Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 40 : Senja hari ini


__ADS_3

"Hehehe, entar malem kencan" ucapku dalam hati sembari melanjutkan menyantap hidangan.


"Za, Zik... nanti sore jangan lupa latihan drama, udah berapa hari nggak ikut latihan," ucap Pak Prapto membuat angan bahagiaku pecah begitu saja.


"Hehehe, siap Pak," jawab Fauzi singkat sambil tersenyum konyol.


"Oke, gapapa yang penting entar malem tetep lanjut," ucapku dalam hati sambil tersenyum - senyum sendiri.


"Lu ngapain sih Za, dari tadi senyum - senyum sendiri, wajah lu kram tau rasa baru," ujar Yusro dengan kerasnya membuatku langsung tersentak kaget dan salah tingkah.


"Ha... apa... gua... kenapa..." jawabku dengan wajah malu - malu sembari menatap kesana kemari.


"Hmmm, gua paham," sahut Fauzi dengan senyum jahatnya.


"Entar malem Lu sendiri gess," ucapnya lagi sembari menepuk pundak Yusro.


"Hahaha, ya gitu tu, manusia... dapet yg cantik yang ganteng buang," sahut Syarif dengan tawanya yang lepas.


"Gimana - gimana, dapet siapa dia," sahut Pak Prapto dengan keponya sambil duduk membelah diantara Syarif dan Fauzi.


"Itu Pak, anak dari selatan, yang semlohay itu lo," jawab Fauzi dengan nada yang nggak ada aqhlak.


"Selatan siapa," tanya Pak Prapto lagi dengan wajah serius sembari menatap ke arahku.


"Enggak - enggak Pak, anak - anak ini aja yang ngada - ngada," sahutku dengan santai mencoba mengendalikan suasana.


"Hehhh, ngada - ngada," ucap Yusro pelan namun terdengar olehku, dengan wajah dia palingkan ke samping.


"Ngada - ngada bener tau rasa lu," sahut Fauzi dengan kerasnya dan dikuti dengan tawa.


"Ehhh ehhh, ya enggak gitu juga maksudnya," ujar ku dengan segera.


"Hahaha, bener kan Pak," ucap Syarif dengan bahagianya.


"Emang temen nggak ada aqhlak semua," ucapku dalam hati sembari menghela nafas dalam dalam.


"Itu lo Pak, si Sri... anak kelas C juga," ucap Fauzi dengan santainya.


"Ini!!! deket sama si Sri ??" jawab Pak Prapto dengan kagetnya sembari menunjuk ke arahku.


"Hehehe, namanya juga usaha Pak," jawabku singkat dengan malu - malu.


"Kasian bener, kasian..." ucap Pak Prapto dengan tawa kecilnya yang cekikikan sambil kembali duduk di kursi.

__ADS_1


"Ro, besok gini, kasihan lu Za... Za..." ujar Pak Prapto lagi dengan berlagak menaburkan bunga pada pemakaman.


"Huahahahaha," yah, tawa mereka bertiga lepas begitu saja.


"Kurang ajar, gua yang jadi korban disini," ucapku dalam hati melihat tingkah mereka bertiga.


"Gini lo Za... kalo dari trawangan saya tu, kamu kurang cocok kalo sama si Sri, tekanan batin mulu kedepannya," tutur Pak Prapto dengan pelan setelah tertawa lepas.


"Tapi ya enggak apa - apa, namanya juga cinta, kalo belum kebentur ya enggak sadar," ucap beliau lagi sambil meraih Rokok.


"Iya Pak iya... makasih masukannya," jawabku dengan wajah malu - malu.


"Nanti malem ikut sekalian aja Pak," sahut Yusro dengan santainya.


"Ikut kemana ?" jawab beliau sembari menyalakan rokoknya.


"Mak Nita entar malem perdana membuka angkringan Pak, kita - kita di ajak meramaikan entar," ucap Yusro sembari mengemasi sisa - sisa eksekusi santap menyantap.


"Ya ikut dong, anaknya mulai membuka usaha masak sebagai bapak enggak hadir, bapak macam apaan," sahut Pak Prapto dengan logatnya yang bersemangat.


Seiring bergulirnya percakapan dan saling lempar melempar canda, tak terasa sudah banyak waktu yang telah kami jadikan tumbal akan setiap lengkungan tipis bibir dan helaan nafas pada setiap sendatan tawa.


Yah, kali ini waktu telah menunjukan keganasannya dengan tanpa ragu ia menghunuskan jarum tajamnya kepada anak angka bernamakan dua, membuat kami semua dengan segera bergegas melaksanakan kewajiban serta bergulir melanjutkan kegiatan masing - masing terlebih dahulu sebelum nantinya pukul 20.00 meluncur secara serontak menyerbu tempat usaha perdana milik Mak Nita.


"Gua sama Syarif disini aja," ujar Yusro berdiri di tengah pintu sembari menghisap rokoknya.


"Bapak mau kerja dulu ya bun," sahut Fauzi dengan konyolnya sembari mengulurkan tangan untuk dicium Yusro.


"Iya Bii, hati - hati ya, banyak yang lebih menggoda di luar sana," jawab Yusro dengan konyolnya pula seolah menjadi istri yang taat suami.


"Ayok yang, gih masuk kamar," sahut Syarif dari dalam menarik Yusro dengan mesra.


"Huahahaa, gua jijik liatnya," tawaku lepas begitu saja melihat tingkah mereka bertiga.


"Dah, dahh... berangkat, enggak ada abisnya ini nanti," sahut Fauzi langsung sembari tertawa lepas.


"Ngisi kotak amal mana gua dulu kok bisa dapet temen kek gini," sahutku masih dengan tawa sembari berjalan menyebrangi jalan.


Dengan semangat yang menggebu - nggebu selar penantian akan gelapnya malam dengan waktu yang telah ditentukan, ku nikmati tuntutan latihan drama bertemankan hati cemerlang sembari mengharapkan semua keindahan dalam angan akan terwujud secara ikhlas dan tenang.


Singkat cerita kini senja pun mulai pudar dengan garis - garis oranye tipis terlukis indah melengkung memudar dalam langitan awan yang berlaga dengan bihaksana melewati setiap panca indra setiap manusia.


"Zik, entar malem gua njemputnya gimana ?" tanyaku kepada Fauzi dari belakang jok motor.

__ADS_1


"Yaa, lu datengin kosnya langsung aja, entar sampe sana lu kabarin dia," jawab Fauzi dengan keras mencoba menyaingi gemuruh angin dari dalam helem.


"Iyaa ya, kenapa gua bloon amat," sahutku kembali sembari melihat langit - langit senja akhir hari.


"Kluntingg!!!" belum selesai aku menatap keseluruhan langit senja, notifikasi khusus pun berdering.


"Idih si Sri, udah nggak sabaran amat," ucapku dalam hati dengan senyum nyata.


"B*NGK*KKKK!!!" teriakku dengan keras setelah melihat dan membaca isi pesan.


"Kesambet apa lu Za, keluar enggak!!!" bentak Fauzi sambil memelankan putaran roda berporosnya.


"Huuffttt..." ku lepaskan hembusan nafas dalam - dalam.


"Kenapa lu Za," tanya Fauzi kembali setelah menepikan motornya.


"Hufftt, gua sempet ada perkiraan dia nggak bisa sih, tapi entah kenapa ini lebih menyiksa dari semua angan - anganku," jawabku pelan sambil memasang senyum kekecewaan.


"Gua kira kenapa, yaudah gapapa, mungkin emang lagi sibuk kali dia," jawab Fauzi sambil kembali menarik pedal gasnya.


"Aishhh, sudahlah biarin aja," ucapku dalam hati sembari menjandarkan diri kedepan kepada Fauzi.


"Idihh, gua jijik bro, nggak dapet si Sri ya jangan gua juga dong," sahut Fauzi sambil mengelak tipis.


"Udah diem aja," ujarku dengan pelan.


"Hahahaa, dasar anak muda," ucapnya lagi dengan singkat sambil menghentikan elakannya.


"Za gua mau tanya, itu senja datang untuk pergi atau pergi untuk kembali ?" tanya Fauzi dengan pelan dan mendalam.


"Hmmm, gimana ya, sama aja sih... cuman sudut pandang aja yang beda," jawabku dengan pelan dan lesu.


"Coba lu jelasin ke gua,"


"Kalo senja datang untuk pergi berarti orang itu kurang percaya akan ada hari esok, pikiranya negatif kali ya... tapi kalo pergi untuk kembali, dia yakin esok pasti kan ada lagi, pikirannya positif... bener nggak," jawabku pelan dengan kepala bersandar ke pundaknya sebelah kiri.


"Bener aja sihh, coba lu ganti kata HARI menjadi CINTA," ucapnya lagi yang membuatku langsung tercengang dalam diam, seakan bangun dari ketidak sadaran.


"Iyahh, gua paham sekarang," ucapku pelan dan bangkit dari sandaran.


"Nah... anak pinter," jawabnya dengan senyum kurasa.


"Huahahahaha, bangun Za!!!" teriakku dengan keras sembari merentangkan kedua tangan kesamping atas.

__ADS_1


"Ehhh, jangan malu - maluin... kita di jalan ini."


__ADS_2