
Tidak lama sehabis wanita yang baru ku ketahui namanya Anis kembali ke belakang, kali ini dia kembali menghampiri kami dengan di iringi oleh ibunya yang basah dengan keringat karena menggoreng kerupuk.
"Eee, nak Fauzi... lama enggak kesini ya." Sapa Ibu Anis kepada Fauzi dengan ramahnya.
"Hehehe, iya Buk," sahut Fauzi sembari bersalaman dengan beliau dan di teruskan kepada kami semua.
"Sibuk apa sekarang ?" tanya Ibu Anis lagi sambil duduk di kursi sebelah Anis.
"Cuman ngurus ranting aja Buk," jawab Fauzi dengan santai.
Percakapan antara Fauzi dan Ibu Anis berjalan lumayan lama, saling melemparkan pertanyaan dan pendapat membuat pembicaraan itu semakin meluas dan melama. Yah... bisa ditebak kami bertiga bagaikan backsound dalam iringan lagu.
Begitu lama ku rasakan kami bertiga menjadi pelengkap, kini Ibu Anis meminta izin kepada kami untuk kembali ke belakang melanjutkan proses penggorengan kerupuk kipas.
"Akhirnya bisa ketawa lepas lagi," ucapku dalam hati setelah ibu Anis ke belakang.
"Ehh jam berapa Ro ?" tanyaku kepada yusro.
"Jam satu," jawabnya sambil memperlihatkan jam tangannya ke arahku.
"Sholatnya ke masjid utara sini Mas," sahut Anis.
"Ehh iya... hehehe," jawabku malu - malu.
"Lah bentar lagi, menghabisin ini dulu," sahut Fauzi lagi sambil meminum kopinya.
"Elu yang dari tadi nyaman dengan situasi, lha kita..." ucapku dalam hati.
"Eh Mbak, itu rambutan buah nggak ?" tanya Syarif dengan percaya dirinya.
"Ohiya, buah Mas... itu silahkan di cari," jawab Anis sambil langsung berdiri dan keluar.
"Saya ambilkan galah dulu," ujar Anis lagi dari luar terdengar kecil suaranya.
"Ini kita mau ngerampok bener ?" tanyaku sambil tersenyum tipis.
"Enggak... enggak usah kelamaan lagi," jawab Yusro dan langsung bergegas berjalan ke luar.
"Mulutnya !!!" ucap Fauzi sambil tertawa lepas mendengar guyonan Yusro.
Dengan tanpa ragu Yusro dan Syarif langsung bergegas keluar untuk mencari rambutan yang sudah terlihat merah merona, bersenjatakan galah kecil runcing yang begitu panjang dengan semangat Syarif menggasak pohon tua itu tanpa henti.
"Za !! ayok sini," teriak Syarif dari luar.
"Di panggil Syarif itu lo," ujar Fauzi sambil tertawa melihat ulah Yusro dan Syarif yang bercanda ria di luar.
"Enggak lah, males gua..." jawabku sambil menghembuskan kepulan asap rokok dengan lebat.
__ADS_1
Masih tidak terlalu lama pemburuan buah itu berlangsung, kini Yusro kembali masuk ke ruang tamu dengan membawa gerombolan buah rambutan dengan begitu banyak dan di susul Syarif yang tertawa di belakangnya melihat tingkah Yusro yang seperti rampok.
"Banyak banget," ujar Fauzi sambil tertawa.
"Lupa enggak nginjek rem tadi," jawab Yusro singkat.
"Emang rampok lu Ro," ucapku sambil tertawa.
"Enggak apa - apa, pokok dihabisin," sahut Anis dari luar.
"Jadi sungkan gua," ujar Fauzi lagi dengan malu - malu.
"Sungguh mengharapkan ?" tanya Syarif sambil tertawa lepas.
"Hahahaa," kami berempat tertawa lepas bersama - sama.
Dengan riang gembira kami bercerita dan berbagi pengalaman di temani rombongan buah rambutan yang sudah merah merona. Sampai pada akhirnya Anis mengingatkan kami akan waktu yang sudah kian menipis dan akan habis.
"Ehh, udah jam dua lo," ucap Anis di tengah candaan kami.
"Ohiya, lupa," sahut Fauzi dengan kaget dan segera bangkit untuk menuju masjid.
"Keganggu setan merah," sahut Syarif sambil tertawa dan bergegas pula.
"Elu setannya," sahut Yusro dengan tawa.
Singkat cerita, setelah kami selesai menunaikan laporan kepada sang pencipta, kami langsung kembali ke tempat semula. Namun betapa kagetnya kami, teryata buah rambutan yang tadinya ada di atas meja dengan begitu banyak kini telah hilang dan berganti satu ember penuh nasi putih lengkap dengan lauk telur goreng dan mie rebus tak lupa kerupuk kipas yang begitu lebar.
"Kalau enggak repot enggak jadi," jawab Anis dengan santainya sambil membagikan piring dan sendok.
"Wah jadi malu nih gua," ujar Yusro sambil senyum - senyum.
"Lu malu - maluin." Sahut Syarif dengan segera.
"Enggak usah berdebat siapa yang lebih malu - maluin, yang penting jaga kesehatan," jawab Yusro dengan senyum sambil mengambil piring dan sendok.
"Keliatan kan, yang lapar siapa," ujar Syarif sambil tertawa.
"Gua lah... iya kan Za," jawab Yusro sambil melemparkannya kepadaku.
"Terserah lu Ro... lu enggak ada salahnya," jawabku singkat sambil mengambil piring juga.
Akhirnya kami berlima makan bersama dengan sesekali berhias keramaian canda dan tawa. Rajutan detik yang sejak tadi hilang akan keberadaanya, tiba - tiba kini mulai menampakan dirinya setelah sinar sang mentari mulai memudar dan menjadi kelabu.
"Zik jam berapa sekarang ?" tanya Yusro.
"Lu kan punya jam, ngapain tanya gua," sahut Fauzi yang sibuk dengan makanan penutupnya, rambutan.
__ADS_1
"Punyak gua di dalem jaket," sahut Yusro singkat.
"Udah jam empat, kenapa," jawab Fauzi masih dengan rambutan di tangannya.
"Ehh lu enggak latihan drama ?" tanya Syarif kepadaku dan Fauzi.
Mendengar pertanyaan dari Syarif, Aku dan Fauzi hanya terdiam membeku sesaat dan saling menatap.
"Izin sekali," jawabku dan Fauzi bersamaan dan melanjutkan kesibukan bersama si merah berbulu.
"Hahahahaa... elu tadi lupa kan," tanya Syarif kepada Fauzi dengan tawa.
"Hehehe iyaa..." jawab Fauzi dengan tawa polosnya.
"Ohiya, pulang kapan nih ?" tanya Fauzi kembali.
Masih belum di jawab pertanyaan dari Fauzi, tiba - tiba ibu Anis keluar dari belakang sambil membawa satu toples besar berisi kerupuk kipas dengan mangkuk di atasnya, yang dapat aku tebak itu adalah sambal.
"Aduh... ini..." kataku dalam hati.
"Enggak jadi pulang lagi," kataku lagi sambil nyengir tipis melihat Yusro dan Syarif.
"Jangan pulang dulu, ini loo... Ibuk bikin sambal" ujar Ibu Anis sambil meletakkannya di atas meja.
"Kok repot - repot banget to Buk," jawab Fauzi sambil menyingkirkan limbah rambutan yang memenuhi meja.
"Enggak repot ini, coba di cicipi dulu," ujar Ibu Anis sambil beranjak kembali ke dalam lagi.
"Aslii... perut gua penuh ini," ujar Yusro sambil memelas.
"Alah, kerupuk aja enggak ada bobotnya Mas," sahut Anis kepada Yusro.
"Buat syarat," sahut Fauzi sambil mengambil kerupuk dan melapisinya dengan sambal.
Masih belum habis dengan kerupuk kipas pertama kami, Ibu Anis datang lagi membawakan nasi putih satu ember penuh dengan lauk telur goreng dan sambal terong yang dibawanya secara bergantian.
"Ini makan malamnya," ujar Ibu Anis sambil tersenyum.
"Tapi Buk, ini tad-" masih belum selesai Fauzi berbicara, Ibu Anis langsung memotongnya.
"Pokoknya harus dimakan," ujar Ibu Anis dan bergegas kembali ke belakang.
"Pembunuhan ini," ucap Yusro pelan sambil melihat nasi.
"Ayo buat syarat," sahut Fauzi sambil nyengir.
"Syarat yang ke berapa ini," tanyaku kepada Fauzi.
__ADS_1
"Yang kesekian kali," jawab Fauzi singkat sambil nyengir.
"Ini bisa jadi stok cadangan makanan dua hari," kataku dalam hati melihat Fauzi dengan tawa keraguannya.