
"Ternyata tinggal lima hari lagi ya," ucapku kepada Fauzi dari jok belakang motor sembari melihat langit tua yang mulai menunjukan gelapnya.
"Beres lah, yang penting tau intinya gimana, tinggal ngomong aja," jawab Fauzi dari depan dengan santainya.
"Gua juga lagi belajar ngontrol nih mulut,"
"Ehh, ngomong - ngomong kalo boleh tau kok bisa temen lu banyak banget disini," tanyaku lagi kepada Fauzi.
"Lah lu bingung kenapa, wajar aja kan," jawabnya dengan senyum sinis meledek.
"Secara aja rumah lu jauh di ufuk timur bambang," sahutku dengan nada menusuk mengakhiri.
"Gua dulu lulusan STM deket sini," jawabnya singkat dengan senyum sok manis.
"Idih, senyum apaan tu... jijik gua liatnya," sahutku dan diikuti tawa lepas.
"Kurang ajar lu, gua cuman keinget masa - masa STM dulu," jawab Fauzi yang begitu tulus dan dalam.
"Palingan yang lu inget masa - masa bolos," ujarku sambil meledek.
"Hahaha, bolos ? itu jaman angkatan lu," jawabnya dengan tawa lepas yang membuatku terbingung dengan makna tawa itu.
"Maksud tawa lu itu apaan," tanyaku dengan segera.
"Asal lu tau Za, gua tu lahir di tahun 95... dan ketika gua STM itu musimnya nakal anak sekolah bukan lagi bolos," jawab Fauzi dengan tawa tersirat tipis.
"Bentar - bentar... berarti lu pernah ikutan..." jawabku dengan terbengong dan ragu - ragu.
"Yahh, gua pemain tawuran dulu, dan gua termasuk salahsatu eksekutif di sekolah gua," jawabnya dengan santai dan tenang.
"Kurang ajar, ekspresi wajah macam apaan itu," ucapku dalam hati melihat ekspresi Fauzi dari kaca sepion.
"Gua membintang dari kelas dua sampe lulus," ujarnya lagi dengan tenang.
"Wahh super nih, gua punya temen gengster," ucapku dalam hati sambil bertepuk tangan pelan.
"Wahh wahh, pantesan banyak yang kenal," ucapku sambil tersenyum tipis.
"Musuh iya," jawabnya lagi dengan tawa.
"Kalo boleh tau, model lu tawuran gimana ? bergerombol gitu ?" tanyaku lagi dengan penasaran.
"Emang lu pernah liat tawuran sendiri - sendiri ? namanya juga tawuran, ya bergerombol lah," jawab Fauzi dengan nada meledek.
"Kek perang di film - film gitu ?" tanyaku lagi.
__ADS_1
"Iyahh, kek gitu... bawa senjata juga,"
"Senjata ? maksud lu gimana," tanyaku kembali terkaget dengan intonasi naik.
"Lahh, ya senjatanya anak tawuran, panah, tombak, celurit, gir motor yang diiket pakek sabuk, batu, dan apalah pokok bisa buat nyerang," jawab Fauzi dengan santainya menjelaskan.
"Lu juga pekek senjata yang kek gituan ?" tanyaku lagi dengan wajah terbengong.
"Iyalah, dewan eksekutif kok dilawan," jawabnya dengan singkat.
"Wahh parah lu, asli... parah," ucapku sambil menggeleng - gelengkan kepala.
"Bener parah banget dulu, hahaha," jawabnya dengan tawa lepas.
"Lu enggak takut ditangkep polisi, atau malaikat ?" tanyaku.
"Idih ditangkep malaikat, hahaha," jawabnya dengan tawa lagi.
"Rumah sakit dulu napa, langsung malaikat... kan enggak seru," ucapnya lagi dengan tawa yang masih tersirat.
"Serius oi, gua beneran tanya," ucapku lagi sembari memukul pelan helem Fauzi dari belakang.
"Hahaha, gua nggak mikir keknya dulu," jawabnya dengan tawa sembari menghindari pukulanku.
"Yang penting kan sekarang udah enggak," ujarnya dengan senyum tanpa dosa.
"Hahhh, syukur aja lah kalo lu udah sadar," jawabku singkat sambil menghembusakan nafas dalam - dalam.
"Jadi pingin lagi, kangen ketegangan suasananya gua," ucarnya dengan tiba - tiba yang membuatku sempat terdiam.
"Musuh lu pertama gua," setelah diam sesaat, ku jawab dengan tenang dan dingin.
Yah, atmisfir sekitar seketika berubah menjadi mencekma dan menegangkan, kulihat lirikan matanya yang menakutkan dari kaca sepion lengkap dengan senyum kecil bak pemeran antagonis.
"Hehe, enggak - enggak... tenang aja," ucapnya lagi dengan tiba - tiba.
"Hahhhhh... ngeri nih anak, kek psikopat tatapannya," ucapku dalam hati setelah mendengar ucapan Fauzi.
"Gua kira bakalan gelut beneran, hufftt..." ucapku lagi dalam hati sambil menghela nafas panjang.
"Dahlah, ngeri gua ngomong sama lu," jawabku sambil membalikan wajah ke arah samping.
"Hahaha, lu tenang aja Za... gua tau mana kawan dan lawan," ucap Fauzi dengan tawanya yang seperti yakuza.
"Tobat deh, gua punya temen yakuza," ucapku dalam hati sambil menelan ludah.
__ADS_1
Dengan bergulirnya pembicaraan yang semakin waktu kian melebar dan memanjang ke segala arah, tak terasa kini kami telah sampai di halaman depan posko tempat kami mendaratkan motor sejajar dengan tiga motor yang telah ada.
"Bukannya ini motornya Fredi ya," ucapku kepada Fauzi yang masih melepaskan helem.
"Dari baunya iya," jawabnya dengan konyol sembari mengendus kaca sepion motor hitam itu.
"Jangan aneh nyet," sahutku dengan tawa pelan.
"Wah gua dah lapar, Yusro sama Syarif gimana ya," ucap Fauzi sambil berjalan dengan pelan.
"Assalamu'alaikum," ucapnya lagi dengan keras di depan pintu.
"Waalaikumsalam, keras amat," jawab seorang pria dengan kulit putih berkacamata.
"Eh siapa nih, dosen ?" tanyaku dalam hati sambil memasuki ruang posko.
"Anakmu ini Pak," tanya pemuda berkacamata itu kepada Pak Prapto yang duduk jauh di dalam.
"Hahaha, iya anakku itu, salaman lee... dosen matematika ini," jawab Pak Prapto sambil menyuruh kami untuk sedikit rasa hormat.
"Ehh maaf Pak, tadi gasnya agak kebanyakan," ucap Fauzi sambil mencium tangan pemuda berkacamata itu yang ternyata adalah dosen dari Prodi matematika.
"Hehehe, maaf Pak," sahutku lagi.
"Udah gapapa, lain kali lebih keras ya, hahaha," sahut Pak Prapto dari dalam.
"Dah cepet makan dulu, udah di masakin Yusro itu lo," ujar Pak Prapto lagi sambil menunjuk ke ruang paling belakang.
"Hehehe, iya Pak," jawab kami singkat sembari berjalan menuju kamar.
Sesampainya di kamar kecil dan gelap itu, terlihat sedikit cahaya dengan wajah yang sangat amat gembira melihat temannya menahan malu yang teramat sangat.
"Hahaha, malu enggak... malu enggak... ya malu lah, masa enggak," ledek Yusro dengan suara kecil berbisik.
"Diem lu, kurang ajar enggak ada yang ngabarin," jawabku sambil meletakan tas pada pojok dinding.
"Siapa suruh jadi manusia nggak ada aqhlak," ujar Syarif dengan tawa kecil.
"Dahlah, laper gua... mikirin malu enggak kenyang kenyang," sahut Fauzi sambil melambaikan tangan kepadaku.
"Assalamu'alaikum!! hahahaha," ujar Yusro memparodikan kekonyolan Fauzi yang berbuah ********.
"Makan makann makann..." ucapku sambil mendorong Fauzi keluar ruangan meninggalkan Yusro dan Syarif yang tengah asyik tertawa.
"Besok juga udah lupa kali," ucapku dalam hati menahan ********.
__ADS_1