Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 37 : Kejutan malam


__ADS_3

"Semoga aja diberi kelancaran," ucapku dalam hati setelah sampai di depan pintu gerbang pondok.


"Lu naik ke kamar dulu aja Ro," ucapku kepada Yusro yang sudah turun dari motor.


"Ya..." jawabnya pelan dan singkat.


"Baru kali ini gua naruh motor di tempat parkir, moga aja enggak papasan sama Abah," ucapku lagi dalam hati sembari menelan ludah.


Dengan perasaan yang was - was dan penuh keraguan segera ku taruh kuda besi hijau itu pada kandangnya dan segera bergegas naik ke kamar untuk menghindari hal - hal yang tidak di inginkan.


Dalam detik yang penuh dengan ekspektasi mengerikan, akhirnya si hijau berhasil masuk ke kandang dengan aman dan tanpa kendala, dengan segera pula aku langsung bergegas naik ke kamar. Sesampainya di atas Yusro langsung menyambut dengan kata - kata mutiaranya.


"Gimana, dapat marah abah ?" tanya Yusro sambil terkapar di lantai.


"Kurang ajar," ucapku dengan singkat sambil menaruh helem dan tas yang basah.


"Segera ganti tu baju," ucapnya lagi sambil menutup mukanya dengan sehelai sarung.


"Lu yang cepetan ganti baju, orang udah sekarat sok - sokan jadi manusia," jawabku dengan nada sinis.


"Haaa!!! mau mandi dulu gua," teriak Yusro dengan keras sembari beranjak berdiri.


Dalam palung waktu yang terkurung ruang hampa dengan iringan instrumen rintik hujan tiada henti segera kami berdua membersihkan diri dari selimut hujan yang semenjak tadi telah menutup semua pori dalam raga.


"Wah kena nih kesehatan," ucapku dalam hati melihat tanganku yang tengah bergemetaran.


"Sial... uang nipis banget," ucapku lagi dalam hati setelah keluar kamar melihat kantin.


"Pen!! punya diven ?" teriakku dari depan kamar kepada Ependi yang tengah makan mie instan di kantin.


Tanpa kata untuk menjawab, ia hanya mengangkat tinggi tangannya sembari mengacungkan jempol ke atas. Yahh, aku sudah tau maksudnya apa.


Singkat cerita setelah aku selesai membersihkan diri dari air hujan yang begitu menyayat kulit masuk sampai ke tulang dengan dalih dinginnya diri, segera ku cari diven milik Ependi yang barusan ku tanyakan kepadannya.


"Mana Pen," tanyaku lagi setelah aku mencari dalam lemarinya namun tidak membawakan hasil.


"Pojok kiri," jawabnya singkat sambil meletakan piring pada tempatnya.


"Ngapain lu pakek diven, tumben amat," sahutnya lagi untuk bertannya.


"Gua takut kesehatan gua tergangu," jawabku dengan singkat sambil terus mencari.


"Bisa nyari enggak sih," sahutnya lagi menghampiriku.


"Gua kan enggak naruh, mana gua tau," jawabku dengan singkat.

__ADS_1


"Nihh..." sahutnya dengan segera sambil memperlihatkan satu botol kecil berwarna bening dengan cairan di dalamnya yang tinggal setengah.


"Kenapa enggak dari tadi," jawabku sambil menyahut botol kecil itu pada tangan Ependi.


"Satu tetes aja, jangan banyak - banyak... kebanyakan enggak bisa jalan lu nanti," ucap Ependi lagi sambil menutup pintu lemarinya.


"Iyaa... iya... paham gua, lu mau nggak," tanyaku sambil mengacungkan satu bungkus rokok.


"Jelas nggak nolak dong," jawabnya dengan segera dan langsung mengambil rokok untuk di beri diven.


Jadi diven disini merupakan sebutan dari obat berbentuk cair yang nantinya di teteskan pada filter rokok, dengan dalih harapan mampu menambah kekebalan tubuh, namun memiliki efek samping pusing tergantung banyak sedikitnya setiap tetesan.


"Yusro mana ?" tanya Ependi sambil meneteskan diven pada rokoknya.


"Entah, masih mandi kali," jawabku singkat sembari menyalakan rokok.


"Ehh, ngomong - ngomong udah ada kabar belum untuk SP," tanyanya lagi sembari menghisap rokok dalam - dalam.


"Wahh, gua lupa nggak tanya tadi," jawabku dengan singkat.


"Hossttt!!! dingin amat," ucap Yusro dengan keras ketika melewati tangga.


"Dahh, cepet pakek jaket, makan api dulu," sahutku sambil mengarahkan wajah ke dalam kamar.


"Sang Fajar," jawab Ependi singkat sambil tersenyum dengan menaikan kedua alis.


"Diven aman," tegas Yusro lagi sembari masuk ke dalam.


"Aman, pokok duduk sini dulu aja," jawab Ependi.


Dalam malam yang dingin dan pekat itu kami bertiga duduk manis dengan bertemankan lentera kecil yang masing - masing kami bawa dan kami hisap kepulan asapnya. Melalui kisah singkat yang saling kami lemparkan secara bergantian tawa kami pun terajut dengan indah menggantikan sinar binttang yang lenyap akan hadirnya awan hujan.


Masih dengan tawa yang begitu menggema pada detik hampa pekatnya malam, ponselku berdering dengan kerasnya dari dalam memecah suasana hangat yang sempat tercipta.


"Za... di cariin petugas bank lu, bayar angsuran nasi pecel," sahut Yusro menambah tawa kami semakin pecah.


"Kurang ajar lu, kalo iya gimana ya," jawabku sambil beranjak dengan tawa yang tak lupa aku bawa.


"Siapa ya, tumben banget ada yang nelpon gua jam segini," sembari berjalan menuju pusat deringan hatiku bertanya - tanya.


Betapa kagetnya jiwa ini setelah melihat nama kontak yang tertulis jelas pada layar LCD ponsel kecil warna oren itu. Yah Sri melemparkan panggilan suara kepadaku. Tanpa banyak berfikir lagi, langsung aku jabut ponselku dari konektor charger dan menepi pada dinding dekat jendela.


"Siapa tu, kok senyum - senyum sendiri," sahut Yusro dari depan membuatku bergerak salah tingkah.


"Diem monyet," jawabku dengan pelan sambil tersenyum malu - malu kucing.

__ADS_1


"Haloo assalamu'alaikum," ucapku lagi dengan pelan setelah menjawab panggilan masuk itu.


"Hallo assalamu'alaikum, masih apa Za," tanyanya langsung.


"Waalaikumsalam, ehh nggak ngapa - ngapain, cuman nongkrong aja sama anak - anak," jawabku dengan sangat kaku karena masih malu - malu.


"Kok enggak di jawab sih," ucapnya lagi.


"Ehh, gimana sih... kan gua udah jawab," ucapku sendiri dengan wajah kebingungan.


"Penn, headset mana," teriakku dengan segera kepada Ependi yang berada di luar.


"Lemari," jawabnya dengan singkat.


Tanpa menunggu waktu menambah detikannya lagi, dengan segera langsung ku buka pintu lemari Ependi dan mengacak - acak isinya untuk mencari sehelai barang konektor suara.


"Haloo... halloo... halloo... jangan dimatiin dulu," ucapku langsung setelah menemukan ujung headset dan menancapkan nya pada ponsel.


"Kemana aja sih, lama banget," ucapnya lagi dengan nada sinis.


"Tadi udah aku jawab, cuman ponselnya aja kurang sehat, butuh bantuan headset ternyata," ucapku mencoba menjelaskan.


Yah, di malam yang penuh dengan kejutan ini aku menghabiskan sisa waktu pratidur ku pada percakapan antar manusia yang sedang jauh di sana. Meski sesekali kami saling terdiam karena aku sendiri masih kurang lihai dalam merangkai kata dan menemukan bahan pembicaraan.


"Jangan lama - lama, gua juga mau pakek," ucap Ependi setelah lama bersama Yusro di luar.


"Iya iya... bentar," ucapku dengan pelan sembari menjauhkan spieker dari sumber suaraku.


"Cinta kok ngerepotin yang lain," sahut Yusro yang tengah menata alas tidur.


"Diem lu bambang," jawabku dengan nada garang namun dengan volume sangat pelan.


"Udah ya, udah malem... lanjut besok aja lagi," ucapnya dengan tiba - tiba setelah kami terdiam beberapa saat.


"Ehh, kenapa... ngantuk ya," tanyaku lagi dengan segera.


"Tidurr... tidurr..." ucap Yusro dengan keras sambil merebahkan badan.


"Tuhh kan, udah mau tidur juga," sahut Sri langsung dari telepon.


"Ehh enggak, itu tadi cuman polusi suara," sahutku dengan segera.


"Enggak apa - apa, goodnight..." ucapnya lagi dan langsung mematikan telepon tanpa menunggu jawaban dariku.


"Goodnight juga," ucapku dalam hati sembari melihat ponsel yang kembali ke layar utama.

__ADS_1


__ADS_2