
Seperti biasa, jubah embun yang kami kenakan kini telah semakin menipis akibat terpaan sang mentari yang membabi buta ke berbagai penjuru dan pelosok ruang dalam hamparan alam semesta. Dengan kecepatan tinggi menambah kecepatan kikisan yang terjadi terhadap lapisan embun yang membalut kami.
"Ro!! jam tujuh," ucapku dari jok belakang dengan keras.
"Jangan nambah gua panik, kita udah maksimal ini," jawab Yusro dari depan yang sedang mengemudi.
"Yasudah, masih jam enam kenapa lu ngebut," ujar ku lagi membalas tanggapan Yusro.
"Nah gitu dong, meluncur..." jawab Yusro dari dalam helem sambil memutar pedal gasnya semakin memutar ke belakang.
Dengan kecepatan semakin tinggi kini kami meluncur lurus ke timur menjemput pusat sinar mentari yang tengah berpijar dengan riang menuju kumpulan ruang tempat menuntut ilmu.
Yah, seperti yang telah terjadi di hari - hari sebelumnya, kami terlambat. Dengan pelan dan percaya diri, aku dan Yusro menuntun sepeda motor dengan mesin yang masih panas itu menuju tempat penitipan motor di belakang ujung ruangan.
"Emang super bandel ya," ucapku pelan kepada Yusro yang masih menuntun motor.
"Iya lah, lakukan sesuatu hal dengan maksimal," ujar Yusro dengan serius kepadaku.
"Bukan gini konsepnya manusia!!" ucapku pelan namun dengan nada ngegas.
Dengan segera, setelah kami mendaratkan motor hijau yang super keren milik Yusro, kami segera menghampiri kelas tempat kami akan menggali pembelajaran di semester satu ini. Namun, masih kurang beberapa meter kami akan memasuki ruang kelas, terdengar suara salam penutup dari ruang kelas kami. Dengan sigap dan cekatan kami berdua langsung berbelok arah dari pintu yang tadinya sudah di depan kami, kini berada di samping kiri kebelakang.
"Apes bener kita, mau masuk aja udah selesai," ujar ku dengan bisik namun terus berjalan menjauh.
"Belum waktunya selesai aslinya," jawab Yusro setelah melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Kemana nih Ro," tanyaku lagi.
"Udah situ aja, bawah pohon mangga," jawab Yusro menunjuk tempat duduk di bawah pohon mangga.
Tidak berselang lama setelah kami berdua duduk, terlihat bapak dosen keluar dari ruang kelas dengan langkah yang tergesa - gesa. Tanpa berlama lama lagi, kami berdua langsung meluncur dengan jalan cepat kami menuju kelas yang akan mulai gaduh akibat jam kosong.
"Assalamu'alaikum," ujar Yusro dengan percaya dirinya ketika mulai masuk kelas.
"Waalaikumsalam..." jawab semua anak yang kaget mendengar salam dari Yusro.
"Dari mana aja lu," tanya Fauzi dari bangku belakang.
"Gua kira masih ada jadwal," jawab Yusro sambil tersenyum dan berjalan menuju tempat Fauzi dan Syarif.
"Ehh, kemana tadi pak Wawan ?" tanyaku yang sudah duduk di sebelah Syarif.
"Entah, katanya mau ada rapat gitu," jawab Syarif sambil main handphone.
"Terus ngapain aja tadi setengah jam," tanya Yusro.
__ADS_1
"Alah, nakut - nakutin anak- anak, katanya absensi maksimal izin sebanyak tiga kali," jawab Fauzi sambil memasukan laptop.
"Waduh lha aku sama Reza udah nggak masuk dua kali ini," jawab Yusro dengan gaya kaget, padahal dia santai sekali.
"Lu serius kaget apa enggak," tanya Syarif di ikuti dengan tawa kecil.
"Serius - serius," jawab Yusro pelan sambil menepuk pundak Syarif namun masih dengan senyum.
"Noh bilang sama Arini," ujar Fauzi sambil menunjuk bu Sekertaris dengan matanya.
"Za, atasi..." ujar Yusro berlaga seperti bos.
"Manusia..." ucapku sambil berdiri menuju Arini di bangku paling depan.
"Woww, bener ni anak mahasiswa ? wajah dan postur tubuhnya kek anak SMP," ucapku dalam hati menghentikan langkahku yang kini sudah sampai di belakangnya,
"Nggak usah di pikir lah," ucapku lagi dalam hati sambil berjalan ke depan.
"Anu... Mbak, tolong centangin absen saya," ujar ku sambil nyengir di depannya.
"Ehh... Mas Reza..." jawabnya singkat sambil senyum - senyum.
"Hehehe... Mbak, bisa tolong centang absensi saya," tawaku sedikit membalas tawanya dan mengulang lagi pertanyaanku.
"Hehehe, makasih Mbak," jawabku sambil meraih daftar absensi.
"Cil, besok gua bareng ya..." ujar Jazul dari belakang kepada Arini.
"Cil ?" ucapku dalam hati bertanya - tanya.
"Iya, siap... jangan bangun kesiangan tapi, awas kalo mbangkong gua tinggal," ucap Arini dengan khasnya, yaitu tawa di belakang kata.
"Siap zeyeng kecil," jawab Jazul sambil menekan kepala Arini yang kecil dari samping kiri dan kanan.
"Jangan gitu Zul," ucap Arini mencoba melepaskan kepalanya dari tangan Jazul yang begitu besar.
"Ehh, ada Kakak Reza," ujar Jazul sambil memelukku.
"Ehh, apa - apaan ini, gua jijik woi," ucapku sambil mencoba melepaskan diri dari pelukannya.
"Kenapa to sayang," jawab Jazul sambil mencoba mendekatkan kepalanya ke arahku.
"Astaghfirullah... Zul," ucap Arini dengan tawa sambil menepuk Jazul.
"Kamu mau juga," jawab Jazul melihat Arini.
__ADS_1
"Ehh, emoh...hahaha," jawab Arini masih dengan tawanya.
"Zul!!" teriak Fauzi dari belakang sambil melambaikan tangan ke arah Jazul.
"Apa lu," jawab Jazul sambil melemparkan ku ke tembok setelah tadi di peluknya dan menghampiri Fauzi.
"Ya Allah..., kasihan Mas Reza lo," ucap Arini masih dengan tawanya.
"Kurang ajar lu Zul," ucapku sambil langsung mengisi daftar hadirku dan Yusro kemudian langsung menubruk badan besar Jazul dari belakang.
"Ehh, abis ini mau ke mana lu," tanya Fauzi kepada Jazul yang kini menggendongku di belakang.
"Entah, langsung pulang mungkin," jawab Jazul dengan santai tanpa menganggap ku yang bergelantung di belakang.
"Kita ke sana ya," ujar Fauzi langsung.
"Ayok, tapi jangan lupa," ujar Jazul sambil mengisyaratkan orang merokok.
"Lah beres..., ada bosnya," jawab Syarif sambil menepuk pundak Yusro.
"Hahahaha, beres... iyakan Za," jawab Yusro sambil mengangkat kedua alisnya ke arahku.
"Sekali lagi manusia tiada aqhlak beraksi," ucapku dalam hati, hanya nyengir mendengar ucapan Yusro.
"Yaudah, sekarang aja," ujar Jazul kepada kami.
"Meluncur," ujar Fauzi sambil membawa tasnya.
Singkat cerita kini kami telah sampai di rumah Jazul yang waktu tadi memakan menit perjalanan kurang lebih empat puluh menit. Dengan sambutan hangat dari sang nenek, kami langsung dipersilahkan masuk dan di beri hidangan kopi hitam lengkap dengan beberapa gorengan yang di taruh di atas piring.
"Keluarin woi, keluarin," ujar Jazul kepada kami.
"Nah..." sahut Fauzi sambil mengeluarkan satu bungkus rokok LA dari saku atanya.
"Nah..." berlangsung dengan Syarif yang mengeluarkan rokok tua namun tidak kalah dengan rasa, yah 76.
"Oke..." di lanjutkan dengan Yusro yang langsung mengeluarkan satu bungkus rokok Gudang Garam.
"Mantab...," sahut Jazul langsung menyambar bungkusan kotak yang di keluarkan oleh Yusro.
"Nih..." ucap ku sambil menurunkan satu bungkus rokok yang sama dengan Yusro namun masih bersegel plastik.
"Mari kita berpesta..." ujar Jazul dengan keras.
"Hanya kami berlima, tapi ramainya... kayak orang satu kampung," ucapku dalam hati sambil nyengir melihat tingkah mereka berempat.
__ADS_1