
"Yok balik," tegus Yusro sambil membangunkan ku dari lelapnya tidur tanpa sadar.
"Ehhh, kapan lu sampe," jawabku sambil meregangkan otot yang seakan kaku.
"Dari tadi lah... pertengahan pelajaran pak Wawan," jawab Yusro sambil menenteng tas punggungnya.
"Gua malah enggak tau beliau masuk," ucapku pelan sambil beranjak.
Dihari pertama aku mengalami sakit hati yang seakan menghapus semua rasa dalam indra jiwa, kini ku coba lalui dengan ketegaran batin yang sakit teramat sangat, mencoba tetap tersenyum dengan berat, itu caraku mencurahkan setiap keluh kesah yang ingin terlepas bebas dalam raga.
Seusai pembelajaran berlangsung aku dan Yusro langsung bergegas pergi tanpa adanya sapa dan canda seperti hari- hari biasanya. Melihat sikap diamnya yang seakan mendukungku, ku rasa Yusro memahami rasa ini meski ia tak mengucapkannya.
"Mampir YoYe yuk," ajak Yusro ketika di tempat parkir.
"Serah lu dah, tapi gua enggak punya uang," jawabku dengan senyum.
"Lah aman," jawabnya singkat sambil mengeluarkan motornya.
Akhirnya kami berdua bergegas pergi ke "YoYe" tempat warung kopi dimana kami berdua seringkali menghabiskan waktu dengan kegiatan yang kurang produktif. Seperti biasanya kami berdua mampir terlebih dahulu ke penjual gorengan di pinggir jalan untuk dijadikan bekal makan siang dan malam, karena jujur saja gorengan di warung kopi terbilang lebih mahal jika dibandingkan dengan penjual gorengan di pinggir jalan.
Sesampainya di sana, Yusro memesan kopi langganan kami dan tak lupa satu piring gorengan dengan sambal yang dilebihkan untuk memperlayak gorengan selundupan kami sebelumnya.
"Entar Mahmud juga mau kesini," ujar Yusro sambil menaruh piring coklat dengan dua biji tahu isi yang diselimuti sambal saos kacang begitu banyak.
"Banyak amat nih sambal," sahutku melihat tingkah Yusro yang tidak segan -segan.
"Lu jangan bilang kebanyakan ya, lu lupa berapa ribu kita beli gorengan tadi," jawabnya dengan sedikit bisik.
"Wahh, tapi kalo kek gini yaa... gimana yaa..."
"Udah tenang aja, awas... jangan lu keluarin dulu itu gorengan kalo belum kopinya di anter,"
__ADS_1
"yaa yaa yaa,"
Beberapa menit telah berlalu dengan begitu cepatnya, terlihat pemandangan awan yang tadinya begitu cemerlang dan menyilaukan, tanpa sadar kini telah terselimut awan hitam tebal yang mengepul tinggi mendekap sang mentari. Perlahan rintik hujan mulai terdengar dari genting plafon warung kopi bersamaan dengan raungan motor matik yang tak asing lagi bersarang pada gendang telinga.
"Itu deh keknya Mahmud," ucapku dalam hati sambil mulai memejamkan mata untuk yang kesekian kalinya.
"Gua tidur dulu Ro... hawanya menggoda banget," ucapku sambil tersenyum tipis.
"Ku harap ketika aku tidur, aku sadar... kalau ini hanyalah halusinasi," ucapku kembali dalam hati sambil memejamkan mata untuk terlelap.
Beberapa gemuruh berkumandang indah di langit - langit yang memaksa dirinya untuk cerah, hal itu membuat kesadaran ini kembali memaksa indra pengelihatan untuk merelakan pejamannya dalam raga.
Terlihat sesosok pemuda dengan kulit sawo matang dengan merdunya menghisap rokok yang begitu nikmat ku nikmati meski tak ikut merasakannya.
"Hahaha, kurang ajar... gua tersenyum melihatnya bahagia," ucapku dalam hati sambil mulai bangkit dari nikmatnya merebahkan badan dalam kesakitan.
"Lohh, udah dari tadi ya," sapa ku kepada Mahmud.
"Lu jangan terlalu bodoh ya..." sahut Yusro sambil menyodorkan rokok beserta pemetik api.
"Ngomong apaan sih lu," jawabku singkat sambil menyalakan rokok.
"Dikit - dikit gua taulah gimana perasaan lu saat ini, bukanya sombong tapi ganteng - ganteng gini gua dulu juga pernah di selingkuhin," tegas Yusro sambil menghisap rokoknya.
"Hahaha, iyaa iyaaa, gua tau..." jawabku singkat dengan hampa.
"Bener lo Za, jadi manusia jangan terlalu tolol amat... nakal boleh, tolol jangan, lu boleh sakit hati... tapi inget batasan juga... dia udah bahagia dengan jalannya, lahh elu masih terpuruk dengan bodohnya," ujar Mahmud dengan tegas dan sesekali menggunakan nada kasar.
Yah, kata - kata sederhana namun diucapkan pada waktu yang tepat membuat hal itu begitu mengena menancap dalam jiwa dan akal pikiran, dengan sedikit bumbu kata kasar, ku rasa membuat cita rasa ini semakin mengena menyadarkan ku akan keterpurukan yang tidaklah menguntungkan sama sekali.
"Hehe, gua tolol amat ya," ucapku pelan dengan lamunan dalam.
__ADS_1
"Iyalah, gua cuman ngingetin lu... lu udah terlalu dalam tololnya," sahut Yusro dengan tegas.
Seketika aku langsung beranjak menuju luar warung kopi menghampiri lebatnya hujan yang tengah mengguyur deras dalam dataran rendah kota tempatku memijakkan raga.
"Haaaaa!!" seketika ku lepaskan semua beban ketulusan yang sampai satu menit yang lalu terus mengancam ku dengan segala rasa yang menyiksa jiwa bersamaan dengan satu hentak teriakan keras dalam guyuran lebat air hujan.
Yahh, seketika hati ini serasa lega dan ikhlas dengan apa yang terjadi sampai saat ini, dengan senyum tipis terus ku sematkan ke langit awan yang mendukung ku melalui tetesannya yang begitu dingin menyejukan.
"Udahh udahh, entar masuk angin... cepet sini," ucap Yusro dengan keras kepadaku yang jauh di depan.
"Hahaha, mbak... pesen kopi hitam satu lagi," ujar ku kepada penunggu warung yang terbengong melihat tingkahku.
"Whahaha, cepet kesini woi... mbaknya takut sama luu," sahut Mahmud dengan tawanya yang lepas.
Lima menit yang sangat berharga telah hadir untuk mengubah segala alur kehidupanku kedepannya, dari tutur kata yang kurang enak di dengar bagi beberapa orang, namun terkadang tutur kata yang seperti itulah yang sangat di butuhkan untuk benar- benar menyadarkan manusia dari keterpurukan. Yahh... detik - detik seperti ini lah yang tak akan pernah terlupakan, dengan beberapa untai kata telah menyelamatkan satu jiwa dari kebodohan cinta.
Singkat cerita, setelah hari petang sudah menunjukan taring sepinya kami bertiga segera bergegas pulang, bersiap untuk hari esok menyambut pembelajaran. Keesokan harinya dengan hati riang seperti layaknya Syahresa menggila kembali ku teriakan salam dengan lantang sembari memasuki ruang kelas.
Terlihat dari bangku biasa yang ku tempati telah terduduk ramai beberapa insan yang berkerumun mengingkarinya, mereka adalah Nabila, Maharani, Arini, dan Fauzi.
"Ehh, dik Reza dan dik Yusro udah sampai, sini.. sini..." sapa Maharani sambil melambaikan tangannya.
"Tumben banget udah pada kumpul disini, ada hajatan apa nih..." sahutku sambil berjalan mendekati mereka.
"Lu kok udah riang aja, ini asli kan," sahut Nabila dengan polosnya.
"Ya elah... enggak tau situasi amat, masih kemarin gua sakit hati, hari ini di ungkit kembali," jawabku dengan wajah sok melas.
"Tuh kann... ini aslii," sahut Fauzi dengan riangnya.
"Hahahaha, bodo amat!!!" jawabku dengan lantang sambil meletakan tas di atas meja dengan keras.
__ADS_1
Mentari telah kembali menunjukan eksistensinya, itulah yang kini ku rasakan dengan jiwa terdalam. Rasa sakit kemarin masih belum seberapa jika dibanding dengan kejutan semesta kedepannya.