
"Idih, udah sampe sini lu," ujar Yusro yang baru datang sambil meletakan helemnya ke lantai.
"Diem aja lu," jawabku singkat sambil mencolokkan ponselku pada charger.
"Hahaha, gua kira beneran tidur sana lu," sahut Yusro dengan tawa sembari melepaskan ranselnya dan duduk bersandar pada dinding.
"Kalo gua belum sampe, lu akan njemput gua kan, gua tau Ro... barusan lu tanya Fauzi," ujar ku dalam hati sembari tersenyum tipis.
"Yah, besok gua kasih nasi goreng buat ganti rugi," ujarnya lagi dengan pelan sambil melihat ponselnya.
"Hehhh, serah lu aja," senyumku tipis sambil menanggapinya.
"Huffttt..." jawab Yusro hanya dengan senyum dan menghela nafas dalam.
"Gimana nyonya ?" tanyaku sambil duduk bersandar ke tembok dari sisi berlawanan dengan Yusro.
"Entar aja gua cerita, masih capek gua," jawab Yusro dengan pelan lemas, sambil beranjak berdiri mengambil baju ganti.
"Sesuatu enggak baik kayaknya ini," ucapku dalam hati melihat sikap Yusro.
Daru sudut dinding ini ku berpasrah atas sandaran beban badanku, melihat Yusro yang berjalan pelan dengan lemas menuju pintu sembari mengalungkan sarung gantinya pada bahu sebelah kiri. Sangat terlihat dengan jelas pula, begitu berat ku rasa beban yang kini ia pikul sendiri, melihatnya seperti ini seperti tak tega rasanya aku menatapnya dengan hati persahabatan.
"Gua persiapin temen untuk ngobrol aja sekarang," ucapku dalam hati sambil beranjak menuju lemari pribadi.
"Nyuruh siapa ya," ucapku sendiri sambil berfikir.
Sangat tepat sekali, sesaat aku mulai mencari korban tumbal untuk jiwa rebahan ku, Ependi masuk dengan santainya membawa piring kosong yang sudah bersih, menandakannya sehabis makan malam.
"Nahh, pas sekali... lu mau mantab mantab enggak ?" tanyaku sambil mengalungkan lenganku pada lehernya.
"Mantab - mantab apa ?" jawab Ependi dengan senyum - senyum.
"Lu beli Surya12 entar gua kasih persenan," ujar ku sembari memberinya uang.
"Lima ya," sahutnya dengan senyum jahat.
"Udah... itu urus nanti, sekarang lu beli dulu aja," jawabku sambil mendorongnya keluar kamar.
"Oke kapten, hahaha," jawab Ependi dengan tawa sambil berjalan keluar.
Singkat cerita, bertemankan sinar mentari yang terpantul kepada rembulan dengan begitu cerahnya membuat perjalanan awan yang pelan menjadi terlihat dengan jelas setiap langkahnya dan setiap pudaran tepian tipis darinya. Duduk terdiam dan termenung sembari menyalakan setiap puncung rokok menjadi titik awal obrolan kami berdua di depan kamar lantai dua ini.
"Gimana Ro," tanyaku sembari menghisap rokok dalam - dalam.
"Dia kepikiran mau berhenti kuliah," jawab Yusro yang lumayan membuat terapi syok jantung.
"Ehhh, kenapa ? mendadak banget," tanyaku dengan nada kaget.
"Gimana ya... pengaruh lingkungan sih sebenernya," jawab Yusro dengan santainya sambil menghisap rokoknya dalam dalam.
__ADS_1
"Pengaruh lingkungan gimana ?" tanyaku kembali mencoba menegaskan.
"Jadi daerah sana itu masih banyak yang berpikiran, buat apa anak perempuan sekolah tinggi - tinggi toh akhirnya juga terjun ngurusin rumah sama anak," jelas Yusro dengan tegasnya.
"Wahh... parah sih, kalo urusan kek gitu, lingkungan yang ngebunuh cita - cita banget," jawabku dengan pelan.
"Kalo nekat sih bisa aja, karena ibu sama bapaknya sendiri ngikut dia," sahut Yusro lagi.
"Tapi ?"tanyaku mencoba menegaskan.
"Lu paham bener kan, resikonya ?" jawab Yusro dengan senyum tipis meledek.
"Yahh, gua paham... resiko jika jatuh pada titik yang tidak diharapkan, tekanan dan cibiran masyarakat sekitar akan sangat mempengaruhi," jawabku dengan pelan sambil menatap langit - langit.
"Yah begitulah," jawab Yusro dengan pasrahnya sembari melepaskan kepulan asap dari mulut.
"Terus langkah yang saat ini lu ambil gimana ?" tanyaku kembali sambil melirik ke arahnya.
"Untuk saat ini dia masih nekat lanjut, cuman sesekali dia kepikiran dengan ucapan lingkungan sekitar itu," jawab Yusro yang begitu tenang.
"Yah moga aja kuat lah," sahutku dengan pelan sembari menghisap rokok.
"Ngomong - ngomong, lu dapet uang dari mana bisa beli rokok," tanya Yusro dengan senyum sinisnya, yah kurasa ia ingin mencairkan suasana yg tenang itu.
"Lah, gua mah masih banyak uang," jawabku dengan songong sambil senyum - senyum.
"Tapi ?" sahut Yusro meledek.
"Ehh, bener woi," tegas Yusro kembali.
"Yaa... inisiatif gua pingin ngobrol dengan santai, jadi uang makan besok-" belum selesai aku menjelaskan Yusro kembali menyahut.
"Ahhh, mantab... kelaparan kembali menyerang," sahut Yusro memotongku.
"Hahaha, dahlah santai aja, kalo masih dikasih idup, ada jalan - ada jalan," jawabku dengan tawa sambil menepuk pundaknya dengan keras.
"Lu gimana ?" tanya Yusro setelah sempat hening beberapa saat.
"Gimana apanya," jawabku dengan tenangnya sambil menghisap rokok menatap awan yang bergerak dengan tenang.
"Si Sri, gimana," tanya Yusro dengan santai itu mengagetkanku.
"Uhukk... uhukkk... ngomong apaan lu," karena kaget mendengar pertanyaan Yusro yang mendadak, membuatku tersedak asap rokok yang tengah ku hisap.
"Gimana ?" tanya Yusro lagi dengan senyum sinis.
"Gimana ya," jawabku singkat dengan malu - malu, yah kurasa wajahku memerah saat ini.
"Alahh, kelamaan lu... kalo lu merasa yes, udah lanjut aja... segera buat status, keburuan orang lain sakit hati gua nggak mau beliin rokok," ledek Yusro dengan santainya menikmati rokok yang sudah mengecil.
__ADS_1
"Huftt... ya masih sebatas panggilan khusus sih, sering sering komunikasi di grup... yahhh lu tau lah," jawabku dengan pelan mencoba mengendalikan diri.
"Asli... kelamaan lu," sahut Yusro dengan wajah sinisnya.
"Tenang aja, gua udah atur strategi," jawabku dengan santai sambil tersenyum pepsoden ke arahnya.
"Setrategi apaan ? ngasih buah mangga ?" jawab Yusro masih dengan nada meledek.
"Huahahaha... kok lu tau," jawabku dengan tawa lepas.
"Jelas lah, kita udah tiga taun lebih bareng - bareng, meski gua pelupa tapi gua nggak se O'on itu juga," sahut Yusro dengan ledekanya.
"Ya ya yaa... siap kang Mas Yusro," jawabku dengan tawa masih tersirat.
"Inget, sebelum lu beraksi... pastiin bener kalo dia nggak lagi sama siapa - siapa," sahut Yusro dengan tiba - tiba bernada serius.
"Iyaa... udah gua tanya, katanya lagi sendiri," jawabku dengan santai menatap langit sembari menghisap dalam rokokku.
"Bukannya apa - apa sih, melihat kita semua baru masuk Universitas, dan dia bisa di bilang cewek good looking, jangan kaget kalo banyak juga yang ngejar dia," ujar Yusro dengan serius.
"Okee... okee... gua juga masih mau nanya Hulaifi tentang dia," jawabku dengan santainya.
"Nah... betul tu, cowok nggak bakal bohong kalo soal perasaan... kecuali dia dapet persenan, hahahaha," sahut Yusro mencoba melawak.
"Hahaha... kurang ajar lu, dijaga tu mulut," jawabku mencoba menanggapi lawakannya.
"Dahalah, pokok kalo beneran udah keliatan ada kesempatan, segera sikat aja," ujar Yusro sambil berdiri hendak masuk ke dalam kamar.
"Siap laksanakan kapten," jawabku dengan senyum meledek.
"Ehh iya, gua denger dari Fauzi... besok mau futsal katanya," ujar Yusro lagi setelah berjalan beberapa langkah.
"Entah ya, tadi gua langsung pulang... nggak sempet kumpul sama anak - anak," jawabku sambil mematikan rokok yang sudah mengecil.
"Berarti iya, gua baru tau tadi... dapet chat dari dia," sahut Yusro sambil mengambil rokok lagi.
"Berarti besok bolos ?" tanyaku dengan datar.
"Ahhh, enggak deh kayaknya kalo bolos... mungkin kosong kali pak Wawan," jawab Yusro sambil memijit - mijit pelan rokoknya.
"Yaudah, ngikut aja besok," jawabku dengan singkat.
"Gua mau turun cari baju ganti besok, lu sekalian enggak ?" tanya Yusro sambil berjalan mendekati tangga.
"Nggak usah deh, gua males nyuci milik orang..." jawabku dengan pelan.
"Yaudah kalo gitu, lu futsal pake celana panjang levis besok, hahaha," jawab Yusro menuruni tangga sambil meledekku.
"Diem lu," ujar ku dengan keras.
__ADS_1
"Hmmm, kalo kata Yusro bener gimana ya... gua hanya jadi salah satu" ucapku dalam hati sambil menatap langit gelap yang terbungkus sinar rembulan.
"Dahlah, besok urus besok... ngalir aja dulu," ucapku dalam hati kembali, sambil tersenyum mengambil sepuncung rokok dan menyalakannya.