Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 4 : Perjuangan awal


__ADS_3

Dengan rintik hujan siang ku perlahan mulai memperlihatkan awan gelapnya, berteman kan secangkir Good Day kini ku jajaki dunia maya dengan layar LCD 17 Inc milik seorang sahabat yang kini tengah bersamaku.


"Mahmud kapan ke sini Ro?" tanyaku kepada Yusro yang kini sedang sibuk dengan ponselnya.


"Udah perjalanan katanya," jawab Yusro singkat sambil berdiri.


"Eh, mau ke mana?" ucapku melihatnya berdiri hendak beranjak pergi.


"Beli rokok, sepi rasanya," jawabnya sambil berjalan menuju meja pemesanan.


"Gorengan sekalian Ro!!" ujar ku dengan suara keras.


Dia hanya mengangguk dan berjalan menuju meja pemesanan, tidak berselang lama terdengar suara motor metik lengkap dengan decitan rem khas suara motor Mahmud. Segera ku intip dari sela - sela jendela bambu di sampingku, benar saja itu adalah Mahmud dengan baju dan celana yang kini basah kuyup.


"Ro, kopi ijo satu," ujar Mahmud sembari menuju tempatku duduk.


"Ngapain nembus hujan ?" tanyaku melihatnya kedinginan menggigil setelah basah kuyup.


"Tadi gua lihat nggak ada tempat teduh, daripada kelamaan terobos sajalah," jawabnya sembari melepaskan jaket dan ransel miliknya.


"Silahkan - silahkan yang anget," ujar Yusro sambil membawakan kopi pesanan Mahmud.


"Nah, mantab sini - sini," jawab Mahmud sambil menerima kopi yang di bawakan Yusro.


"Sini - sini, sama ayah," ujar ku mencoba menerima satu piring gorengan lengkap dengan sambel di sisinya.


Semakin lama kami duduk dan saling berbagi dongeng, semakin lama pula suara kami semakin samar terdengar akibat benturan hujan yang kian waktu semakin membabi buta terdengar dengan jelas peperangan terjadi di atas atap hujan yang mencoba menerobos masuk.


"Eh, udah dapat info belum ? besok di suruh ngumpulin berkas persyaratan daftar beasiswa," ujar Mahmud sambil menghisap se puncung rokok barusan.


"Berkas apa ?" tanyaku kebingungan sambil menyalakan rokok.


"Ini ya," tanya Yusro sambil menyodorkan handphone nya kepada Mahmud.


"Nah iya itu," jawab Mahmud mencoba menggulirkan ke bawah.


"Inikan dulu awal masuk sudah pernah," jawab Yusro kebingungan.


"Iya... yang dulu itu, tapi kini suruh ngirim lagi," jawab Mahmud sambil menjatuhkan abu rokoknya.


"Gimana sih, yang dulu terus kemana," jawab Yusro yang semakin emosi.

__ADS_1


"Bungkus kacang kali," jawabku sambil mencoba meraih dan memahami isi lampiran dalam grup kelas.


"Rumah gua pelosok barat, sini ke sana hampir tiga jam, belum kembalinya tambah lagi terakhir pengumpulan besok, kemarin - kemarin ngapain itu karyawan kampus," ujar Yusro panjang lebar sambil menyalakan kembali rokoknya.


"Eh, bagi yang belum lengkap ges," ujar ku menarik perhatian Yusro dan Mahmud.


"Mana lihat," tanya Yusro mengambil ponselnya kembali.


"Nah nggak bereskan, dulu kita ngumpulin data sama - sama kan, sekarang kenapa punyak gua yang kosong sendiri," ujar Yusro sambil memandangi ponselnya.


"Gimana, apa langsung meluncur sekarang? mumpung masih siang nih," tanyaku sambil melihat jam tangan.


"Kurang apa Ro ?" tanya Mahmud kepada Yusro.


"SKTM, KK, sama Akta kelahiran sih," jawab Yusro ku lihat dia sedang berfikir keras.


"Ini sudah jam setengah dua, kita berangkat sekarang kira- kira jam setengah lima sampai, terus nyari SKTM ke desa gimana ?" tanyaku kepada Yusro yang sedang berfikir.


"Oke, yok berangkat, masalah SKTM bisa di urus, gua konfirmasi rumah segera, nanti kita tinggal ambil doang," ujar Yusro sambil mematikan laptopnya.


"Benar juga ya," jawabku menatap langit - langit.


"Ikut pulang nggak Mud," tanya Yusro kepada Mahmud.


"Oh iya, uang kita cukup kaga?" tanya Yusro kepadaku sambil nyengir.


"Manusia enggak ada akhlaq," jawabku sambil membuka dompet untuk mengintipnya.


"Sampai sana doang cukuplah," jawabku setelah memperkirakan uang yang harus di keluarkan di warung.


"Yok, segera meluncur kalau begitu," ujar Yusro memakai sepatu.


"Hujan Roo, lu mau basah itu sepatu ?" tanyaku kepadanya.


"Nihh nihh nihh." Selembar plastik besar di lempar ke arah kami oleh Mahmud.


"Nah mantab," jawab Yusro sambil melepas sepatunya kembali dan memasukkannya pada plastik.


"Ehh, nanti pulang ke mana ?" tanya Yusro lagi sambil memasukan sepatunya pada kantong plastik.


"Rumah aja, lu berdua nggak ada gua sendiri kan kesepian," jawab Mahmud sambil menghembuskan pelan asap rokoknya.

__ADS_1


"Eee, oke lah," jawab Yusro sambil berdiri.


Dengan segera dan tergesa - gesa, kami segera membayarkan semua tagihan yang kami pesan sebelumnya dan beranjak pergi. Sampai di depan perbatasan antara hujan dan daratan tepi warung Yusro terdiam menatap jauh ke depan.


"Oke, tiga jam dalam kedinginan menembus hujan, sudah siap?" tanya Yusro dengan aneh kepadaku.


"Iya... iya... iya... lagi dan lagi, sudah biasa kan," jawabku singkat.


"Mari kita seberangi daratan hangat ini menuju kedinginan yang membara," ucapnya lagi dengan aneh lengkap dengan tingkah konyolnya.


"Kebanyakan nonton anime ini anak," jawabku dalam hati sambil geleng geleng kepala.


"Terserah lu ngomong apa, ayo segera berangkat," ucapku sambil mendorongnya ke arah hujan menuju tempat parkir motor.


Singkat cerita, kini kami sudah menghabiskan waktu satu jam setengah untuk menembus lebatnya hujan yang terus mengguyur, dari kami berangkat sampai kami menyebrangi kabupaten tempatku terlahir hujan tak ada bosannya terus hinggap pada tubuh pucat dingin kami.


Dengan gigi yang kini terus berbenturan menggigil selalu ku susuri setiap sudut langit - langit mencari kecerahan sinar mentari yang menandakan wilayah tidak terguyur hujan, tapi itu semua percuma ku rasa, hanya langit putih ke abu - abuan yang kini tampak terlihat jelas oleh mataku. Yah hujan ini merata sampai seberang Kabupaten tempatku tertuju.


"Rrrr... rrr... Roo, gua kedinginan," ucapku dengan menggigil kepada Yusro yang sedang mengemudi.


"Lll.. lll... lu bilang gua percuma, gua juga sama," jawab Yusro dengan menggigil pula.


"Lebih cepat tong," ucapku sambil memeluk Yusro tanpa ragu dari belakang.


"Ehh, gua jijik, jangan nempel woi," ujar Yusro sambil mencoba melepaskan diri dari pelukanku.


"Gua kedinginan Roo," jawabku sambil terus memeluknya erat.


"Terserah elu dah," Jawab Yusro langsung menambah kecepatan putaran roda jupiter MX hijaunya.


Tidak membutuhkan sedikit waktu, dalam dekapan dingin kami telah menghabiskan waktu hampir tiga jam perjalanan, seperti yang ku perkirakan tadinya, tiga jam perjalanan sudahlah cukup untuk sampai ke rumah Yusro.


Sesampainya di rumah yang bertempat di atas jalan, dengan licinnya jalanan menanjak kami sudah sampai di halaman depan rumah Yusro. Dengan tangan melingkar ke tubuh kaku menggigil perlahan aku turun dari motor dan mendekat menuju depan pintu rumah Yusro.


Belum sempat aku sampai di depan pintu, terbukalah pintu rumahnya dan keluarlah Ibu Yusro yang menyambut kami.


"Alhamdulillah sudah sampai," ujar Ibu Yusro sambil menghampiriku.


"Iii...ii... Iyaa..." jawabku singkat sambil nyengir menahan dinginnya guyuran air hujan.


"Ayo ayo, segera masuk, mandi, dan ganti baju," ucap Ibu Yusro lagi setelah kami berjabat tangan.

__ADS_1


"Ayo Yus, Reza segera di ajak masuk," ujar Ibu Yusro lagi.


"Iya sebentar," jawab Yusro sambil melepaskan jaket dan tasnya yang basah.


__ADS_2