
Dalam pekatnya malam di lereng pegunungan berteman kan dengan kesetiaan guyuran hujan yang semenjak siang tadi terus saja menerjang. Dengan bersanding dua cangkir kopi yang mendidih kini ragaku tersimpuh rapuh lengkap dengan pelukan dingin yang begitu tulus menyeluruh dalam setiap sendi raga rapuh.
Seusai merasa kenyang dengan selimut hujan yang kami pakai sepanjang lintasan waktu tadi, kini aku dan Yusro duduk tenang menghangatkan diri di depan ruang tamu sembari melihat setiap tetesan air yang jatuh dari ujung genting bata yang sudah kehitaman.
"Gimana Ro, surat aman ?" tanyaku sambil memegangi secangkir kopi hitam spesial buatan ibu Yusro.
"Aman... tadi udah ada gua lihat," jawab Yusro dengan tenang sambil memulai mengendalikan percikan api.
"Berarti besok berangkat jam berapa ?" tanyaku sambil meraih sebungkus rokok penyambung kehangatan diri.
"Terserah, lu mau sampai terlambat apa tepat waktu," jawab Yusro lagi dengan santai sambil menghembuskan kepulan asap dari mulut dan hidung.
"Asik bener lu, awal masuk sudah terlambat," jawabku singkat dan kini giliranku memulai mengendalikan percikan api.
"Lah kenapa enggak, coba lu pikir... perjalanan dari sini ke sana memakan waktu kurang lebih tiga jam, masuk perkuliahan jam tujuh, kalo enggak mau terlambat kita harus mulai berangkat pukul empat... lu mau kedinginan lagi," sahut Yusro sambil menjelaskan dengan gayanya.
"Bener juga lu ya, yasudah jam pertama izin aja," jawabku sambil mengusap - usap dagu.
"Izinnya besok aja, kalo sekarang di sini enggak ada sinyal," ujar Yusro lagi sambil menghembuskan kepulan asap.
"Yasudah lah gua ngikut aja," jawabku singkat sambil menghembuskan kepulan asap.
Sekitar dua jam kami berbincang - bincang kasar dan panas layaknya dua sahabat akrab, tak terasa kini dinginnya malam semakin enggak bisa diajak berkompromi ditambah lagi dengan guyuran hujan yang begitu awet layaknya mengandung MSG. Sekitar pukul sepuluh malam kami segera beranjak masuk untuk mencari kehangatan yang lebih layak dan bijaksana.
"Mau nonton TV enggak ?" tanya Yusro sambil melebarkan karpet di depan TV.
"Ada acara asik - asik enggak," tanyaku kembali.
"Widih... asalkan asik - asik, lu minta apa boleh," jawab Yusro dengan logat sok nya.
"Minta doang doang...," jawabku sambil ku rebahkan badanku pada karpet yang sudah melebar.
Yah, tak lama kami berdua terlelap sangat nyenyak berkat instrumen hujan yang terdengar sayup - sayup dari dalam. Singkat cerita pagi pun kini telah menunjukan tatapan sinis nya kepada kami yang berlarian dengan penuh rasa tergesa - gesa menuju tempat dimana kami akan melanjutkan pemburuan ilmu.
"Apes bener, jam berapa sekarang," ujar Yusro dari dalam helem.
"Enam bambang," jawabku dengan keras dari belakang.
"Waduh, jam ke dua bisa telat ini," ujar Yusro lagi sembari menambah kecepatan rotasi roda motornya.
__ADS_1
Dengan keahlian mengemudi yang tinggi, belokan demi belokan pegunungan terlewati tanpa adanya pengurangan gigi mesin dan tarikan rem.
"Ro, gua belum nikah," ujar ku dalam hati tersiksa dengan keahliannya mengejar waktu dalam lintasan aspal berkelok - kelok.
Akhirnya usaha pemersingkat waktu yang kami lakukan membawakan hasil, kurang dari dua setengah jam akhirnya kami telah tiba dan mulai memasuki kawasan kampus. Karena ruang kelas kami berada di depan halaman menuju tempat parkir, terlihat jelas dosen yang masih mengajar di depan kelas terlihat seperti sedang menjelaskan materi.
"Masih ada dosen Ro, gimana," tanyaku kepada Yusro setelah hinggap di tempat parkir motor.
"Ke kantin dulu aja, lapar gua," jawab Yusro sambil langsung berjalan.
"Lah mau makan ?" tanyaku menghentikan langkahnya.
"Mau nyanyi sambil goyang," jawab Yusro dengan tatapan sinis.
"Elah, gua sawer lu," jawabku sambil berlari kecil mengejarnya.
Sesampainya di kantin tidak di sangka - sangka ternyata sudah ada dua orang manusia yang sudah tidak lagi asing bagi kami. Yah itu adalah Syarif dan juga Fauzi yang sedang duduk berdua berteman kan kopi hitam lengkap dengan rokok yang di gapit oleh jemari.
"Lah, kaga masuk," tanya Yusro sambil berjabat tangan.
"Kita yang enggak, yang lain masuk," jawab Fauzi dengan singkat.
"Ngapain ?" tanyaku sambil berjabat tangan pula.
"Ni anak, udah jelas kopinya enggak lagi panas, katanya baru sampai," ujar ku dalam hati.
"Lha lu dari mana aja," tanya Fauzi dengan logatnya yang begitu santai.
"Buk, kopi hitam dua... gua dari rumah ambil surat keterangan dari desa," jawab Yusro setelah memesan kopi.
"Ehh, katanya peng upload an datanya sebentar lagi," ujar Syarif sembari menghisap kopinya.
"Lah enggak paham kalo itu gua, tau dari mana lu," jawab Yusro di teruskan dengan pertanyaan.
"Grup lah, lu enggak masuk ?" tanya Syarif.
"Masuk sih, cuman kendala kuota aja," jawab Yusro sambil senyum - senyum.
"Pantesan..." jawab Syarif kembali.
__ADS_1
"Ngomong - ngomong abis ini mau ke mana ?" tanya Fauzi kepada kami berdua.
"Ke mana Ro ?" tanyaku kepada Yusro.
"Entah ya, gua juga belum tau tempat strategis buat nongkrong area sini," ujar Yusro menjawab pertanyaan ku dan Fauzi.
"Bawa laptop kan, ikut gua aja," ujar Fauzi kepada kami.
"Ke mana ?" tanyaku singkat.
"Sederhana aja, mushola," jawab Fauzi dengan santainya.
"Lah ngapain ?" tanya Yusro dengan kaget.
"Kata temen gua, mushola sini ada wifi berkecepatan tinggi, apa lagi kalo yang ngakses sedikit, wih... mantab pokoknya," jawab Fauzi.
"Enak enggak buat nongkrong ?" tanya Syarif.
"Katanya sih enak, kita lihat aja nanti," jawab Fauzi singkat sambil menghisap rokoknya.
"Oke boleh," jawab Syarif singkat.
"Aku sih yes." Diikuti dengan Yusro.
"Yo'i," jawabku singkat.
Tidak perlu menunggu waktu terlalu lama, terlihat pemberitahuan dati grup whatsapp bahwa pembelajaran jam pertama sudah berakhir, dengan segera kami bergegas beranjak menuju ruang kelas untuk mengikuti pembelajaran di jam selanjutnya. Yah, seperti biasa ketika ada yang datang telat semua mata pasti akan langsung tertuju pada satu titik, dan sekarang kami berempat lah yang menjadi titik tersebut.
"Dari mana lu," ujar Jazul menghampiriku yang duduk di kursi paling belakang bersama Yusro.
"Dari sabang," jawab Yusro berbisik kepada Jazul.
"hahaha, ngapain lu." Recehnya lepas seketika.
"Di kejar - kejar tante - tante girang," jawab Yusro lagi dengan nada berbisik.
Tiba - tiba semua mahasiswa yang tadinya berdiri dan berlalu - lalang ke sana - kemari kini langsung duduk di posisi mereka meletakkan tas mereka. Yang dosen jam ke dua telah hadir.
"Lah, kenapa dosennya sama kek yang tadi," ujar ku dalam hati sambil perlahan menundukkan kepala. Ku lirik ke arah Yusro dan ku lihat kini dia sama denganku sedang bergaya membuang muka, sedangkan Syarif dan Fauzi ku lihat mereka malah terlihat seperti menahan tawa.
__ADS_1
"Sungguh hari yang sangat berkesan," ucapku dalam hati sambil nyengir tipis.
Ku lihat dengan lirik, kini Bapak Dosen sedang duduk di depan sambil tatapan ke arah kami namun dengan raut wajah seperti mengingat - ingat. Yah itu sudah pasti, beliau notis dengan kami yang baru sampai.