Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 29 : Terapi Syok


__ADS_3

"Nafas gua ketinggalan di bola" ujar Fredi menghampiriku dengan nafas berat disertai kucuran keringat yang membanjiri setiap pori - pori.


"Jelas lah, dua ronde main futsal, lu kira Batman," jawabku sambil melemparkan botol minum ke arahnya.


"Ehh, ini tadi cewek - cewek nggak ada yang dateng ya," tanya Fredi setelah minum.


"Banyak yang dateng, tu pada foto - foto di lapangan tenis," jawabku lagi dengan santainya melihat ke arah lapangan futsal.


"Selisih satu angka ya ?" tanyaku lagi masih dengan tatapan lamun ke lapangan.


"Iya sih pas gua keluar tadi,, entah sekarang... keknya masih sama," jawabnya dengan santai.


"Udah bagus lah... kuat ngimbangin dengan kondisi babak belur," sahutku dengan senyum tipis.


"Ehh iya, dia dateng nggak ?" tanya Fredi dengan wajah serius.


"Enggak, tadi katanya sakit perut... kalo kesini nggak bakal ngelewatin gua yang basah kuyup dengan kringatkan," jawabku lengkap dengan senyum tipis sambil menyalakan rokok.


"Gua serius ini," tegas Fredi sekali lagi dengan wajah serius.


"Bener bambang, tadi katanya sakit perut," jawabku lagi sambil menghembuskan asap rokok.


"Gini Za, gua jadi ngerasa bersalah sama lu... lu bisa percaya bisa enggak, ini gua denger dari temen gua di Prodi Ilkom," ujar Fredi dengan pelan - pelan sambil merangkulku dari belakang.


"Nggak usah bertele - tele, langsung aja ke inti," sahutku dengan senyum tipis, mengira Fredi akan melontarkan banyolannya.


"Dia nggak kesini karena juga lagi deket sama anak Ilkom," ujar Fredi singkat dan membuat seketika darahku serasa berhenti mengalir.


"Hehehehh, ngomong apaan sih lu," jawabku dengan senyum ragu.


"Bener Za, gua nggak mau lu terlalu dalem mendem rasa... sedangkan dia hanya mainin lu," ujar Fredi dengan tatapan serius.


"Gimana ya Di... pada dasarnya gua udah mersiapin ini juga sih, gua udah siap - siap untuk rasa kek gini... yahhh, jika dipikir akal sehat kan, enggak mungkin cewek secantik dia nggak ada yang ngejar," jawabku dengan santainya sambil melihat langit - langit.


"Kurang ajar, sakit ini..." ucapku dalam hati, dengan raga mencoba melukiskan senyuman.


"Gua mah, sebelum ia bilang enggak... akan terus gua kejar," ucapku lagi dengan senyum sambil menghisap rokok.


"Yaudahlahh... serah lu... pesen gua, jangan terlalu cinta dulu, itu aja... lu tau kisah gua kan," ujarnya sambil menepuk pundakku.

__ADS_1


"Yohoii kapten," jawabku sambil tersenyum.


"Ngomong - ngomong, anak Ilkom yang mana," tanyaku lagi sambil melihat lapangan.


"Itu, baju merah yang jadi penyerang..." jawab Fredi sambil menunjuk ke arah pemuda dengan perawakan tinggi putih, dan berpakaian keren lengkap dengan potongan rambut kekinian.


"Ampun dah, dibanding dia gua jauh banget," ucapku dalam hati dengan pasrahnya.


"Hmmm... lumayan berat lah," ucapku di mulut sambil mengangguk kecil.


"Lhaa elu tau lagi deket sama dia dari mana," tanyaku lagi sambil melirik ke arah Fredi.


"Jadi kemarin gua ngopi sama temen gua anak Ilkom, pas gua pinjem HP, nggak sengaja liat storynya... ada dia lagi makan bareng," jawab Fredi dengan perlahan menjelaskan.


"Hmmm... lumayan jadi terapi syok," ujar ku singkat sambil tersenyum tipis.


"Gua nggak mau ngakuin sih, tapi perkataan Yusro bener lagi," ucapku dalam hati masih dengan senyum kesakitan.


Singkat cerita permainan futsal antara Prodi PBI dan Ilkom telah selesai dengan skor akhir 5-4 dengan kekalahan tertinggal satu angkat, wajar juga sih... sebelum bermain kami sudah menghabiskan satu jam berlarian di atas lapangan dengan memperebutkan satu sosok benda bulat, terlebih lagi pemain kami didominasi oleh konsumen setia buah hasil pabrik rokok.


"Haaaahhhh... kaki gua nggak terasa dimana," ucap Yusro dari tepi lapangan.


"Saya masih kecil paman," jawab Yusro sambil menyatukan telapak tangannya.


"Heyyy, udah besar semua kek gitu masih bilang kecil... apanya yang kecil," sahut Agni dari tempat duduk di belakang Yusro.


"Hayoooo... mana itu," ujar semuannya sambil menertawakan Yusro yang diam kelelahan.


"Ehhh, ngomong- ngomong cewek - cewek pada kemana sih," tanya Fauzi setelah habis tertawa.


"Ada di depan, pada foto- toto di lapangan tenis," sahutku masih dengan lemasnya.


"Mereka benar- benar lupa akan niat mereka kemari," sahut Jadal dengan nada ceramah agamisnya.


"Ohhh, iya Yai..." dengan kompaknya kami semua tertunduk di hadapannya.


"Apa apaan ini," ucap Jadal dengan malu- malunya sambil tertawa tipis.


Dengan kondisi otot yang lemas dan tak bertenaga, kami dengan gencarnya terus melemparkan banyolan - banyolan manis beruntun tiada henti, serasa lepas dan bebas saat itu ku rasa, meski sempat beberapa menit yang lalu terkena terapi syok bukan main, namun saat ini seakan semua kehancuran itu hilang bersamaan dengan hadirnya loncatan lelucon yang terus bersinambung tanpa henti.

__ADS_1


"Yahh aku tengah bahagia, itu yang perlu aku jalani saat ini," ucapku dalam hati sambil tersenyum tertawa bersama penduduk cah cintah.


Tak terasa, beribu detik kini telah terlewati dengan sehatnya jasmani dan rohani kami, setelah semua otot telah mampu untuk bekerja kembali, kami segera meninggalkan tempat istirahat itu agar dapat digunakan pemain lain yang hendak mengistirahatkan raga mereka.


"Nanti lu tunggu mana Ro ?" tanyaku ketika keluar dari gedung olahraga.


"Gua tunggu di Yoye aja," jawab Yusro sambil naik ke atas motornya.


"Tuhkann... cewek- cewek pada hilang... udah selesai sama yang mereka cari langsung aja ngilang," sahut Syarif sambil tertawa melihat lapangan tenis yang sudah kosong penduduk.


"Mungkin mereka jijik liat lu yang basah keringat," sahut Fauzi dengan santainya.


"Nihhhh, makan keringat," ucap Syarif sambil memasukan tangannya ke ketiak dan membungkam kanya kepada Fauzi.


"Kurang ajar!!" teriak Fauzi sambil tertawa lepas.


Seperti kesepakatan sebelumnya, aku boncengan dengan Fauzi kembali ke kampus untuk latihan drama sebentar dan Yusro bersama Syarif meluncur ke warung kopi Yoye tempat aku dan Yusro biasa menghabiskan waktu tidak berguna.


"Gimana lu udah ambil langkah belum," tanya Fauzi dari dalam helem.


"Langkah apanya," tanyaku kembali kebingungan dengan ranah pembicaraan.


"Si Sri..." jawab Fauzi singkat bersamaan dengan suara klakson mobil dihadapan lampu lalulintas yang masih kuning.


"Heehhh, gimana yaa... masih agak ragu sih," jawabku singkat dan pelan.


"Ragu kenapa ?" tanya Fauzi kembali.


"Yahh, gua dapet kabar sih dia juga deket sama cowok lain," jawabku kembali.


"Eee... begitu..." sahut Fauzi dengan singkatnya.


"Kalo menurut gua ya... wajar aja kalo ada yang ndeketin, toh lu sama dia juga belum jelas jadian kan... ya kalo lu mau dia nggak ada yang ndeketin, segera diperjelas aja," ujar Fauzi kembali membuatku kembali memutar otak untuk berfikir.


"Bener juga yaa," ucapku singkat, masih dengan nada galau.


"Yahhh, tapi coba lu pikir matang - matang dulu aja," sahutnya kembali.


"Hehhhhmmm..." jawabku dengan singkat dan tidak jelas, hanya menaikan kedua alis sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2