
"Di, posisi dimana ?" tanyaku kepada Fredi melalui pesan elektronik whatsapp.
"Pas bener, gua lagi gabut, lu jemput gua sekarang aja," jawabnya dengan segera.
"Idih... nih anak tau bener kalo mau diajak keluar," ucapku dalam hati sembari menghela nafas dalam setelah melihat jawabannya.
"Oke, gua jemput entar pukul tujuh,"
"Hmmm, nelangsa amat jadi anak muda," ujar Yusro dengan ledekannya sembari berjalan di depanku.
"Hufttt... yaudahlah kalo enggak mau di ajak makan enak minum manis," sahutku dengan pelan melalui senyum palsu yang kurang nyaman tertanam.
"Udahlah, gapapa udah dapet gantinya juga kan," jawab Yusro dari dalam kamar posko.
"Lu enak bonceng Ayu, lha gua jadinya dapet terong," jawabku sembari menyalakan rokok.
"Udah, disyukuri aja... siapa tau Fredi kalo malam jadi Frida, hahaha." ledek Syarif sembari menepuk pelan punggungku, dan tak lupa tawa dari Yusro dan Fauzi.
"Gua nggak kuat bayangin, lu aja dah entar yang bawa," sahutku kembali yang membuat ruang gelap kecil itu semakin bersinar terang akan tawa.
Sesaat ketika tawa kami berempat menggema di berbagai sudut ruangan, terdengar seperangkat suara mesin motor yang terhenti di depan dan meati ditempat. Membuat kami berempat langsung terdiam menelan tawa.
"Siapa, Pak Prapto ?" tanya Yusro dari dalam kamar kepadaku yang masih duduk di samping pintu masuk.
"Bukan deh keknya," jawabku singkat sembari menengok kecil ke arah luar.
"Assalamu'alaikum, kungg!!!" teriakan yang menggelegar dari luar, serentak mengagetkan kami berempat.
"Kung?, cucunya Pak Prapto ?" tanya Fauzi pelan.
"Cucu dari Hongkong, anaknya aja masih SMK kelas dua," jawabku pelan, dan langsung disambung dengan teriakan Yusro yang enggak ada aqhlak.
"Waalaikumsalam, masukk!!!" ujar Yusro dari dalam dengan wajah tanpa dosa.
"Kurang ajar bener nih anak, gua yang diluar sendirian," ucapku dalam hati sembari melihat pelan gagang pintu yang diputar pelan dari depan.
"Udah tenang aja, dari suaranya keknya gua kenal," ujar Fauzi sembari membuang kepulan asap rokok.
"Keknya gua juga kenal suaranya deh," ucapku dalam hati.
Yah, yang benar saja, setelah pintu kayu itu di renggang kan terlihat sosok dua manusia dengan postur tubuh tinggi besar tepat berdiri di depan pintu dengan gagah.
"Ee, Za... tumben di sini," ucap pemuda tinggi besar itu menyapaku.
__ADS_1
"Ehh, Dul... iya, nih sama anak-anak," sahutku sembari mengepalkan tangan ke arahnya untuk memberikan salam.
"Tadi kayaknya ada dua suara deh," ucapku dalam hati ketika genggaman tangan kami bertemu.
"Ooii!!! Reza Syahh," teriak seorang pemuda dengan tubuh lebih kecil dibanding Abdul berambut gondrong keluar dari arah belakangnya.
"Oiii!!" jawabku dengan reflek dan kaget.
"Mana yang lain?" tanya pemuda gondrong itu dengan santai dan akrabnya kepadaku.
"Ee... anu... k.. kamar," jawabku dengan terpatah - patah sembari menjabat tangannya.
"Salam kenal, gua Ulul," ucap pemuda gondrong itu lagi sambil tersenyum ke arah ku dan langsung beranjak menuju kamar.
"Hallo gaisss !!" teriak pemuda itu dengan senyum lebar berdiri tegap di depan pintu kamar.
"Lull... lull... jangan terlalu beringas," ujar Abdul sambil memasuki ruangan tempatku terdiam sekarang.
Dia adalah Abdul, manusia tinggi besar dengan kulit sawo matang, bertatapan mata layaknya seorang preman, bahkan sampai saat ini aku masih meragukannya kalo dia se-angkatan denganku. Dan kami awal mula saling bertukar tatap saat pertama kalinya aku mulai latihan drama, yah dia adalah salah satu pemain drama sama denganku.
"Oii !! udah jam delapan kurang lima belas," ujar ku dengan lantang.
"Ehhh, ikut sekalian aja Dul," ajakku kepada Abdul yang masih berdiri tegap di tengah pintu.
"Mak Nita perdana membuka angkringan ini tadi," jawabku sambil mulai beranjak masuk kembali ke kamar.
"Boleh, siapa tau dapet gratisan," jawabnya dengan senyum pemburu diskon.
"Roo, berangkat kapan," tanyaku kepada Yusro yang tengah ramai bercanda dengan Ulul.
"Sekarang gas, lu jemput Fredi dulu," jawabnya masih dengan tawa kecil.
"Hebat banget si Ulul, baru masuk lingkaran langsung bisa membaur dengan baik," ucapku dalam hati melihat mereka bercanda ria dalam ruang sempit remang-remang itu.
"Yaudah gua berangkat dulu, entar gua tunggu di alun- alun kota," ucapku sembari meraih kunci motor Yusro dan jaket levis hitam yang sudah mulai memudar.
"Wokee," jawabnya dengan singkat sambil melanjutkan kegiatan tawanya.
Bertemankan rembulan yang membumbung tinggi lengkap dengan sinarnya, begitu nyata terlihat gemerlap kecil nan tipis hamburan bintang penangkal akan turunnya hujan, seakan bergerak pelan dalam sayup - sayup awan seirama dengan tiupan pelan angin malam, bersamaku menjemput seorang insan yang kurasa akan mengungkapkan sedikit cerita panjang tentang kisah cinta seseorang.
"Di... gua udah sampe di luar, cepet kesini," ucapku dalam pesan yang ku terbangkan padanya.
"Kurang ajar, dilihat doang nggak dibales," ucapku dalam hati setelah melihat pesanku yang hanya centang dua menyala tanpa adanya balik kata.
__ADS_1
"Bales woii," ku layangkan kembali pesan elektronik itu.
"Hallo bro," sapa seseorang setelah sesaat ku kirimkan pesan itu. Yah itu adalah Fredi yang keluar dari gelapnya gang kost -kosan.
"Lama amat jadi manusia," jawabku dengan nada datar.
"Yaelah, baru nunggu lima menit aja bilang lama," jawabnya dengan tawa sembari meloncat duduk di jok belakang.
"Dahlah, siap belom," tanyaku kembali dengan dingin.
"Meluncur kaptenn !!!" ujarnya dengan semangat.
"Jangan rame - rame oii, malu- maluin," sahutku sambil menarik pedal gas motor hijau itu.
Singkat cerita akhirnya kami bertemu Yusro dan yang lain ketika hendak menuju alun- alun kota ke titik yang telah disepakati sebelumnya, tanpa menunggu waktu semakin mengembang lagi segera kami semua meluncur menuju tempat Mak Nita berjuang mengolah nasib.
"Ehh, Pak Prapto ikut juga ya ?" tanya Fredi dari jok belakang.
"Iya, kan ini tadi kita lagi di posko ceritannya, nggak enak kalo nggak di ajak kan," jawabku dengan santai.
"Ehh, Di.. gua mau nanya ke elu deh," ujar ku lagi dengan nada pelan lemah gemulai.
"Idih serius amat, mau pinjem uang pasti," jawabnya dengan tawa kecil.
"Nenek lu gua jual," jawabku dengan sedikit menarik gas pita suara.
"Canda.. canda... gimana, mau tanya apa,"
"Si Sri, gimana ?" tanyaku singkat dan langsung Fredi sahut.
"Lu gila apa kenapa, udah jelas gua suruh mundur masih aja lu terobos... lu masih belum percaya omongan gua kemaren," jawabnya dengan sedikit emosi. Yah, sangat berbeda dengan Fredi yang gua tau.
"Gimana ya... bukannya nggak percaya gitu, cuman hati gua belum bisa nerima kalo nggak liat kenyataannya aja," jawabku dengan datar.
"Wah parah lu... asli parah... keburu mati lu," jawabnya sembari duduk menyudut ke jok belakang.
"Yahh, gimana lagi bro," jawabku pelan.
"Kalo lu nggak mau sakit lagi, lu turuti apa kata gua... kalo nggak, ya terserah lu," jawabnya pelan dengan serius.
"Parah dah nih hati," ujar ku dengan kecil sembari ku usap wajahku dengan satu tangan pelan.
"Huftt... dahlah," ucapku dalam hati.
__ADS_1