi," ucapku sambil tertawa melemparkan tasku kepada Yusro.


Tak terasa kini sang mentari telah terlelap berganti dengan rembulan yang seringkali begadang, berhiaskan taburan bintang dengan lukisan gelombang awan yang terpapar sinar bulan, dengan santainya Yusro duduk dihadapan laptop bersandar tembok dan sepuncung rokok tergapit oleh kedua jemarinya.


"Ngapain lu Ro ?" tanyaku kepada Yusro yang terlihat begitu tenang.


"Persiapan besok," jawabnya singkat sambil menghirup rokoknya pelan.


"Widih... tumben lu serius kek gini," ledekku sambil berjalan mendekatinya.


"Akan gua bantai semua yang bertanya besok," jawabnya sambil tersenyum dengan jahat.

__ADS_1


"Boleh," jawabku singkat menerima gertakannya.


"Ehhh... ngomong - ngomong, siapa aja kelompok lu besok ?" tanyaku lagi sambil meraih sebungkus rokok dan duduk di sebelah Yusro.


"Mbak endut tadi, Rosiyad... hmmm... siapa ya," jawabnya dengan wajah mengingat - ingat.


"Hahaha, mbak ndut siapa, Rosiyad siapa woi..." jawabku dengan tawa terpingkal -pingkal.


"Gua enggak tau namanya, jadi gua namain sendiri, mbak endut gitu aja," jawabnya dengan polos.


"Lha untuk Rosiyad ?" tanyaku dengan masih tertawa.


"Emang itu kan namanya," jawab Yusro lagi dengan wajah polosnya.


"Mana ada," jawabku dan langsung melepaskan tawa terbahak - bahak.


"Beneran ini," tanya Yusro lagi dengan serius.


"Kalo ada mana coba anaknya ?" tanyaku lagi masih dengan tawa.


"Nih liat." Sembari memperlihatkan riwayat chat nya, tertulis dalam kontak nama Rosiyad.


"Hahahaha, coba lu buka, lu tanya, siapa namanya..." ucapku dengan tawa lepas.


"Sepuas luu," jawabku dengan tegas menerima tantangan Yusro.


"Oke, gua tanya nih," jawab Yusro dengan semangat sembari menuliskan pertanyaan kepada Rosiyad dan dikirimkannya.


"Hey, itu anak namanya Rosidah bukan Rosiyad," ucapku pelan sembari melingkarkan lenganku ke pundaknya dan tertawa lepas.


"Lah... masak ?" tanya Yusro kembali sambil sedikit tersenyum.


"Lu tunggu aja itu balasan pesan dari Rosiyad," jawabku singkat sembari meneruskannya dengan tawa lepas.


"Oke... oke... jangan lupa baksonya," jawab Yusro dengan setengah menahan tawa.


Tidak perlu menunggu terlalu lama terdengar nyaring deringan ponsel Yusro, dengan cekatan Yusro langsung mengambil ponselnya untuk melihat pesan yang barusan masuk.


"Kita lihat ya..." ucap Yusro sambil menahan tawa.


"Hahaha... iya terserah elu," jawabku dengan tawa yang semakin terbahak - bahak.

__ADS_1


Secara perlahan Yusro membuka pesan WhatsApp dari ponselnya, yah... tawa keras langsung terluap kan oleh Yusro, sudah bisa di tebak apa isi dari pesan itu apa.


"Hahaha... iya kan." Tanpa menunggu Yusro memberitahu pesannya aku langsung tertawa lepas mengikuti tawanya juga.


"Besok dah baksonya," jawab Yusro masih dengan tawa yang terbahak - bahak.


Ketika kami masih asyik dengan tawa yang menggelegar, deringan ponsel Yusro kembali menyelinap ke dalam gendang telinga kami berdua. Yah itu adalah informasi dari kampus untuk besok bagi yang memiliki laptop untuk membawanya.


"Tumben, ada apa ya," tanyaku sambil mengusap air mata bekas tawa yang terlalu lepas.


"Mau ada TIK kali," jawab Yusro masih dengan polosnya membuat kami kembali meledakkan radiasi tawa yang begitu jauh.


Singkat cerita kini akhirnya mentari sudah menunjukan eksistensinya kembali, dengan semangat yang lebih tinggi 10% dari hari - hari biasanya Yusro memaksa kuda besi hijau miliknya untuk memutarkan kedua kaki lebih keras dan cepat.


"Za lu bawa ini motor ke tempat parkir, gua mau ke kelas dulu," ujar Yusro setelah mulai masuk lokasi universitas.


"Lah ngapain woi," jawabku sambil mengambil alih menuntun motornya.


"Persiapan presentasi Bambang," jawab Yusro sedikit menaikan nada.


Akhirnya di tempat itu, pos satpam sebagai saksi perpisahan langkah kami menjemput tanggung jawab yang harus dijalani.


"Suatu hari, apa akan terjadi ya," ucapku dalam hati melihat Yusro melangkah pergi menjauh.


"Sudahlah, urusan besok ku serahkan pada diriku esok," ucapku kembali dalam hati sambil tersenyum dan meneruskan langkah menuju tempat parkir motor.


Tidak perlu menunggu waktu lama, dosen pengampu mata kuliah, Bapak Prapto akhirnya telah sampai dan langsung membuka pembelajaran sambil dilanjutkan dengan presentasi dari kelompok Yusro. Seperti yang telah aku perkirakan sebelumnya, dengan tingkat pengetahuan dan pengalaman Yusro yang sudah bisa di bilang luas, tidak butuh waktu lama bagi Yusro untuk menguasai kelas dan membantai semua pertanyaan yang dilemparkan kepadanya.


"Males dah gua mau bertanya," ucapku dalam hati melihat Yusro yang tersenyum dengan percaya dirinya di depan kelas.


"Za, kita buat aliansi buat ngasih pelajaran si Yusro," ujar Syarif sambil melihat ke arahku dengan tajam diikuti dengan Fauzi di belakangnya.


"Gimana maksudnya ?" tanyaku kembali sambil mendekatkan kursi ke bangku mereka.


Setelah Syarif menjelaskan maksud dan tujuannya, kami bertiga langsung berunding mengatur siasat dan mencari celah - celah kesalahan kata dari presentasi Yusro dan kelompoknya. Yah... ternyata kami bertiga masih belumlah cukup untuk membalikan keadaan menekan Yusro, kami bertiga hanya mampu mengimbangi perdebatan dari materi kelompoknya. Sampai dengan kode dari Jazul yang menunjuk ke pergelangan tangan, mengisyaratkan waktu yang sudah pantas untuk berakhir.


"Udah aja, kita ngalah... waktu udah abis," ucapku berbisik pelan kepada Syarif yang masih bersikukuh dengan pendapatnya.


"Lah udah mau berhasil ini," jawab Syarif dengan percaya diri.


"Berhasil dari mana, udah jelas Yusro lebih unggul," ucapku dalam hati sambil nyengir mendengar jawaban dari Syarif.

__ADS_1


"Terserah lu aja," jawabku pelan.


__ADS_2