Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 9 : Drama bagian awal


__ADS_3

Deburan angin dengan pelan dan pasti perlahan memasuki ruangan persegi yang berisi 23 makhluk berpangkat manusia ini. Perlahan hinggap dengan sopan terpaan itu mendekap lembut sangat terasa dari belakang, dengan sadar kini perhatian mataku yang tengah terpaku pada gawai jadul kecil berwarna merah yang baru ku dapat memicu pikiran ini untuk terus menekan layar sentuh untuk mempelajari setiap sudut dan lengkuk program di dalamnya.


"Widih, handphone baru nih," ucap Syarif sambil merebut handphone itu dari genggamanku.


"Kagak, punya babe gua itu." Jawabku dengan santai sambil merebahkan punggung di sandaran kursi.


"Lah, terus ngapain lu bawa ?" tanya Syarif masih dengan perhatiannya tertuju pada heandphone.


"Gua tuker sama heandphone gua, punyak gua kan nggak bisa dikasih aplikasi whatsapp, dan yang itu bisa... jadi tukeran aja," jawabku sambil melihat kesibukan yang di lakukan Syarif pada heandphone ku.


"Eee... begitu... terus udah lu kasih aplikasi ?" tanya Syarif lagi kepadaku.


"Hehehehe..." tanpa menjawab dengan kata, aku hanya nyengir.


"Oke, gua paham..." jawab Syarif dengan wajah meledek.


"Ini udah ada kuota internet ?" tanyanya lagi kepadaku.


"Hmmm... apaan itu," tanyaku balik dengan polos.


"Dahlah, males gua," jawab Syarif singkat langsung berdiri dan hendak beranjak pergi.


"Ehh... ehh... jangan gitu woi," ucapku sambil menarik Syarif yang hendak pergi.


"Entar aja kalo ke mushola gua benerin," ujar Syarif sambil kembali duduk dan mengambil kembali heandphone ku.


"Nah gitu dong..." jawabku sambil nyengir - nyengir lagi.


"Ehh Ro, lu kan udah punya HP, masak nggak bisa benerin ni punyak Reza," tanya Syarif kepada Yusro yang sibuk dengan HP nya.


"Idih, dianya aja enggak mau ngasih ke gua," jawab Yusro dengan sombong.


"Wah... keterlaluan ni anak, katanya lu enggak bisa, dulu punyak lu di setting abang lu kata lu," jawabku dengan sedikit ngegas berbaur dengan senyum.


Syarif hanya tertawa terbahak - bahak melihat tingkahku dan Yusro yang saling berdebat merebutkan kebenaran tidak berfaedah, tidak menunggu waktu lama dosen mata kuliah jam ke dua telah sampai dan membuat para manusia yang tadinya berjalan ke sana - kemari langsung duduk di tempat asal mereka.


"Hari ini saya akan memberikan pengumuman terkait acara yang akan datang." Bapak Prapto berdiri dan berbicara dengan lantang si depan.


"Acara ini akan dilakukan bulan depan, khusus untuk prodi PBI." Mahasiswa yang lain hanya terdiam dan bertanya - tanya pada teman sampingnya dengan berbisik.


"Acaranya adalah... bulan bahasa,"


"Gimana itu pak acaranya," tanya Syarif mewakili kami semua.

__ADS_1


"Acaranya di lakukan bulan depan, isi acaranya ya... kurang lebih pementasan seni terkait kebahasaan dan sastra... contohnya drama, puisi, dan lain - lainlah," jawab Bapak Prapto.


"Saya tidak akan menunjuk siapa yang akan tampil besok... tapi saya akan jamin nilai A untuk siapa saja yang dengan ikhlas menyumbangkan bakat dan tenaga untuk acara ini," Ujar Bapak Prapto lagi sambil senyum senyum.


"Pendaftarannya kapan pak ?" tanya Agni dari bangku depan.


"Enggak usah pendaftaran - pendaftaran, untuk yang berniat dengan ikhlas, nanti jam satu saya tunggu di ruang F5," jawab Bapak Prapto singkat.


Ku tatap Yusro dengan lirikan mata, ku lihat dia hanya bersikap biasa dengan memandangi heandphone nya yang masih menjalankan aplikasi game.


"Ro..., lu enggak minat drama ?" tanyaku dengan bisik sambil memiringkan badan.


"Haa... ngomong apa lu tadi," tanya Yusro lagi masih dengan konsentrasi yang terpaku pada heandphone.


"Hmmm, lu nggak mau ikut drama ?" ku hela nafasku dan bertanya kembali.


"Enggak minat gua, lu aja," jawabnya dengan singkat tanpa ekspresi.


"Kalo gua ikut, nanti saat latihan gimana... lu pulang dulu ninggalin gua di sini," jawabku pelan sambil merebahkan badan pada sandaran kursi.


"Enggak - enggak, gua kan bisa nunggu di mushola," jawab Yusro dengan santai masih dengan gamenya.


"Serius lu Ro," tanyaku meyakinkannya lagi.


"Tapi nggak ada temen gua," ucapku pelan sambil kembali merebahkan punggung pada sandaran kursi.


"Lu belum ajak manusia dua itu," jawab Yusro dengan santai sambil mengangkat kedua alisnya menunjuk pada Syarif dan Fauzi.


"Bener juga ya lu," jawabku singkat sambil termenung menatap ke arah mereka berdua yang duduk tanpa semangat.


"Ngapain liat - liat," tanya Syarif dengan nyolot kepadaku.


"Ih... nggak ngeliatin lu gua" jawabku sambil membalikan muka kembali ke depan.


Jam pelajaran mata kuliah yang saat ini berjalan tak terasa kini telah di ambang selesai masa berlaku dihari ini. Ku tatap pergelangan tanganku yang terlilit gelang karet hitam penunjuk waktu masih begitu lama untuk menunggu jarumnya dengan kompak menunjuk ke angka satu.


"Warung apa mushola ?" tanya Yusro kepada Syarif dan Fauzi.


"Terserah, ngikut aja gua" jawab Fauzi singkat.


"Warung aja dulu, laper gua," ujar Syarif langsung berjalan menuju warung depan kampus.


"Meluncurr..." jawab Yusro singkat.

__ADS_1


"Ro, bawa uang berapa lu," tanyaku kepada Yusro dengan berbisik.


"Aman... temen gua baru pulang kemarin," jawan Yusro dengan santainya sambil tersenyum jahat.


"Manusia kurang ajar," jawabku sambil tertawa dan menggesekkan kepalan tanganku ke kepalanya.


Singkat cerita kini kami berempat akhirnya duduk bersama dalam ruang sempit warung pecel di seberang jalan depan kampus, berteman kan sebungkus rokok lengkap dengan kopi hitam, akhirnya Fauzi telah luluh dan mau untuk mendaftarkan diri drama bersamaku nanti.


"Udah siang aja, yuk ke mushola," ujar Syarif sambil menghembuskan asap rokoknya.


"Roo..." ucapku sambil memberikan dompetku kepada Yusro.


"Siapp..." jawab Yusro sambil beranjak menuju tempat kasir.


Sehabis kami dari warung, kami berempat langsung menuju ke mushola untuk berburu wifi seperti biasanya, tidak seperti hari - hari biasanya, ku lihat kini serambi mushola tempat biasa kami rebahan dan bersantai telah di penuhi manusia yang tak asing lagi ku lihat.


"Ehh... itu Mbak yang dulunya berpakaian mencolok, sekarang agak udah agak santai," ucapku dalam hati melihat wanita yang belum aku hafal namanya siapa.


"Ehh Do, tumben kumpul di sini mau ngapain," tanya Fauzi kepada Fredo teman kami satu kelas.


"Entah ngapain, katanya mau ngerjain tugas," jawab Fredo di lanjutkan dengan tawa khasnya. Yah, tawa yang enggak lucu tapi lucu baginya.


"Enggak usah ngobrol sama Bangzik Do..." ujar Arini dari serambi.


"Apaan ? Bangzik ?" tanya Syarif lagsung dengan tawa.


"Ehh... awas lu Nyil," ucap Fauzi langsung menghampiri Arini yang tengah tertawa.


"Tuh kan enggak jadi ngerjain tugas," ucapku pelan kepada Fredo yang duduk di tepian serambi.


"Hahahaa... betul," jawab Fredo masih dengan tawa.


"Ngomong - ngomong tugas apaan Do ?" tanya Yusro sambil duduk di sebelah Fredo.


"Bukan tugas..." jawab Fredo sambil menepuk pahaku dengan keras yang kini telah duduk di sampingnya.


"Sakit woi !!!" jawabku sambil membalas pukulannya.


"Tapi ?" umpan Yusro lagi.


"Kelompok, besok presentasi..." jawab Fredo sambil tertawa.


"Ramai sekali hari ini, temen - temen gua ternyata beraneka ragam ya," ucapku dalam hati sambil nyengir melihat situasi sekeliling.

__ADS_1


"Mas, Mbak... jangan ramai ya..." terdengar suara yang kurang ramah dari kantor, mengakibatkan kami semua langsung terdiam.


__ADS_2